logo
Kejar Kemiskinan 2 Persen, Pemko Pekanbaru Petakan Wilayah Prioritas Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kejagung Sita Rp5 Miliar, Nama Ferry Boboho Muncul dalam Penyidikan Kasus Febrie Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Istri Sedang Melahirkan, Pengurus Ponpes Ash-Sholihah Sleman Diduga Perkosa Eks Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kuasa Hukum PT SPRH Divonis 12 Tahun, Korupsi Dana PI PHR Rugikan Negara Rp64,2 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Melemah ke Rp17.585, Reli 5 Hari Terhenti di Akhir Pekan, Ancaman The Fed Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ombudsman Dorong DPM-PTSP Pekanbaru Jadi Benchmark Tata Kelola Investasi Nasiona Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Berawal dari Jajanan Viral, Mochillpku Raup Omzet Jutaan Rupiah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Diduga Hendak Transaksi Sabu di Kebun Karet Kampar Kiri, Pria Dan Wanita Ini Dib Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Opini / Pekanbaru
69 Tahun Riau: Jalan Dibangun, Kemana Arah Kesejahteraan?
Boy Surya Hamta.
69 Tahun Riau: Jalan Dibangun, Kemana Arah Kesejahteraan?
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: opini | 9 Agustus 2026 | 13:56:15

Oleh: Boy Surya Hamta*

Hari ini, 9 Agustus 2026, Riau berusia 69 tahun.

Hampir tujuh dekade, bukan waktu yang sebentar. Ada banyak cerita yang sudah terlewati. Ada pergantian pemimpin, perubahan kebijakan, naik turunnya harga minyak, berkembangnya perkebunan sawit, tumbuhnya kota-kota baru sampai pembangunan jalan dan jembatan yang perlahan membuka keterisolasian sejumlah wilayah.

iklan-view

Kalau kita melihat Riau hari ini, memang sudah jauh berubah.

Jalan rusak diperbaiki. Jembatan dibangun. Konektivitas antar wilayah terus dibuka. Pemerintah juga terus mendorong berbagai pembangunan infrastruktur agar mobilitas orang dan barang semakin lancar.

Bahkan tahun 2026, pembangunan dan perbaikan jalan masih menjadi salah satu perhatian penting. Pemerintah Provinsi Riau melakukan perbaikan sejumlah ruas jalan, mengawal pelebaran jalan dan pembebasan lahan, dan berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk pembangunan infrastruktur strategis. Salah satunya persiapan pembangunan flyover Simpang Garuda Sakti di Pekanbaru.

Semua itu tentu harus diapresiasi.

Tetapi di hari ulang tahun Riau ini, rasanya kita juga perlu berhenti sejenak.

Bukan untuk mencari kesalahan. Bukan pula untuk mengatakan pembangunan selama ini gagal fokus.

Melainkan untuk bertanya dengan jujur. Setelah 69 tahun, apakah semua kekayaan Riau sudah cukup terasa menjadi kesejahteraan masyarakatnya?

Pertanyaan itu penting, karena Riau bukanlah daerah miskin sumber daya.

Minyak bumi pernah menjadi tulang punggung ekonomi. Gas bumi ada. Hutan pernah sangat luas. Perkebunan sawit berkembang begitu besar. Ada pulp dan kertas, energi, perkebunan, pertambangan dan berbagai aktivitas ekonomi berbasis sumber daya alam lainnya tersedia.

Tetapi, kekayaan alam dan kesejahteraan masyarakat ternyata bukan dua hal yang otomatis berjalan beriringan.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Kita sering mengukur pembangunan dari sesuatu yang bisa dilihat.

Jalan mulus. Jembatan dibangun. Gedung baru berdiri kokoh. Kawasan kota berkembang pesat.

Itu semua penting. Sebab infrastruktur adalah fondasi pembangunan. Tanpa jalan yang baik, hasil kebun sulit diangkut. Tanpa jembatan, masyarakat di daerah terpencil akan sulit bergerak. Tanpa konektivitas, investasi juga akan berjalan lambat.

Tetapi, pembangunan sesungguhnya tidak berhenti pada persoalan beton dan aspal.

Pembangunan pada akhirnya harus menjawab pertanyaan yang lebih sederhana, apakah kehidupan masyarakat sudah lebih baik?

Badan Pusat Statistik Provinsi Riau mencatat, ekonomi Riau tahun 2025 tumbuh 4,79 persen. Angka itu menunjukkan aktivitas ekonomi tetap bergerak. Namun September 2025, persentase penduduk miskin Riau tercatat 6,30 persen, naik dari 6,16 persen pada Maret 2025.

