logo
Keroyok Tukang Gigi hingga Tewas ,Tiga Pemuda Jadi Tersangka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pasar Kodim Diduga Dialihfungsikan Jadi Kampus, KOMPOR Foundation dan PPSP Perta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPR Dengarkan Tuntutan 36 Ribu Kades AMJ Terkait Perpanjangan Masa Jabatan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menpora dan Ketua KOI Resmi Kukuhkan Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Perkasa, Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kembali ke Pasar In Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Komjak RI Turun ke Kejari Pekanbaru, Pastikan Pengaduan Masyarakat Ditindaklanju Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Eskalasi Konflik Memanas, Harga Minyak Dunia Mendekati Level US$100 per Barel Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Manchester City Pimpin Klasemen Liga Champions Usai Taklukkan Porto Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Siak
Keluarga dr Alek Tolak Hasil Kesimpulan Polisi, Ajukan  Ekshumasi
Kuasa hukum Keluarga dr ACL Freddy Simanjuntak dan istri korban dr Yuilati Marbun
CCTV Mati dan Kondisi Tubuh tanda-tanda Kekerasan
Keluarga dr Alek Tolak Hasil Kesimpulan Polisi, Ajukan Ekshumasi
Editor: Ridho Haztil | Penulis: rico syahputra
Rubrik: news | 7 Agustus 2026 | 16:58:50

SIAK-Meski Polres Siak telah mengeluarkan kesimpulan Dr Alex Cristo Loris (ACL) meninggal karena bunuh diri, istri korban dr Yuliati Marbun mengatakan belum menerima kesimpulan tersebut karena  masih terdapat sejumlah kejanggalan. 

Diantanya yang paling mencolok adalah kondisi kamera pengawas (CCTV) di beberapa titik rumah sakit yang disebut tidak berfungsi pada saat-saat penting ketika korban dinyatakan hilang. Keluarga kemudian berencana mengajukan ekshumasi atau autopsi ulang terhadap jenazah korban melalui penyidik Polda Riau dengan melibatkan tim forensik independen dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU). Selain itu, tim advokasi juga menyatakan akan menyerahkan bukti tambahan serta menghadirkan saksi-saksi untuk mendukung proses penyelidikan.

Sebelumnya, dr ACL ditemukan di area semak belukar sekitar lima meter dari pagar belakang RSUD Tengku Rafian Siak pada tanggal 15 Juli 2026. Hasil pemeriksaan dan kesimpulan Polres Siak menyatakan korban diduga meninggal akibat bunuh diri dengan menyuntikkan obat rocuronium bromide ke tubuhnya sendiri. Hasil autopsi dan pemeriksaan psikologi forensik, korban disebut mengalami tekanan psikologis yang dipicu oleh beban pendidikan PPDS, persoalan finansial, serta tanggung jawab keluarga.

iklan-view

Hasil kesimpulan ini tidak diterima pihak keluarga, diantaranya pernyataan istri korban dr Yuliati. Dikatakan dr Yuliati, Selasa (14/7/2026), suaminya baru saja pulang dari rumah setelah menyelesaikan operasi di rumah sakit. Keduanya sempat makan bersama dan berbincang sekitar 20 menit.

Sekitar pukul 17.35 WIB, korban kembali berpamitan ke RSUD Tengku Rafian untuk menjalankan kegiatan free-op, yakni memeriksa pasien yang dijadwalkan menjalani operasi keesokan harinya.

"Beliau bilang paling lama dua jam. Saya hanya bilang hati-hati. Dia menjawab, 'ya sudah, tunggu saja saya di sini'," tutur dr. Yuliati.

Namun hingga malam hari, korban tak kunjung pulang. Pesan WhatsApp yang dikirim istrinya hanya berstatus terkirim tanpa balasan, sementara panggilan telepon tidak diangkat.

