logo
Polemik SPMB Siak Hulu, DPRD Kampar Soroti Kinerja Disdikpora hingga Dugaan Inte Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polda Riau Bongkar Modus Pengurangan Isi Truk Tangki BBM Bersubsidi, Tiga Orang Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menhut Raja Juli Bungkam Soal Amplop Suhardiman, KPK Tegaskan Sudah Masuk Ranah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Menguat ke Rp17.888 per Dolar AS, Kekhawatiran Defisit APBN Mulai Mereda Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dua Residivis Spesialis Bobol Ruko Kosong Ditangkap, Beraksi 12 Kali di Pekanbar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabar Baik untuk Petani Riau: Harga Sawit Naik, TBS Plasma Sentuh Rp3.930/Kg, Sw Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sebulan Dua Korban Tewas, Kini Harimau Sumatera Nyaris Menerkam Pekerja Sawit di Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Diduga Mabuk, Pengendara Motor Tabrak Pemotor Lain di Jalan Tengku Bey Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
Rupiah Melemah ke Rp17.735 per Dolar AS, Pasar Tunggu Keputusan The Fed dan BI
Rupiah pagi ini dibuka melemah di posisi Rp17.735 per Dolar AS. (Foto: Istimewa)
Rupiah Melemah ke Rp17.735 per Dolar AS, Pasar Tunggu Keputusan The Fed dan BI
Editor: Yob Ayrus | Penulis: yob ayrus
17 Juni 2026 | 09:04:00

PEKANBARU-Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (17/6/2026), setelah pasar keuangan domestik sempat libur memperingati Tahun Baru Hijriah atau 1 Muharram. Pelemahan terjadi di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka turun 0,25 persen ke posisi Rp17.735 per dolar AS. Pergerakan ini mengakhiri tren positif yang terjadi pada perdagangan sebelumnya, ketika mata uang Garuda menguat 0,98 persen dan ditutup di level Rp17.690 per dolar AS, Senin (15/6/2026).

Pelemahan rupiah terjadi meskipun indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, masih berada dalam tren melemah. Hingga pukul 09.00 WIB, DXY tercatat berada di level 99,513 atau relatif stabil dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah pada awal perdagangan lebih dipengaruhi oleh faktor kehati-hatian pasar dibandingkan penguatan dolar secara signifikan.

iklan-view

Pelaku pasar global saat ini menaruh perhatian besar pada keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang akan diumumkan pada hari ini. Pertemuan tersebut menjadi sorotan karena merupakan rapat kebijakan pertama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed.

Secara umum, pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, investor tetap mencermati arah kebijakan bank sentral AS melalui pernyataan resmi, proyeksi ekonomi, serta konferensi pers yang akan digelar setelah keputusan diumumkan.

Perhatian pasar terutama tertuju pada kemungkinan perubahan sikap The Fed terhadap kebijakan moneter ke depan. Sejumlah pejabat bank sentral AS belakangan menunjukkan kewaspadaan yang lebih tinggi terhadap risiko inflasi, sehingga memunculkan spekulasi mengenai arah suku bunga berikutnya.

Di sisi lain, sentimen global masih mendapat dukungan dari optimisme terhadap kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut membantu menjaga minat investor terhadap aset berisiko dan mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.

Meski demikian, pelaku pasar di kawasan Asia cenderung membatasi transaksi dalam jumlah besar menjelang pengumuman hasil rapat The Fed. Akibatnya, pergerakan mata uang di sesi awal perdagangan berlangsung relatif terbatas.

Dari dalam negeri, fokus investor juga tertuju pada RDG Bank Indonesia yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026. Agenda tersebut dinilai krusial karena berlangsung setelah BI mengambil langkah yang cukup agresif dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Pada pekan lalu, Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen melalui RDG mingguan. Sebelumnya, dalam RDG bulanan, BI juga telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin.

Serangkaian kenaikan suku bunga tersebut menunjukkan upaya bank sentral untuk memperkuat stabilitas pasar keuangan dan menjaga nilai tukar rupiah dari tekanan eksternal. Kebijakan tersebut menjadi perhatian investor karena dilakukan ketika rupiah sempat mengalami pelemahan cukup dalam terhadap dolar AS.

Dampak bagi Pasar dan Pelaku Ekonomi

Pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh hasil pertemuan The Fed dan keputusan RDG Bank Indonesia. Investor akan mencermati apakah kedua bank sentral memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat atau justru membuka ruang pelonggaran di masa mendatang.