Angka ini bukan untuk menilai buruk atau baiknya pemerintahan. Angka itu hanya mengingatkan kita bahwa pertumbuhan ekonomi belum boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pembangunan.

Sebab ekonomi bisa tumbuh, tetapi pertanyaan berikutnya adalah siapa yang menikmati pertumbuhan itu?

Kekayaan Alam dan Pertanyaan Lama

Dalam ilmu sosial dan politik, ada satu persoalan yang sering dibahas, resource curse atau kutukan sumber daya alam.

Sederhananya, sebuah daerah atau negara bisa sangat kaya sumber daya alam, tetapi kekayaan tersebut tidak otomatis membuat seluruh masyarakatnya sejahtera.

Mengapa?

Karena yang menentukan bukan hanya berapa banyak minyak, gas, sawit atau sumber daya lainnya yang dimiliki.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sumber daya itu dikelola.

Siapa yang mendapatkan nilai tambah?

Berapa banyak lapangan kerja yang tercipta?

Seberapa besar masyarakat lokal ikut masuk dalam rantai ekonominya?

Berapa besar penerimaan negara dan daerah yang kembali menjadi pelayanan publik?

Apakah masyarakat di sekitar wilayah sumber daya mendapatkan manfaat yang layak?

Dan yang tidak kalah penting, apa yang terjadi ketika sumber daya alam itu suatu hari berkurang?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sebenarnya sangat relevan untuk Riau.

Kita tidak boleh hanya bertanya berapa banyak produksi minyak atau sawit. Kita juga perlu bertanya berapa banyak nilai tambah yang tinggal di Riau.

Jangan sampai Riau menjadi daerah yang kaya bahan mentah, tetapi miskin nilai tambah.

Jangan sampai hasil bumi keluar, sementara masyarakat hanya mendapatkan bagian kecil dari rantai ekonomi yang panjang.

Pembangunan Harus Naik Kelas

Mungkin inilah tantangan Riau ke depan.

Pembangunan tidak cukup hanya membangun apa yang terlihat.

Kita harus mulai lebih serius membangun apa yang tidak selalu terlihat.

Kualitas manusia. Pendidikan. Kesehatan. Keterampilan. Industri pengolahan. Kewirausahaan masyarakat. Riset. Teknologi dan tata kelola sumber daya alam yang lebih kuat.

Jalan yang bagus harus membuat petani lebih mudah membawa hasil kebunnya ke pasar.

Pelabuhan yang baik harus membuat produk Riau lebih kompetitif.

Kawasan industri harus membuka pekerjaan yang layak bagi masyarakat lokal.

Investasi harus menciptakan rantai ekonomi yang panjang, bukan hanya menghasilkan aktivitas ekonomi sesaat.

Di situlah infrastruktur mendapatkan maknanya.

Jalan bukan sekadar aspal.

Jembatan bukan sekadar beton.

Infrastruktur seharusnya menjadi jalan menuju kesempatan.

Jangan Sampai Kekayaan Hari Ini Menjadi Cerita Masa Lalu

Ada satu hal yang mungkin perlu kita renungkan bersama. Riau sudah sangat lama dikenal sebagai salah satu daerah kaya sumber daya alam.

Tetapi sampai kapan kita akan terus bergantung pada kekayaan alam?

Minyak tidak selamanya ada.

Hutan memiliki batas.

Sumber daya alam memiliki siklus.

Harga komoditas bisa naik dan turun.

Karena itu, pekerjaan besar Riau bukan sekadar mengambil kekayaan alam sebanyak-banyaknya.

Pekerjaan besarnya adalah bagaimana mengubah kekayaan alam menjadi modal, untuk membangun manusia dan ekonomi yang tahan terhadap perubahan zaman.

Ini bukan pekerjaan satu gubernur.

Bukan pekerjaan satu bupati atau wali kota.

Bukan pula pekerjaan pemerintah semata.

Ini pekerjaan bersama.

Pemerintah membuat kebijakan.

Dunia usaha menciptakan investasi dan lapangan kerja.

Perguruan tinggi menghasilkan pengetahuan.

Masyarakat mengawasi.

Media ikut menjaga ruang publik agar kebijakan pembangunan terus dibicarakan secara sehat.

Dan semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan sumber daya Riau tidak hanya menghasilkan angka pertumbuhan, tetapi juga menghasilkan rasa aman, kesempatan dan masa depan.

Riau 69 Tahun, Saatnya Bicara Kualitas

Tema Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau tahun 2026 adalah “Bersatu Dalam Keberagaman, Maju Dalam Pembangunan.”

