logo
Pemko Pekanbaru Tegaskan Rumah Sakit Tak Boleh Bedakan Pasien BPJS dan Umum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pemko Pekanbaru Buka Peluang Bangun Waste Station di Kampus UNRI Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kapal Berbendera Tanzania Disergap di Bengkalis, Diduga Bawa Lebih 2 Ton Methamp Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Penanganan Gempa NTT, Pemerintah Masih Mampu Belum Buka Bantuan Asing Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Gempa NTT Rusak 19.297 Rumah, Lebih dari 6.000 Bangunan Masuk Kategori Berat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Desa Sungai Gantang Sukses Bentangkan Bendera 1.081 Meter di Jembatan Rumbai Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 133 HGB Pedagang STC Dipersoalkan, Pemko Pekanbaru Didesak Buka Dasar Kebijakan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD Pekanbaru Soroti Data Desil Warga: Salah Klasifikasi Bisa Bikin Bantuan Ter Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / UMKM
Belanja di Festival Nurlela Pekanbaru Tak Pakai QRIS, Pengunjung Harus Menukar Uang dengan Koin Batok Kelapa
Koin-koin dari batok kelapa yang dipoles menjadi alat tukar dalam festival Nurlela yang diikuti pelaku-pelaku UMKM.(ft:ferdy)
Belanja di Festival Nurlela Pekanbaru Tak Pakai QRIS, Pengunjung Harus Menukar Uang dengan Koin Batok Kelapa
Editor: Ridho Haztil | Penulis: widya Putri Sugianto
Rubrik: ekonomi | 5 Agustus 2026 | 15:44:00

PEKANBARU-Di era ketika transaksi serba praktis cukup dengan memindai QRIS atau menggesek kartu, Festival Kuliner Pasar Nurlela di halaman MTC (Mall Tampan Center) Panam, Pekanbaru, justru mengajak pengunjung kembali merasakan sensasi berbelanja ala tempo dulu.

Tak ada uang tunai atau dompet digital yang digunakan langsung di lapak-lapak pedagang. Sebagai gantinya, setiap pengunjung harus lebih dulu menukarkan uang di loket menjadi koin batok kelapa—alat tukar unik berbentuk kepingan bundar yang dibuat dari tempurung kelapa. Permukaannya dipoles halus dan diberi penanda nominal, menghadirkan nuansa tradisional yang langsung mencuri perhatian.

Keunikan inilah yang membuat Pasar Nurlela viral di berbagai platform media sosial. Banyak pengunjung mengabadikan momen saat menukar uang dengan koin batok kelapa, lalu menggunakannya untuk membeli beragam kuliner khas Melayu dan jajanan nusantara.

iklan-view

Menurut Junita, perwakilan panitia pelaksana Pasar Nurlela, penggunaan koin batok kelapa bukan sekadar gimmick untuk menarik perhatian publik.

"Kami ingin menghadirkan ruang publik yang mengangkat kearifan lokal Melayu sekaligus memberikan pengalaman berbelanja yang berbeda. Batok kelapa merupakan bahan alami yang lekat dengan kehidupan masyarakat dan memiliki nilai budaya. Kami ingin menghidupkan kembali nuansa itu melalui sistem transaksi di Pasar Nurlela," ujarnya.

Selain memperkuat identitas acara, sistem tersebut juga memudahkan panitia mengelola transaksi.

"Dengan sistem koin, kami lebih mudah memantau perputaran omzet harian secara akurat. Di sisi lain, pengunjung tidak hanya datang untuk membeli makanan, tetapi juga menikmati pengalaman rekreasi budaya yang sulit ditemukan di tempat lain," tambahnya.

Konsep tersebut juga membawa dampak positif bagi para pelaku UMKM yang ikut meramaikan festival. Rasa penasaran masyarakat terhadap sistem pembayaran menggunakan koin batok kelapa terbukti mampu mendatangkan lebih banyak pengunjung.

"Secara penjualan, efek viralnya luar biasa. Banyak orang datang karena penasaran ingin mencoba belanja pakai koin batok kelapa. Setelah itu mereka sekalian mencicipi berbagai kuliner yang kami jual," kata Yuli, salah seorang pedagang kuliner Melayu.

Ia mengaku para pedagang tidak mengalami kendala berarti dalam beradaptasi dengan sistem transaksi tersebut karena mekanismenya sederhana dan mudah dipahami.

Bagi pengunjung, pengalaman berbelanja menggunakan koin batok kelapa menghadirkan sensasi yang berbeda dari aktivitas belanja sehari-hari.

"Unik banget. Biasanya tinggal scan QRIS atau bayar pakai uang tunai, tapi di sini harus menukar uang dulu dengan koin batok kelapa. Rasanya seperti kembali ke suasana pasar rakyat atau pasar malam zaman dulu. Jadi bukan cuma kulinernya yang menarik, pengalaman belanjanya juga berkesan," tutur Tika, salah seorang pengunjung.

