logo
Rupiah Bangkit ke Rp18.058 per Dolar AS, Efek Damai Iran-Israel dan Stimulus Pem Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPD RI Desak Reformasi Total Tata Kelola Haji, 70 Persen Jemaah Indonesia Berisi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi SF Hariyanto Ingatkan Jangan Ada Rekayasa Data PSN di Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Plt Gubri Dukung IKM Riau, Pelantikan Tujuh DPD Diisi dengan Aksi Sosial untuk M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Jalur Narkoba Malaysia-Riau Diputus, Polisi Sita 6,9 Kg Sabu dan 969 Cartridge E Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Masa Jabatan Kapolri Dapat Diperpanjang Sesuai Kebutuhan Negara Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi UU Polri Disahkan, Batas Usia Pensiun Perwira Naik Menjadi 60 Tahun Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Heli Apache AS Rontok di Dekat Selat Hormuz, Washington Bungkam soal Dugaan Dite Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Opini / Opini Mahasiswa
FOMO Prestasi: Ketika LinkedIn dan Instagram Jadi Ajang Pamer CV
Ilustrasi.
FOMO Prestasi: Ketika LinkedIn dan Instagram Jadi Ajang Pamer CV
Editor: Arya Mahendra | Penulis: farlan syah maulana
17 April 2026 | 16:00:54

Oleh: Farlan Syah Maulana

MEMBUKA LinkedIn atau Instagram hari  ini sering terasa seperti membuka papan pengumuman prestasi. Ada yang membagikan kabar diterima magang, memenangkan lomba, menyelesaikan kursus, hingga memamerkan sertifikat  pelatihan. Di satu sisi, hal itu terlihat menginspirasi. Namun di sisi  lain, tidak  sedikit orang yang diam-diam merasa  tertinggal. 

Muncullah fenomena yang  semakin sering dirasakan banyak pelajar dan mahasiswa: FOMO (Fear of Missing Out) prestasi, rasa takut tertinggal jika tidak memiliki pencapaian sebanyak orang lain. Media sosial pun perlahan berubah menjadi ruang pamer CV (curriculum vitae) digital.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana  media  sosial membentuk cara baru  dalam memandang prestasi. LinkedIn dan Instagram yang awalnya menjadi ruang berbagi cerita dan pengalaman kini sering terasa seperti panggung pembuktian diri. Banyak orang merasa perlu menunjukkan  bahwa mereka juga aktif, produktif,  dan  berprestasi—seolah-olah jika tidak diposting, pencapaian itu menjadi kurang berarti. 

iklan-view

Budaya berbagi prestasi di media sosial memang terlihat positif pada awalnya. Melihat  teman  mengikuti  program  pelatihan,  memenangkan  lomba,  atau  diterima  di  tempat magang tertentu dapat memotivasi orang lain untuk ikut berkembang. Media sosial memberi ruang bagi orang untuk saling berbagi informasi dan peluang yang mungkin sebelumnya sulit diketahui.

Namun perlahan, motivasi itu sering berubah menjadi tekanan. Ketika linimasa dipenuhi berbagai pencapaian, tanpa sadar kita mulai membandingkan diri dengan orang lain. Ada yang merasa kurang produktif, merasa tertinggal, bahkan mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang.

Algoritma media sosial juga memperkuat budaya ini. Unggahan tentang prestasi biasanya mendapat banyak apresiasi berupa likes, komentar, atau ucapan selamat. Respons tersebut menjadi semacam validasi sosial yang membuat orang terdorong untuk terus mempublikasikan pencapaian mereka. Lama-kelamaan, prestasi tidak hanya dirayakan sebagai hasil kerja keras, tetapi juga sebagai konten yang “layak tampil”.

Tekanan untuk terlihat produktif kadang membuat seseorang mengikuti berbagai kegiatan bukan karena benar-benar ingin belajar, tetapi karena takut terlihat tidak melakukan apa-apa. Pelatihan, webinar, atau organisasi menjadi semacam “bahan isi CV”. Ketika hal ini terjadi, proses belajar yang seharusnya bermakna bisa berubah menjadi sekadar formalitas.

Meski begitu, tidak berarti media sosial harus dipandang sepenuhnya negatif. Platform seperti LinkedIn justru bisa menjadi sarana membangun jaringan profesional dan berbagi pengalaman yang  bermanfaat  bagi  orang  lain.  Yang  perlu  disadari  adalah  bahwa  setiap  orang  memiliki perjalananyang berbeda. Tidak semua prosesharus ditunjukkan ke publik.

Fenomena FOMO prestasi pada akhirnya  mencerminkan  bagaimana  media  sosial membentuk standar baru tentang keberhasilan. Tanpa disadari, ruang digital yang kita gunakan setiap hari telah menciptakan budaya kompetisi yang halus tetapi terasa nyata.