Tema itu terasa tepat.

Sebab Riau memang membutuhkan pembangunan.

Tetapi pembangunan yang kita perlukan bukan hanya pembangunan yang bisa difoto dan diresmikan.

Kita membutuhkan pembangunan yang bisa dirasakan.

Dirasakan anak petani yang mendapatkan pendidikan bagus.

Dirasakan nelayan yang memiliki akses pasar lebih baik.

Dirasakan pelaku UMKM yang usahanya berkembang.

Dirasakan pekerja yang memperoleh pekerjaan layak.

Dirasakan masyarakat desa yang tidak lagi merasa jauh dari pusat pertumbuhan.

Dan dirasakan generasi muda yang tidak harus meninggalkan Riau hanya karena tidak menemukan masa depan di kampung halamannya sendiri.

Itulah mungkin makna pembangunan yang sesungguhnya.

Bukan hanya tentang seberapa panjang jalan yang kita bangun. Tetapi seberapa jauh jalan itu membawa masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.

Bukan hanya tentang berapa banyak investasi yang masuk. Tetapi berapa banyak kesempatan yang tercipta.

Bukan hanya tentang berapa besar sumber daya alam yang kita miliki. Tetapi seberapa bijak kita mengelolanya.

Bukan hanya tentang seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi. Tetapi seberapa luas manfaatnya dirasakan.

Hari ini, ketika Riau memasuki usia 69 tahun, mari kita memberi penghormatan kepada perjalanan panjang daerah ini dengan cara yang sederhana. Bersyukur atas apa yang sudah dicapai, menghargai kerja semua pihak, sekaligus berani bertanya apa yang masih harus diperbaiki.

Karena kritik yang sehat bukan berarti membenci pembangunan.

Pertanyaan bukan berarti menyalahkan pemerintah.

Justru dengan bertanya, kita sedang menjaga agar pembangunan tetap memiliki arah.

Riau punya kekayaan alam.

Riau punya sumber daya manusia yang andal.

Riau punya posisi strategis.

Riau punya sejarah panjang.

Yang kita butuhkan ke depan mungkin bukan sekadar lebih banyak mengambil dari bumi. Tetapi lebih banyak mengembalikan hasil bumi itu kepada manusia.

Agar suatu hari nanti, ketika Riau berusia 79, 89 atau bahkan 100 tahun, kita tidak lagi hanya berkata bahwa Riau adalah daerah kaya.

Kita bisa berkata dengan bangga, bahwa Riau adalah daerah yang mampu mengubah kekayaannya menjadi kesejahteraan.

Selamat Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau.

Semoga Riau tidak hanya semakin maju di jalan-jalannya, tetapi juga semakin jauh melangkah dalam membangun manusianya. (*)

*Redaktur Pelaksana PekanbaruTV.com

Home / Opini
69 Tahun Riau: Jalan Dibangun, Kemana Arah Kesejahteraan?
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: opini | 9 Agustus 2026 | 13:56:15
69 Tahun Riau: Jalan Dibangun, Kemana Arah Kesejahteraan?
Boy Surya Hamta.

Oleh: Boy Surya Hamta*

Hari ini, 9 Agustus 2026, Riau berusia 69 tahun.

Hampir tujuh dekade, bukan waktu yang sebentar. Ada banyak cerita yang sudah terlewati. Ada pergantian pemimpin, perubahan kebijakan, naik turunnya harga minyak, berkembangnya perkebunan sawit, tumbuhnya kota-kota baru sampai pembangunan jalan dan jembatan yang perlahan membuka keterisolasian sejumlah wilayah.

Kalau kita melihat Riau hari ini, memang sudah jauh berubah.

Jalan rusak diperbaiki. Jembatan dibangun. Konektivitas antar wilayah terus dibuka. Pemerintah juga terus mendorong berbagai pembangunan infrastruktur agar mobilitas orang dan barang semakin lancar.

Bahkan tahun 2026, pembangunan dan perbaikan jalan masih menjadi salah satu perhatian penting. Pemerintah Provinsi Riau melakukan perbaikan sejumlah ruas jalan, mengawal pelebaran jalan dan pembebasan lahan, dan berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk pembangunan infrastruktur strategis. Salah satunya persiapan pembangunan flyover Simpang Garuda Sakti di Pekanbaru.

Semua itu tentu harus diapresiasi.

Tetapi di hari ulang tahun Riau ini, rasanya kita juga perlu berhenti sejenak.

Bukan untuk mencari kesalahan. Bukan pula untuk mengatakan pembangunan selama ini gagal fokus.

