logo
Kasino di Nagoya Batam Digerebek: 10 WNA dan 187 WNI Diamankan, Polisi Sita Rp7, Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polres Pelalawan Gerebek Transaksi Narkoba di Kebun Sawit, Dua Pria Ditangkap Ba Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi UPDATE: Kapal Tenggelam di Perairan Rupat Bawa 15 PMI Ilegal, 13 Orang Selamat d Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Warga RW 016 Tobekgodang Semarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan Beragam Kegi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Speedboat Berpenumpang PMI Ilegal Terbalik Dihantam Badai di Perairan Rupat, 3 O Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Gempa Susulan Menggoyang NTT, Terbaru Berkekuatan M5,2 Minggu Pagi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harimau Belum Masuk Perangkap, Warga Danai Diminta Tak Lengah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Giliran Simalungun Sumut Diguncang Gempa Magnitudo 6,4, Terasa Hingga Sumbar dan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Rupiah Rebound di Penutupan Perdagangan, Data Inflasi AS Jadi Penentu Pekan Depan
Ilustrasi. Rupiah menguat atas Dolar AS di penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (10/7/2026). (Foto: Antara)
Rupiah Rebound di Penutupan Perdagangan, Data Inflasi AS Jadi Penentu Pekan Depan
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 10 Juli 2026 | 20:20:34

JAKARTA - Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau. Pada Jumat (10/7/2026), mata uang Garuda menguat 63 poin atau 0,35 persen ke level Rp18.065 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.128 per dolar AS.

Penguatan rupiah dinilai belum lepas dari kuatnya fundamental domestik, terutama meningkatnya cadangan devisa Indonesia serta komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan cadangan devisa yang terus meningkat menjadi bantalan penting bagi rupiah menghadapi gejolak pasar keuangan internasional.

iklan-view

"Rupiah masih ditopang oleh cadangan devisa yang memadai serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar. Kedua faktor tersebut diharapkan mampu meredam tekanan apabila gejolak di pasar keuangan global kembali meningkat," ujar Amru.

Data menunjukkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 naik menjadi 145,6 miliar dolar AS, dibandingkan 144,9 miliar dolar AS pada akhir Mei. Kenaikan ini memperkuat keyakinan pelaku pasar terhadap kemampuan Indonesia menjaga stabilitas sektor eksternal.

Meski demikian, Amru mengingatkan ruang penguatan rupiah pada pekan depan masih dibayangi sejumlah sentimen global, terutama rilis data inflasi inti (Core CPI) Amerika Serikat yang menjadi acuan penting arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Menurutnya, jika inflasi inti AS tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin besar. Kondisi itu berpotensi mendorong penguatan dolar AS sekaligus memberikan tekanan baru terhadap rupiah.

Sebaliknya, apabila angka inflasi berada di bawah perkiraan, dolar AS diperkirakan kembali melemah sehingga membuka ruang bagi rupiah untuk melanjutkan penguatannya.

Selain data ekonomi AS, pelaku pasar juga akan terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik berpotensi memengaruhi harga minyak dunia dan meningkatkan permintaan terhadap aset-aset safe haven, yang pada akhirnya turut memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di sisi lain, arus modal asing serta langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Amru memperkirakan nilai tukar rupiah pada pekan depan akan bergerak dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.128 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia juga mencatat penguatan. Pada Jumat ini, JISDOR berada di level Rp18.069 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp18.090 per dolar AS. (**)

Sumber: antaranews

Home / Ekonomi
Rupiah Rebound di Penutupan Perdagangan, Data Inflasi AS Jadi Penentu Pekan Depan
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 10 Juli 2026 | 20:20:34
Rupiah Rebound di Penutupan Perdagangan, Data Inflasi AS Jadi Penentu Pekan Depan
Ilustrasi. Rupiah menguat atas Dolar AS di penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (10/7/2026). (Foto: Antara)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau. Pada Jumat (10/7/2026), mata uang Garuda menguat 63 poin atau 0,35 persen ke level Rp18.065 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.128 per dolar AS.

Penguatan rupiah dinilai belum lepas dari kuatnya fundamental domestik, terutama meningkatnya cadangan devisa Indonesia serta komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan cadangan devisa yang terus meningkat menjadi bantalan penting bagi rupiah menghadapi gejolak pasar keuangan internasional.

"Rupiah masih ditopang oleh cadangan devisa yang memadai serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar. Kedua faktor tersebut diharapkan mampu meredam tekanan apabila gejolak di pasar keuangan global kembali meningkat," ujar Amru.

Data menunjukkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 naik menjadi 145,6 miliar dolar AS, dibandingkan 144,9 miliar dolar AS pada akhir Mei. Kenaikan ini memperkuat keyakinan pelaku pasar terhadap kemampuan Indonesia menjaga stabilitas sektor eksternal.

Meski demikian, Amru mengingatkan ruang penguatan rupiah pada pekan depan masih dibayangi sejumlah sentimen global, terutama rilis data inflasi inti (Core CPI) Amerika Serikat yang menjadi acuan penting arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Menurutnya, jika inflasi inti AS tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin besar. Kondisi itu berpotensi mendorong penguatan dolar AS sekaligus memberikan tekanan baru terhadap rupiah.

Sebaliknya, apabila angka inflasi berada di bawah perkiraan, dolar AS diperkirakan kembali melemah sehingga membuka ruang bagi rupiah untuk melanjutkan penguatannya.

Selain data ekonomi AS, pelaku pasar juga akan terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik berpotensi memengaruhi harga minyak dunia dan meningkatkan permintaan terhadap aset-aset safe haven, yang pada akhirnya turut memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di sisi lain, arus modal asing serta langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Amru memperkirakan nilai tukar rupiah pada pekan depan akan bergerak dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.128 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia juga mencatat penguatan. Pada Jumat ini, JISDOR berada di level Rp18.069 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp18.090 per dolar AS. (**)

Sumber: antaranews