Sekitar pukul 20.00 WIB, seorang dokter senior menghubungi dr. Yuliati untuk menanyakan keberadaan suaminya karena ada pasien yang harus segera dioperasi. Merasa ada sesuatu yang tidak biasa, ia langsung menuju rumah sakit dan mencari korban di berbagai ruangan.

Dr Yuliati mengatakan, suaminya setiap dihubungi akan cepat merespons panggilan telepon.

"Biasanya suami saya kalau ditelepon pasti mengangkat karena selalu memakai headset. Sesibuk apa pun beliau pasti menjawab," katanya.

CCTV Berhenti Merekam

Dalam pencarian itu, dr. Yuliati meminta petugas keamanan membuka rekaman CCTV rumah sakit.

Rekaman pertama menunjukkan korban memasuki area RSUD sekitar pukul 17.46 WIB dengan mengenakan jas dokter, membawa tas sandang, serta memakai headset.

Namun setelah itu, rekaman tidak lagi memperlihatkan pergerakan korban.

"Petugas mengatakan CCTV di jalur berikutnya sedang mati," ujarnya.

Tak lama kemudian, seorang dokter pembimbing meminta petugas keamanan mencari korban di salah satu gedung rumah sakit dengan dugaan korban tertidur. Namun, dr. Yuliati mengaku tidak yakin karena suaminya tidak pernah mengeluhkan kelelahan sebelum berangkat.

Di tengah pencarian, keluarga memperoleh titik lokasi terakhir telepon seluler korban yang berada sekitar 200–300 meter dari rumah sakit. Meski sempat mendatangi lokasi tersebut, pencarian malam itu belum membuahkan hasil.

Saat kembali memeriksa CCTV, dr. Yuliati menemukan rekaman lain yang memperlihatkan korban keluar dari area rumah sakit sekitar pukul 18.03 WIB.

Dalam rekaman itu, korban sudah tidak mengenakan jas dokter, tetapi masih membawa tas sandang.

"Beliau berjalan menuju gerbang keluar, belok ke kiri, lalu setelah itu tidak ada lagi rekaman CCTV," katanya.

Ketika menanyakan keberadaan kamera lain, petugas keamanan disebut menjelaskan bahwa CCTV di jalur tersebut tidak berfungsi karena sedang dalam perbaikan.

Memastikan semuanya, keluarga kemudian memeriksa CCTV milik seorang dokter yang rumahnya berada di sekitar lokasi titik terakhir telepon korban. Dan Hasilnya, sungguh diluar dugaan. Kamera CCTV ini tidak merekam sejak 13 Juli pukul 12.41 WIB hingga 14 Juli dini hari.

"Saya bertanya kenapa CCTV-nya mati. Pemilik rumah juga mengaku tidak mengetahui penyebabnya karena biasanya CCTV itu tidak pernah bermasalah," ungkapnya.

Setelah pencarian berlanjut, korban akhirnya ditemukan meninggal dunia di semak-semak di luar pagar rumah sakit.

Tim advokasi keluarga korban, Freddy Simanjuntak, menyatakan pihaknya menolak hasil autopsi dan kesimpulan penyidik Polres Siak.

Menurutnya, terdapat sejumlah temuan yang dinilai perlu didalami, di antaranya adanya bercak darah di sekitar kepala korban dan lokasi penemuan jenazah, dugaan luka pada bagian leher, memar yang diduga menyerupai bekas jeratan, serta bintik-bintik pada pergelangan tangan dan perut korban.

Selain itu, keluarga juga mempertanyakan data lokasi telepon seluler korban yang beberapa kali terdeteksi berada di seberang gedung RSUD, sementara jenazah ditemukan di sisi lain rumah sakit.

Freddy juga menyebut keluarga membantah dugaan bahwa korban mengalami persoalan ekonomi maupun konflik rumah tangga. Menurutnya, kehidupan keluarga korban berjalan harmonis dan pendidikan PPDS yang dijalani korban tidak menunjukkan adanya persoalan berarti.

