
JAKARTA – Korban tewas akibat gempa kembar yang mengguncang Venezuela terus bertambah. Hingga Kamis (25/6/2026) malam waktu setempat, Kementerian Kesehatan Venezuela mencatat sedikitnya 235 orang meninggal dunia, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka.
Menteri Kesehatan Carlos Alvarado mengatakan lebih dari 4.300 korban telah mendapat penanganan medis. Sebagian besar mengalami luka ringan, namun banyak korban lainnya membutuhkan operasi akibat cedera serius.
"Sebanyak 235 korban dibawa ke rumah sakit dalam kondisi meninggal dunia. Sebagian lainnya meninggal sesaat setelah tiba di fasilitas kesehatan," ujar Alvarado dalam siaran televisi pemerintah VTV.
Wilayah La Guaira menjadi daerah dengan dampak terparah. Selain mencatat jumlah korban jiwa dan luka terbanyak, kawasan pesisir tersebut mengalami kerusakan infrastruktur yang sangat luas setelah diguncang gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 pada Rabu (24/6/2026), yang kemudian disusul sekitar 30 gempa susulan.

Pemerintah Venezuela langsung mengaktifkan status tanggap darurat nasional dengan mengerahkan lebih dari 5.000 tenaga kesehatan, termasuk 1.200 dokter, ke wilayah terdampak. Rumah sakit pemerintah dan klinik swasta turut dilibatkan dalam penanganan korban, sementara militer mendirikan rumah sakit lapangan di sekitar stadion La Guaira.
Di tengah proses evakuasi, situasi keamanan memburuk. Sejumlah aksi penjarahan dilaporkan terjadi di Kota Catia La Mar, La Guaira. Sebuah supermarket dijarah warga yang membawa kabur makanan, air bersih, obat-obatan, dan berbagai kebutuhan pokok.
Kelangkaan logistik, terputusnya aliran listrik dan air bersih, serta lambatnya distribusi bantuan diduga menjadi pemicu aksi tersebut. Banyak warga juga terpaksa bertahan di jalanan karena rumah mereka runtuh akibat gempa.
Kerusakan besar juga terjadi di kawasan pesisir Macuto. Sebuah hotel delapan lantai dengan 106 kamar dilaporkan ambruk hingga rata dengan tanah, menyisakan bagian pintu masuk, sementara bangunan lain di sepanjang garis pantai mengalami kerusakan berat.
Upaya pencarian korban masih terus berlangsung. Tim SAR internasional dari Spanyol, Amerika Serikat, dan Meksiko dilaporkan tengah menuju Venezuela untuk membantu operasi penyelamatan, sementara pemerintah terus berpacu mengevakuasi korban yang diduga masih tertimbun reruntuhan.
Bencana ini menjadi salah satu gempa paling mematikan yang melanda Venezuela dalam beberapa dekade terakhir, dengan kerusakan meluas pada permukiman, rumah sakit, infrastruktur vital, hingga bandara utama negara tersebut. (**)
Sumber: CNN/Liputan6






JAKARTA – Korban tewas akibat gempa kembar yang mengguncang Venezuela terus bertambah. Hingga Kamis (25/6/2026) malam waktu setempat, Kementerian Kesehatan Venezuela mencatat sedikitnya 235 orang meninggal dunia, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka.
Menteri Kesehatan Carlos Alvarado mengatakan lebih dari 4.300 korban telah mendapat penanganan medis. Sebagian besar mengalami luka ringan, namun banyak korban lainnya membutuhkan operasi akibat cedera serius.
"Sebanyak 235 korban dibawa ke rumah sakit dalam kondisi meninggal dunia. Sebagian lainnya meninggal sesaat setelah tiba di fasilitas kesehatan," ujar Alvarado dalam siaran televisi pemerintah VTV.
Wilayah La Guaira menjadi daerah dengan dampak terparah. Selain mencatat jumlah korban jiwa dan luka terbanyak, kawasan pesisir tersebut mengalami kerusakan infrastruktur yang sangat luas setelah diguncang gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 pada Rabu (24/6/2026), yang kemudian disusul sekitar 30 gempa susulan.
Pemerintah Venezuela langsung mengaktifkan status tanggap darurat nasional dengan mengerahkan lebih dari 5.000 tenaga kesehatan, termasuk 1.200 dokter, ke wilayah terdampak. Rumah sakit pemerintah dan klinik swasta turut dilibatkan dalam penanganan korban, sementara militer mendirikan rumah sakit lapangan di sekitar stadion La Guaira.
Di tengah proses evakuasi, situasi keamanan memburuk. Sejumlah aksi penjarahan dilaporkan terjadi di Kota Catia La Mar, La Guaira. Sebuah supermarket dijarah warga yang membawa kabur makanan, air bersih, obat-obatan, dan berbagai kebutuhan pokok.
Kelangkaan logistik, terputusnya aliran listrik dan air bersih, serta lambatnya distribusi bantuan diduga menjadi pemicu aksi tersebut. Banyak warga juga terpaksa bertahan di jalanan karena rumah mereka runtuh akibat gempa.
Kerusakan besar juga terjadi di kawasan pesisir Macuto. Sebuah hotel delapan lantai dengan 106 kamar dilaporkan ambruk hingga rata dengan tanah, menyisakan bagian pintu masuk, sementara bangunan lain di sepanjang garis pantai mengalami kerusakan berat.
Upaya pencarian korban masih terus berlangsung. Tim SAR internasional dari Spanyol, Amerika Serikat, dan Meksiko dilaporkan tengah menuju Venezuela untuk membantu operasi penyelamatan, sementara pemerintah terus berpacu mengevakuasi korban yang diduga masih tertimbun reruntuhan.
Bencana ini menjadi salah satu gempa paling mematikan yang melanda Venezuela dalam beberapa dekade terakhir, dengan kerusakan meluas pada permukiman, rumah sakit, infrastruktur vital, hingga bandara utama negara tersebut. (**)
Sumber: CNN/Liputan6