
Oleh: Farlan Syah Maulana
MEMBUKA LinkedIn atau Instagram hari ini sering terasa seperti membuka papan pengumuman prestasi. Ada yang membagikan kabar diterima magang, memenangkan lomba, menyelesaikan kursus, hingga memamerkan sertifikat pelatihan. Di satu sisi, hal itu terlihat menginspirasi. Namun di sisi lain, tidak sedikit orang yang diam-diam merasa tertinggal.
Muncullah fenomena yang semakin sering dirasakan banyak pelajar dan mahasiswa: FOMO (Fear of Missing Out) prestasi, rasa takut tertinggal jika tidak memiliki pencapaian sebanyak orang lain. Media sosial pun perlahan berubah menjadi ruang pamer CV (curriculum vitae) digital.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial membentuk cara baru dalam memandang prestasi. LinkedIn dan Instagram yang awalnya menjadi ruang berbagi cerita dan pengalaman kini sering terasa seperti panggung pembuktian diri. Banyak orang merasa perlu menunjukkan bahwa mereka juga aktif, produktif, dan berprestasi—seolah-olah jika tidak diposting, pencapaian itu menjadi kurang berarti.

Budaya berbagi prestasi di media sosial memang terlihat positif pada awalnya. Melihat teman mengikuti program pelatihan, memenangkan lomba, atau diterima di tempat magang tertentu dapat memotivasi orang lain untuk ikut berkembang. Media sosial memberi ruang bagi orang untuk saling berbagi informasi dan peluang yang mungkin sebelumnya sulit diketahui.
Namun perlahan, motivasi itu sering berubah menjadi tekanan. Ketika linimasa dipenuhi berbagai pencapaian, tanpa sadar kita mulai membandingkan diri dengan orang lain. Ada yang merasa kurang produktif, merasa tertinggal, bahkan mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang.
Algoritma media sosial juga memperkuat budaya ini. Unggahan tentang prestasi biasanya mendapat banyak apresiasi berupa likes, komentar, atau ucapan selamat. Respons tersebut menjadi semacam validasi sosial yang membuat orang terdorong untuk terus mempublikasikan pencapaian mereka. Lama-kelamaan, prestasi tidak hanya dirayakan sebagai hasil kerja keras, tetapi juga sebagai konten yang “layak tampil”.
Tekanan untuk terlihat produktif kadang membuat seseorang mengikuti berbagai kegiatan bukan karena benar-benar ingin belajar, tetapi karena takut terlihat tidak melakukan apa-apa. Pelatihan, webinar, atau organisasi menjadi semacam “bahan isi CV”. Ketika hal ini terjadi, proses belajar yang seharusnya bermakna bisa berubah menjadi sekadar formalitas.
Meski begitu, tidak berarti media sosial harus dipandang sepenuhnya negatif. Platform seperti LinkedIn justru bisa menjadi sarana membangun jaringan profesional dan berbagi pengalaman yang bermanfaat bagi orang lain. Yang perlu disadari adalah bahwa setiap orang memiliki perjalananyang berbeda. Tidak semua prosesharus ditunjukkan ke publik.
Fenomena FOMO prestasi pada akhirnya mencerminkan bagaimana media sosial membentuk standar baru tentang keberhasilan. Tanpa disadari, ruang digital yang kita gunakan setiap hari telah menciptakan budaya kompetisi yang halus tetapi terasa nyata.
Di tengah derasnya arus pencapaian yang tampil di media sosial, penting bagi kita untuk kembali mengingat bahwa hidup bukanlah perlombaan CV. Tidak semua proses harus diumumkan, dan tidak semua keberhasilan harus dipamerkan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita benar-benar belajar, berkembang, dan menemukan makna dari setiap pengalaman. Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berbagi inspirasi—bukan tempat yang membuat kita merasa selalu tertinggal. (**)
Penulis: Mahasiswa Universitas Islam Riau Program Studi Ilmu Komunikasi




Oleh: Farlan Syah Maulana
MEMBUKA LinkedIn atau Instagram hari ini sering terasa seperti membuka papan pengumuman prestasi. Ada yang membagikan kabar diterima magang, memenangkan lomba, menyelesaikan kursus, hingga memamerkan sertifikat pelatihan. Di satu sisi, hal itu terlihat menginspirasi. Namun di sisi lain, tidak sedikit orang yang diam-diam merasa tertinggal.
