
PONTIANAK-Dampak kabut asap juga dirasakan hingga wilayah Sarawak, Malaysia.
Pemerintah setempat meliburkan sementara 591 sekolah akibat memburuknya kualitas udara yang dikaitkan dengan kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di kawasan regional.
Kebijakan tersebut mencakup 509 sekolah dasar dengan jumlah sekitar 107.590 murid.

Selain itu, sebanyak 82 sekolah menengah dengan sekitar 89.733 siswa juga terdampak kebijakan tersebut.
Sekolah-sekolah yang diliburkan tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu dan Betong.
Dengan demikian, lebih dari 197 ribu peserta didik terdampak penghentian sementara kegiatan belajar mengajar tersebut
Kebakatan hutan dan lahan ini juga menyebabkan arus transportasi terganggu, seperti di Pontianak, Kalimantan Barat, sejumlah penerbangan dari Bandara Internasional Supadio mengalami keterlambatan pada Jumat (21/8/2026) pagi.
Kondisi tersebut terjadi ketika jarak pandang di wilayah Pontianak dan sekitarnya menurun akibat kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut.
Ratusan calon penumpang terlihat memenuhi ruang tunggu keberangkatan Bandara Internasional Supadio sambil menunggu kepastian jadwal penerbangan.
Sejumlah penumpang bahkan telah datang lebih awal untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan jadwal penerbangan.
Salah seorang calon penumpang, Santosa, mengatakan dirinya sudah berada di bandara sejak pukul 07.00 WIB.
Padahal, jadwal keberangkatan pesawat yang akan ditumpanginya tercantum pukul 08.30 WIB.
"Saya dari jam 07.00 WIB sudah tiba di bandara, padahal jam keberangkatan pesawat saya jam 08.30 WIB," kata Santosa.
Hingga sekitar pukul 09.00 WIB, para penumpang masih menunggu informasi mengenai kepastian keberangkatan dari pihak maskapai.
Situasi tersebut menunjukkan dampak kabut asap mulai merambah aktivitas transportasi udara. Faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama ketika jarak pandang di sekitar bandara menurun.
Calon penumpang lainnya, Raimondus, mengatakan penumpang memahami bahwa keselamatan penerbangan harus menjadi prioritas.
Namun, dia berharap kondisi tersebut segera membaik sehingga keterlambatan penerbangan tidak berlangsung terlalu lama.(*)




PONTIANAK-Dampak kabut asap juga dirasakan hingga wilayah Sarawak, Malaysia.
Pemerintah setempat meliburkan sementara 591 sekolah akibat memburuknya kualitas udara yang dikaitkan dengan kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di kawasan regional.
Kebijakan tersebut mencakup 509 sekolah dasar dengan jumlah sekitar 107.590 murid.
Selain itu, sebanyak 82 sekolah menengah dengan sekitar 89.733 siswa juga terdampak kebijakan tersebut.
Sekolah-sekolah yang diliburkan tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu dan Betong.
Dengan demikian, lebih dari 197 ribu peserta didik terdampak penghentian sementara kegiatan belajar mengajar tersebut
Kebakatan hutan dan lahan ini juga menyebabkan arus transportasi terganggu, seperti di Pontianak, Kalimantan Barat, sejumlah penerbangan dari Bandara Internasional Supadio mengalami keterlambatan pada Jumat (21/8/2026) pagi.
Kondisi tersebut terjadi ketika jarak pandang di wilayah Pontianak dan sekitarnya menurun akibat kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut.
Ratusan calon penumpang terlihat memenuhi ruang tunggu keberangkatan Bandara Internasional Supadio sambil menunggu kepastian jadwal penerbangan.
Sejumlah penumpang bahkan telah datang lebih awal untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan jadwal penerbangan.
Salah seorang calon penumpang, Santosa, mengatakan dirinya sudah berada di bandara sejak pukul 07.00 WIB.
Padahal, jadwal keberangkatan pesawat yang akan ditumpanginya tercantum pukul 08.30 WIB.
"Saya dari jam 07.00 WIB sudah tiba di bandara, padahal jam keberangkatan pesawat saya jam 08.30 WIB," kata Santosa.
Hingga sekitar pukul 09.00 WIB, para penumpang masih menunggu informasi mengenai kepastian keberangkatan dari pihak maskapai.
Situasi tersebut menunjukkan dampak kabut asap mulai merambah aktivitas transportasi udara. Faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama ketika jarak pandang di sekitar bandara menurun.
Calon penumpang lainnya, Raimondus, mengatakan penumpang memahami bahwa keselamatan penerbangan harus menjadi prioritas.
Namun, dia berharap kondisi tersebut segera membaik sehingga keterlambatan penerbangan tidak berlangsung terlalu lama.(*)