
KAMPAR - Tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk menikmati suasana hutan yang sejuk, danau alami yang tenang, serta pengalaman bertemu gajah Sumatra dari jarak dekat. Semua itu bisa ditemukan di Taman Wisata Alam Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, yang kini menjadi salah satu destinasi favorit wisata alam di Provinsi Riau.
Hanya sekitar 40 menit berkendara dari Kota Pekanbaru, hamparan kawasan seluas sekitar 1.000 hektare ini menyuguhkan panorama hijau yang masih terjaga. Pepohonan besar menjulang menaungi jalur-jalur wisata, sementara udara segar dan suara alam menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk perkotaan.
Di balik rindangnya hutan, terdapat sejumlah danau alami yang menjadi daya tarik utama Buluh Cina. Airnya yang tenang berpadu dengan lanskap hijau di sekelilingnya menciptakan pemandangan yang memanjakan mata sekaligus menjadi tempat favorit wisatawan untuk bersantai maupun mengabadikan momen.


Keistimewaan Taman Wisata Alam Buluh Cina tidak hanya terletak pada pesona alamnya. Kawasan yang pengelolaannya berada di bawah pengawasan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan tahun 2014 ini juga menjadi rumah bagi satu keluarga gajah Sumatra jinak binaan BBKSDA Riau.
Wisatawan dapat berjumpa dengan Robin yang berusia 27 tahun, Ngatini berusia 26 tahun, serta Dona, gajah betina berusia dua tahun yang menjadi idola baru para pengunjung.
Didampingi para mahout, ketiga gajah tersebut sesekali menampilkan atraksi sederhana yang menghibur. Momen ketika gajah menyemburkan air ke arah pengunjung hampir selalu disambut gelak tawa, terutama dari anak-anak yang antusias menikmati pengalaman berbeda saat berlibur.
Tak hanya menyaksikan dari kejauhan, pengunjung juga diberi kesempatan berinteraksi langsung dengan memberikan buah sebagai pakan gajah. Pengalaman sederhana itu kerap menjadi kenangan yang sulit dilupakan, sekaligus memperkenalkan pentingnya menjaga kelestarian satwa liar kepada generasi muda.

Teresia, salah seorang pengunjung, mengaku kembali datang setelah kunjungan pertamanya beberapa waktu lalu.
"Ini sudah yang kedua kali saya ke sini. Pertama waktu tempat ini sempat viral, sekarang datang lagi karena memang suasananya nyaman. Gajah-gajah di sini juga menjadi daya tarik tersendiri," ujarnya.
Selain menawarkan pengalaman wisata yang berbeda, biaya berkunjung ke Taman Wisata Alam Buluh Cina juga tergolong ramah di kantong. Pengunjung hanya dikenakan tiket masuk Rp10 ribu pada hari biasa dan Rp15 ribu saat akhir pekan.
Perpaduan hutan yang masih alami, danau-danau yang memikat, udara yang sejuk, serta kesempatan mengenal lebih dekat kehidupan gajah Sumatra menjadikan Taman Wisata Alam Buluh Cina bukan sekadar tempat berlibur. Destinasi ini menghadirkan pengalaman menikmati keindahan alam sekaligus mengajak setiap pengunjung untuk semakin peduli terhadap upaya pelestarian satwa dan lingkungan.
Bagi masyarakat Riau maupun wisatawan dari luar daerah, Buluh Cina menjadi pilihan tepat untuk melepas penat, menikmati ketenangan alam, dan membawa pulang cerita indah dari salah satu permata wisata hijau yang dimiliki Kabupaten Kampar. (why)






KAMPAR - Tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk menikmati suasana hutan yang sejuk, danau alami yang tenang, serta pengalaman bertemu gajah Sumatra dari jarak dekat. Semua itu bisa ditemukan di Taman Wisata Alam Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, yang kini menjadi salah satu destinasi favorit wisata alam di Provinsi Riau.
Hanya sekitar 40 menit berkendara dari Kota Pekanbaru, hamparan kawasan seluas sekitar 1.000 hektare ini menyuguhkan panorama hijau yang masih terjaga. Pepohonan besar menjulang menaungi jalur-jalur wisata, sementara udara segar dan suara alam menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk perkotaan.
Di balik rindangnya hutan, terdapat sejumlah danau alami yang menjadi daya tarik utama Buluh Cina. Airnya yang tenang berpadu dengan lanskap hijau di sekelilingnya menciptakan pemandangan yang memanjakan mata sekaligus menjadi tempat favorit wisatawan untuk bersantai maupun mengabadikan momen.

Keistimewaan Taman Wisata Alam Buluh Cina tidak hanya terletak pada pesona alamnya. Kawasan yang pengelolaannya berada di bawah pengawasan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan tahun 2014 ini juga menjadi rumah bagi satu keluarga gajah Sumatra jinak binaan BBKSDA Riau.
Wisatawan dapat berjumpa dengan Robin yang berusia 27 tahun, Ngatini berusia 26 tahun, serta Dona, gajah betina berusia dua tahun yang menjadi idola baru para pengunjung.
Didampingi para mahout, ketiga gajah tersebut sesekali menampilkan atraksi sederhana yang menghibur. Momen ketika gajah menyemburkan air ke arah pengunjung hampir selalu disambut gelak tawa, terutama dari anak-anak yang antusias menikmati pengalaman berbeda saat berlibur.
Tak hanya menyaksikan dari kejauhan, pengunjung juga diberi kesempatan berinteraksi langsung dengan memberikan buah sebagai pakan gajah. Pengalaman sederhana itu kerap menjadi kenangan yang sulit dilupakan, sekaligus memperkenalkan pentingnya menjaga kelestarian satwa liar kepada generasi muda.

Teresia, salah seorang pengunjung, mengaku kembali datang setelah kunjungan pertamanya beberapa waktu lalu.
"Ini sudah yang kedua kali saya ke sini. Pertama waktu tempat ini sempat viral, sekarang datang lagi karena memang suasananya nyaman. Gajah-gajah di sini juga menjadi daya tarik tersendiri," ujarnya.
Selain menawarkan pengalaman wisata yang berbeda, biaya berkunjung ke Taman Wisata Alam Buluh Cina juga tergolong ramah di kantong. Pengunjung hanya dikenakan tiket masuk Rp10 ribu pada hari biasa dan Rp15 ribu saat akhir pekan.
Perpaduan hutan yang masih alami, danau-danau yang memikat, udara yang sejuk, serta kesempatan mengenal lebih dekat kehidupan gajah Sumatra menjadikan Taman Wisata Alam Buluh Cina bukan sekadar tempat berlibur. Destinasi ini menghadirkan pengalaman menikmati keindahan alam sekaligus mengajak setiap pengunjung untuk semakin peduli terhadap upaya pelestarian satwa dan lingkungan.
Bagi masyarakat Riau maupun wisatawan dari luar daerah, Buluh Cina menjadi pilihan tepat untuk melepas penat, menikmati ketenangan alam, dan membawa pulang cerita indah dari salah satu permata wisata hijau yang dimiliki Kabupaten Kampar. (why)