logo
Pemko Pekanbaru Tegaskan Rumah Sakit Tak Boleh Bedakan Pasien BPJS dan Umum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pemko Pekanbaru Buka Peluang Bangun Waste Station di Kampus UNRI Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kapal Berbendera Tanzania Disergap di Bengkalis, Diduga Bawa Lebih 2 Ton Methamp Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Penanganan Gempa NTT, Pemerintah Masih Mampu Belum Buka Bantuan Asing Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Gempa NTT Rusak 19.297 Rumah, Lebih dari 6.000 Bangunan Masuk Kategori Berat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Desa Sungai Gantang Sukses Bentangkan Bendera 1.081 Meter di Jembatan Rumbai Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 133 HGB Pedagang STC Dipersoalkan, Pemko Pekanbaru Didesak Buka Dasar Kebijakan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD Pekanbaru Soroti Data Desil Warga: Salah Klasifikasi Bisa Bikin Bantuan Ter Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / KARHUTLA
Riau Tiga Besar Penyumbang Titik Panas Nasional, BMKG: Puncak Ancaman Karhutla Masih Mengintai
Penangan kebakaran hutan dan lahan di Riau
Riau Tiga Besar Penyumbang Titik Panas Nasional, BMKG: Puncak Ancaman Karhutla Masih Mengintai
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: lingkungan | 30 Juli 2026 | 16:56:13

JAKARTA-Provinsi Riau kembali menjadi salah satu wilayah dengan jumlah titik panas (hotspot) terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Riau masuk tiga besar daerah penyumbang titik panas nasional bersama Kalimantan Barat dan Papua Selatan hingga pertengahan Juli 2026.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan akumulasi titik panas indikator kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara nasional telah mencapai 5.019 titik. Grafik pemantauan sejak awal tahun menunjukkan peningkatan yang jauh lebih cepat dibandingkan periode El Nino pada 2015, 2019, maupun 2023.

"Grafik akumulasi ini menunjukkan jumlah hotspot dari Januari hingga pertengahan Juli 2026 mengalami peningkatan yang lebih cepat dibandingkan kondisi tahun-tahun El Nino terdahulu, yaitu tahun 2015, 2019, dan 2023," ujar Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.

iklan-view

Menurut BMKG, tingginya jumlah titik panas di Riau menjadi sinyal perlunya peningkatan kewaspadaan. Pasalnya, provinsi ini termasuk daerah yang memiliki hamparan lahan gambut luas sehingga sangat rentan terbakar saat musim kemarau panjang dipicu fenomena El Nino.

BMKG memprediksi puncak risiko karhutla akan terjadi pada Agustus hingga September 2026, seiring meningkatnya potensi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Selain Riau, daerah yang masuk kategori risiko tinggi meliputi Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Papua Selatan.

Ardhasena menegaskan periode Juli hingga akhir September merupakan masa paling kritis terhadap munculnya kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, intensifikasi pemantauan lapangan, patroli, serta pengawasan di daerah rawan harus terus diperkuat guna mencegah meluasnya titik api.

"Intensifikasi pemantauan dan pengawasan di daerah-daerah ini menjadi krusial untuk mencegah eskalasi titik api dan dampak kerusakan lingkungan yang lebih luas," katanya.

BMKG juga mengungkapkan fenomena El Nino diperkirakan masih akan bertahan hingga akhir tahun. Bahkan, indeks El Nino diproyeksikan mencapai puncaknya pada Desember 2026 hingga Januari 2027 dengan peluang berkembang melampaui kategori kuat.

Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan ancaman karhutla, termasuk di Provinsi Riau. Berdasarkan pemantauan BMKG pada dasarian terakhir Juli 2026, musim kemarau kini telah meluas di berbagai wilayah Indonesia. Sebanyak 509 Zona Musim atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, sementara wilayah yang masih berada pada musim hujan hanya tersisa 77 Zona Musim.

Dengan kondisi tersebut, BMKG mengingatkan seluruh pemangku kepentingan di Riau untuk memperkuat langkah pencegahan karhutla sejak dini agar dampak El Nino terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan aktivitas ekonomi dapat ditekan semaksimal mungkin.sumber:Antara

Riau Tiga Besar Penyumbang Titik Panas Nasional, BMKG: Puncak Ancaman Karhutla Masih Mengintai
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: lingkungan | 30 Juli 2026 | 16:56:13
Riau Tiga Besar Penyumbang Titik Panas Nasional, BMKG: Puncak Ancaman Karhutla Masih Mengintai
Penangan kebakaran hutan dan lahan di Riau

JAKARTA-Provinsi Riau kembali menjadi salah satu wilayah dengan jumlah titik panas (hotspot) terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Riau masuk tiga besar daerah penyumbang titik panas nasional bersama Kalimantan Barat dan Papua Selatan hingga pertengahan Juli 2026.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan akumulasi titik panas indikator kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara nasional telah mencapai 5.019 titik. Grafik pemantauan sejak awal tahun menunjukkan peningkatan yang jauh lebih cepat dibandingkan periode El Nino pada 2015, 2019, maupun 2023.

"Grafik akumulasi ini menunjukkan jumlah hotspot dari Januari hingga pertengahan Juli 2026 mengalami peningkatan yang lebih cepat dibandingkan kondisi tahun-tahun El Nino terdahulu, yaitu tahun 2015, 2019, dan 2023," ujar Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.

Menurut BMKG, tingginya jumlah titik panas di Riau menjadi sinyal perlunya peningkatan kewaspadaan. Pasalnya, provinsi ini termasuk daerah yang memiliki hamparan lahan gambut luas sehingga sangat rentan terbakar saat musim kemarau panjang dipicu fenomena El Nino.

BMKG memprediksi puncak risiko karhutla akan terjadi pada Agustus hingga September 2026, seiring meningkatnya potensi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Selain Riau, daerah yang masuk kategori risiko tinggi meliputi Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Papua Selatan.

Ardhasena menegaskan periode Juli hingga akhir September merupakan masa paling kritis terhadap munculnya kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, intensifikasi pemantauan lapangan, patroli, serta pengawasan di daerah rawan harus terus diperkuat guna mencegah meluasnya titik api.

"Intensifikasi pemantauan dan pengawasan di daerah-daerah ini menjadi krusial untuk mencegah eskalasi titik api dan dampak kerusakan lingkungan yang lebih luas," katanya.

BMKG juga mengungkapkan fenomena El Nino diperkirakan masih akan bertahan hingga akhir tahun. Bahkan, indeks El Nino diproyeksikan mencapai puncaknya pada Desember 2026 hingga Januari 2027 dengan peluang berkembang melampaui kategori kuat.

Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan ancaman karhutla, termasuk di Provinsi Riau. Berdasarkan pemantauan BMKG pada dasarian terakhir Juli 2026, musim kemarau kini telah meluas di berbagai wilayah Indonesia. Sebanyak 509 Zona Musim atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, sementara wilayah yang masih berada pada musim hujan hanya tersisa 77 Zona Musim.

Dengan kondisi tersebut, BMKG mengingatkan seluruh pemangku kepentingan di Riau untuk memperkuat langkah pencegahan karhutla sejak dini agar dampak El Nino terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan aktivitas ekonomi dapat ditekan semaksimal mungkin.sumber:Antara