
PEKANBARU-Harapan tiga calon jemaah haji asal Riau menuju Tanah Suci belum sepenuhnya aman. Ketiganya masih menjalani perawatan medis di Batam, setelah mengalami gangguan kesehatan menjelang keberangkatan.
Dari tiga jemaah tersebut, satu orang diperkirakan batal berangkat tahun ini. Kondisinya dinilai belum memenuhi syarat kesehatan penerbangan internasional menuju Arab Saudi.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Riau, Defizon mengatakan, pihaknya masih menunggu perkembangan medis dua jemaah lain yang kini menjalani observasi intensif.
“Masih ada tiga jemaah di Batam. Satu orang kemungkinan tidak bisa diberangkatkan karena kondisi kesehatannya belum memenuhi syarat. Dua lainnya masih berpeluang menyusul,” kata Defizon di Pekanbaru, Selasa (12/5/2026).

Situasi ini menjadi perhatian serius di tengah padatnya jadwal keberangkatan haji Indonesia tahun 2026. Pemeriksaan kesehatan ketat kini menjadi bagian penting dalam proses embarkasi, terutama bagi jemaah lanjut usia dan mereka yang memiliki riwayat penyakit bawaan.
Menurut Defizon, salah satu jemaah yang dirawat mulai menunjukkan perkembangan positif. Jika hasil pemeriksaan akhir menyatakan layak terbang, jemaah tersebut akan dimasukkan ke kloter berikutnya.
“Insyaallah besok satu orang sudah bisa kembali ke asrama haji. Kalau dinyatakan fit, akan kami upayakan seat di kloter selanjutnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu jemaah sebelumnya mengalami penurunan saturasi oksigen. Kondisi itu membuat tim kesehatan memutuskan observasi lanjutan demi menghindari risiko saat penerbangan jarak jauh.
Sementara satu jemaah lainnya mengalami insiden di asrama haji. Saat bersiap menuju bandara, jemaah tersebut tiba-tiba pusing lalu terjatuh di kamar mandi.
“Beliau jatuh dan mengalami luka di kepala. Karena itu harus diobservasi lebih dulu,” ujar Defizon.
Meski sempat menimbulkan kekhawatiran, hasil pemeriksaan sementara menunjukkan tidak ada cedera berat. Peluang untuk tetap berangkat masih terbuka apabila kondisi kesehatannya stabil dalam beberapa hari ke depan.
Kasus ini sekaligus menggambarkan tantangan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Cuaca panas ekstrem di Arab Saudi menjadi perhatian utama pemerintah. Kondisi itu dapat memperburuk kesehatan jemaah yang memiliki penyakit penyerta.
Berdasarkan data otoritas meteorologi Arab Saudi, suhu di Makkah dan Madinah dalam beberapa hari terakhir berkisar 40 hingga 44 derajat Celsius pada siang hari. Situasi tersebut membuat risiko dehidrasi dan kelelahan meningkat, terutama bagi jemaah usia lanjut.
Karena itu, Defizon meminta seluruh jemaah asal Riau yang kini berada di Tanah Suci menjaga kondisi fisik sejak awal keberangkatan. Ia mengingatkan agar ibadah sunnah tidak dilakukan secara berlebihan.
“Jangan terlalu memforsir tenaga sekarang. Puncak ibadah haji nanti jauh lebih berat,” katanya.
Saat ini sebagian besar jemaah asal Riau sudah berada di Makkah untuk menjalankan umrah wajib, tawaf, sai, dan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram.
Sementara beberapa kloter lainnya masih berada di Madinah. Mereka menjalani ibadah arbain di Masjid Nabawi serta mengikuti ziarah ke sejumlah lokasi bersejarah Islam.
Menurut Defizon, menjaga stamina sejak awal sangat menentukan keberhasilan jemaah menjalani fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
“Kalau tenaga habis dari sekarang, nanti saat puncak haji justru sakit. Itu yang harus diantisipasi,” ujarnya.
Ia juga meminta jemaah mengurangi aktivitas di luar hotel apabila tidak memiliki kepentingan mendesak. Cuaca panas yang ekstrem dinilai cukup berbahaya bila tubuh tidak dalam kondisi prima.
Selain itu, jemaah diminta rutin mengonsumsi air putih dan makanan bergizi yang telah disiapkan petugas katering haji. Kepatuhan terhadap arahan petugas kesehatan juga menjadi faktor penting selama berada di Arab Saudi.
Imbauan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa musim haji terakhir, gangguan kesehatan akibat kelelahan dan dehidrasi menjadi salah satu kasus terbanyak yang dialami jemaah Indonesia.
Pemerintah pun kini memperketat pemantauan kesehatan sejak proses embarkasi hingga kepulangan jemaah ke daerah masing-masing. Langkah itu dilakukan agar seluruh rangkaian ibadah dapat dijalani dengan aman dan lancar.
Bagi keluarga jemaah di Riau, kabar tertundanya keberangkatan tentu menjadi ujian tersendiri. Namun di sisi lain, keputusan medis dianggap lebih penting demi keselamatan jemaah selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.
Defizon memastikan pihaknya terus berkoordinasi dengan tim kesehatan embarkasi Batam dan petugas pusat untuk memantau perkembangan kondisi ketiga jemaah tersebut.
