
PEKANBARU – Jamu identik dengan minuman tradisional yang biasa dikonsumsi orang tua. Namun, anggapan itu mulai berubah.
Di Pekanbaru, anak muda, termasuk generasi Z (Gen Z), ternyata juga mulai menyukai minuman herbal. Hal itu terlihat dari aktivitas pembeli di Jamu Herbal Pak Sadam, Jalan Tengku Bey, Pekanbaru.
Menurut Bu Azizah, salah seorang yang membantu berjualan di warung tersebut, pembeli jamu tidak hanya berasal dari kalangan orang tua. Anak muda juga cukup sering datang untuk membeli berbagai jenis jamu.
“Anak muda juga banyak yang datang beli jamu,” ujar Bu Azizah.

Jamu Herbal Pak Sadam menyediakan lebih dari 30 jenis jamu. Pilihannya antara lain jamu pegal linu, asam lambung, diabetes, kolesterol, temulawak, manjakani dan berbagai jenis jamu lainnya.
Harga yang ditawarkan cukup terjangkau, mulai dari Rp7.000 hingga Rp15.000 per gelas. Warung ini buka setiap hari mulai pukul 17.00 WIB hingga 23.00 WIB.
Dari berbagai pilihan tersebut, jamu pegal linu dan asam lambung menjadi yang paling banyak diminati pembeli.
“Yang paling banyak dibeli itu pegal linu sama asam lambung,” katanya.
Dalam sehari, Jamu Herbal Pak Sadam bisa menjual sekitar 40 hingga 50 gelas. Kondisi ini menunjukkan minuman herbal masih memiliki peminat, termasuk dari kalangan anak muda.
Bagi Gen Z, jamu kini tidak selalu dipandang sebagai minuman yang identik dengan orang tua. Pilihan jenis jamu yang beragam dan harga yang relatif terjangkau membuat minuman tradisional ini tetap menarik untuk dicoba.
Bu Azizah sendiri sudah sekitar satu tahun membantu berjualan jamu. Ia mengatakan, alasan ikut berjualan bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga ingin membantu masyarakat yang datang mencari pilihan minuman herbal.
Ia berharap jamu tetap diminati masyarakat dan tidak kehilangan tempat di tengah banyaknya pilihan minuman kekinian.
“Kalau ada keluhan, semoga setelah minum jamu ini sehat,” katanya.
Fenomena anak muda yang ikut mengonsumsi jamu juga menunjukkan bahwa minuman tradisional masih memiliki peluang untuk terus berkembang. Jamu tidak hanya menjadi bagian dari kebiasaan generasi sebelumnya, tetapi mulai dikenal kembali oleh generasi muda dengan cara yang lebih dekat dengan keseharian mereka.




PEKANBARU – Jamu identik dengan minuman tradisional yang biasa dikonsumsi orang tua. Namun, anggapan itu mulai berubah.
Di Pekanbaru, anak muda, termasuk generasi Z (Gen Z), ternyata juga mulai menyukai minuman herbal. Hal itu terlihat dari aktivitas pembeli di Jamu Herbal Pak Sadam, Jalan Tengku Bey, Pekanbaru.
Menurut Bu Azizah, salah seorang yang membantu berjualan di warung tersebut, pembeli jamu tidak hanya berasal dari kalangan orang tua. Anak muda juga cukup sering datang untuk membeli berbagai jenis jamu.
“Anak muda juga banyak yang datang beli jamu,” ujar Bu Azizah.
Jamu Herbal Pak Sadam menyediakan lebih dari 30 jenis jamu. Pilihannya antara lain jamu pegal linu, asam lambung, diabetes, kolesterol, temulawak, manjakani dan berbagai jenis jamu lainnya.
Harga yang ditawarkan cukup terjangkau, mulai dari Rp7.000 hingga Rp15.000 per gelas. Warung ini buka setiap hari mulai pukul 17.00 WIB hingga 23.00 WIB.
Dari berbagai pilihan tersebut, jamu pegal linu dan asam lambung menjadi yang paling banyak diminati pembeli.
“Yang paling banyak dibeli itu pegal linu sama asam lambung,” katanya.
Dalam sehari, Jamu Herbal Pak Sadam bisa menjual sekitar 40 hingga 50 gelas. Kondisi ini menunjukkan minuman herbal masih memiliki peminat, termasuk dari kalangan anak muda.
Bagi Gen Z, jamu kini tidak selalu dipandang sebagai minuman yang identik dengan orang tua. Pilihan jenis jamu yang beragam dan harga yang relatif terjangkau membuat minuman tradisional ini tetap menarik untuk dicoba.
Bu Azizah sendiri sudah sekitar satu tahun membantu berjualan jamu. Ia mengatakan, alasan ikut berjualan bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga ingin membantu masyarakat yang datang mencari pilihan minuman herbal.
Ia berharap jamu tetap diminati masyarakat dan tidak kehilangan tempat di tengah banyaknya pilihan minuman kekinian.
“Kalau ada keluhan, semoga setelah minum jamu ini sehat,” katanya.
Fenomena anak muda yang ikut mengonsumsi jamu juga menunjukkan bahwa minuman tradisional masih memiliki peluang untuk terus berkembang. Jamu tidak hanya menjadi bagian dari kebiasaan generasi sebelumnya, tetapi mulai dikenal kembali oleh generasi muda dengan cara yang lebih dekat dengan keseharian mereka.