Melainkan untuk bertanya dengan jujur. Setelah 69 tahun, apakah semua kekayaan Riau sudah cukup terasa menjadi kesejahteraan masyarakatnya?

Pertanyaan itu penting, karena Riau bukanlah daerah miskin sumber daya.

Minyak bumi pernah menjadi tulang punggung ekonomi. Gas bumi ada. Hutan pernah sangat luas. Perkebunan sawit berkembang begitu besar. Ada pulp dan kertas, energi, perkebunan, pertambangan dan berbagai aktivitas ekonomi berbasis sumber daya alam lainnya tersedia.

Tetapi, kekayaan alam dan kesejahteraan masyarakat ternyata bukan dua hal yang otomatis berjalan beriringan.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Kita sering mengukur pembangunan dari sesuatu yang bisa dilihat.

Jalan mulus. Jembatan dibangun. Gedung baru berdiri kokoh. Kawasan kota berkembang pesat.

Itu semua penting. Sebab infrastruktur adalah fondasi pembangunan. Tanpa jalan yang baik, hasil kebun sulit diangkut. Tanpa jembatan, masyarakat di daerah terpencil akan sulit bergerak. Tanpa konektivitas, investasi juga akan berjalan lambat.

Tetapi, pembangunan sesungguhnya tidak berhenti pada persoalan beton dan aspal.

Pembangunan pada akhirnya harus menjawab pertanyaan yang lebih sederhana, apakah kehidupan masyarakat sudah lebih baik?

Badan Pusat Statistik Provinsi Riau mencatat, ekonomi Riau tahun 2025 tumbuh 4,79 persen. Angka itu menunjukkan aktivitas ekonomi tetap bergerak. Namun September 2025, persentase penduduk miskin Riau tercatat 6,30 persen, naik dari 6,16 persen pada Maret 2025.

Angka ini bukan untuk menilai buruk atau baiknya pemerintahan. Angka itu hanya mengingatkan kita bahwa pertumbuhan ekonomi belum boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pembangunan.

Sebab ekonomi bisa tumbuh, tetapi pertanyaan berikutnya adalah siapa yang menikmati pertumbuhan itu?

Kekayaan Alam dan Pertanyaan Lama

Dalam ilmu sosial dan politik, ada satu persoalan yang sering dibahas, resource curse atau kutukan sumber daya alam.

Sederhananya, sebuah daerah atau negara bisa sangat kaya sumber daya alam, tetapi kekayaan tersebut tidak otomatis membuat seluruh masyarakatnya sejahtera.

Mengapa?

Karena yang menentukan bukan hanya berapa banyak minyak, gas, sawit atau sumber daya lainnya yang dimiliki.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sumber daya itu dikelola.

Siapa yang mendapatkan nilai tambah?

Berapa banyak lapangan kerja yang tercipta?

Seberapa besar masyarakat lokal ikut masuk dalam rantai ekonominya?

Berapa besar penerimaan negara dan daerah yang kembali menjadi pelayanan publik?

Apakah masyarakat di sekitar wilayah sumber daya mendapatkan manfaat yang layak?

Dan yang tidak kalah penting, apa yang terjadi ketika sumber daya alam itu suatu hari berkurang?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sebenarnya sangat relevan untuk Riau.

Kita tidak boleh hanya bertanya berapa banyak produksi minyak atau sawit. Kita juga perlu bertanya berapa banyak nilai tambah yang tinggal di Riau.

Jangan sampai Riau menjadi daerah yang kaya bahan mentah, tetapi miskin nilai tambah.

Jangan sampai hasil bumi keluar, sementara masyarakat hanya mendapatkan bagian kecil dari rantai ekonomi yang panjang.

Pembangunan Harus Naik Kelas

Mungkin inilah tantangan Riau ke depan.

Pembangunan tidak cukup hanya membangun apa yang terlihat.

Kita harus mulai lebih serius membangun apa yang tidak selalu terlihat.

Kualitas manusia. Pendidikan. Kesehatan. Keterampilan. Industri pengolahan. Kewirausahaan masyarakat. Riset. Teknologi dan tata kelola sumber daya alam yang lebih kuat.

Jalan yang bagus harus membuat petani lebih mudah membawa hasil kebunnya ke pasar.

Pelabuhan yang baik harus membuat produk Riau lebih kompetitif.

Kawasan industri harus membuka pekerjaan yang layak bagi masyarakat lokal.

Investasi harus menciptakan rantai ekonomi yang panjang, bukan hanya menghasilkan aktivitas ekonomi sesaat.

Di situlah infrastruktur mendapatkan maknanya.

