
PEKANBARU-Hamparan tenda putih di Padang Arafah mulai dipenuhi lantunan doa. Di tengah suhu panas yang menyengat dan kepadatan jutaan manusia dari berbagai negara, ratusan jemaah haji asal Kabupaten Siak akhirnya tiba di titik paling sakral dalam ibadah haji: wukuf di Arafah.
Sebanyak 440 jemaah yang tergabung dalam Kloter BTH 12 dilaporkan tiba dengan selamat di Tenda Maktab 85, Senin (25/5/2026) waktu Arab Saudi. Momen ini menjadi penanda dimulainya fase paling menentukan dalam rangkaian ibadah haji tahun 2026.
Petugas Haji Daerah Kabupaten Siak, dr. Atika Rifiani, mengatakan seluruh jemaah dalam kondisi relatif stabil sebelum diberangkatkan dari Makkah menuju Arafah. Tidak ada jemaah yang menjalani perawatan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia maupun rumah sakit setempat.
“Alhamdulillah, kondisi jemaah cukup baik. Saat ini seluruh rombongan sudah berada di Arafah untuk mengikuti puncak ibadah haji,” kata Atika, Selasa (26/5/2026).

Perjalanan menuju Arafah dimulai sekitar pukul 11.30 waktu Arab Saudi ketika armada bus mulai tiba di hotel tempat jemaah menginap. Satu jam kemudian, rombongan bergerak menuju Arafah dan tiba sekitar pukul 13.30 WAS.
Sesampainya di lokasi, jemaah langsung menempati tenda yang telah disiapkan. Mereka menerima paket konsumsi berupa makan siang, buah, jus, air mineral, hingga perlengkapan logistik yang digunakan selama fase Armuzna, yakni Arafah, Muzdalifah dan Mina.
Suasana di dalam tenda berubah semakin khusyuk saat malam tiba. Jemaah mulai memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an dan melaksanakan salat berjamaah sambil mempersiapkan diri menyambut wukuf, yang disebut sebagai inti dari seluruh pelaksanaan haji.
Namun di balik suasana spiritual tersebut, tantangan fisik tetap membayangi para tamu Allah. Cuaca panas khas Timur Tengah menjadi ujian tersendiri, terutama bagi jemaah lanjut usia dan kategori risiko tinggi.
Tim kesehatan haji Kabupaten Siak sebelumnya telah melakukan berbagai langkah antisipasi. Edukasi kesehatan diberikan sebelum keberangkatan menuju Arafah. Petugas juga membagikan masker dan oralit agar jemaah terhindar dari dehidrasi.
“Mayoritas keluhan yang muncul berupa batuk dan pilek ringan akibat cuaca panas dan kelelahan. Tetapi sejauh ini masih terkendali,” ujar Atika.
Di tengah padatnya aktivitas, seorang jemaah lanjut usia sempat mengalami demam tinggi menjelang Magrib. Kondisi tersebut sempat membuat petugas siaga karena jemaah bersangkutan masuk kategori risiko tinggi.
Beruntung, penanganan cepat dari tim medis membuat kondisi jemaah segera membaik. Saat ini, jemaah tersebut sudah dapat kembali beraktivitas ringan dan mulai makan seperti biasa.
“Alhamdulillah, kondisinya sudah stabil setelah mendapatkan penanganan medis,” jelasnya.
Selain persoalan kesehatan, jemaah juga menghadapi keterbatasan fasilitas dasar di Arafah. Antrean panjang terlihat di sejumlah toilet dan kamar mandi karena digunakan bersama beberapa kloter lain dalam satu kawasan maktab.
Pasokan air untuk mandi dan berwudhu juga dilaporkan sempat tersendat. Situasi itu membuat sebagian jemaah harus mengatur waktu penggunaan air secara bergantian.
Kondisi lebih menantang dirasakan jemaah disabilitas. Fasilitas kamar mandi khusus pengguna kursi roda berada cukup jauh dari lokasi tenda sehingga sebagian terpaksa menggunakan fasilitas umum yang aksesnya lebih terbatas.
Meski demikian, semangat jemaah asal Siak tidak surut. Banyak di antara mereka tetap bertahan mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan penuh kekhusyukan.
Bagi sebagian jemaah lanjut usia, perjalanan haji tahun ini bahkan menjadi penantian puluhan tahun. Karena itu, suasana haru dan syukur begitu terasa di dalam tenda-tenda Arafah.
Puncak haji di Arafah juga menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia setiap tahun. Kepadatan jemaah, suhu ekstrem dan mobilitas tinggi pada fase Armuzna membuat pengawasan kesehatan menjadi prioritas utama.
Data Kementerian Agama menunjukkan sebagian besar kasus gangguan kesehatan jemaah haji Indonesia umumnya terjadi saat fase Arafah, Muzdalifah dan Mina. Karena itu, petugas terus mengingatkan jemaah untuk menjaga pola makan, mengurangi aktivitas berat dan memperbanyak konsumsi air.
Usai menjalani wukuf, jemaah Siak dijadwalkan bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina guna menjalani lempar jumrah dan tahapan ibadah berikutnya.
