logo
Pasar Kodim Diduga Dialihfungsikan Jadi Kampus, KOMPOR Foundation dan PPSP Perta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPR Dengarkan Tuntutan 36 Ribu Kades AMJ Terkait Perpanjangan Masa Jabatan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menpora dan Ketua KOI Resmi Kukuhkan Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Perkasa, Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kembali ke Pasar In Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Komjak RI Turun ke Kejari Pekanbaru, Pastikan Pengaduan Masyarakat Ditindaklanju Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Eskalasi Konflik Memanas, Harga Minyak Dunia Mendekati Level US$100 per Barel Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Manchester City Pimpin Klasemen Liga Champions Usai Taklukkan Porto Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 3.056 Kasus Gangguan Kesehatan di Pekanbaru, Pemko Perpanjang PJJ di Tengah Kabu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
Pemprov Riau Kirim 14 Ribu Masker dan 92 Personel Dukung Pemadaman Karhutla Kerumutan
92 personel gabungan dikirim Pemprov Riau untuk membantu pemadaman karhutla Kerumutan. (Foto: Wahyu Falatehan/PekanbaruTv)
Pemprov Riau Kirim 14 Ribu Masker dan 92 Personel Dukung Pemadaman Karhutla Kerumutan
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: wahyu falatehan
Rubrik: news | 24 Agustus 2026 | 10:11:56

PEKANBARU-Pemerintah Provinsi Riau mengerahkan 92 personel gabungan ke Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung.

Selain tambahan personel, Pemprov Riau mengirim 14 ribu masker, bantuan medis, peralatan operasi, hingga dukungan oksigen bagi petugas yang bekerja di lokasi kebakaran. Langkah tersebut sekaligus untuk mengurangi dampak asap terhadap masyarakat di sekitar wilayah terdampak.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto mengatakan, pengerahan personel dilakukan setelah kondisi di lapangan membutuhkan tambahan kekuatan untuk mempercepat pemadaman.

iklan-view

"Melepas tim lebih kurang 92 personil dan juga memberikan 14 ribu masker kepada masyarakat," ujar SF Hariyanto usai memimpin apel pelepasan personel, bantuan medis dan dukungan peralatan operasi pemadaman karhutla di halaman Kantor Gubernur Riau, Senin (24/8/2026).

Menurut SF Hariyanto, bantuan tidak hanya difokuskan pada operasi pemadaman. Pemprov Riau juga menyiapkan dukungan kesehatan bagi petugas yang berada di tengah kondisi berat akibat kebakaran dan asap.

Bantuan oksigen akan dikirim ke Kerumutan untuk mendukung petugas yang berjibaku memadamkan api di kawasan kebakaran lahan. Dukungan tersebut menjadi bagian dari penguatan operasi di lapangan.

Tim tambahan yang diberangkatkan terdiri dari sejumlah unsur pemerintah daerah dan lembaga terkait. Di antaranya BPBD Riau, Basarnas, Satpol PP, serta Dinas Kesehatan.

Mereka membawa peralatan pemadaman sekaligus perlengkapan medis untuk menunjang operasi. Kehadiran personel tambahan diharapkan dapat memperkuat tim yang sebelumnya telah berada di lokasi.

Sebelumnya, lebih dari 300 personel gabungan dari TNI, Polri, Manggala Agni dan BPBD setempat telah melakukan pemadaman di kawasan Kerumutan. Mereka menghadapi kondisi lapangan yang tidak mudah karena karakteristik wilayah gambut.

Struktur tanah gambut yang dalam membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan lebih panjang. Api juga berpotensi muncul kembali setelah permukaan terlihat padam karena bara dapat bertahan di bawah lapisan gambut.

Kondisi tersebut diperberat dengan keterbatasan sumber air di sejumlah titik serta embusan angin yang dapat mempercepat pergerakan api. Situasi ini membuat operasi pemadaman harus dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan.

Pemprov Riau kemudian menambah dukungan personel dan logistik untuk memperkuat operasi yang sudah berjalan. Armada pendukung juga disalurkan untuk membantu kebutuhan petugas selama proses pemadaman.

Upaya pengendalian karhutla dilakukan melalui jalur darat dan udara. Selain pemadaman langsung oleh personel di lapangan, operasi udara atau water bombing digunakan untuk membantu mengisolasi titik api.

Penggunaan dua metode tersebut diarahkan untuk mencegah api semakin meluas. Terutama ke kawasan yang berdekatan dengan permukiman dan aktivitas masyarakat.

Bagi warga Kerumutan, persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan ancaman api. Asap yang muncul dari kebakaran juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan kebutuhan perlindungan kesehatan masyarakat.

Karena itu, pengiriman 14 ribu masker menjadi salah satu bagian penting dari respons pemerintah. Masker tersebut disiapkan untuk membantu masyarakat menghadapi paparan asap selama kondisi udara terdampak kebakaran.

Di sisi lain, keberadaan petugas tambahan menunjukkan bahwa penanganan karhutla masih membutuhkan pengerahan sumber daya dalam jumlah besar. Medan gambut, keterbatasan air dan faktor angin menjadi tantangan yang harus dihadapi secara bersamaan.

Operasi pemadaman di Kerumutan masih terus dilakukan. Personel gabungan bersama unsur terkait dikerahkan untuk mengendalikan titik api dan mencegah kebakaran meluas.

Pemprov Riau juga menyiapkan dukungan kesehatan bagi petugas yang berada di lokasi. Bantuan oksigen dan perlengkapan medis menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan personel selama operasi.

