logo
Polres Pelalawan Gerebek Transaksi Narkoba di Kebun Sawit, Dua Pria Ditangkap Ba Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi UPDATE: Kapal Tenggelam di Perairan Rupat Bawa 15 PMI Ilegal, 13 Orang Selamat d Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Warga RW 016 Tobekgodang Semarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan Beragam Kegi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Speedboat Berpenumpang PMI Ilegal Terbalik Dihantam Badai di Perairan Rupat, 3 O Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Gempa Susulan Menggoyang NTT, Terbaru Berkekuatan M5,2 Minggu Pagi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harimau Belum Masuk Perangkap, Warga Danai Diminta Tak Lengah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Giliran Simalungun Sumut Diguncang Gempa Magnitudo 6,4, Terasa Hingga Sumbar dan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kasus Kuansing: Periksa Ketua DPRD dan Pejabat Kemenhut, KPK Kejar Jejak Uang SG Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Pekanbaru
Rupiah Kian Terpuruk ke Rp18.110 per Dolar AS, Harga Impor dan Proyek Infrastruktur Berisiko Naik
Rupiah pagi ini kembali melemah. (Foto: Istimewa)
Rupiah Kian Terpuruk ke Rp18.110 per Dolar AS, Harga Impor dan Proyek Infrastruktur Berisiko Naik
Editor: Boy Surya Hamta
Rubrik: ekonomi | 8 Juni 2026 | 10:10:30

PEKANBARU-Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan berada di level Rp18.110 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (8/6). Pelemahan ini tidak hanya mencerminkan meningkatnya tekanan global terhadap mata uang negara berkembang, tetapi juga berpotensi memengaruhi biaya impor, investasi, hingga aktivitas dunia usaha di daerah yang bergantung pada perdagangan internasional, termasuk Riau.

Data perdagangan menunjukkan rupiah melemah 104 poin atau 0,58 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi seiring penguatan dolar AS yang dipicu data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan pasar.

Pelemahan rupiah juga sejalan dengan tren di sejumlah negara Asia. Peso Filipina melemah 0,32 persen, ringgit Malaysia turun 0,93 persen, yen Jepang terkoreksi 0,03 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen terhadap dolar AS.

Di sisi lain, beberapa mata uang Asia masih mencatat penguatan. Yuan China naik 0,07 persen, dolar Singapura menguat 0,01 persen, sedangkan won Korea Selatan terapresiasi 0,56 persen.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan dolar AS kembali menjadi aset pilihan investor setelah data tenaga kerja Negeri Paman Sam menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan. Eskalasi baru di Timur Tengah juga ikut mendukung penguatan dolar AS dan menekan rupiah," kata Lukman.

Ia memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS.

Pelemahan rupiah juga berpotensi memicu imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor. Dampaknya dapat dirasakan pada berbagai sektor, mulai dari elektronik, kendaraan, bahan baku industri hingga produk konsumsi tertentu.

Jika tekanan nilai tukar berlangsung dalam periode panjang, kenaikan biaya tersebut dapat diteruskan ke konsumen melalui harga barang dan jasa yang lebih tinggi.

Bagi masyarakat Riau, kondisi ini perlu dicermati karena dapat memengaruhi daya beli, terutama ketika terjadi bersamaan dengan kenaikan harga energi atau gangguan pasokan global. (cnn)

Home / Ekonomi
Rupiah Kian Terpuruk ke Rp18.110 per Dolar AS, Harga Impor dan Proyek Infrastruktur Berisiko Naik
Editor: Boy Surya Hamta
Rubrik: ekonomi | 8 Juni 2026 | 10:10:30
Rupiah Kian Terpuruk ke Rp18.110 per Dolar AS, Harga Impor dan Proyek Infrastruktur Berisiko Naik
Rupiah pagi ini kembali melemah. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU-Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan berada di level Rp18.110 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (8/6). Pelemahan ini tidak hanya mencerminkan meningkatnya tekanan global terhadap mata uang negara berkembang, tetapi juga berpotensi memengaruhi biaya impor, investasi, hingga aktivitas dunia usaha di daerah yang bergantung pada perdagangan internasional, termasuk Riau.

Data perdagangan menunjukkan rupiah melemah 104 poin atau 0,58 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi seiring penguatan dolar AS yang dipicu data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan pasar.

Pelemahan rupiah juga sejalan dengan tren di sejumlah negara Asia. Peso Filipina melemah 0,32 persen, ringgit Malaysia turun 0,93 persen, yen Jepang terkoreksi 0,03 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen terhadap dolar AS.

Di sisi lain, beberapa mata uang Asia masih mencatat penguatan. Yuan China naik 0,07 persen, dolar Singapura menguat 0,01 persen, sedangkan won Korea Selatan terapresiasi 0,56 persen.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan dolar AS kembali menjadi aset pilihan investor setelah data tenaga kerja Negeri Paman Sam menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan. Eskalasi baru di Timur Tengah juga ikut mendukung penguatan dolar AS dan menekan rupiah," kata Lukman.

Ia memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS.

Pelemahan rupiah juga berpotensi memicu imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor. Dampaknya dapat dirasakan pada berbagai sektor, mulai dari elektronik, kendaraan, bahan baku industri hingga produk konsumsi tertentu.

Jika tekanan nilai tukar berlangsung dalam periode panjang, kenaikan biaya tersebut dapat diteruskan ke konsumen melalui harga barang dan jasa yang lebih tinggi.

Bagi masyarakat Riau, kondisi ini perlu dicermati karena dapat memengaruhi daya beli, terutama ketika terjadi bersamaan dengan kenaikan harga energi atau gangguan pasokan global. (cnn)