logo
Terbitkan Surat Rekomendasi, ‎Bupati Rohil Resmi Dukung Pembentukan Provinsi Ria Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dari Rekam Medis Menuju Rekam Pendidikan Nasional Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kualitas Udara Pekanbaru Mulai Membaik, Saatnya Kembali Sekolah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi PERBASASI Riau Tancap Gas, Matangkan Regenerasi Atlet hingga Kejuaraan Internasi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Hotspot Riau Melonjak Jadi 317 Titik, Indragiri Hulu Tertinggi Capai 154 Titik Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dua Hari Dicari Belum Berjejak, Keberadaan 5 Jurnalis dan 3 Kru di Sekitar Anak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kopdes Merah Putih Diklaim Tak Matikan UMKM, Disperindagkop UKM: Justru Jadi Pen Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Optimalisasi Hak Kesehatan WBP, Lapas Bagansiapiapi Gandeng RS Cahaya Ujung Tanj Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Rupiah Ambruk Lagi ke Rp17.861, Konflik Iran-AS Bikin Pasar Makin Cemas
Rupiah kembali ambruk setelah beberapa hari sempat menguat. (Foto: Istimewa)
Rupiah Ambruk Lagi ke Rp17.861, Konflik Iran-AS Bikin Pasar Makin Cemas
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 11 Agustus 2026 | 22:23:26

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali ambruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa (11/8/2026), rupiah ditutup di level Rp17.861 per dolar AS, melemah 106 poin atau 0,60 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya yang berada di Rp17.755 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia akibat menguatnya dolar AS. Peso Filipina tercatat melemah 0,84 persen, ringgit Malaysia turun 0,03 persen, sementara dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen. Yuan China relatif stabil.

Di kawasan Asia, hanya sejumlah mata uang yang masih mampu menguat, antara lain dolar Singapura 0,06 persen, yen Jepang 0,01 persen, dan won Korea Selatan 0,01 persen.

iklan-view

Tekanan terhadap rupiah terutama datang dari sentimen global. Ketegangan hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah, sekaligus memunculkan risiko gangguan pasokan energi dunia.

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah dan sejumlah mata uang regional.

“Rupiah dan beberapa mata uang regional umumnya melemah cukup besar terhadap dolar AS oleh kenaikan harga minyak mentah dunia di tengah ketidakpastian prospek perdamaian di Timur Tengah,” ujar Lukman seperti dikutip dari cnnindonesia.

Menurut dia, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari faktor domestik. Data penjualan ritel Indonesia masih menunjukkan penurunan selama tiga bulan berturut-turut, mencerminkan belum kuatnya aktivitas konsumsi masyarakat.

Sentimen negatif semakin kuat setelah hubungan Washington dan Teheran kembali memanas. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai harapan pembukaan kembali Selat Hormuz ikut memudar setelah Amerika Serikat dan Iran masih saling melontarkan klaim serta tuntutan kompensasi terkait serangan militer terbaru.

Washington menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka. Sebaliknya, Teheran mengklaim jalur strategis tersebut telah ditutup menggunakan ranjau dan drone.

Situasi itu menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia. Ketidakpastian mengenai keamanan jalur tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan mendorong harga minyak mentah lebih tinggi.

Kecemasan pasar juga bertambah setelah kelompok Houthi di Yaman mengancam membuka front baru dalam konflik dengan menyerang kapal dan infrastruktur minyak di kawasan Laut Merah.

“Langkah ini meningkatkan kecemasan akan gangguan pasokan dan semakin mendorong kenaikan harga minyak mentah,” kata Ibrahim.

Kenaikan harga minyak menjadi persoalan tersendiri bagi negara-negara importir energi karena dapat meningkatkan tekanan inflasi sekaligus memperbesar kebutuhan dolar AS. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, sentimen pasar sebenarnya sedikit mendapat penopang setelah Presiden Prabowo Subianto menunjuk Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) untuk menggantikan Perry Warjiyo.

Penunjukan satu nama tersebut dinilai meredakan ketidakpastian pasar terkait arah kepemimpinan bank sentral ke depan.

Namun, sentimen positif itu belum cukup kuat untuk mengangkat rupiah. Pasar masih mencermati pelemahan sejumlah indikator ekonomi domestik, termasuk Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang turun dari 117,8 pada Juni menjadi 116,8 pada Juli 2026.

