logo
Pasar Kodim Diduga Dialihfungsikan Jadi Kampus, KOMPOR Foundation dan PPSP Perta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPR Dengarkan Tuntutan 36 Ribu Kades AMJ Terkait Perpanjangan Masa Jabatan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menpora dan Ketua KOI Resmi Kukuhkan Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Perkasa, Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kembali ke Pasar In Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Komjak RI Turun ke Kejari Pekanbaru, Pastikan Pengaduan Masyarakat Ditindaklanju Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Eskalasi Konflik Memanas, Harga Minyak Dunia Mendekati Level US$100 per Barel Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Manchester City Pimpin Klasemen Liga Champions Usai Taklukkan Porto Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 3.056 Kasus Gangguan Kesehatan di Pekanbaru, Pemko Perpanjang PJJ di Tengah Kabu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / UMKM
Di Tengah Pasar Kuliner Modern, Tiul Khas Wonogiri Curi Perhatian di Pasar Nurlela
Tiul wonogiri di Festival Nurlela
Di Tengah Pasar Kuliner Modern, Tiul Khas Wonogiri Curi Perhatian di Pasar Nurlela
Editor: Ridho Haztil | Penulis: aini syafitri az
Rubrik: ekonomi | 6 Agustus 2026 | 22:14:00

PEKANBARU – Di tengah derasnya arus kuliner modern yang terus bermunculan, sajian tradisional tiul justru tampil mencuri perhatian dalam Festival Kuliner Pasar Nurlela yang digelar di halaman MTC Panam, Pekanbaru. Makanan khas Wonogiri, Jawa Tengah, ini menjadi salah satu bukti bahwa kuliner warisan leluhur masih mampu bertahan dan diminati di tengah gempuran makanan kekinian.

Tiul dibawa oleh Tina Agustina, pedagang asal Wonogiri yang kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Dengan penuh semangat, Tina terus memperkenalkan kuliner yang telah diwariskan turun-temurun tersebut ke berbagai daerah melalui sejumlah festival kuliner.

Ia menjelaskan bahwa tiul merupakan makanan tradisional yang sudah lama dikenal masyarakat Wonogiri. Di tengah maraknya makanan modern, keberadaan tiul menjadi pengingat akan kekayaan kuliner lokal yang tidak boleh hilang.

iklan-view

“Proses pembuatan tiul cukup panjang. Ubi terlebih dahulu dikeringkan hingga melalui proses fermentasi. Setelah itu diparut, dikukus, lalu disajikan dengan taburan gula aren dan parutan kelapa,” ujar Tina.

Menurutnya, kesederhanaan rasa justru menjadi kekuatan utama tiul. Di saat banyak makanan modern menawarkan rasa yang kompleks dan instan, tiul tetap mempertahankan cita rasa alami yang lembut, manis, dan gurih.

“Teksturnya lembut, manisnya gula aren berpadu dengan gurihnya kelapa parut. Ini yang membuat tiul tetap punya tempat di hati penikmat kuliner tradisional,” tambahnya.

Tina mengaku diundang ke Festival Kuliner Pasar Nurlela karena konsistensinya membawa makanan tradisional khas Jawa. Sebelum hadir di Pekanbaru, ia juga telah memperkenalkan tiul di berbagai daerah seperti Duri, Bagan Batu, dan Dumai.

Ia menilai Festival Pasar Nurlela memiliki keunikan tersendiri karena tidak hanya menampilkan kuliner, tetapi juga menghadirkan kembali nuansa tradisional di tengah modernisasi. Sistem transaksi menggunakan koin batok kelapa yang ditukar dengan uang tunai menjadi salah satu daya tarik yang mengingatkan pada suasana tempo dulu.

Salah seorang pengunjung, Rina, mengaku tertarik mencoba tiul karena rasa penasarannya terhadap kuliner tradisional yang kini semakin jarang ditemui di tengah dominasi makanan modern.

“Saya baru pertama kali mencoba tiul. Rasanya enak, lembut, dan sederhana tapi berkesan. Justru di tengah banyaknya makanan modern, tiul seperti ini punya nilai tersendiri,” katanya.

Ia juga menilai konsep festival yang mempertahankan unsur tradisional, termasuk penggunaan koin batok kelapa, membuat pengalaman kuliner menjadi lebih berkesan.

