logo
Musnahkan Narkoba Rp80 Miliar, Polres Bengkalis Selamatkan Ratusan Ribu Jiwa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dukung Arahan Presiden Prabowo, BSI Sediakan Tabungan Bebas Biaya Admin untuk Ma Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Tim SAR Gabungan Perluas Pencarian Kapal Jurnalis Sampai Kawasan Anak Krakatau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Jembatan Siak I dan Siak III Pekanbaru September Ditutup, Jalur Alternatif Disia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Terbitkan Surat Rekomendasi, ‎Bupati Rohil Resmi Dukung Pembentukan Provinsi Ria Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dari Rekam Medis Menuju Rekam Pendidikan Nasional Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kualitas Udara Pekanbaru Mulai Membaik, Saatnya Kembali Sekolah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi PERBASASI Riau Tancap Gas, Matangkan Regenerasi Atlet hingga Kejuaraan Internasi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Rupiah Tertahan di Rp17.877, Euforia MSCI Mulai Pudar, Pasar Kini Menanti Calon Pimpinan BI
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Foto: Ist/Antara)
Rupiah Tertahan di Rp17.877, Euforia MSCI Mulai Pudar, Pasar Kini Menanti Calon Pimpinan BI
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 13 Agustus 2026 | 20:21:14

JAKARTA - Penguatan rupiah terhenti pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di level Rp17.877 per dolar AS, sama persis dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Rupiah yang sebelumnya sempat mendapat sentimen positif dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) kini mulai kehilangan tenaga. Pelaku pasar kembali mencermati sejumlah faktor domestik dan global yang berpotensi memengaruhi arah mata uang Garuda.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai, stagnannya rupiah tidak terlepas dari memudarnya euforia pasar setelah MSCI mengumumkan hasil August 2026 Index Review pada Rabu (12/8/2026).

iklan-view

"Rupiah pada perdagangan hari ini yang ditutup stabil lebih dipengaruhi oleh memudarnya euforia rilis MSCI dan fokus pelaku pasar mencermati calon Deputi Gubernur BI," kata Rully di Jakarta, Kamis (13/8/2026), seperti dikutip dari antaranews.

Dalam pengumuman tersebut, MSCI mengeluarkan dua saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index dan tidak memasukkan saham Indonesia lainnya ke dalam indeks tersebut. Pada kategori MSCI Global Small Cap Index, satu saham Indonesia masuk, sementara sembilan saham dikeluarkan.

Seluruh perubahan tersebut akan berlaku pada penutupan perdagangan bursa pada 31 Agustus 2026 dan efektif mulai 1 September 2026.

Selain sentimen MSCI, perhatian investor domestik kini tertuju pada proses pengisian jajaran pimpinan Bank Indonesia (BI). Pemerintah telah mengirim Surat Presiden (Surpres) untuk mengisi posisi Deputi Gubernur Senior BI dan Deputi Gubernur BI.

Aida S Budiman diajukan sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI. Sementara untuk posisi Deputi Gubernur BI, pemerintah mengajukan Solikin M Juhro dan M Anwar Bashori.

Dari pasar global, pergerakan rupiah juga masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, terutama perkembangan konflik di Timur Tengah. Menurut Rully, belum adanya terobosan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran membuat pelaku pasar tetap berhati-hati.

Namun, tekanan dari faktor eksternal sedikit mereda seiring indeks dolar AS yang bergerak stabil di bawah level 100 dan harga minyak dunia yang mulai melandai.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru melemah. Pada Kamis, JISDOR berada di level Rp17.882 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya Rp17.876 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan rupiah masih menghadapi tekanan untuk kembali menguat, setelah sebelumnya mendapat dorongan dari sentimen positif pasar. Investor kini menunggu katalis baru, baik dari perkembangan domestik maupun kondisi ekonomi dan geopolitik global. (*)

Home / Ekonomi
Rupiah Tertahan di Rp17.877, Euforia MSCI Mulai Pudar, Pasar Kini Menanti Calon Pimpinan BI
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 13 Agustus 2026 | 20:21:14
Rupiah Tertahan di Rp17.877, Euforia MSCI Mulai Pudar, Pasar Kini Menanti Calon Pimpinan BI
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Foto: Ist/Antara)

JAKARTA - Penguatan rupiah terhenti pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di level Rp17.877 per dolar AS, sama persis dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Rupiah yang sebelumnya sempat mendapat sentimen positif dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) kini mulai kehilangan tenaga. Pelaku pasar kembali mencermati sejumlah faktor domestik dan global yang berpotensi memengaruhi arah mata uang Garuda.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai, stagnannya rupiah tidak terlepas dari memudarnya euforia pasar setelah MSCI mengumumkan hasil August 2026 Index Review pada Rabu (12/8/2026).

"Rupiah pada perdagangan hari ini yang ditutup stabil lebih dipengaruhi oleh memudarnya euforia rilis MSCI dan fokus pelaku pasar mencermati calon Deputi Gubernur BI," kata Rully di Jakarta, Kamis (13/8/2026), seperti dikutip dari antaranews.

Dalam pengumuman tersebut, MSCI mengeluarkan dua saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index dan tidak memasukkan saham Indonesia lainnya ke dalam indeks tersebut. Pada kategori MSCI Global Small Cap Index, satu saham Indonesia masuk, sementara sembilan saham dikeluarkan.

Seluruh perubahan tersebut akan berlaku pada penutupan perdagangan bursa pada 31 Agustus 2026 dan efektif mulai 1 September 2026.

Selain sentimen MSCI, perhatian investor domestik kini tertuju pada proses pengisian jajaran pimpinan Bank Indonesia (BI). Pemerintah telah mengirim Surat Presiden (Surpres) untuk mengisi posisi Deputi Gubernur Senior BI dan Deputi Gubernur BI.

Aida S Budiman diajukan sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI. Sementara untuk posisi Deputi Gubernur BI, pemerintah mengajukan Solikin M Juhro dan M Anwar Bashori.

Dari pasar global, pergerakan rupiah juga masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, terutama perkembangan konflik di Timur Tengah. Menurut Rully, belum adanya terobosan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran membuat pelaku pasar tetap berhati-hati.

Namun, tekanan dari faktor eksternal sedikit mereda seiring indeks dolar AS yang bergerak stabil di bawah level 100 dan harga minyak dunia yang mulai melandai.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru melemah. Pada Kamis, JISDOR berada di level Rp17.882 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya Rp17.876 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan rupiah masih menghadapi tekanan untuk kembali menguat, setelah sebelumnya mendapat dorongan dari sentimen positif pasar. Investor kini menunggu katalis baru, baik dari perkembangan domestik maupun kondisi ekonomi dan geopolitik global. (*)