Di tengah derasnya arus pencapaian yang tampil di media sosial, penting bagi kita untuk kembali mengingat bahwa hidup bukanlah perlombaan CV. Tidak semua proses harus diumumkan, dan tidak semua keberhasilan harus dipamerkan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita benar-benar belajar, berkembang, dan menemukan makna dari setiap pengalaman. Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berbagi inspirasi—bukan tempat yang membuat kita merasa selalu tertinggal. (**)

Penulis: Mahasiswa Universitas Islam Riau Program Studi Ilmu Komunikasi

Home / Opini
FOMO Prestasi: Ketika LinkedIn dan Instagram Jadi Ajang Pamer CV
Editor: Arya Mahendra | Penulis: farlan syah maulana
Rubrik: opini | 17 April 2026 | 16:00:54
FOMO Prestasi: Ketika LinkedIn dan Instagram Jadi Ajang Pamer CV
Ilustrasi.

Oleh: Farlan Syah Maulana

MEMBUKA LinkedIn atau Instagram hari  ini sering terasa seperti membuka papan pengumuman prestasi. Ada yang membagikan kabar diterima magang, memenangkan lomba, menyelesaikan kursus, hingga memamerkan sertifikat  pelatihan. Di satu sisi, hal itu terlihat menginspirasi. Namun di sisi  lain, tidak  sedikit orang yang diam-diam merasa  tertinggal. 

Muncullah fenomena yang  semakin sering dirasakan banyak pelajar dan mahasiswa: FOMO (Fear of Missing Out) prestasi, rasa takut tertinggal jika tidak memiliki pencapaian sebanyak orang lain. Media sosial pun perlahan berubah menjadi ruang pamer CV (curriculum vitae) digital.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana  media  sosial membentuk cara baru  dalam memandang prestasi. LinkedIn dan Instagram yang awalnya menjadi ruang berbagi cerita dan pengalaman kini sering terasa seperti panggung pembuktian diri. Banyak orang merasa perlu menunjukkan  bahwa mereka juga aktif, produktif,  dan  berprestasi—seolah-olah jika tidak diposting, pencapaian itu menjadi kurang berarti. 

Budaya berbagi prestasi di media sosial memang terlihat positif pada awalnya. Melihat  teman  mengikuti  program  pelatihan,  memenangkan  lomba,  atau  diterima  di  tempat magang tertentu dapat memotivasi orang lain untuk ikut berkembang. Media sosial memberi ruang bagi orang untuk saling berbagi informasi dan peluang yang mungkin sebelumnya sulit diketahui.

Namun perlahan, motivasi itu sering berubah menjadi tekanan. Ketika linimasa dipenuhi berbagai pencapaian, tanpa sadar kita mulai membandingkan diri dengan orang lain. Ada yang merasa kurang produktif, merasa tertinggal, bahkan mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang.

Algoritma media sosial juga memperkuat budaya ini. Unggahan tentang prestasi biasanya mendapat banyak apresiasi berupa likes, komentar, atau ucapan selamat. Respons tersebut menjadi semacam validasi sosial yang membuat orang terdorong untuk terus mempublikasikan pencapaian mereka. Lama-kelamaan, prestasi tidak hanya dirayakan sebagai hasil kerja keras, tetapi juga sebagai konten yang “layak tampil”.

Tekanan untuk terlihat produktif kadang membuat seseorang mengikuti berbagai kegiatan bukan karena benar-benar ingin belajar, tetapi karena takut terlihat tidak melakukan apa-apa. Pelatihan, webinar, atau organisasi menjadi semacam “bahan isi CV”. Ketika hal ini terjadi, proses belajar yang seharusnya bermakna bisa berubah menjadi sekadar formalitas.

Meski begitu, tidak berarti media sosial harus dipandang sepenuhnya negatif. Platform seperti LinkedIn justru bisa menjadi sarana membangun jaringan profesional dan berbagi pengalaman yang  bermanfaat  bagi  orang  lain.  Yang  perlu  disadari  adalah  bahwa  setiap  orang  memiliki perjalananyang berbeda. Tidak semua prosesharus ditunjukkan ke publik.

Fenomena FOMO prestasi pada akhirnya  mencerminkan  bagaimana  media  sosial membentuk standar baru tentang keberhasilan. Tanpa disadari, ruang digital yang kita gunakan setiap hari telah menciptakan budaya kompetisi yang halus tetapi terasa nyata.

Di tengah derasnya arus pencapaian yang tampil di media sosial, penting bagi kita untuk kembali mengingat bahwa hidup bukanlah perlombaan CV. Tidak semua proses harus diumumkan, dan tidak semua keberhasilan harus dipamerkan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita benar-benar belajar, berkembang, dan menemukan makna dari setiap pengalaman. Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berbagi inspirasi—bukan tempat yang membuat kita merasa selalu tertinggal. (**)

Penulis: Mahasiswa Universitas Islam Riau Program Studi Ilmu Komunikasi