Rina berharap Festival Kuliner Pasar Nurlela dapat terus digelar secara rutin sebagai ruang pelestarian kuliner tradisional. Menurutnya, kegiatan seperti ini penting untuk menjaga agar makanan warisan daerah tidak tenggelam oleh perkembangan kuliner modern, sekaligus mengenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda.

Home / Ekonomi
Di Tengah Pasar Kuliner Modern, Tiul Khas Wonogiri Curi Perhatian di Pasar Nurlela
Editor: Ridho Haztil | Penulis: aini syafitri az
Rubrik: ekonomi | 6 Agustus 2026 | 22:14:00
Di Tengah Pasar Kuliner Modern, Tiul Khas Wonogiri Curi Perhatian di Pasar Nurlela
Tiul wonogiri di Festival Nurlela

PEKANBARU – Di tengah derasnya arus kuliner modern yang terus bermunculan, sajian tradisional tiul justru tampil mencuri perhatian dalam Festival Kuliner Pasar Nurlela yang digelar di halaman MTC Panam, Pekanbaru. Makanan khas Wonogiri, Jawa Tengah, ini menjadi salah satu bukti bahwa kuliner warisan leluhur masih mampu bertahan dan diminati di tengah gempuran makanan kekinian.

Tiul dibawa oleh Tina Agustina, pedagang asal Wonogiri yang kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Dengan penuh semangat, Tina terus memperkenalkan kuliner yang telah diwariskan turun-temurun tersebut ke berbagai daerah melalui sejumlah festival kuliner.

Ia menjelaskan bahwa tiul merupakan makanan tradisional yang sudah lama dikenal masyarakat Wonogiri. Di tengah maraknya makanan modern, keberadaan tiul menjadi pengingat akan kekayaan kuliner lokal yang tidak boleh hilang.

“Proses pembuatan tiul cukup panjang. Ubi terlebih dahulu dikeringkan hingga melalui proses fermentasi. Setelah itu diparut, dikukus, lalu disajikan dengan taburan gula aren dan parutan kelapa,” ujar Tina.

Menurutnya, kesederhanaan rasa justru menjadi kekuatan utama tiul. Di saat banyak makanan modern menawarkan rasa yang kompleks dan instan, tiul tetap mempertahankan cita rasa alami yang lembut, manis, dan gurih.

“Teksturnya lembut, manisnya gula aren berpadu dengan gurihnya kelapa parut. Ini yang membuat tiul tetap punya tempat di hati penikmat kuliner tradisional,” tambahnya.

Tina mengaku diundang ke Festival Kuliner Pasar Nurlela karena konsistensinya membawa makanan tradisional khas Jawa. Sebelum hadir di Pekanbaru, ia juga telah memperkenalkan tiul di berbagai daerah seperti Duri, Bagan Batu, dan Dumai.

Ia menilai Festival Pasar Nurlela memiliki keunikan tersendiri karena tidak hanya menampilkan kuliner, tetapi juga menghadirkan kembali nuansa tradisional di tengah modernisasi. Sistem transaksi menggunakan koin batok kelapa yang ditukar dengan uang tunai menjadi salah satu daya tarik yang mengingatkan pada suasana tempo dulu.

Salah seorang pengunjung, Rina, mengaku tertarik mencoba tiul karena rasa penasarannya terhadap kuliner tradisional yang kini semakin jarang ditemui di tengah dominasi makanan modern.

“Saya baru pertama kali mencoba tiul. Rasanya enak, lembut, dan sederhana tapi berkesan. Justru di tengah banyaknya makanan modern, tiul seperti ini punya nilai tersendiri,” katanya.

Ia juga menilai konsep festival yang mempertahankan unsur tradisional, termasuk penggunaan koin batok kelapa, membuat pengalaman kuliner menjadi lebih berkesan.

Rina berharap Festival Kuliner Pasar Nurlela dapat terus digelar secara rutin sebagai ruang pelestarian kuliner tradisional. Menurutnya, kegiatan seperti ini penting untuk menjaga agar makanan warisan daerah tidak tenggelam oleh perkembangan kuliner modern, sekaligus mengenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda.