logo
Keroyok Tukang Gigi hingga Tewas ,Tiga Pemuda Jadi Tersangka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pasar Kodim Diduga Dialihfungsikan Jadi Kampus, KOMPOR Foundation dan PPSP Perta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPR Dengarkan Tuntutan 36 Ribu Kades AMJ Terkait Perpanjangan Masa Jabatan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menpora dan Ketua KOI Resmi Kukuhkan Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Perkasa, Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kembali ke Pasar In Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Komjak RI Turun ke Kejari Pekanbaru, Pastikan Pengaduan Masyarakat Ditindaklanju Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Eskalasi Konflik Memanas, Harga Minyak Dunia Mendekati Level US$100 per Barel Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Manchester City Pimpin Klasemen Liga Champions Usai Taklukkan Porto Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Karhutla Mengganas, 26 Ton Garam Disemai di Langit Riau untuk Memancing Hujan, Hasilnya?
Operasi modifikasi cuaca di Riau. (Foto: Istimewa)
Karhutla Mengganas, 26 Ton Garam Disemai di Langit Riau untuk Memancing Hujan, Hasilnya?
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: lingkungan | 20 Agustus 2026 | 22:07:43

PEKANBARU - Upaya Pemerintah Provinsi Riau mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat dari udara. Selama 21 hari pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sebanyak 26.000 kilogram atau 26 ton natrium klorida (NaCl) alias garam telah disemai ke awan untuk memicu turunnya hujan.

Penyemaian dilakukan menggunakan pesawat Cessna dengan menyasar awan-awan potensial, terutama cumulonimbus. Hujan yang dihasilkan diharapkan tidak hanya membantu memadamkan titik api, tetapi juga membasahi lahan yang mulai mengering sehingga potensi kebakaran dapat ditekan.

Kabid Kedaruratan BPBD dan Damkar Riau, Jim Gafur, mengatakan OMC telah memberikan dampak di sejumlah wilayah yang sebelumnya mengalami kekeringan.

iklan-view

“OMC di Riau sudah memasuki hari ke-21. Sejumlah daerah yang dilanda kekeringan sudah diguyur hujan,” kata Jim, Kamis (20/8/2026).

Dalam pelaksanaan terakhir, sebanyak 26 sorti penyemaian garam dilakukan. Hujan hasil modifikasi cuaca kemudian mengguyur sejumlah wilayah, di antaranya Pelalawan, Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir dan Kuantan Singingi.

Menurut Jim, OMC tidak bisa dilakukan setiap saat karena sangat bergantung pada keberadaan dan kondisi awan yang memenuhi syarat untuk disemai.

Karena itu, operasi tersebut terus dilakukan secara selektif untuk mendapatkan hasil maksimal. Sasaran utamanya bukan semata-mata memadamkan api, tetapi juga meningkatkan kelembapan lahan, khususnya kawasan gambut yang sangat rentan terbakar ketika kondisi kering.

“OMC ini tidak dapat dilakukan serta-merta, tergantung kondisi awannya. Tapi hujan buatan terus diupayakan, tak hanya bertujuan untuk memadamkan karhutla, tapi juga membasahi lahan agar kawasan yang mudah terbakar bisa diminimalisir,” ujarnya.

Kebutuhan terhadap hujan buatan semakin penting menyusul masih munculnya karhutla di sejumlah wilayah Riau. Salah satu yang menjadi perhatian serius berada di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan.

Karhutla di kawasan tersebut telah berlangsung sekitar lima hari dengan luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare. Kebakaran di lahan gambut itu bahkan menghasilkan asap tebal yang sempat membuat kualitas udara di Pangkalan Kerinci masuk kategori tidak sehat.

Kondisi lahan yang kering, vegetasi yang rapat serta keberadaan pohon-pohon besar membuat proses pemadaman tidak mudah. Terlebih, sumber air di sekitar lokasi relatif terbatas dan akses menuju titik kebakaran juga menjadi kendala.

Tim gabungan pun masih mengerahkan kekuatan dari darat dan udara. Selain personel TNI, Polri, BPBD dan Manggala Agni, pemadaman didukung helikopter water bombing dan alat berat.

Dari enam helikopter yang disiagakan di Riau, satu unit digunakan untuk patroli, sementara lima lainnya difokuskan untuk operasi water bombing.

Upaya dari udara tersebut menjadi bagian dari strategi berlapis dalam menghadapi karhutla. Jika OMC berfungsi membantu mendatangkan hujan dan membasahi wilayah rawan terbakar, helikopter water bombing dikerahkan untuk menjatuhkan air langsung ke titik api.

Sementara itu, tim darat terus melakukan pemadaman dan pendinginan untuk memastikan api tidak kembali menyala.

Kondisi di Kerumutan menunjukkan bahwa tantangan karhutla di Riau belum sepenuhnya teratasi. Karena itu, operasi modifikasi cuaca masih menjadi salah satu andalan untuk menjaga kelembapan lahan sekaligus membantu tim di lapangan mengendalikan kebakaran.