Dengan tambahan 92 personel, dukungan peralatan dan logistik, pemerintah berharap pengendalian karhutla di Kerumutan dapat diperkuat. Namun, kondisi lapangan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan kecepatan pemadaman.

Operasi darat dan water bombing terus dilakukan untuk mengisolasi titik api. Pemerintah bersama seluruh unsur yang terlibat masih berupaya memastikan kobaran tidak meluas dan dampaknya terhadap masyarakat dapat ditekan. (why)

Home / News
Pemprov Riau Kirim 14 Ribu Masker dan 92 Personel Dukung Pemadaman Karhutla Kerumutan
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: wahyu falatehan
Rubrik: news | 24 Agustus 2026 | 10:11:56
Pemprov Riau Kirim 14 Ribu Masker dan 92 Personel Dukung Pemadaman Karhutla Kerumutan
92 personel gabungan dikirim Pemprov Riau untuk membantu pemadaman karhutla Kerumutan. (Foto: Wahyu Falatehan/PekanbaruTv)

PEKANBARU-Pemerintah Provinsi Riau mengerahkan 92 personel gabungan ke Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung.

Selain tambahan personel, Pemprov Riau mengirim 14 ribu masker, bantuan medis, peralatan operasi, hingga dukungan oksigen bagi petugas yang bekerja di lokasi kebakaran. Langkah tersebut sekaligus untuk mengurangi dampak asap terhadap masyarakat di sekitar wilayah terdampak.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto mengatakan, pengerahan personel dilakukan setelah kondisi di lapangan membutuhkan tambahan kekuatan untuk mempercepat pemadaman.

"Melepas tim lebih kurang 92 personil dan juga memberikan 14 ribu masker kepada masyarakat," ujar SF Hariyanto usai memimpin apel pelepasan personel, bantuan medis dan dukungan peralatan operasi pemadaman karhutla di halaman Kantor Gubernur Riau, Senin (24/8/2026).

Menurut SF Hariyanto, bantuan tidak hanya difokuskan pada operasi pemadaman. Pemprov Riau juga menyiapkan dukungan kesehatan bagi petugas yang berada di tengah kondisi berat akibat kebakaran dan asap.

Bantuan oksigen akan dikirim ke Kerumutan untuk mendukung petugas yang berjibaku memadamkan api di kawasan kebakaran lahan. Dukungan tersebut menjadi bagian dari penguatan operasi di lapangan.

Tim tambahan yang diberangkatkan terdiri dari sejumlah unsur pemerintah daerah dan lembaga terkait. Di antaranya BPBD Riau, Basarnas, Satpol PP, serta Dinas Kesehatan.

Mereka membawa peralatan pemadaman sekaligus perlengkapan medis untuk menunjang operasi. Kehadiran personel tambahan diharapkan dapat memperkuat tim yang sebelumnya telah berada di lokasi.

Sebelumnya, lebih dari 300 personel gabungan dari TNI, Polri, Manggala Agni dan BPBD setempat telah melakukan pemadaman di kawasan Kerumutan. Mereka menghadapi kondisi lapangan yang tidak mudah karena karakteristik wilayah gambut.

Struktur tanah gambut yang dalam membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan lebih panjang. Api juga berpotensi muncul kembali setelah permukaan terlihat padam karena bara dapat bertahan di bawah lapisan gambut.

Kondisi tersebut diperberat dengan keterbatasan sumber air di sejumlah titik serta embusan angin yang dapat mempercepat pergerakan api. Situasi ini membuat operasi pemadaman harus dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan.

Pemprov Riau kemudian menambah dukungan personel dan logistik untuk memperkuat operasi yang sudah berjalan. Armada pendukung juga disalurkan untuk membantu kebutuhan petugas selama proses pemadaman.

Upaya pengendalian karhutla dilakukan melalui jalur darat dan udara. Selain pemadaman langsung oleh personel di lapangan, operasi udara atau water bombing digunakan untuk membantu mengisolasi titik api.

Penggunaan dua metode tersebut diarahkan untuk mencegah api semakin meluas. Terutama ke kawasan yang berdekatan dengan permukiman dan aktivitas masyarakat.

Bagi warga Kerumutan, persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan ancaman api. Asap yang muncul dari kebakaran juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan kebutuhan perlindungan kesehatan masyarakat.

Karena itu, pengiriman 14 ribu masker menjadi salah satu bagian penting dari respons pemerintah. Masker tersebut disiapkan untuk membantu masyarakat menghadapi paparan asap selama kondisi udara terdampak kebakaran.

Di sisi lain, keberadaan petugas tambahan menunjukkan bahwa penanganan karhutla masih membutuhkan pengerahan sumber daya dalam jumlah besar. Medan gambut, keterbatasan air dan faktor angin menjadi tantangan yang harus dihadapi secara bersamaan.

Operasi pemadaman di Kerumutan masih terus dilakukan. Personel gabungan bersama unsur terkait dikerahkan untuk mengendalikan titik api dan mencegah kebakaran meluas.

Pemprov Riau juga menyiapkan dukungan kesehatan bagi petugas yang berada di lokasi. Bantuan oksigen dan perlengkapan medis menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan personel selama operasi.

Dengan tambahan 92 personel, dukungan peralatan dan logistik, pemerintah berharap pengendalian karhutla di Kerumutan dapat diperkuat. Namun, kondisi lapangan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan kecepatan pemadaman.

Operasi darat dan water bombing terus dilakukan untuk mengisolasi titik api. Pemerintah bersama seluruh unsur yang terlibat masih berupaya memastikan kobaran tidak meluas dan dampaknya terhadap masyarakat dapat ditekan. (why)