
PEKANBARU-Kondisi pasar yang sepi dan harga bahan pokok yang sering berubah membuat para pedagang makanan skala kecil di Pekanbaru kesulitan. Berkurangnya jumlah pembeli sangat terasa jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.
Hal ini dirasakan langsung oleh Mariana, seorang pedagang nasi goreng Padang dan ayam penyet. Sempat menutup warungnya usai Lebaran tahun 2025 lalu, ia baru kembali berjualan tiga bulan yang lalu. Saat ini, ia mengeluhkan pendapatannya yang kembali menurun.
"Sekarang kondisinya sepi sekali, beda jauh dengan bulan kemarin yang masih lumayan ramai. Penyebabnya karena anak sekolah sudah mulai masuk, sementara sebagian besar mahasiswa justru sedang libur atau pulang kampung," ungkap Mariana saat diwawancarai Pekanbaru.tv, Jumat (17/7/2026).

Untuk menyiasati keadaan yang sepi di siang hari, Mariana kini lebih mengandalkan penjualan di akhir pekan. Pada hari biasa, pembeli baru mulai ramai di malam hari. Namun pada hari libur seperti Sabtu dan Minggu, dagangannya sudah didatangi pembeli sejak pagi hingga malam. Menu andalannya seperti ayam bakar, ayam penyet, dan nasi goreng tetap menjadi incaran utama.
Selain sepinya pembeli, Mariana juga terbebani dengan harga bahan masakan di pasar yang tidak menentu. Ia harus pintar-pintar mengatur pengeluaran agar tetap mendapat untung.
"Harga bahan baku itu sering naik turun. Daging ayam misalnya, harganya bisa naik tajam, lalu normal lagi, lalu tiba-tiba naik lagi. Begitu juga cabai. Tapi yang harganya paling terasa melonjak saat ini malah sayuran seperti timun dan tomat," jelasnya.
Karena berjualan di area pusat kuliner, Mariana mengaku pendapatannya sangat terbantu jika ada rombongan bus antar kota seperti dari Duri atau Bangkinang yang singgah di lokasinya.
"Strategi jualan kami sebenarnya sangat bergantung pada pengelola tempat ini. Kalau ada bus pariwisata atau bus luar kota yang mampir, pendapatan langsung naik karena penumpang pasti cari makan di sini. Tapi kalau tidak ada bus, kami hanya bisa berharap dari orang-orang sekitar daerah Pekanbaru saja," tambah Mariana.
Di tengah kondisi yang serba tidak menentu, Mariana sangat berharap pemerintah bisa segera turun tangan. Harapannya sederhana: pemerintah dapat menstabilkan harga bahan-bahan kebutuhan pokok dan memberikan perhatian lebih kepada pedagang-pedagang kecil sepertinya agar tetap bisa bertahan.(*)




PEKANBARU-Kondisi pasar yang sepi dan harga bahan pokok yang sering berubah membuat para pedagang makanan skala kecil di Pekanbaru kesulitan. Berkurangnya jumlah pembeli sangat terasa jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.
Hal ini dirasakan langsung oleh Mariana, seorang pedagang nasi goreng Padang dan ayam penyet. Sempat menutup warungnya usai Lebaran tahun 2025 lalu, ia baru kembali berjualan tiga bulan yang lalu. Saat ini, ia mengeluhkan pendapatannya yang kembali menurun.
"Sekarang kondisinya sepi sekali, beda jauh dengan bulan kemarin yang masih lumayan ramai. Penyebabnya karena anak sekolah sudah mulai masuk, sementara sebagian besar mahasiswa justru sedang libur atau pulang kampung," ungkap Mariana saat diwawancarai Pekanbaru.tv, Jumat (17/7/2026).
Untuk menyiasati keadaan yang sepi di siang hari, Mariana kini lebih mengandalkan penjualan di akhir pekan. Pada hari biasa, pembeli baru mulai ramai di malam hari. Namun pada hari libur seperti Sabtu dan Minggu, dagangannya sudah didatangi pembeli sejak pagi hingga malam. Menu andalannya seperti ayam bakar, ayam penyet, dan nasi goreng tetap menjadi incaran utama.
Selain sepinya pembeli, Mariana juga terbebani dengan harga bahan masakan di pasar yang tidak menentu. Ia harus pintar-pintar mengatur pengeluaran agar tetap mendapat untung.
"Harga bahan baku itu sering naik turun. Daging ayam misalnya, harganya bisa naik tajam, lalu normal lagi, lalu tiba-tiba naik lagi. Begitu juga cabai. Tapi yang harganya paling terasa melonjak saat ini malah sayuran seperti timun dan tomat," jelasnya.
Karena berjualan di area pusat kuliner, Mariana mengaku pendapatannya sangat terbantu jika ada rombongan bus antar kota seperti dari Duri atau Bangkinang yang singgah di lokasinya.
"Strategi jualan kami sebenarnya sangat bergantung pada pengelola tempat ini. Kalau ada bus pariwisata atau bus luar kota yang mampir, pendapatan langsung naik karena penumpang pasti cari makan di sini. Tapi kalau tidak ada bus, kami hanya bisa berharap dari orang-orang sekitar daerah Pekanbaru saja," tambah Mariana.
Di tengah kondisi yang serba tidak menentu, Mariana sangat berharap pemerintah bisa segera turun tangan. Harapannya sederhana: pemerintah dapat menstabilkan harga bahan-bahan kebutuhan pokok dan memberikan perhatian lebih kepada pedagang-pedagang kecil sepertinya agar tetap bisa bertahan.(*)