“Upaya penanggulangan terus dilakukan. Tim darat kita kerahkan, water bombing juga dilakukan, termasuk pengerahan alat berat. Tetapi memang pemadaman mengalami kesulitan karena sumber air di lokasi minim,” kata Jim. (mcr)

Karhutla Mengganas, 26 Ton Garam Disemai di Langit Riau untuk Memancing Hujan, Hasilnya?
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: lingkungan | 20 Agustus 2026 | 22:07:43
Karhutla Mengganas, 26 Ton Garam Disemai di Langit Riau untuk Memancing Hujan, Hasilnya?
Operasi modifikasi cuaca di Riau. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU - Upaya Pemerintah Provinsi Riau mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat dari udara. Selama 21 hari pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sebanyak 26.000 kilogram atau 26 ton natrium klorida (NaCl) alias garam telah disemai ke awan untuk memicu turunnya hujan.

Penyemaian dilakukan menggunakan pesawat Cessna dengan menyasar awan-awan potensial, terutama cumulonimbus. Hujan yang dihasilkan diharapkan tidak hanya membantu memadamkan titik api, tetapi juga membasahi lahan yang mulai mengering sehingga potensi kebakaran dapat ditekan.

Kabid Kedaruratan BPBD dan Damkar Riau, Jim Gafur, mengatakan OMC telah memberikan dampak di sejumlah wilayah yang sebelumnya mengalami kekeringan.

“OMC di Riau sudah memasuki hari ke-21. Sejumlah daerah yang dilanda kekeringan sudah diguyur hujan,” kata Jim, Kamis (20/8/2026).

Dalam pelaksanaan terakhir, sebanyak 26 sorti penyemaian garam dilakukan. Hujan hasil modifikasi cuaca kemudian mengguyur sejumlah wilayah, di antaranya Pelalawan, Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir dan Kuantan Singingi.

Menurut Jim, OMC tidak bisa dilakukan setiap saat karena sangat bergantung pada keberadaan dan kondisi awan yang memenuhi syarat untuk disemai.

Karena itu, operasi tersebut terus dilakukan secara selektif untuk mendapatkan hasil maksimal. Sasaran utamanya bukan semata-mata memadamkan api, tetapi juga meningkatkan kelembapan lahan, khususnya kawasan gambut yang sangat rentan terbakar ketika kondisi kering.

“OMC ini tidak dapat dilakukan serta-merta, tergantung kondisi awannya. Tapi hujan buatan terus diupayakan, tak hanya bertujuan untuk memadamkan karhutla, tapi juga membasahi lahan agar kawasan yang mudah terbakar bisa diminimalisir,” ujarnya.

Kebutuhan terhadap hujan buatan semakin penting menyusul masih munculnya karhutla di sejumlah wilayah Riau. Salah satu yang menjadi perhatian serius berada di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan.

Karhutla di kawasan tersebut telah berlangsung sekitar lima hari dengan luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare. Kebakaran di lahan gambut itu bahkan menghasilkan asap tebal yang sempat membuat kualitas udara di Pangkalan Kerinci masuk kategori tidak sehat.

Kondisi lahan yang kering, vegetasi yang rapat serta keberadaan pohon-pohon besar membuat proses pemadaman tidak mudah. Terlebih, sumber air di sekitar lokasi relatif terbatas dan akses menuju titik kebakaran juga menjadi kendala.

Tim gabungan pun masih mengerahkan kekuatan dari darat dan udara. Selain personel TNI, Polri, BPBD dan Manggala Agni, pemadaman didukung helikopter water bombing dan alat berat.

Dari enam helikopter yang disiagakan di Riau, satu unit digunakan untuk patroli, sementara lima lainnya difokuskan untuk operasi water bombing.

Upaya dari udara tersebut menjadi bagian dari strategi berlapis dalam menghadapi karhutla. Jika OMC berfungsi membantu mendatangkan hujan dan membasahi wilayah rawan terbakar, helikopter water bombing dikerahkan untuk menjatuhkan air langsung ke titik api.

Sementara itu, tim darat terus melakukan pemadaman dan pendinginan untuk memastikan api tidak kembali menyala.

Kondisi di Kerumutan menunjukkan bahwa tantangan karhutla di Riau belum sepenuhnya teratasi. Karena itu, operasi modifikasi cuaca masih menjadi salah satu andalan untuk menjaga kelembapan lahan sekaligus membantu tim di lapangan mengendalikan kebakaran.

“Upaya penanggulangan terus dilakukan. Tim darat kita kerahkan, water bombing juga dilakukan, termasuk pengerahan alat berat. Tetapi memang pemadaman mengalami kesulitan karena sumber air di lokasi minim,” kata Jim. (mcr)