
BENGKALIS-Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Universitas Riau (UNRI) memperkenalkan inovasi alat penabur pupuk sederhana berbahan pipa PVC kepada petani di Desa Sukamaju, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis. Teknologi sederhana ini diharapkan mampu membantu petani bekerja lebih efisien, sekaligus mendorong kemandirian pertanian desa.
Program pemberdayaan yang digagas Kelompok Arunika KUKERTA UNRI itu berlangsung di Balai Desa Sukamaju, Jumat (10/7/2026). Kegiatan dikemas dalam bentuk workshop yang menghadirkan petani dan pekebun setempat sebagai peserta utama.
Mayoritas warga Desa Sukamaju menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian dan perkebunan. Kondisi tersebut menjadi alasan dipilihnya inovasi alat penabur pupuk sebagai salah satu solusi sederhana untuk mendukung aktivitas bertani yang lebih efektif.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan konsep alat penabur pupuk yang menggunakan sistem tekan otomatis. Selain mendapatkan penjelasan mengenai fungsi alat, peserta juga mengikuti demonstrasi proses pembuatan hingga praktik langsung penggunaan alat di lapangan.
Ketua Pelaksana KUKERTA UNRI, Panangian Batu Bara mengatakan, alat tersebut dirancang agar petani dapat menaburkan pupuk dengan lebih praktis tanpa harus mengeluarkan tenaga berlebih.
Menurutnya, mekanisme kerja alat cukup sederhana. Petani hanya perlu menekan tuas sehingga pupuk langsung keluar pada titik yang diinginkan.
"Cukup ditekan sekali, pupuk langsung keluar tepat di titik yang diinginkan. Selain menghemat tenaga karena petani tidak perlu membungkuk lagi, alat ini juga murah karena memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan seperti sisa pipa paralon, karet ban dan kayu," ujarnya.
Dijelaskan, penggunaan bahan yang mudah diperoleh menjadi salah satu keunggulan alat tersebut. Dengan biaya pembuatan yang relatif rendah, petani dapat membuat sendiri alat penabur pupuk tanpa bergantung pada peralatan pertanian berharga mahal.

Alat pertanian yang dihasilkan mahasiswa Kukerta diharapkan bisa membantu petani. (Foto: dok. KKN UNRI)
Selain memberikan pemaparan teori, mahasiswa juga menunjukkan tahapan perakitan alat mulai dari penyusunan komponen hingga mekanisme kerja sistem tekan otomatis. Peserta diberi kesempatan melihat secara langsung proses tersebut agar dapat mempraktikkannya secara mandiri setelah kegiatan berakhir.
Workshop berlangsung secara interaktif karena petani tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi juga berdiskusi mengenai cara penggunaan alat, perawatan, serta kemungkinan penerapannya pada berbagai jenis tanaman yang mereka budidayakan.
Pada sesi akhir kegiatan, seluruh peserta bersama mahasiswa menuju lahan pertanian milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sukamaju. Lokasi tersebut dipilih sebagai tempat uji coba alat penabur pupuk agar peserta dapat melihat secara langsung performanya di lahan pertanian.
Dalam demonstrasi lapangan, alat digunakan untuk menaburkan pupuk pada titik-titik tertentu sesuai kebutuhan tanaman. Simulasi ini menjadi bagian penting untuk memperlihatkan bagaimana teknologi sederhana tersebut dapat membantu pekerjaan petani menjadi lebih praktis dibandingkan metode manual.
Usai demonstrasi, kegiatan dilanjutkan dengan panen bersama ubi kayu yang dibudidayakan di lahan pertanian BUMDes. Momen tersebut sekaligus menjadi sarana mempererat interaksi antara mahasiswa KUKERTA dan masyarakat Desa Sukamaju.

Penjabat Kepala Desa Sukamaju, Sunarto, M.Pd melakukan panen ubi bersama di BUMDes Sukamaju. (Foto: dok. KKN UNRI)
Penjabat Kepala Desa Sukamaju, Sunarto, M.Pd. mengapresiasi program yang dijalankan mahasiswa KUKERTA UNRI, karena dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Dia berharap, keterampilan yang diperoleh melalui workshop tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan semata, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh para petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian desa.
Menurut Sunarto, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan mampu menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan warga, terutama pada sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan sebagian besar masyarakat Desa Sukamaju.
Dia menilai, pemanfaatan teknologi sederhana berbahan lokal menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan masyarakat karena mudah dibuat, biaya pembuatannya terjangkau, dan tidak memerlukan peralatan yang rumit.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa KUKERTA UNRI dalam menerapkan hasil pembelajaran di perguruan tinggi ke tengah masyarakat melalui inovasi yang aplikatif. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong masyarakat agar mampu mengembangkan teknologi sederhana secara mandiri sesuai kebutuhan di lapangan.
Bagi petani, efisiensi dalam proses pemupukan berpotensi memberikan manfaat berupa penghematan tenaga kerja serta kemudahan dalam melakukan perawatan tanaman. Dengan mekanisme kerja yang sederhana, alat penabur pupuk tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi petani yang ingin meningkatkan efektivitas kegiatan budidaya tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, inovasi sederhana seperti alat penabur pupuk berbahan PVC diharapkan mampu menjadi langkah awal penguatan sektor pertanian desa.
"Selain meningkatkan keterampilan masyarakat, program ini juga menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi tepat guna dapat menjadi solusi praktis dalam mendukung produktivitas pertanian di tingkat desa,. Demikian rilis yang disampaikan tim Kunkerta UNRI Desa Sukamaju. (**)