Bagi pelaku usaha yang memiliki transaksi berbasis dolar AS, fluktuasi nilai tukar menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi biaya impor, pembayaran utang luar negeri, hingga perencanaan bisnis. Sementara bagi investor, arah kebijakan suku bunga di AS dan Indonesia akan menjadi indikator utama dalam menentukan strategi investasi.

Pasar kini menunggu hasil keputusan kedua bank sentral tersebut untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai arah pergerakan rupiah dan kondisi ekonomi dalam beberapa bulan mendatang. (*)


Sumber: CNBCIndonesia

Home / News
Rupiah Melemah ke Rp17.735 per Dolar AS, Pasar Tunggu Keputusan The Fed dan BI
Editor: Yob Ayrus | Penulis: yob ayrus
Rubrik: news | 17 Juni 2026 | 09:04:00
Rupiah Melemah ke Rp17.735 per Dolar AS, Pasar Tunggu Keputusan The Fed dan BI
Rupiah pagi ini dibuka melemah di posisi Rp17.735 per Dolar AS. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU-Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (17/6/2026), setelah pasar keuangan domestik sempat libur memperingati Tahun Baru Hijriah atau 1 Muharram. Pelemahan terjadi di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka turun 0,25 persen ke posisi Rp17.735 per dolar AS. Pergerakan ini mengakhiri tren positif yang terjadi pada perdagangan sebelumnya, ketika mata uang Garuda menguat 0,98 persen dan ditutup di level Rp17.690 per dolar AS, Senin (15/6/2026).

Pelemahan rupiah terjadi meskipun indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, masih berada dalam tren melemah. Hingga pukul 09.00 WIB, DXY tercatat berada di level 99,513 atau relatif stabil dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah pada awal perdagangan lebih dipengaruhi oleh faktor kehati-hatian pasar dibandingkan penguatan dolar secara signifikan.

Pelaku pasar global saat ini menaruh perhatian besar pada keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang akan diumumkan pada hari ini. Pertemuan tersebut menjadi sorotan karena merupakan rapat kebijakan pertama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed.

Secara umum, pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, investor tetap mencermati arah kebijakan bank sentral AS melalui pernyataan resmi, proyeksi ekonomi, serta konferensi pers yang akan digelar setelah keputusan diumumkan.

Perhatian pasar terutama tertuju pada kemungkinan perubahan sikap The Fed terhadap kebijakan moneter ke depan. Sejumlah pejabat bank sentral AS belakangan menunjukkan kewaspadaan yang lebih tinggi terhadap risiko inflasi, sehingga memunculkan spekulasi mengenai arah suku bunga berikutnya.

Di sisi lain, sentimen global masih mendapat dukungan dari optimisme terhadap kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut membantu menjaga minat investor terhadap aset berisiko dan mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.

Meski demikian, pelaku pasar di kawasan Asia cenderung membatasi transaksi dalam jumlah besar menjelang pengumuman hasil rapat The Fed. Akibatnya, pergerakan mata uang di sesi awal perdagangan berlangsung relatif terbatas.

Dari dalam negeri, fokus investor juga tertuju pada RDG Bank Indonesia yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026. Agenda tersebut dinilai krusial karena berlangsung setelah BI mengambil langkah yang cukup agresif dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Pada pekan lalu, Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen melalui RDG mingguan. Sebelumnya, dalam RDG bulanan, BI juga telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin.

Serangkaian kenaikan suku bunga tersebut menunjukkan upaya bank sentral untuk memperkuat stabilitas pasar keuangan dan menjaga nilai tukar rupiah dari tekanan eksternal. Kebijakan tersebut menjadi perhatian investor karena dilakukan ketika rupiah sempat mengalami pelemahan cukup dalam terhadap dolar AS.

Dampak bagi Pasar dan Pelaku Ekonomi

Pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh hasil pertemuan The Fed dan keputusan RDG Bank Indonesia. Investor akan mencermati apakah kedua bank sentral memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat atau justru membuka ruang pelonggaran di masa mendatang.

Bagi pelaku usaha yang memiliki transaksi berbasis dolar AS, fluktuasi nilai tukar menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi biaya impor, pembayaran utang luar negeri, hingga perencanaan bisnis. Sementara bagi investor, arah kebijakan suku bunga di AS dan Indonesia akan menjadi indikator utama dalam menentukan strategi investasi.

Pasar kini menunggu hasil keputusan kedua bank sentral tersebut untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai arah pergerakan rupiah dan kondisi ekonomi dalam beberapa bulan mendatang. (*)


Sumber: CNBCIndonesia