Di tengah segala keterbatasan, ribuan doa terus dipanjatkan dari Padang Arafah. Bagi jemaah asal Siak, perjalanan ini bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang kesabaran, perjuangan dan harapan pulang menjadi haji mabrur. (bsh)






PEKANBARU-Hamparan tenda putih di Padang Arafah mulai dipenuhi lantunan doa. Di tengah suhu panas yang menyengat dan kepadatan jutaan manusia dari berbagai negara, ratusan jemaah haji asal Kabupaten Siak akhirnya tiba di titik paling sakral dalam ibadah haji: wukuf di Arafah.
Sebanyak 440 jemaah yang tergabung dalam Kloter BTH 12 dilaporkan tiba dengan selamat di Tenda Maktab 85, Senin (25/5/2026) waktu Arab Saudi. Momen ini menjadi penanda dimulainya fase paling menentukan dalam rangkaian ibadah haji tahun 2026.
Petugas Haji Daerah Kabupaten Siak, dr. Atika Rifiani, mengatakan seluruh jemaah dalam kondisi relatif stabil sebelum diberangkatkan dari Makkah menuju Arafah. Tidak ada jemaah yang menjalani perawatan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia maupun rumah sakit setempat.
“Alhamdulillah, kondisi jemaah cukup baik. Saat ini seluruh rombongan sudah berada di Arafah untuk mengikuti puncak ibadah haji,” kata Atika, Selasa (26/5/2026).
Perjalanan menuju Arafah dimulai sekitar pukul 11.30 waktu Arab Saudi ketika armada bus mulai tiba di hotel tempat jemaah menginap. Satu jam kemudian, rombongan bergerak menuju Arafah dan tiba sekitar pukul 13.30 WAS.
Sesampainya di lokasi, jemaah langsung menempati tenda yang telah disiapkan. Mereka menerima paket konsumsi berupa makan siang, buah, jus, air mineral, hingga perlengkapan logistik yang digunakan selama fase Armuzna, yakni Arafah, Muzdalifah dan Mina.
Suasana di dalam tenda berubah semakin khusyuk saat malam tiba. Jemaah mulai memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an dan melaksanakan salat berjamaah sambil mempersiapkan diri menyambut wukuf, yang disebut sebagai inti dari seluruh pelaksanaan haji.
Namun di balik suasana spiritual tersebut, tantangan fisik tetap membayangi para tamu Allah. Cuaca panas khas Timur Tengah menjadi ujian tersendiri, terutama bagi jemaah lanjut usia dan kategori risiko tinggi.
Tim kesehatan haji Kabupaten Siak sebelumnya telah melakukan berbagai langkah antisipasi. Edukasi kesehatan diberikan sebelum keberangkatan menuju Arafah. Petugas juga membagikan masker dan oralit agar jemaah terhindar dari dehidrasi.
“Mayoritas keluhan yang muncul berupa batuk dan pilek ringan akibat cuaca panas dan kelelahan. Tetapi sejauh ini masih terkendali,” ujar Atika.
Di tengah padatnya aktivitas, seorang jemaah lanjut usia sempat mengalami demam tinggi menjelang Magrib. Kondisi tersebut sempat membuat petugas siaga karena jemaah bersangkutan masuk kategori risiko tinggi.
Beruntung, penanganan cepat dari tim medis membuat kondisi jemaah segera membaik. Saat ini, jemaah tersebut sudah dapat kembali beraktivitas ringan dan mulai makan seperti biasa.
“Alhamdulillah, kondisinya sudah stabil setelah mendapatkan penanganan medis,” jelasnya.
Selain persoalan kesehatan, jemaah juga menghadapi keterbatasan fasilitas dasar di Arafah. Antrean panjang terlihat di sejumlah toilet dan kamar mandi karena digunakan bersama beberapa kloter lain dalam satu kawasan maktab.
Pasokan air untuk mandi dan berwudhu juga dilaporkan sempat tersendat. Situasi itu membuat sebagian jemaah harus mengatur waktu penggunaan air secara bergantian.
Kondisi lebih menantang dirasakan jemaah disabilitas. Fasilitas kamar mandi khusus pengguna kursi roda berada cukup jauh dari lokasi tenda sehingga sebagian terpaksa menggunakan fasilitas umum yang aksesnya lebih terbatas.
Meski demikian, semangat jemaah asal Siak tidak surut. Banyak di antara mereka tetap bertahan mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan penuh kekhusyukan.
Bagi sebagian jemaah lanjut usia, perjalanan haji tahun ini bahkan menjadi penantian puluhan tahun. Karena itu, suasana haru dan syukur begitu terasa di dalam tenda-tenda Arafah.
Puncak haji di Arafah juga menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia setiap tahun. Kepadatan jemaah, suhu ekstrem dan mobilitas tinggi pada fase Armuzna membuat pengawasan kesehatan menjadi prioritas utama.
Data Kementerian Agama menunjukkan sebagian besar kasus gangguan kesehatan jemaah haji Indonesia umumnya terjadi saat fase Arafah, Muzdalifah dan Mina. Karena itu, petugas terus mengingatkan jemaah untuk menjaga pola makan, mengurangi aktivitas berat dan memperbanyak konsumsi air.
Usai menjalani wukuf, jemaah Siak dijadwalkan bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina guna menjalani lempar jumrah dan tahapan ibadah berikutnya.
Di tengah segala keterbatasan, ribuan doa terus dipanjatkan dari Padang Arafah. Bagi jemaah asal Siak, perjalanan ini bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang kesabaran, perjuangan dan harapan pulang menjadi haji mabrur. (bsh)