Keluarga bahkan berencana melaporkan penanganan perkara tersebut ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri karena menilai proses penyidikan belum dilakukan secara profesional.

Hingga kini, kepolisian masih berpegang pada hasil penyelidikan yang menyimpulkan kematian ACL sebagai peristiwa bunuh diri. Sementara itu, keluarga berharap proses hukum terus berjalan secara transparan dan seluruh fakta dapat diungkap melalui pemeriksaan yang independen.(*)

Home / News
CCTV Mati dan Kondisi Tubuh tanda-tanda Kekerasan
Keluarga dr Alek Tolak Hasil Kesimpulan Polisi, Ajukan Ekshumasi
Editor: Ridho Haztil | Penulis: rico syahputra
Rubrik: news | 7 Agustus 2026 | 16:58:50
Keluarga dr Alek Tolak Hasil Kesimpulan Polisi, Ajukan  Ekshumasi
Kuasa hukum Keluarga dr ACL Freddy Simanjuntak dan istri korban dr Yuilati Marbun

SIAK-Meski Polres Siak telah mengeluarkan kesimpulan Dr Alex Cristo Loris (ACL) meninggal karena bunuh diri, istri korban dr Yuliati Marbun mengatakan belum menerima kesimpulan tersebut karena  masih terdapat sejumlah kejanggalan. 

Diantanya yang paling mencolok adalah kondisi kamera pengawas (CCTV) di beberapa titik rumah sakit yang disebut tidak berfungsi pada saat-saat penting ketika korban dinyatakan hilang. Keluarga kemudian berencana mengajukan ekshumasi atau autopsi ulang terhadap jenazah korban melalui penyidik Polda Riau dengan melibatkan tim forensik independen dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU). Selain itu, tim advokasi juga menyatakan akan menyerahkan bukti tambahan serta menghadirkan saksi-saksi untuk mendukung proses penyelidikan.

Sebelumnya, dr ACL ditemukan di area semak belukar sekitar lima meter dari pagar belakang RSUD Tengku Rafian Siak pada tanggal 15 Juli 2026. Hasil pemeriksaan dan kesimpulan Polres Siak menyatakan korban diduga meninggal akibat bunuh diri dengan menyuntikkan obat rocuronium bromide ke tubuhnya sendiri. Hasil autopsi dan pemeriksaan psikologi forensik, korban disebut mengalami tekanan psikologis yang dipicu oleh beban pendidikan PPDS, persoalan finansial, serta tanggung jawab keluarga.

Hasil kesimpulan ini tidak diterima pihak keluarga, diantaranya pernyataan istri korban dr Yuliati. Dikatakan dr Yuliati, Selasa (14/7/2026), suaminya baru saja pulang dari rumah setelah menyelesaikan operasi di rumah sakit. Keduanya sempat makan bersama dan berbincang sekitar 20 menit.

Sekitar pukul 17.35 WIB, korban kembali berpamitan ke RSUD Tengku Rafian untuk menjalankan kegiatan free-op, yakni memeriksa pasien yang dijadwalkan menjalani operasi keesokan harinya.

"Beliau bilang paling lama dua jam. Saya hanya bilang hati-hati. Dia menjawab, 'ya sudah, tunggu saja saya di sini'," tutur dr. Yuliati.

Namun hingga malam hari, korban tak kunjung pulang. Pesan WhatsApp yang dikirim istrinya hanya berstatus terkirim tanpa balasan, sementara panggilan telepon tidak diangkat.

Sekitar pukul 20.00 WIB, seorang dokter senior menghubungi dr. Yuliati untuk menanyakan keberadaan suaminya karena ada pasien yang harus segera dioperasi. Merasa ada sesuatu yang tidak biasa, ia langsung menuju rumah sakit dan mencari korban di berbagai ruangan.

Dr Yuliati mengatakan, suaminya setiap dihubungi akan cepat merespons panggilan telepon.

"Biasanya suami saya kalau ditelepon pasti mengangkat karena selalu memakai headset. Sesibuk apa pun beliau pasti menjawab," katanya.

