logo
Musnahkan Narkoba Rp80 Miliar, Polres Bengkalis Selamatkan Ratusan Ribu Jiwa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dukung Arahan Presiden Prabowo, BSI Sediakan Tabungan Bebas Biaya Admin untuk Ma Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Tim SAR Gabungan Perluas Pencarian Kapal Jurnalis Sampai Kawasan Anak Krakatau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Jembatan Siak I dan Siak III Pekanbaru September Ditutup, Jalur Alternatif Disia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Terbitkan Surat Rekomendasi, ‎Bupati Rohil Resmi Dukung Pembentukan Provinsi Ria Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dari Rekam Medis Menuju Rekam Pendidikan Nasional Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kualitas Udara Pekanbaru Mulai Membaik, Saatnya Kembali Sekolah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi PERBASASI Riau Tancap Gas, Matangkan Regenerasi Atlet hingga Kejuaraan Internasi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Washington
Trump Akui Diam-diam Ganti Pesawat di Turki, Sebut Ada Ancaman dari Iran
Presiden AS Donald Trump. (Foto: Ist/tWP)
Trump Akui Diam-diam Ganti Pesawat di Turki, Sebut Ada Ancaman dari Iran
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 12 Agustus 2026 | 14:03:02

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan diam-diam dipindahkan dari pesawat kepresidenan Air Force One ke pesawat militer lain saat berada di Turki pada bulan lalu. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari operasi pengamanan setelah muncul ancaman pembunuhan terhadap Trump yang diduga berasal dari Iran.

Laporan The Washington Post pada Senin (11/8) menyebut Trump semula dijadwalkan terbang dari Turki menuju Inggris menggunakan Air Force One setelah menghadiri KTT NATO di Ankara.

Namun, setelah naik ke Air Force One dan terlihat oleh wartawan, Trump disebut meninggalkan pesawat secara diam-diam melalui kendaraan pengangkut katering. Ia kemudian dibawa menuju pesawat C-32A milik Angkatan Udara AS untuk melanjutkan perjalanan ke Inggris.

iklan-view

Laporan serupa juga dimuat The New York Times berdasarkan keterangan sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan identitasnya.

Pemindahan tersebut diduga merupakan bagian dari strategi untuk mengecoh pihak yang berpotensi mengancam keselamatan Trump. Air Force One yang sebelumnya digunakan Trump di hadapan kamera kemudian berfungsi sebagai pesawat pengalih.

Para wartawan yang berada di dalam pesawat tersebut bahkan tidak mengetahui bahwa Trump telah meninggalkan pesawat. Mereka juga diminta menutup tirai jendela di kabin pers selama penerbangan.

Saat ditanya mengenai alasan penutupan tirai, Trump sempat melontarkan pernyataan bernada bercanda sekaligus mengisyaratkan adanya risiko dalam penerbangan.

“Kalau saya pergi, kalian ikut, kan?” ujar Trump kepada wartawan.

Sebelum dipindahkan, Trump terlihat menaiki Air Force One di Ankara di hadapan wartawan. Setelah itu, ia keluar secara diam-diam menggunakan kendaraan katering dan dibawa menuju C-32A, pesawat yang berukuran lebih kecil dibandingkan Air Force One.

C-32A kemudian membawa Trump menuju Inggris dan dilaporkan tiba sekitar pukul 22.20 waktu setempat. Beberapa menit berselang, Air Force One yang membawa rombongan media juga mendarat.

Belum diketahui secara pasti bagaimana proses pemindahan Trump dari C-32A kembali ke Air Force One dilakukan setelah keduanya tiba di Inggris.

Rombongan wartawan yang mengikuti perjalanan Trump kemudian melihat sang presiden turun dari tangga Air Force One sekitar pukul 22.56. Trump sempat mengangkat dua jarinya ke arah wartawan sebelum melanjutkan agenda bersama sejumlah personel militer AS.

Ancaman terhadap Trump

Laporan tersebut menyebut operasi pengelabuan dilakukan setelah aparat menerima ancaman yang dinilai kredibel terhadap keselamatan Trump. Meski demikian, detail mengenai bentuk ancaman maupun pihak yang menjadi sasaran operasi keamanan tersebut tidak diungkapkan secara terbuka.

Penggunaan pesawat sebagai pengalih bukan kali pertama dilakukan dalam perjalanan presiden AS. Pada 2000, Presiden Bill Clinton pernah menggunakan pesawat eksekutif tanpa tanda khusus saat melakukan perjalanan ke Pakistan. Saat itu, pesawat resmi kepresidenan digunakan sebagai pengalih.