“Kami berharap semuanya membaik. Kalau memang memungkinkan, tentu akan diberangkatkan. Yang paling utama tetap keselamatan jemaah,” tukasnya. (tpc)






PEKANBARU-Harapan tiga calon jemaah haji asal Riau menuju Tanah Suci belum sepenuhnya aman. Ketiganya masih menjalani perawatan medis di Batam, setelah mengalami gangguan kesehatan menjelang keberangkatan.
Dari tiga jemaah tersebut, satu orang diperkirakan batal berangkat tahun ini. Kondisinya dinilai belum memenuhi syarat kesehatan penerbangan internasional menuju Arab Saudi.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Riau, Defizon mengatakan, pihaknya masih menunggu perkembangan medis dua jemaah lain yang kini menjalani observasi intensif.
“Masih ada tiga jemaah di Batam. Satu orang kemungkinan tidak bisa diberangkatkan karena kondisi kesehatannya belum memenuhi syarat. Dua lainnya masih berpeluang menyusul,” kata Defizon di Pekanbaru, Selasa (12/5/2026).
Situasi ini menjadi perhatian serius di tengah padatnya jadwal keberangkatan haji Indonesia tahun 2026. Pemeriksaan kesehatan ketat kini menjadi bagian penting dalam proses embarkasi, terutama bagi jemaah lanjut usia dan mereka yang memiliki riwayat penyakit bawaan.
Menurut Defizon, salah satu jemaah yang dirawat mulai menunjukkan perkembangan positif. Jika hasil pemeriksaan akhir menyatakan layak terbang, jemaah tersebut akan dimasukkan ke kloter berikutnya.
“Insyaallah besok satu orang sudah bisa kembali ke asrama haji. Kalau dinyatakan fit, akan kami upayakan seat di kloter selanjutnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu jemaah sebelumnya mengalami penurunan saturasi oksigen. Kondisi itu membuat tim kesehatan memutuskan observasi lanjutan demi menghindari risiko saat penerbangan jarak jauh.
Sementara satu jemaah lainnya mengalami insiden di asrama haji. Saat bersiap menuju bandara, jemaah tersebut tiba-tiba pusing lalu terjatuh di kamar mandi.
“Beliau jatuh dan mengalami luka di kepala. Karena itu harus diobservasi lebih dulu,” ujar Defizon.
Meski sempat menimbulkan kekhawatiran, hasil pemeriksaan sementara menunjukkan tidak ada cedera berat. Peluang untuk tetap berangkat masih terbuka apabila kondisi kesehatannya stabil dalam beberapa hari ke depan.
Kasus ini sekaligus menggambarkan tantangan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Cuaca panas ekstrem di Arab Saudi menjadi perhatian utama pemerintah. Kondisi itu dapat memperburuk kesehatan jemaah yang memiliki penyakit penyerta.
Berdasarkan data otoritas meteorologi Arab Saudi, suhu di Makkah dan Madinah dalam beberapa hari terakhir berkisar 40 hingga 44 derajat Celsius pada siang hari. Situasi tersebut membuat risiko dehidrasi dan kelelahan meningkat, terutama bagi jemaah usia lanjut.
Karena itu, Defizon meminta seluruh jemaah asal Riau yang kini berada di Tanah Suci menjaga kondisi fisik sejak awal keberangkatan. Ia mengingatkan agar ibadah sunnah tidak dilakukan secara berlebihan.
“Jangan terlalu memforsir tenaga sekarang. Puncak ibadah haji nanti jauh lebih berat,” katanya.
Saat ini sebagian besar jemaah asal Riau sudah berada di Makkah untuk menjalankan umrah wajib, tawaf, sai, dan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram.
Sementara beberapa kloter lainnya masih berada di Madinah. Mereka menjalani ibadah arbain di Masjid Nabawi serta mengikuti ziarah ke sejumlah lokasi bersejarah Islam.
Menurut Defizon, menjaga stamina sejak awal sangat menentukan keberhasilan jemaah menjalani fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
“Kalau tenaga habis dari sekarang, nanti saat puncak haji justru sakit. Itu yang harus diantisipasi,” ujarnya.
Ia juga meminta jemaah mengurangi aktivitas di luar hotel apabila tidak memiliki kepentingan mendesak. Cuaca panas yang ekstrem dinilai cukup berbahaya bila tubuh tidak dalam kondisi prima.
Selain itu, jemaah diminta rutin mengonsumsi air putih dan makanan bergizi yang telah disiapkan petugas katering haji. Kepatuhan terhadap arahan petugas kesehatan juga menjadi faktor penting selama berada di Arab Saudi.
Imbauan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa musim haji terakhir, gangguan kesehatan akibat kelelahan dan dehidrasi menjadi salah satu kasus terbanyak yang dialami jemaah Indonesia.
Pemerintah pun kini memperketat pemantauan kesehatan sejak proses embarkasi hingga kepulangan jemaah ke daerah masing-masing. Langkah itu dilakukan agar seluruh rangkaian ibadah dapat dijalani dengan aman dan lancar.
Bagi keluarga jemaah di Riau, kabar tertundanya keberangkatan tentu menjadi ujian tersendiri. Namun di sisi lain, keputusan medis dianggap lebih penting demi keselamatan jemaah selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.
Defizon memastikan pihaknya terus berkoordinasi dengan tim kesehatan embarkasi Batam dan petugas pusat untuk memantau perkembangan kondisi ketiga jemaah tersebut.
“Kami berharap semuanya membaik. Kalau memang memungkinkan, tentu akan diberangkatkan. Yang paling utama tetap keselamatan jemaah,” tukasnya. (tpc)