Muncullah fenomena yang semakin sering dirasakan banyak pelajar dan mahasiswa: FOMO (Fear of Missing Out) prestasi, rasa takut tertinggal jika tidak memiliki pencapaian sebanyak orang lain. Media sosial pun perlahan berubah menjadi ruang pamer CV (curriculum vitae) digital.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial membentuk cara baru dalam memandang prestasi. LinkedIn dan Instagram yang awalnya menjadi ruang berbagi cerita dan pengalaman kini sering terasa seperti panggung pembuktian diri. Banyak orang merasa perlu menunjukkan bahwa mereka juga aktif, produktif, dan berprestasi—seolah-olah jika tidak diposting, pencapaian itu menjadi kurang berarti.
Budaya berbagi prestasi di media sosial memang terlihat positif pada awalnya. Melihat teman mengikuti program pelatihan, memenangkan lomba, atau diterima di tempat magang tertentu dapat memotivasi orang lain untuk ikut berkembang. Media sosial memberi ruang bagi orang untuk saling berbagi informasi dan peluang yang mungkin sebelumnya sulit diketahui.
Namun perlahan, motivasi itu sering berubah menjadi tekanan. Ketika linimasa dipenuhi berbagai pencapaian, tanpa sadar kita mulai membandingkan diri dengan orang lain. Ada yang merasa kurang produktif, merasa tertinggal, bahkan mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang.
Algoritma media sosial juga memperkuat budaya ini. Unggahan tentang prestasi biasanya mendapat banyak apresiasi berupa likes, komentar, atau ucapan selamat. Respons tersebut menjadi semacam validasi sosial yang membuat orang terdorong untuk terus mempublikasikan pencapaian mereka. Lama-kelamaan, prestasi tidak hanya dirayakan sebagai hasil kerja keras, tetapi juga sebagai konten yang “layak tampil”.
Tekanan untuk terlihat produktif kadang membuat seseorang mengikuti berbagai kegiatan bukan karena benar-benar ingin belajar, tetapi karena takut terlihat tidak melakukan apa-apa. Pelatihan, webinar, atau organisasi menjadi semacam “bahan isi CV”. Ketika hal ini terjadi, proses belajar yang seharusnya bermakna bisa berubah menjadi sekadar formalitas.
Meski begitu, tidak berarti media sosial harus dipandang sepenuhnya negatif. Platform seperti LinkedIn justru bisa menjadi sarana membangun jaringan profesional dan berbagi pengalaman yang bermanfaat bagi orang lain. Yang perlu disadari adalah bahwa setiap orang memiliki perjalananyang berbeda. Tidak semua prosesharus ditunjukkan ke publik.
Fenomena FOMO prestasi pada akhirnya mencerminkan bagaimana media sosial membentuk standar baru tentang keberhasilan. Tanpa disadari, ruang digital yang kita gunakan setiap hari telah menciptakan budaya kompetisi yang halus tetapi terasa nyata.
Di tengah derasnya arus pencapaian yang tampil di media sosial, penting bagi kita untuk kembali mengingat bahwa hidup bukanlah perlombaan CV. Tidak semua proses harus diumumkan, dan tidak semua keberhasilan harus dipamerkan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita benar-benar belajar, berkembang, dan menemukan makna dari setiap pengalaman. Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berbagi inspirasi—bukan tempat yang membuat kita merasa selalu tertinggal. (**)
Penulis: Mahasiswa Universitas Islam Riau Program Studi Ilmu Komunikasi