
PEKANBARU - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau perlu diwaspadai seiring masih terdeteksinya sejumlah titik panas atau hotspot dan semakin kuatnya fenomena El Nino.
Berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, sejumlah hotspot masih terdeteksi di wilayah Riau. Namun, BMKG menegaskan tidak semua titik panas otomatis menunjukkan adanya kebakaran karena masing-masing memiliki tingkat kepercayaan yang berbeda dan tetap membutuhkan verifikasi di lapangan.
Kepala BMKG Stasiun Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Warjono menjelaskan, tingkat kepercayaan hotspot ditandai dengan warna hijau, kuning, dan merah. Titik panas berwarna merah memiliki tingkat kepercayaan lebih dari 50 persen sehingga menjadi indikasi lebih kuat adanya kebakaran.

"Kalau yang merah paling cuma satu, dua, tiga. Indikasinya kalau merah itu sudah lebih dari 50 persen bahwa itu benar," ujar Warjono, Rabu (12/8/2026).
Kemunculan hotspot tersebut menjadi perhatian karena Riau tengah memasuki periode yang perlu diwaspadai dari sisi cuaca dan iklim. Terlebih, fenomena El Nino diprediksi semakin menguat dalam beberapa bulan ke depan.
Warjono mengungkapkan indeks El Nino saat ini telah mencapai 1,56 dan diperkirakan masih mengalami penguatan. Bahkan, indeks tersebut berpotensi mencapai angka 2 yang menunjukkan kondisi El Nino sangat kuat.
"Artinya sudah kuat. Prediksi ke depannya akan lebih kuat, jadi sangat kuat. Bisa sampai dua," katanya.
Kondisi tersebut diperkirakan mencapai puncaknya pada September hingga Oktober. Sementara di Riau, puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September.
Kombinasi kemarau dan penguatan El Nino inilah yang menjadi faktor yang perlu diwaspadai. El Nino berpotensi menekan pertumbuhan awan hujan sehingga peluang terjadinya hujan dapat berkurang. Kondisi yang lebih kering pada akhirnya dapat meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran, terutama jika terdapat aktivitas pembakaran atau sumber api di lapangan.
"Agustus ini sudah naik terus. Kemudian September-Oktober, El Nino mengindikasi sangat kuat. Itu yang perlu diwaspadai," ujar Warjono.
BMKG juga meluruskan kondisi udara keruh yang terjadi di sejumlah wilayah Riau dalam beberapa hari terakhir. Menurut Warjono, udara yang tampak seperti berkabut atau berasap tidak serta-merta menunjukkan adanya asap karhutla.
Kondisi tersebut, kata dia, lebih dipengaruhi haze atau partikel-partikel kering yang berada di atmosfer. Keberadaan partikel tersebut dapat membuat udara terlihat keruh dan mengurangi jarak pandang.
"Ini bukan berasap. Kekeruhan udara itu bisa seolah-olah kita mengalami ada asap, tapi ini adalah haze," jelasnya.
Meski demikian, peluang hujan masih terbuka dalam beberapa hari ke depan. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kelembapan lahan di tengah periode kemarau.
Dengan semakin banyaknya faktor pemicu yang perlu diwaspadai, masyarakat diminta tidak lengah terhadap potensi karhutla. Pemantauan hotspot, pencegahan sumber api dan kesiapsiagaan di wilayah rawan menjadi semakin penting, terutama memasuki puncak musim kemarau dan periode penguatan El Nino.
BMKG mengingatkan, kombinasi kondisi kering, berkurangnya curah hujan dan potensi munculnya hotspot dapat menjadi sinyal meningkatnya risiko karhutla di Riau. Karena itu, setiap kemunculan titik panas perlu segera ditindaklanjuti dengan pengecekan lapangan agar potensi kebakaran dapat dideteksi dan ditangani sejak dini. (why)




PEKANBARU - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau perlu diwaspadai seiring masih terdeteksinya sejumlah titik panas atau hotspot dan semakin kuatnya fenomena El Nino.
Berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, sejumlah hotspot masih terdeteksi di wilayah Riau. Namun, BMKG menegaskan tidak semua titik panas otomatis menunjukkan adanya kebakaran karena masing-masing memiliki tingkat kepercayaan yang berbeda dan tetap membutuhkan verifikasi di lapangan.
Kepala BMKG Stasiun Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Warjono menjelaskan, tingkat kepercayaan hotspot ditandai dengan warna hijau, kuning, dan merah. Titik panas berwarna merah memiliki tingkat kepercayaan lebih dari 50 persen sehingga menjadi indikasi lebih kuat adanya kebakaran.
"Kalau yang merah paling cuma satu, dua, tiga. Indikasinya kalau merah itu sudah lebih dari 50 persen bahwa itu benar," ujar Warjono, Rabu (12/8/2026).
Kemunculan hotspot tersebut menjadi perhatian karena Riau tengah memasuki periode yang perlu diwaspadai dari sisi cuaca dan iklim. Terlebih, fenomena El Nino diprediksi semakin menguat dalam beberapa bulan ke depan.
Warjono mengungkapkan indeks El Nino saat ini telah mencapai 1,56 dan diperkirakan masih mengalami penguatan. Bahkan, indeks tersebut berpotensi mencapai angka 2 yang menunjukkan kondisi El Nino sangat kuat.
"Artinya sudah kuat. Prediksi ke depannya akan lebih kuat, jadi sangat kuat. Bisa sampai dua," katanya.
Kondisi tersebut diperkirakan mencapai puncaknya pada September hingga Oktober. Sementara di Riau, puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September.
Kombinasi kemarau dan penguatan El Nino inilah yang menjadi faktor yang perlu diwaspadai. El Nino berpotensi menekan pertumbuhan awan hujan sehingga peluang terjadinya hujan dapat berkurang. Kondisi yang lebih kering pada akhirnya dapat meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran, terutama jika terdapat aktivitas pembakaran atau sumber api di lapangan.
"Agustus ini sudah naik terus. Kemudian September-Oktober, El Nino mengindikasi sangat kuat. Itu yang perlu diwaspadai," ujar Warjono.
BMKG juga meluruskan kondisi udara keruh yang terjadi di sejumlah wilayah Riau dalam beberapa hari terakhir. Menurut Warjono, udara yang tampak seperti berkabut atau berasap tidak serta-merta menunjukkan adanya asap karhutla.
Kondisi tersebut, kata dia, lebih dipengaruhi haze atau partikel-partikel kering yang berada di atmosfer. Keberadaan partikel tersebut dapat membuat udara terlihat keruh dan mengurangi jarak pandang.
"Ini bukan berasap. Kekeruhan udara itu bisa seolah-olah kita mengalami ada asap, tapi ini adalah haze," jelasnya.
Meski demikian, peluang hujan masih terbuka dalam beberapa hari ke depan. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kelembapan lahan di tengah periode kemarau.
Dengan semakin banyaknya faktor pemicu yang perlu diwaspadai, masyarakat diminta tidak lengah terhadap potensi karhutla. Pemantauan hotspot, pencegahan sumber api dan kesiapsiagaan di wilayah rawan menjadi semakin penting, terutama memasuki puncak musim kemarau dan periode penguatan El Nino.
BMKG mengingatkan, kombinasi kondisi kering, berkurangnya curah hujan dan potensi munculnya hotspot dapat menjadi sinyal meningkatnya risiko karhutla di Riau. Karena itu, setiap kemunculan titik panas perlu segera ditindaklanjuti dengan pengecekan lapangan agar potensi kebakaran dapat dideteksi dan ditangani sejak dini. (why)