logo
Pemko Pekanbaru Tegaskan Rumah Sakit Tak Boleh Bedakan Pasien BPJS dan Umum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pemko Pekanbaru Buka Peluang Bangun Waste Station di Kampus UNRI Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kapal Berbendera Tanzania Disergap di Bengkalis, Diduga Bawa Lebih 2 Ton Methamp Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Penanganan Gempa NTT, Pemerintah Masih Mampu Belum Buka Bantuan Asing Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Gempa NTT Rusak 19.297 Rumah, Lebih dari 6.000 Bangunan Masuk Kategori Berat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Desa Sungai Gantang Sukses Bentangkan Bendera 1.081 Meter di Jembatan Rumbai Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 133 HGB Pedagang STC Dipersoalkan, Pemko Pekanbaru Didesak Buka Dasar Kebijakan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD Pekanbaru Soroti Data Desil Warga: Salah Klasifikasi Bisa Bikin Bantuan Ter Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Pasar
Harga Bahan Masakan Naik, Pedagang Kuliner di Pekanbaru Keluhkan Sepi Pembeli
Pusat kuliner di Panam, Pekanbaru
Harga Bahan Masakan Naik, Pedagang Kuliner di Pekanbaru Keluhkan Sepi Pembeli
Editor: Ridho Haztil | Penulis: ferdy mahdavikia
Rubrik: ekonomi | 20 Juli 2026 | 14:18:23

PEKANBARU-Kondisi pasar yang sepi dan harga bahan pokok yang sering berubah membuat para pedagang makanan skala kecil di Pekanbaru kesulitan. Berkurangnya jumlah pembeli sangat terasa jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Hal ini dirasakan langsung oleh Mariana, seorang pedagang nasi goreng Padang dan ayam penyet. Sempat menutup warungnya usai Lebaran tahun 2025 lalu, ia baru kembali berjualan tiga bulan yang lalu. Saat ini, ia mengeluhkan pendapatannya yang kembali menurun.

"Sekarang kondisinya sepi sekali, beda jauh dengan bulan kemarin yang masih lumayan ramai. Penyebabnya karena anak sekolah sudah mulai masuk, sementara sebagian besar mahasiswa justru sedang libur atau pulang kampung," ungkap Mariana saat diwawancarai Pekanbaru.tv, Jumat (17/7/2026).

iklan-view

Untuk menyiasati keadaan yang sepi di siang hari, Mariana kini lebih mengandalkan penjualan di akhir pekan. Pada hari biasa, pembeli baru mulai ramai di malam hari. Namun pada hari libur seperti Sabtu dan Minggu, dagangannya sudah didatangi pembeli sejak pagi hingga malam. Menu andalannya seperti ayam bakar, ayam penyet, dan nasi goreng tetap menjadi incaran utama.

Selain sepinya pembeli, Mariana juga terbebani dengan harga bahan masakan di pasar yang tidak menentu. Ia harus pintar-pintar mengatur pengeluaran agar tetap mendapat untung.

"Harga bahan baku itu sering naik turun. Daging ayam misalnya, harganya bisa naik tajam, lalu normal lagi, lalu tiba-tiba naik lagi. Begitu juga cabai. Tapi yang harganya paling terasa melonjak saat ini malah sayuran seperti timun dan tomat," jelasnya.

Karena berjualan di area pusat kuliner, Mariana mengaku pendapatannya sangat terbantu jika ada rombongan bus antar kota seperti dari Duri atau Bangkinang yang singgah di lokasinya.

"Strategi jualan kami sebenarnya sangat bergantung pada pengelola tempat ini. Kalau ada bus pariwisata atau bus luar kota yang mampir, pendapatan langsung naik karena penumpang pasti cari makan di sini. Tapi kalau tidak ada bus, kami hanya bisa berharap dari orang-orang sekitar daerah Pekanbaru saja," tambah Mariana.

Di tengah kondisi yang serba tidak menentu, Mariana sangat berharap pemerintah bisa segera turun tangan. Harapannya sederhana: pemerintah dapat menstabilkan harga bahan-bahan kebutuhan pokok dan memberikan perhatian lebih kepada pedagang-pedagang kecil sepertinya agar tetap bisa bertahan.(*)

Home / Ekonomi
Harga Bahan Masakan Naik, Pedagang Kuliner di Pekanbaru Keluhkan Sepi Pembeli
Editor: Ridho Haztil | Penulis: ferdy mahdavikia
Rubrik: ekonomi | 20 Juli 2026 | 14:18:23
Harga Bahan Masakan Naik, Pedagang Kuliner di Pekanbaru Keluhkan Sepi Pembeli
Pusat kuliner di Panam, Pekanbaru

PEKANBARU-Kondisi pasar yang sepi dan harga bahan pokok yang sering berubah membuat para pedagang makanan skala kecil di Pekanbaru kesulitan. Berkurangnya jumlah pembeli sangat terasa jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Hal ini dirasakan langsung oleh Mariana, seorang pedagang nasi goreng Padang dan ayam penyet. Sempat menutup warungnya usai Lebaran tahun 2025 lalu, ia baru kembali berjualan tiga bulan yang lalu. Saat ini, ia mengeluhkan pendapatannya yang kembali menurun.

"Sekarang kondisinya sepi sekali, beda jauh dengan bulan kemarin yang masih lumayan ramai. Penyebabnya karena anak sekolah sudah mulai masuk, sementara sebagian besar mahasiswa justru sedang libur atau pulang kampung," ungkap Mariana saat diwawancarai Pekanbaru.tv, Jumat (17/7/2026).

Untuk menyiasati keadaan yang sepi di siang hari, Mariana kini lebih mengandalkan penjualan di akhir pekan. Pada hari biasa, pembeli baru mulai ramai di malam hari. Namun pada hari libur seperti Sabtu dan Minggu, dagangannya sudah didatangi pembeli sejak pagi hingga malam. Menu andalannya seperti ayam bakar, ayam penyet, dan nasi goreng tetap menjadi incaran utama.

Selain sepinya pembeli, Mariana juga terbebani dengan harga bahan masakan di pasar yang tidak menentu. Ia harus pintar-pintar mengatur pengeluaran agar tetap mendapat untung.

"Harga bahan baku itu sering naik turun. Daging ayam misalnya, harganya bisa naik tajam, lalu normal lagi, lalu tiba-tiba naik lagi. Begitu juga cabai. Tapi yang harganya paling terasa melonjak saat ini malah sayuran seperti timun dan tomat," jelasnya.

Karena berjualan di area pusat kuliner, Mariana mengaku pendapatannya sangat terbantu jika ada rombongan bus antar kota seperti dari Duri atau Bangkinang yang singgah di lokasinya.

"Strategi jualan kami sebenarnya sangat bergantung pada pengelola tempat ini. Kalau ada bus pariwisata atau bus luar kota yang mampir, pendapatan langsung naik karena penumpang pasti cari makan di sini. Tapi kalau tidak ada bus, kami hanya bisa berharap dari orang-orang sekitar daerah Pekanbaru saja," tambah Mariana.

Di tengah kondisi yang serba tidak menentu, Mariana sangat berharap pemerintah bisa segera turun tangan. Harapannya sederhana: pemerintah dapat menstabilkan harga bahan-bahan kebutuhan pokok dan memberikan perhatian lebih kepada pedagang-pedagang kecil sepertinya agar tetap bisa bertahan.(*)