
PEKANBARU - Hari Jumat memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam. Bagi laki-laki Muslim yang berkewajiban melaksanakan salat Jumat, kedatangan hari ini bukan sekadar pergantian hari dalam sepekan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan mempersiapkan diri untuk beribadah.
Al-Qur'an bahkan memberikan perhatian khusus ketika waktu salat Jumat tiba. Dalam Surah Al-Jumu'ah ayat 9, umat Islam diperintahkan untuk bersegera mengingat Allah dan meninggalkan aktivitas perdagangan ketika panggilan salat Jumat telah dikumandangkan.

Karena itu, ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya mulai ditinggalkan ketika seseorang hendak menunaikan salat Jumat.
1. Meninggalkan kesibukan yang membuat lalai
Pekerjaan, bisnis, urusan kantor, hingga aktivitas sehari-hari tentu merupakan bagian dari kehidupan. Namun, ketika waktu salat Jumat tiba, kesibukan tersebut tidak seharusnya membuat seorang Muslim mengabaikan panggilan untuk beribadah.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Jumu'ah ayat 9:
“Apabila diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ketika panggilan salat Jumat telah datang, aktivitas duniawi harus dikesampingkan demi memenuhi kewajiban kepada Allah.
Bukan berarti bekerja atau mencari rezeki adalah sesuatu yang buruk. Justru bekerja merupakan bagian penting dari kehidupan. Namun, ada waktunya seorang Muslim berhenti mengejar urusan dunia untuk memenuhi panggilan ibadah.
"Jumat mengajarkan bahwa mencari rezeki penting, tetapi jangan sampai rezeki membuat kita lupa kepada pemberi rezeki."
2. Meninggalkan perkataan dan aktivitas yang sia-sia
Persiapan menuju salat Jumat bukan hanya soal pakaian dan kebersihan diri. Persiapan juga menyangkut bagaimana seseorang menjaga sikap dan lisannya.
Terlebih ketika sudah berada di masjid dan khatib mulai menyampaikan khutbah, seorang Muslim dianjurkan untuk diam dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa bahkan meminta orang lain untuk diam ketika imam sedang berkhutbah dapat termasuk perbuatan yang sia-sia. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih Muslim.
Hadis lainnya juga menjelaskan keutamaan orang yang datang untuk salat Jumat, kemudian diam dan mendengarkan khutbah hingga selesai.
Karena itu, sebaiknya sebelum berangkat ke masjid kita sudah mulai meninggalkan kebiasaan yang dapat mengganggu kekhusyukan, seperti terlalu banyak berbicara, bercanda berlebihan, bertengkar, atau sibuk dengan sesuatu yang tidak berkaitan dengan ibadah.
Di era ponsel dan media sosial, pesan ini terasa semakin relevan. Jangan sampai tubuh sudah berada di masjid, tetapi pikiran masih sibuk dengan notifikasi, percakapan, atau persoalan di luar masjid.
3. Meninggalkan kebiasaan datang terburu-buru
Jumat juga sebaiknya tidak dipersiapkan dengan terburu-buru.
Mandi, membersihkan diri, mengenakan pakaian yang baik dan bersih, kemudian berangkat lebih awal merupakan bagian dari persiapan yang dianjurkan dalam berbagai hadis tentang keutamaan hari Jumat.
Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan datang lebih awal ke masjid pada hari Jumat. Orang-orang yang datang lebih awal mendapatkan keutamaan sesuai urutan kedatangannya, sebelum imam keluar untuk menyampaikan khutbah.
Dalam hadis lainnya disebutkan mengenai mandi pada hari Jumat dan datang lebih awal sebelum khutbah.
Artinya, jangan menjadikan salat Jumat sebagai ibadah yang baru dipikirkan beberapa menit sebelum azan.
Jika memungkinkan, persiapkan semuanya sejak pagi. Selesaikan pekerjaan yang bisa diselesaikan lebih awal, siapkan pakaian, bersihkan diri, kemudian berangkat ke masjid dengan tenang.
Dengan begitu, seseorang tidak datang dalam keadaan tergesa-gesa, kelelahan, atau masih memikirkan pekerjaan yang ditinggalkan.
Jumat Bukan Sekadar Rutinitas Mingguan
Salat Jumat sering kali dilakukan setiap pekan sehingga tanpa disadari dapat berubah menjadi rutinitas.
Padahal, setiap Jumat memberikan kesempatan untuk kembali berhenti sejenak dari kesibukan dunia.
Ada pekerjaan yang harus ditinggalkan sementara. Ada percakapan yang harus dihentikan. Ada kesibukan yang harus disisihkan. Dan ada hati yang perlu kembali diarahkan kepada Allah SWT.
Karena itu, tiga hal yang sebaiknya ditinggalkan bukan sekadar soal "berhenti bekerja, berhenti berbicara, atau tidak terburu-buru".
Lebih jauh, Jumat mengajarkan seorang Muslim untuk meninggalkan sejenak segala sesuatu yang dapat menghalangi kekhusyukan dalam memenuhi panggilan Allah.
Jangan sampai kita hadir di masjid hanya secara fisik, sementara pikiran dan hati masih tertinggal di tempat kerja, di jalan, atau di layar ponsel.**
Jadikan Jumat sebagai kesempatan untuk berhenti sejenak, menenangkan diri, mendengarkan nasihat, dan memperbaiki kembali hubungan dengan Allah SWT.
Selamat menunaikan ibadah salat Jumat. Semoga setiap langkah menuju rumah Allah menjadi bagian dari keberkahan yang kita bawa pulang.