BENGKALIS-Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Universitas Riau (UNRI) memperkenalkan inovasi alat penabur pupuk sederhana berbahan pipa PVC kepada petani di Desa Sukamaju, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis. Teknologi sederhana ini diharapkan mampu membantu petani bekerja lebih efisien, sekaligus mendorong kemandirian pertanian desa.
Program pemberdayaan yang digagas Kelompok Arunika KUKERTA UNRI itu berlangsung di Balai Desa Sukamaju, Jumat (10/7/2026). Kegiatan dikemas dalam bentuk workshop yang menghadirkan petani dan pekebun setempat sebagai peserta utama.
Mayoritas warga Desa Sukamaju menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian dan perkebunan. Kondisi tersebut menjadi alasan dipilihnya inovasi alat penabur pupuk sebagai salah satu solusi sederhana untuk mendukung aktivitas bertani yang lebih efektif.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan konsep alat penabur pupuk yang menggunakan sistem tekan otomatis. Selain mendapatkan penjelasan mengenai fungsi alat, peserta juga mengikuti demonstrasi proses pembuatan hingga praktik langsung penggunaan alat di lapangan.
Ketua Pelaksana KUKERTA UNRI, Panangian Batu Bara mengatakan, alat tersebut dirancang agar petani dapat menaburkan pupuk dengan lebih praktis tanpa harus mengeluarkan tenaga berlebih.
Menurutnya, mekanisme kerja alat cukup sederhana. Petani hanya perlu menekan tuas sehingga pupuk langsung keluar pada titik yang diinginkan.
"Cukup ditekan sekali, pupuk langsung keluar tepat di titik yang diinginkan. Selain menghemat tenaga karena petani tidak perlu membungkuk lagi, alat ini juga murah karena memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan seperti sisa pipa paralon, karet ban dan kayu," ujarnya.
Dijelaskan, penggunaan bahan yang mudah diperoleh menjadi salah satu keunggulan alat tersebut. Dengan biaya pembuatan yang relatif rendah, petani dapat membuat sendiri alat penabur pupuk tanpa bergantung pada peralatan pertanian berharga mahal.

Alat pertanian yang dihasilkan mahasiswa Kukerta diharapkan bisa membantu petani. (Foto: dok. KKN UNRI)
Selain memberikan pemaparan teori, mahasiswa juga menunjukkan tahapan perakitan alat mulai dari penyusunan komponen hingga mekanisme kerja sistem tekan otomatis. Peserta diberi kesempatan melihat secara langsung proses tersebut agar dapat mempraktikkannya secara mandiri setelah kegiatan berakhir.
Workshop berlangsung secara interaktif karena petani tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi juga berdiskusi mengenai cara penggunaan alat, perawatan, serta kemungkinan penerapannya pada berbagai jenis tanaman yang mereka budidayakan.
Pada sesi akhir kegiatan, seluruh peserta bersama mahasiswa menuju lahan pertanian milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sukamaju. Lokasi tersebut dipilih sebagai tempat uji coba alat penabur pupuk agar peserta dapat melihat secara langsung performanya di lahan pertanian.
Dalam demonstrasi lapangan, alat digunakan untuk menaburkan pupuk pada titik-titik tertentu sesuai kebutuhan tanaman. Simulasi ini menjadi bagian penting untuk memperlihatkan bagaimana teknologi sederhana tersebut dapat membantu pekerjaan petani menjadi lebih praktis dibandingkan metode manual.
Usai demonstrasi, kegiatan dilanjutkan dengan panen bersama ubi kayu yang dibudidayakan di lahan pertanian BUMDes. Momen tersebut sekaligus menjadi sarana mempererat interaksi antara mahasiswa KUKERTA dan masyarakat Desa Sukamaju.

Penjabat Kepala Desa Sukamaju, Sunarto, M.Pd melakukan panen ubi bersama di BUMDes Sukamaju. (Foto: dok. KKN UNRI)
Penjabat Kepala Desa Sukamaju, Sunarto, M.Pd. mengapresiasi program yang dijalankan mahasiswa KUKERTA UNRI, karena dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Dia berharap, keterampilan yang diperoleh melalui workshop tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan semata, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh para petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian desa.
Menurut Sunarto, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan mampu menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan warga, terutama pada sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan sebagian besar masyarakat Desa Sukamaju.
Dia menilai, pemanfaatan teknologi sederhana berbahan lokal menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan masyarakat karena mudah dibuat, biaya pembuatannya terjangkau, dan tidak memerlukan peralatan yang rumit.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa KUKERTA UNRI dalam menerapkan hasil pembelajaran di perguruan tinggi ke tengah masyarakat melalui inovasi yang aplikatif. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong masyarakat agar mampu mengembangkan teknologi sederhana secara mandiri sesuai kebutuhan di lapangan.
Bagi petani, efisiensi dalam proses pemupukan berpotensi memberikan manfaat berupa penghematan tenaga kerja serta kemudahan dalam melakukan perawatan tanaman. Dengan mekanisme kerja yang sederhana, alat penabur pupuk tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi petani yang ingin meningkatkan efektivitas kegiatan budidaya tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, inovasi sederhana seperti alat penabur pupuk berbahan PVC diharapkan mampu menjadi langkah awal penguatan sektor pertanian desa.
"Selain meningkatkan keterampilan masyarakat, program ini juga menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi tepat guna dapat menjadi solusi praktis dalam mendukung produktivitas pertanian di tingkat desa,. Demikian rilis yang disampaikan tim Kunkerta UNRI Desa Sukamaju. (**)