Jalan bukan sekadar aspal.

Jembatan bukan sekadar beton.

Infrastruktur seharusnya menjadi jalan menuju kesempatan.

Jangan Sampai Kekayaan Hari Ini Menjadi Cerita Masa Lalu

Ada satu hal yang mungkin perlu kita renungkan bersama. Riau sudah sangat lama dikenal sebagai salah satu daerah kaya sumber daya alam.

Tetapi sampai kapan kita akan terus bergantung pada kekayaan alam?

Minyak tidak selamanya ada.

Hutan memiliki batas.

Sumber daya alam memiliki siklus.

Harga komoditas bisa naik dan turun.

Karena itu, pekerjaan besar Riau bukan sekadar mengambil kekayaan alam sebanyak-banyaknya.

Pekerjaan besarnya adalah bagaimana mengubah kekayaan alam menjadi modal, untuk membangun manusia dan ekonomi yang tahan terhadap perubahan zaman.

Ini bukan pekerjaan satu gubernur.

Bukan pekerjaan satu bupati atau wali kota.

Bukan pula pekerjaan pemerintah semata.

Ini pekerjaan bersama.

Pemerintah membuat kebijakan.

Dunia usaha menciptakan investasi dan lapangan kerja.

Perguruan tinggi menghasilkan pengetahuan.

Masyarakat mengawasi.

Media ikut menjaga ruang publik agar kebijakan pembangunan terus dibicarakan secara sehat.

Dan semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan sumber daya Riau tidak hanya menghasilkan angka pertumbuhan, tetapi juga menghasilkan rasa aman, kesempatan dan masa depan.

Riau 69 Tahun, Saatnya Bicara Kualitas

Tema Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau tahun 2026 adalah “Bersatu Dalam Keberagaman, Maju Dalam Pembangunan.”

Tema itu terasa tepat.

Sebab Riau memang membutuhkan pembangunan.

Tetapi pembangunan yang kita perlukan bukan hanya pembangunan yang bisa difoto dan diresmikan.

Kita membutuhkan pembangunan yang bisa dirasakan.

Dirasakan anak petani yang mendapatkan pendidikan bagus.

Dirasakan nelayan yang memiliki akses pasar lebih baik.

Dirasakan pelaku UMKM yang usahanya berkembang.

Dirasakan pekerja yang memperoleh pekerjaan layak.

Dirasakan masyarakat desa yang tidak lagi merasa jauh dari pusat pertumbuhan.

Dan dirasakan generasi muda yang tidak harus meninggalkan Riau hanya karena tidak menemukan masa depan di kampung halamannya sendiri.

Itulah mungkin makna pembangunan yang sesungguhnya.

Bukan hanya tentang seberapa panjang jalan yang kita bangun. Tetapi seberapa jauh jalan itu membawa masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.

Bukan hanya tentang berapa banyak investasi yang masuk. Tetapi berapa banyak kesempatan yang tercipta.

Bukan hanya tentang berapa besar sumber daya alam yang kita miliki. Tetapi seberapa bijak kita mengelolanya.

Bukan hanya tentang seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi. Tetapi seberapa luas manfaatnya dirasakan.

Hari ini, ketika Riau memasuki usia 69 tahun, mari kita memberi penghormatan kepada perjalanan panjang daerah ini dengan cara yang sederhana. Bersyukur atas apa yang sudah dicapai, menghargai kerja semua pihak, sekaligus berani bertanya apa yang masih harus diperbaiki.

Karena kritik yang sehat bukan berarti membenci pembangunan.

Pertanyaan bukan berarti menyalahkan pemerintah.

Justru dengan bertanya, kita sedang menjaga agar pembangunan tetap memiliki arah.

Riau punya kekayaan alam.

Riau punya sumber daya manusia yang andal.

Riau punya posisi strategis.

Riau punya sejarah panjang.

Yang kita butuhkan ke depan mungkin bukan sekadar lebih banyak mengambil dari bumi. Tetapi lebih banyak mengembalikan hasil bumi itu kepada manusia.

Agar suatu hari nanti, ketika Riau berusia 79, 89 atau bahkan 100 tahun, kita tidak lagi hanya berkata bahwa Riau adalah daerah kaya.

Kita bisa berkata dengan bangga, bahwa Riau adalah daerah yang mampu mengubah kekayaannya menjadi kesejahteraan.

Selamat Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau.

Semoga Riau tidak hanya semakin maju di jalan-jalannya, tetapi juga semakin jauh melangkah dalam membangun manusianya. (*)

*Redaktur Pelaksana PekanbaruTV.com