PEKANBARU - Hari Jumat memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam. Bagi laki-laki Muslim yang berkewajiban melaksanakan salat Jumat, kedatangan hari ini bukan sekadar pergantian hari dalam sepekan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan mempersiapkan diri untuk beribadah.
Al-Qur'an bahkan memberikan perhatian khusus ketika waktu salat Jumat tiba. Dalam Surah Al-Jumu'ah ayat 9, umat Islam diperintahkan untuk bersegera mengingat Allah dan meninggalkan aktivitas perdagangan ketika panggilan salat Jumat telah dikumandangkan.
Karena itu, ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya mulai ditinggalkan ketika seseorang hendak menunaikan salat Jumat.
1. Meninggalkan kesibukan yang membuat lalai
Pekerjaan, bisnis, urusan kantor, hingga aktivitas sehari-hari tentu merupakan bagian dari kehidupan. Namun, ketika waktu salat Jumat tiba, kesibukan tersebut tidak seharusnya membuat seorang Muslim mengabaikan panggilan untuk beribadah.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Jumu'ah ayat 9:
“Apabila diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ketika panggilan salat Jumat telah datang, aktivitas duniawi harus dikesampingkan demi memenuhi kewajiban kepada Allah.
Bukan berarti bekerja atau mencari rezeki adalah sesuatu yang buruk. Justru bekerja merupakan bagian penting dari kehidupan. Namun, ada waktunya seorang Muslim berhenti mengejar urusan dunia untuk memenuhi panggilan ibadah.
"Jumat mengajarkan bahwa mencari rezeki penting, tetapi jangan sampai rezeki membuat kita lupa kepada pemberi rezeki."
2. Meninggalkan perkataan dan aktivitas yang sia-sia
Persiapan menuju salat Jumat bukan hanya soal pakaian dan kebersihan diri. Persiapan juga menyangkut bagaimana seseorang menjaga sikap dan lisannya.
Terlebih ketika sudah berada di masjid dan khatib mulai menyampaikan khutbah, seorang Muslim dianjurkan untuk diam dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa bahkan meminta orang lain untuk diam ketika imam sedang berkhutbah dapat termasuk perbuatan yang sia-sia. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih Muslim.
Hadis lainnya juga menjelaskan keutamaan orang yang datang untuk salat Jumat, kemudian diam dan mendengarkan khutbah hingga selesai.
Karena itu, sebaiknya sebelum berangkat ke masjid kita sudah mulai meninggalkan kebiasaan yang dapat mengganggu kekhusyukan, seperti terlalu banyak berbicara, bercanda berlebihan, bertengkar, atau sibuk dengan sesuatu yang tidak berkaitan dengan ibadah.
Di era ponsel dan media sosial, pesan ini terasa semakin relevan. Jangan sampai tubuh sudah berada di masjid, tetapi pikiran masih sibuk dengan notifikasi, percakapan, atau persoalan di luar masjid.
3. Meninggalkan kebiasaan datang terburu-buru
Jumat juga sebaiknya tidak dipersiapkan dengan terburu-buru.
Mandi, membersihkan diri, mengenakan pakaian yang baik dan bersih, kemudian berangkat lebih awal merupakan bagian dari persiapan yang dianjurkan dalam berbagai hadis tentang keutamaan hari Jumat.
Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan datang lebih awal ke masjid pada hari Jumat. Orang-orang yang datang lebih awal mendapatkan keutamaan sesuai urutan kedatangannya, sebelum imam keluar untuk menyampaikan khutbah.
Dalam hadis lainnya disebutkan mengenai mandi pada hari Jumat dan datang lebih awal sebelum khutbah.
Artinya, jangan menjadikan salat Jumat sebagai ibadah yang baru dipikirkan beberapa menit sebelum azan.
Jika memungkinkan, persiapkan semuanya sejak pagi. Selesaikan pekerjaan yang bisa diselesaikan lebih awal, siapkan pakaian, bersihkan diri, kemudian berangkat ke masjid dengan tenang.
Dengan begitu, seseorang tidak datang dalam keadaan tergesa-gesa, kelelahan, atau masih memikirkan pekerjaan yang ditinggalkan.
Jumat Bukan Sekadar Rutinitas Mingguan
Salat Jumat sering kali dilakukan setiap pekan sehingga tanpa disadari dapat berubah menjadi rutinitas.
Padahal, setiap Jumat memberikan kesempatan untuk kembali berhenti sejenak dari kesibukan dunia.
Ada pekerjaan yang harus ditinggalkan sementara. Ada percakapan yang harus dihentikan. Ada kesibukan yang harus disisihkan. Dan ada hati yang perlu kembali diarahkan kepada Allah SWT.
Karena itu, tiga hal yang sebaiknya ditinggalkan bukan sekadar soal "berhenti bekerja, berhenti berbicara, atau tidak terburu-buru".
Lebih jauh, Jumat mengajarkan seorang Muslim untuk meninggalkan sejenak segala sesuatu yang dapat menghalangi kekhusyukan dalam memenuhi panggilan Allah.
Jangan sampai kita hadir di masjid hanya secara fisik, sementara pikiran dan hati masih tertinggal di tempat kerja, di jalan, atau di layar ponsel.**
Jadikan Jumat sebagai kesempatan untuk berhenti sejenak, menenangkan diri, mendengarkan nasihat, dan memperbaiki kembali hubungan dengan Allah SWT.
Selamat menunaikan ibadah salat Jumat. Semoga setiap langkah menuju rumah Allah menjadi bagian dari keberkahan yang kita bawa pulang.