Melalui perpaduan kuliner, budaya, dan inovasi sederhana berbasis kearifan lokal, Pasar Nurlela berhasil menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar wisata kuliner. Koin batok kelapa yang semula hanya berfungsi sebagai alat tukar kini menjadi ikon festival, membangun nostalgia sekaligus menciptakan daya tarik baru yang menggerakkan ekonomi kreatif dan memperkuat eksistensi UMKM di Pekanbaru.

Home / Ekonomi
Belanja di Festival Nurlela Pekanbaru Tak Pakai QRIS, Pengunjung Harus Menukar Uang dengan Koin Batok Kelapa
Editor: Ridho Haztil | Penulis: widya Putri Sugianto
Rubrik: ekonomi | 5 Agustus 2026 | 15:44:00
Belanja di Festival Nurlela Pekanbaru Tak Pakai QRIS, Pengunjung Harus Menukar Uang dengan Koin Batok Kelapa
Koin-koin dari batok kelapa yang dipoles menjadi alat tukar dalam festival Nurlela yang diikuti pelaku-pelaku UMKM.(ft:ferdy)

PEKANBARU-Di era ketika transaksi serba praktis cukup dengan memindai QRIS atau menggesek kartu, Festival Kuliner Pasar Nurlela di halaman MTC (Mall Tampan Center) Panam, Pekanbaru, justru mengajak pengunjung kembali merasakan sensasi berbelanja ala tempo dulu.

Tak ada uang tunai atau dompet digital yang digunakan langsung di lapak-lapak pedagang. Sebagai gantinya, setiap pengunjung harus lebih dulu menukarkan uang di loket menjadi koin batok kelapa—alat tukar unik berbentuk kepingan bundar yang dibuat dari tempurung kelapa. Permukaannya dipoles halus dan diberi penanda nominal, menghadirkan nuansa tradisional yang langsung mencuri perhatian.

Keunikan inilah yang membuat Pasar Nurlela viral di berbagai platform media sosial. Banyak pengunjung mengabadikan momen saat menukar uang dengan koin batok kelapa, lalu menggunakannya untuk membeli beragam kuliner khas Melayu dan jajanan nusantara.

Menurut Junita, perwakilan panitia pelaksana Pasar Nurlela, penggunaan koin batok kelapa bukan sekadar gimmick untuk menarik perhatian publik.

"Kami ingin menghadirkan ruang publik yang mengangkat kearifan lokal Melayu sekaligus memberikan pengalaman berbelanja yang berbeda. Batok kelapa merupakan bahan alami yang lekat dengan kehidupan masyarakat dan memiliki nilai budaya. Kami ingin menghidupkan kembali nuansa itu melalui sistem transaksi di Pasar Nurlela," ujarnya.

Selain memperkuat identitas acara, sistem tersebut juga memudahkan panitia mengelola transaksi.

"Dengan sistem koin, kami lebih mudah memantau perputaran omzet harian secara akurat. Di sisi lain, pengunjung tidak hanya datang untuk membeli makanan, tetapi juga menikmati pengalaman rekreasi budaya yang sulit ditemukan di tempat lain," tambahnya.

Konsep tersebut juga membawa dampak positif bagi para pelaku UMKM yang ikut meramaikan festival. Rasa penasaran masyarakat terhadap sistem pembayaran menggunakan koin batok kelapa terbukti mampu mendatangkan lebih banyak pengunjung.

"Secara penjualan, efek viralnya luar biasa. Banyak orang datang karena penasaran ingin mencoba belanja pakai koin batok kelapa. Setelah itu mereka sekalian mencicipi berbagai kuliner yang kami jual," kata Yuli, salah seorang pedagang kuliner Melayu.

Ia mengaku para pedagang tidak mengalami kendala berarti dalam beradaptasi dengan sistem transaksi tersebut karena mekanismenya sederhana dan mudah dipahami.

Bagi pengunjung, pengalaman berbelanja menggunakan koin batok kelapa menghadirkan sensasi yang berbeda dari aktivitas belanja sehari-hari.

"Unik banget. Biasanya tinggal scan QRIS atau bayar pakai uang tunai, tapi di sini harus menukar uang dulu dengan koin batok kelapa. Rasanya seperti kembali ke suasana pasar rakyat atau pasar malam zaman dulu. Jadi bukan cuma kulinernya yang menarik, pengalaman belanjanya juga berkesan," tutur Tika, salah seorang pengunjung.

Melalui perpaduan kuliner, budaya, dan inovasi sederhana berbasis kearifan lokal, Pasar Nurlela berhasil menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar wisata kuliner. Koin batok kelapa yang semula hanya berfungsi sebagai alat tukar kini menjadi ikon festival, membangun nostalgia sekaligus menciptakan daya tarik baru yang menggerakkan ekonomi kreatif dan memperkuat eksistensi UMKM di Pekanbaru.