logo
Terjadi di Pekanbaru: Sopir Antre Bio Solar hingga 10 Jam, Masalahnya di Kuota a Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Amplop Suhardiman untuk Raja Juli Belum Berujung Pemanggilan, KPK Fokus Bongkar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dentuman Anak Krakatau Menggelegar hingga Jabar, BNPB: Jangan Panik, Belum Ada P Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Tol Palindra Tertutup Kabut Asap, Bus Damri Tabrak ALS, Belasan Penumpang Luka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menteri HAM Dorong Kasasi atas Pembatalan Pemecatan Prajurit TNI di Kasus Penyir Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Solar Langka, Kecemasan yang Mengular Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi MTQ Nasional ke-31 di Semarang Diikuti 2.242 Peserta dari Seluruh Indonesia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pertamina Patra Niaga Tindak Tegas Pelanggaran Penyaluran BBM Subsidi di Sumatra Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Data Penerima MBG Bakal Terhubung SATUSEHAT, Perkembangan Anak Bisa Dipantau
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono usai rapat rapat koordinasi bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). (Foto: Int)
Data Penerima MBG Bakal Terhubung SATUSEHAT, Perkembangan Anak Bisa Dipantau
Editor: putrajaya
Rubrik: ekonomi | 14 Agustus 2026 | 17:07:29

JAKARTA -  Pemerintah tengah menyiapkan langkah untuk membuat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih terukur. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengusulkan agar data penerima MBG nantinya terintegrasi dengan sistem informasi kesehatan SATUSEHAT.

Dengan integrasi tersebut, pemerintah diharapkan tidak sekadar mengetahui jumlah penerima manfaat, tetapi juga bisa mengikuti perkembangan kondisi kesehatan anak yang mendapat program tersebut dari waktu ke waktu.

iklan-view

Usulan itu disampaikan Tito saat rapat koordinasi bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono dan pemerintah daerah dari seluruh Indonesia secara hybrid di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Tito menjelaskan, integrasi data akan memungkinkan pemerintah melihat dampak intervensi gizi secara lebih jelas. Perkembangan anak, termasuk pertumbuhan fisik dan kondisi kesehatannya, dapat dipantau secara berkala.

“Data itu bisa mengikuti progres perkembangan anak. Misalnya tinggi badan, kesehatan, dan apakah berat badannya naik atau tidak, semuanya bisa dimonitor melalui integrasi data itu,” ujar Tito.

Namun, sebelum masuk ke sistem kesehatan, pemerintah akan lebih dulu membenahi dan memperbarui data penerima MBG. Langkah tersebut akan dilakukan melalui kolaborasi antara BGN dan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri.

Menurut Tito, data kependudukan yang dimiliki Dukcapil dapat membantu BGN memastikan identitas setiap penerima manfaat. Identifikasi tersebut dapat memanfaatkan data biometrik, seperti pengenalan wajah, sidik jari, hingga iris mata.

“Jadi bukan hanya data kuantitatif mengenai jumlah penerima manfaat, tetapi siapa saja penerimanya juga bisa terdata,” kata Tito seperti dilansir liputan6.

Pendataan berbasis individu tersebut juga dinilai penting untuk mencegah terjadinya pencatatan ganda. Dengan begitu, satu orang tidak tercatat sebagai penerima MBG lebih dari satu kali.

Integrasi data tersebut nantinya diharapkan membuat pelaksanaan MBG lebih tepat sasaran sekaligus memungkinkan pemerintah mengevaluasi dampaknya terhadap pertumbuhan dan kesehatan penerima manfaat. (*)


Home / Ekonomi
Data Penerima MBG Bakal Terhubung SATUSEHAT, Perkembangan Anak Bisa Dipantau
Editor: putrajaya
Rubrik: ekonomi | 14 Agustus 2026 | 17:07:29
Data Penerima MBG Bakal Terhubung SATUSEHAT, Perkembangan Anak Bisa Dipantau
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono usai rapat rapat koordinasi bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). (Foto: Int)

JAKARTA -  Pemerintah tengah menyiapkan langkah untuk membuat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih terukur. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengusulkan agar data penerima MBG nantinya terintegrasi dengan sistem informasi kesehatan SATUSEHAT.

Dengan integrasi tersebut, pemerintah diharapkan tidak sekadar mengetahui jumlah penerima manfaat, tetapi juga bisa mengikuti perkembangan kondisi kesehatan anak yang mendapat program tersebut dari waktu ke waktu.

Usulan itu disampaikan Tito saat rapat koordinasi bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono dan pemerintah daerah dari seluruh Indonesia secara hybrid di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Tito menjelaskan, integrasi data akan memungkinkan pemerintah melihat dampak intervensi gizi secara lebih jelas. Perkembangan anak, termasuk pertumbuhan fisik dan kondisi kesehatannya, dapat dipantau secara berkala.

“Data itu bisa mengikuti progres perkembangan anak. Misalnya tinggi badan, kesehatan, dan apakah berat badannya naik atau tidak, semuanya bisa dimonitor melalui integrasi data itu,” ujar Tito.

Namun, sebelum masuk ke sistem kesehatan, pemerintah akan lebih dulu membenahi dan memperbarui data penerima MBG. Langkah tersebut akan dilakukan melalui kolaborasi antara BGN dan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri.

Menurut Tito, data kependudukan yang dimiliki Dukcapil dapat membantu BGN memastikan identitas setiap penerima manfaat. Identifikasi tersebut dapat memanfaatkan data biometrik, seperti pengenalan wajah, sidik jari, hingga iris mata.

“Jadi bukan hanya data kuantitatif mengenai jumlah penerima manfaat, tetapi siapa saja penerimanya juga bisa terdata,” kata Tito seperti dilansir liputan6.

Pendataan berbasis individu tersebut juga dinilai penting untuk mencegah terjadinya pencatatan ganda. Dengan begitu, satu orang tidak tercatat sebagai penerima MBG lebih dari satu kali.

Integrasi data tersebut nantinya diharapkan membuat pelaksanaan MBG lebih tepat sasaran sekaligus memungkinkan pemerintah mengevaluasi dampaknya terhadap pertumbuhan dan kesehatan penerima manfaat. (*)