logo
Polemik SPMB Siak Hulu, DPRD Kampar Soroti Kinerja Disdikpora hingga Dugaan Inte Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polda Riau Bongkar Modus Pengurangan Isi Truk Tangki BBM Bersubsidi, Tiga Orang Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menhut Raja Juli Bungkam Soal Amplop Suhardiman, KPK Tegaskan Sudah Masuk Ranah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Menguat ke Rp17.888 per Dolar AS, Kekhawatiran Defisit APBN Mulai Mereda Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dua Residivis Spesialis Bobol Ruko Kosong Ditangkap, Beraksi 12 Kali di Pekanbar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabar Baik untuk Petani Riau: Harga Sawit Naik, TBS Plasma Sentuh Rp3.930/Kg, Sw Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sebulan Dua Korban Tewas, Kini Harimau Sumatera Nyaris Menerkam Pekerja Sawit di Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Diduga Mabuk, Pengendara Motor Tabrak Pemotor Lain di Jalan Tengku Bey Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / WISATA ALAM
Liburan ke Kawasan Wisata Alam Buluh Cina Kampar: Nikmati Hutan Asri, Danau Cantik dan Bertemu Gajah Sumatra
Para pengunjung bermain dengan gajah-gajah sumatera yang jinak di Taman Wisata Alam Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, (Foto: Wahyu)
Liburan ke Kawasan Wisata Alam Buluh Cina Kampar: Nikmati Hutan Asri, Danau Cantik dan Bertemu Gajah Sumatra
Editor: Arya Mahendra | Penulis: wahyu falatehan
5 Juli 2026 | 17:44:32

KAMPAR - Tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk menikmati suasana hutan yang sejuk, danau alami yang tenang, serta pengalaman bertemu gajah Sumatra dari jarak dekat. Semua itu bisa ditemukan di Taman Wisata Alam Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, yang kini menjadi salah satu destinasi favorit wisata alam di Provinsi Riau.

Hanya sekitar 40 menit berkendara dari Kota Pekanbaru, hamparan kawasan seluas sekitar 1.000 hektare ini menyuguhkan panorama hijau yang masih terjaga. Pepohonan besar menjulang menaungi jalur-jalur wisata, sementara udara segar dan suara alam menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk perkotaan.

Di balik rindangnya hutan, terdapat sejumlah danau alami yang menjadi daya tarik utama Buluh Cina. Airnya yang tenang berpadu dengan lanskap hijau di sekelilingnya menciptakan pemandangan yang memanjakan mata sekaligus menjadi tempat favorit wisatawan untuk bersantai maupun mengabadikan momen.

iklan-view

Keistimewaan Taman Wisata Alam Buluh Cina tidak hanya terletak pada pesona alamnya. Kawasan yang pengelolaannya berada di bawah pengawasan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan tahun 2014 ini juga menjadi rumah bagi satu keluarga gajah Sumatra jinak binaan BBKSDA Riau.

Wisatawan dapat berjumpa dengan Robin yang berusia 27 tahun, Ngatini berusia 26 tahun, serta Dona, gajah betina berusia dua tahun yang menjadi idola baru para pengunjung.

Didampingi para mahout, ketiga gajah tersebut sesekali menampilkan atraksi sederhana yang menghibur. Momen ketika gajah menyemburkan air ke arah pengunjung hampir selalu disambut gelak tawa, terutama dari anak-anak yang antusias menikmati pengalaman berbeda saat berlibur.

Tak hanya menyaksikan dari kejauhan, pengunjung juga diberi kesempatan berinteraksi langsung dengan memberikan buah sebagai pakan gajah. Pengalaman sederhana itu kerap menjadi kenangan yang sulit dilupakan, sekaligus memperkenalkan pentingnya menjaga kelestarian satwa liar kepada generasi muda.

Teresia, salah seorang pengunjung, mengaku kembali datang setelah kunjungan pertamanya beberapa waktu lalu.

"Ini sudah yang kedua kali saya ke sini. Pertama waktu tempat ini sempat viral, sekarang datang lagi karena memang suasananya nyaman. Gajah-gajah di sini juga menjadi daya tarik tersendiri," ujarnya.

Selain menawarkan pengalaman wisata yang berbeda, biaya berkunjung ke Taman Wisata Alam Buluh Cina juga tergolong ramah di kantong. Pengunjung hanya dikenakan tiket masuk Rp10 ribu pada hari biasa dan Rp15 ribu saat akhir pekan.

Perpaduan hutan yang masih alami, danau-danau yang memikat, udara yang sejuk, serta kesempatan mengenal lebih dekat kehidupan gajah Sumatra menjadikan Taman Wisata Alam Buluh Cina bukan sekadar tempat berlibur. Destinasi ini menghadirkan pengalaman menikmati keindahan alam sekaligus mengajak setiap pengunjung untuk semakin peduli terhadap upaya pelestarian satwa dan lingkungan.