Ibrahim menilai penurunan keyakinan konsumen tersebut turut menjadi sentimen negatif bagi rupiah karena menunjukkan adanya pelemahan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

Sejalan dengan pergerakan rupiah di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa juga melemah ke level Rp17.824 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.795 per dolar AS.

Pergerakan rupiah ke depan masih akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, arah harga minyak dunia, pergerakan dolar AS, serta kekuatan indikator ekonomi domestik. (*)

Home / Ekonomi
Rupiah Ambruk Lagi ke Rp17.861, Konflik Iran-AS Bikin Pasar Makin Cemas
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 11 Agustus 2026 | 22:23:26
Rupiah Ambruk Lagi ke Rp17.861, Konflik Iran-AS Bikin Pasar Makin Cemas
Rupiah kembali ambruk setelah beberapa hari sempat menguat. (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali ambruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa (11/8/2026), rupiah ditutup di level Rp17.861 per dolar AS, melemah 106 poin atau 0,60 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya yang berada di Rp17.755 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia akibat menguatnya dolar AS. Peso Filipina tercatat melemah 0,84 persen, ringgit Malaysia turun 0,03 persen, sementara dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen. Yuan China relatif stabil.

Di kawasan Asia, hanya sejumlah mata uang yang masih mampu menguat, antara lain dolar Singapura 0,06 persen, yen Jepang 0,01 persen, dan won Korea Selatan 0,01 persen.

Tekanan terhadap rupiah terutama datang dari sentimen global. Ketegangan hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah, sekaligus memunculkan risiko gangguan pasokan energi dunia.

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah dan sejumlah mata uang regional.

“Rupiah dan beberapa mata uang regional umumnya melemah cukup besar terhadap dolar AS oleh kenaikan harga minyak mentah dunia di tengah ketidakpastian prospek perdamaian di Timur Tengah,” ujar Lukman seperti dikutip dari cnnindonesia.

Menurut dia, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari faktor domestik. Data penjualan ritel Indonesia masih menunjukkan penurunan selama tiga bulan berturut-turut, mencerminkan belum kuatnya aktivitas konsumsi masyarakat.

Sentimen negatif semakin kuat setelah hubungan Washington dan Teheran kembali memanas. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai harapan pembukaan kembali Selat Hormuz ikut memudar setelah Amerika Serikat dan Iran masih saling melontarkan klaim serta tuntutan kompensasi terkait serangan militer terbaru.

Washington menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka. Sebaliknya, Teheran mengklaim jalur strategis tersebut telah ditutup menggunakan ranjau dan drone.

Situasi itu menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia. Ketidakpastian mengenai keamanan jalur tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan mendorong harga minyak mentah lebih tinggi.

Kecemasan pasar juga bertambah setelah kelompok Houthi di Yaman mengancam membuka front baru dalam konflik dengan menyerang kapal dan infrastruktur minyak di kawasan Laut Merah.

“Langkah ini meningkatkan kecemasan akan gangguan pasokan dan semakin mendorong kenaikan harga minyak mentah,” kata Ibrahim.

Kenaikan harga minyak menjadi persoalan tersendiri bagi negara-negara importir energi karena dapat meningkatkan tekanan inflasi sekaligus memperbesar kebutuhan dolar AS. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, sentimen pasar sebenarnya sedikit mendapat penopang setelah Presiden Prabowo Subianto menunjuk Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) untuk menggantikan Perry Warjiyo.

Penunjukan satu nama tersebut dinilai meredakan ketidakpastian pasar terkait arah kepemimpinan bank sentral ke depan.

Namun, sentimen positif itu belum cukup kuat untuk mengangkat rupiah. Pasar masih mencermati pelemahan sejumlah indikator ekonomi domestik, termasuk Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang turun dari 117,8 pada Juni menjadi 116,8 pada Juli 2026.

Ibrahim menilai penurunan keyakinan konsumen tersebut turut menjadi sentimen negatif bagi rupiah karena menunjukkan adanya pelemahan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

Sejalan dengan pergerakan rupiah di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa juga melemah ke level Rp17.824 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.795 per dolar AS.

Pergerakan rupiah ke depan masih akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, arah harga minyak dunia, pergerakan dolar AS, serta kekuatan indikator ekonomi domestik. (*)