
JAKARTA – Nilai tukar rupiah menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat di tengah membaiknya sentimen global dan meningkatnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026), rupiah menguat tajam 151 poin ke level Rp17.708 per dolar Amerika Serikat, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.860 per dolar AS.
Penguatan signifikan ini dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik yang mulai memberikan ruang napas bagi pasar keuangan nasional.
Dari sisi global, meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi katalis utama. Kesepakatan awal kedua negara untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz berhasil menurunkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dunia.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan berkurangnya tekanan eksternal membuat investor kembali masuk ke aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, pernyataan Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia yang siap mencabut sanksi terhadap Iran turut memperkuat optimisme pasar global.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati seberapa cepat produksi dan ekspor minyak Timur Tengah dapat pulih pascakonflik serta sejauh mana aktivitas pelayaran kembali normal di kawasan tersebut.
Di dalam negeri, penguatan rupiah juga ditopang ekspektasi positif terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia. Setelah menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni lalu, total kenaikan suku bunga sejak Mei telah mencapai 75 basis poin. Langkah pengetatan tersebut dinilai memperkuat daya tarik aset rupiah sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar.
Selain faktor kebijakan, sentimen investor terhadap Indonesia juga mulai berbalik positif. CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menilai penguatan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional.
Menurut Rosan, perubahan persepsi tersebut tidak terjadi secara otomatis. Danantara bersama pemerintah secara aktif melakukan pendekatan kepada investor global melalui berbagai forum investasi internasional. Dalam rangkaian roadshow tersebut, sekitar 122 investor internasional diajak berdiskusi langsung mengenai kondisi ekonomi Indonesia, arah kebijakan pemerintah, hingga tata kelola Danantara.
Ia mengakui diskusi berlangsung kritis dan penuh tantangan. Namun keterbukaan informasi justru menjadi faktor penting yang membantu mengubah pandangan investor terhadap Indonesia.
Rosan menilai tekanan yang sempat menekan pasar keuangan Indonesia lebih banyak dipengaruhi faktor persepsi dibandingkan persoalan fundamental. Investor global, kata dia, masih melihat Indonesia memiliki daya tarik kuat, mulai dari pertumbuhan sektor perbankan yang solid, tingkat imbal hasil yang kompetitif, hingga valuasi saham yang dinilai relatif murah setelah mengalami koreksi beberapa bulan terakhir.
Kondisi tersebut membuat Indonesia kembali dipandang sebagai tujuan investasi yang menarik. Ketika sentimen global membaik dan fundamental ekonomi domestik tetap terjaga, aliran modal asing berpotensi kembali menguat, memberikan dukungan tambahan bagi rupiah.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada keputusan kebijakan moneter bank sentral utama dunia, khususnya Federal Reserve Amerika Serikat yang kini dipimpin Ketua baru Kevin Warsh. Namun untuk saat ini, kombinasi meredanya risiko geopolitik, langkah tegas Bank Indonesia, serta pulihnya kepercayaan investor menjadi modal penting bagi rupiah untuk melanjutkan tren penguatannya. (**)
Sumber: Investor.id/mediaindonesia




JAKARTA – Nilai tukar rupiah menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat di tengah membaiknya sentimen global dan meningkatnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026), rupiah menguat tajam 151 poin ke level Rp17.708 per dolar Amerika Serikat, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.860 per dolar AS.
Penguatan signifikan ini dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik yang mulai memberikan ruang napas bagi pasar keuangan nasional.
Dari sisi global, meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi katalis utama. Kesepakatan awal kedua negara untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz berhasil menurunkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dunia.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan berkurangnya tekanan eksternal membuat investor kembali masuk ke aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, pernyataan Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia yang siap mencabut sanksi terhadap Iran turut memperkuat optimisme pasar global.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati seberapa cepat produksi dan ekspor minyak Timur Tengah dapat pulih pascakonflik serta sejauh mana aktivitas pelayaran kembali normal di kawasan tersebut.
Di dalam negeri, penguatan rupiah juga ditopang ekspektasi positif terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia. Setelah menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni lalu, total kenaikan suku bunga sejak Mei telah mencapai 75 basis poin. Langkah pengetatan tersebut dinilai memperkuat daya tarik aset rupiah sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar.
Selain faktor kebijakan, sentimen investor terhadap Indonesia juga mulai berbalik positif. CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menilai penguatan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional.
Menurut Rosan, perubahan persepsi tersebut tidak terjadi secara otomatis. Danantara bersama pemerintah secara aktif melakukan pendekatan kepada investor global melalui berbagai forum investasi internasional. Dalam rangkaian roadshow tersebut, sekitar 122 investor internasional diajak berdiskusi langsung mengenai kondisi ekonomi Indonesia, arah kebijakan pemerintah, hingga tata kelola Danantara.
Ia mengakui diskusi berlangsung kritis dan penuh tantangan. Namun keterbukaan informasi justru menjadi faktor penting yang membantu mengubah pandangan investor terhadap Indonesia.
Rosan menilai tekanan yang sempat menekan pasar keuangan Indonesia lebih banyak dipengaruhi faktor persepsi dibandingkan persoalan fundamental. Investor global, kata dia, masih melihat Indonesia memiliki daya tarik kuat, mulai dari pertumbuhan sektor perbankan yang solid, tingkat imbal hasil yang kompetitif, hingga valuasi saham yang dinilai relatif murah setelah mengalami koreksi beberapa bulan terakhir.
Kondisi tersebut membuat Indonesia kembali dipandang sebagai tujuan investasi yang menarik. Ketika sentimen global membaik dan fundamental ekonomi domestik tetap terjaga, aliran modal asing berpotensi kembali menguat, memberikan dukungan tambahan bagi rupiah.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada keputusan kebijakan moneter bank sentral utama dunia, khususnya Federal Reserve Amerika Serikat yang kini dipimpin Ketua baru Kevin Warsh. Namun untuk saat ini, kombinasi meredanya risiko geopolitik, langkah tegas Bank Indonesia, serta pulihnya kepercayaan investor menjadi modal penting bagi rupiah untuk melanjutkan tren penguatannya. (**)
Sumber: Investor.id/mediaindonesia