Bagi masyarakat Riau maupun wisatawan dari luar daerah, Buluh Cina menjadi pilihan tepat untuk melepas penat, menikmati ketenangan alam, dan membawa pulang cerita indah dari salah satu permata wisata hijau yang dimiliki Kabupaten Kampar. (why)

Liburan ke Kawasan Wisata Alam Buluh Cina Kampar: Nikmati Hutan Asri, Danau Cantik dan Bertemu Gajah Sumatra
Editor: Arya Mahendra | Penulis: wahyu falatehan
Rubrik: lingkungan | 5 Juli 2026 | 17:44:32
Liburan ke Kawasan Wisata Alam Buluh Cina Kampar: Nikmati Hutan Asri, Danau Cantik dan Bertemu Gajah Sumatra
Para pengunjung bermain dengan gajah-gajah sumatera yang jinak di Taman Wisata Alam Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, (Foto: Wahyu)

KAMPAR - Tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk menikmati suasana hutan yang sejuk, danau alami yang tenang, serta pengalaman bertemu gajah Sumatra dari jarak dekat. Semua itu bisa ditemukan di Taman Wisata Alam Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, yang kini menjadi salah satu destinasi favorit wisata alam di Provinsi Riau.

Hanya sekitar 40 menit berkendara dari Kota Pekanbaru, hamparan kawasan seluas sekitar 1.000 hektare ini menyuguhkan panorama hijau yang masih terjaga. Pepohonan besar menjulang menaungi jalur-jalur wisata, sementara udara segar dan suara alam menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk perkotaan.

Di balik rindangnya hutan, terdapat sejumlah danau alami yang menjadi daya tarik utama Buluh Cina. Airnya yang tenang berpadu dengan lanskap hijau di sekelilingnya menciptakan pemandangan yang memanjakan mata sekaligus menjadi tempat favorit wisatawan untuk bersantai maupun mengabadikan momen.

Keistimewaan Taman Wisata Alam Buluh Cina tidak hanya terletak pada pesona alamnya. Kawasan yang pengelolaannya berada di bawah pengawasan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan tahun 2014 ini juga menjadi rumah bagi satu keluarga gajah Sumatra jinak binaan BBKSDA Riau.

Wisatawan dapat berjumpa dengan Robin yang berusia 27 tahun, Ngatini berusia 26 tahun, serta Dona, gajah betina berusia dua tahun yang menjadi idola baru para pengunjung.

Didampingi para mahout, ketiga gajah tersebut sesekali menampilkan atraksi sederhana yang menghibur. Momen ketika gajah menyemburkan air ke arah pengunjung hampir selalu disambut gelak tawa, terutama dari anak-anak yang antusias menikmati pengalaman berbeda saat berlibur.

Tak hanya menyaksikan dari kejauhan, pengunjung juga diberi kesempatan berinteraksi langsung dengan memberikan buah sebagai pakan gajah. Pengalaman sederhana itu kerap menjadi kenangan yang sulit dilupakan, sekaligus memperkenalkan pentingnya menjaga kelestarian satwa liar kepada generasi muda.

Teresia, salah seorang pengunjung, mengaku kembali datang setelah kunjungan pertamanya beberapa waktu lalu.

"Ini sudah yang kedua kali saya ke sini. Pertama waktu tempat ini sempat viral, sekarang datang lagi karena memang suasananya nyaman. Gajah-gajah di sini juga menjadi daya tarik tersendiri," ujarnya.

Selain menawarkan pengalaman wisata yang berbeda, biaya berkunjung ke Taman Wisata Alam Buluh Cina juga tergolong ramah di kantong. Pengunjung hanya dikenakan tiket masuk Rp10 ribu pada hari biasa dan Rp15 ribu saat akhir pekan.

Perpaduan hutan yang masih alami, danau-danau yang memikat, udara yang sejuk, serta kesempatan mengenal lebih dekat kehidupan gajah Sumatra menjadikan Taman Wisata Alam Buluh Cina bukan sekadar tempat berlibur. Destinasi ini menghadirkan pengalaman menikmati keindahan alam sekaligus mengajak setiap pengunjung untuk semakin peduli terhadap upaya pelestarian satwa dan lingkungan.

Bagi masyarakat Riau maupun wisatawan dari luar daerah, Buluh Cina menjadi pilihan tepat untuk melepas penat, menikmati ketenangan alam, dan membawa pulang cerita indah dari salah satu permata wisata hijau yang dimiliki Kabupaten Kampar. (why)