CCTV Berhenti Merekam

Dalam pencarian itu, dr. Yuliati meminta petugas keamanan membuka rekaman CCTV rumah sakit.

Rekaman pertama menunjukkan korban memasuki area RSUD sekitar pukul 17.46 WIB dengan mengenakan jas dokter, membawa tas sandang, serta memakai headset.

Namun setelah itu, rekaman tidak lagi memperlihatkan pergerakan korban.

"Petugas mengatakan CCTV di jalur berikutnya sedang mati," ujarnya.

Tak lama kemudian, seorang dokter pembimbing meminta petugas keamanan mencari korban di salah satu gedung rumah sakit dengan dugaan korban tertidur. Namun, dr. Yuliati mengaku tidak yakin karena suaminya tidak pernah mengeluhkan kelelahan sebelum berangkat.

Di tengah pencarian, keluarga memperoleh titik lokasi terakhir telepon seluler korban yang berada sekitar 200–300 meter dari rumah sakit. Meski sempat mendatangi lokasi tersebut, pencarian malam itu belum membuahkan hasil.

Saat kembali memeriksa CCTV, dr. Yuliati menemukan rekaman lain yang memperlihatkan korban keluar dari area rumah sakit sekitar pukul 18.03 WIB.

Dalam rekaman itu, korban sudah tidak mengenakan jas dokter, tetapi masih membawa tas sandang.

"Beliau berjalan menuju gerbang keluar, belok ke kiri, lalu setelah itu tidak ada lagi rekaman CCTV," katanya.

Ketika menanyakan keberadaan kamera lain, petugas keamanan disebut menjelaskan bahwa CCTV di jalur tersebut tidak berfungsi karena sedang dalam perbaikan.

Memastikan semuanya, keluarga kemudian memeriksa CCTV milik seorang dokter yang rumahnya berada di sekitar lokasi titik terakhir telepon korban. Dan Hasilnya, sungguh diluar dugaan. Kamera CCTV ini tidak merekam sejak 13 Juli pukul 12.41 WIB hingga 14 Juli dini hari.

"Saya bertanya kenapa CCTV-nya mati. Pemilik rumah juga mengaku tidak mengetahui penyebabnya karena biasanya CCTV itu tidak pernah bermasalah," ungkapnya.

Setelah pencarian berlanjut, korban akhirnya ditemukan meninggal dunia di semak-semak di luar pagar rumah sakit.

Tim advokasi keluarga korban, Freddy Simanjuntak, menyatakan pihaknya menolak hasil autopsi dan kesimpulan penyidik Polres Siak.

Menurutnya, terdapat sejumlah temuan yang dinilai perlu didalami, di antaranya adanya bercak darah di sekitar kepala korban dan lokasi penemuan jenazah, dugaan luka pada bagian leher, memar yang diduga menyerupai bekas jeratan, serta bintik-bintik pada pergelangan tangan dan perut korban.

Selain itu, keluarga juga mempertanyakan data lokasi telepon seluler korban yang beberapa kali terdeteksi berada di seberang gedung RSUD, sementara jenazah ditemukan di sisi lain rumah sakit.

Freddy juga menyebut keluarga membantah dugaan bahwa korban mengalami persoalan ekonomi maupun konflik rumah tangga. Menurutnya, kehidupan keluarga korban berjalan harmonis dan pendidikan PPDS yang dijalani korban tidak menunjukkan adanya persoalan berarti.

Keluarga bahkan berencana melaporkan penanganan perkara tersebut ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri karena menilai proses penyidikan belum dilakukan secara profesional.

Hingga kini, kepolisian masih berpegang pada hasil penyelidikan yang menyimpulkan kematian ACL sebagai peristiwa bunuh diri. Sementara itu, keluarga berharap proses hukum terus berjalan secara transparan dan seluruh fakta dapat diungkap melalui pemeriksaan yang independen.(*)