Sementara itu, Direktur Komunikasi Gedung Putih Steve Cheung menegaskan bahwa pesawat Boeing 747 yang diberikan Qatar kepada AS telah dilengkapi sistem keamanan tingkat tinggi untuk melindungi Trump beserta stafnya.

“Seperti yang telah dikatakan Presiden baru-baru ini, ada banyak musuh Amerika yang mengincarnya, dan kami menggunakan setiap alat yang tersedia untuk menghadapi ancaman tersebut,” kata Cheung.(*)

Home / News
Trump Akui Diam-diam Ganti Pesawat di Turki, Sebut Ada Ancaman dari Iran
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 12 Agustus 2026 | 14:03:02
Trump Akui Diam-diam Ganti Pesawat di Turki, Sebut Ada Ancaman dari Iran
Presiden AS Donald Trump. (Foto: Ist/tWP)

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan diam-diam dipindahkan dari pesawat kepresidenan Air Force One ke pesawat militer lain saat berada di Turki pada bulan lalu. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari operasi pengamanan setelah muncul ancaman pembunuhan terhadap Trump yang diduga berasal dari Iran.

Laporan The Washington Post pada Senin (11/8) menyebut Trump semula dijadwalkan terbang dari Turki menuju Inggris menggunakan Air Force One setelah menghadiri KTT NATO di Ankara.

Namun, setelah naik ke Air Force One dan terlihat oleh wartawan, Trump disebut meninggalkan pesawat secara diam-diam melalui kendaraan pengangkut katering. Ia kemudian dibawa menuju pesawat C-32A milik Angkatan Udara AS untuk melanjutkan perjalanan ke Inggris.

Laporan serupa juga dimuat The New York Times berdasarkan keterangan sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan identitasnya.

Pemindahan tersebut diduga merupakan bagian dari strategi untuk mengecoh pihak yang berpotensi mengancam keselamatan Trump. Air Force One yang sebelumnya digunakan Trump di hadapan kamera kemudian berfungsi sebagai pesawat pengalih.

Para wartawan yang berada di dalam pesawat tersebut bahkan tidak mengetahui bahwa Trump telah meninggalkan pesawat. Mereka juga diminta menutup tirai jendela di kabin pers selama penerbangan.

Saat ditanya mengenai alasan penutupan tirai, Trump sempat melontarkan pernyataan bernada bercanda sekaligus mengisyaratkan adanya risiko dalam penerbangan.

“Kalau saya pergi, kalian ikut, kan?” ujar Trump kepada wartawan.

Sebelum dipindahkan, Trump terlihat menaiki Air Force One di Ankara di hadapan wartawan. Setelah itu, ia keluar secara diam-diam menggunakan kendaraan katering dan dibawa menuju C-32A, pesawat yang berukuran lebih kecil dibandingkan Air Force One.

C-32A kemudian membawa Trump menuju Inggris dan dilaporkan tiba sekitar pukul 22.20 waktu setempat. Beberapa menit berselang, Air Force One yang membawa rombongan media juga mendarat.

Belum diketahui secara pasti bagaimana proses pemindahan Trump dari C-32A kembali ke Air Force One dilakukan setelah keduanya tiba di Inggris.

Rombongan wartawan yang mengikuti perjalanan Trump kemudian melihat sang presiden turun dari tangga Air Force One sekitar pukul 22.56. Trump sempat mengangkat dua jarinya ke arah wartawan sebelum melanjutkan agenda bersama sejumlah personel militer AS.

Ancaman terhadap Trump

Laporan tersebut menyebut operasi pengelabuan dilakukan setelah aparat menerima ancaman yang dinilai kredibel terhadap keselamatan Trump. Meski demikian, detail mengenai bentuk ancaman maupun pihak yang menjadi sasaran operasi keamanan tersebut tidak diungkapkan secara terbuka.

Penggunaan pesawat sebagai pengalih bukan kali pertama dilakukan dalam perjalanan presiden AS. Pada 2000, Presiden Bill Clinton pernah menggunakan pesawat eksekutif tanpa tanda khusus saat melakukan perjalanan ke Pakistan. Saat itu, pesawat resmi kepresidenan digunakan sebagai pengalih.

Sementara itu, Direktur Komunikasi Gedung Putih Steve Cheung menegaskan bahwa pesawat Boeing 747 yang diberikan Qatar kepada AS telah dilengkapi sistem keamanan tingkat tinggi untuk melindungi Trump beserta stafnya.

“Seperti yang telah dikatakan Presiden baru-baru ini, ada banyak musuh Amerika yang mengincarnya, dan kami menggunakan setiap alat yang tersedia untuk menghadapi ancaman tersebut,” kata Cheung.(*)