
ROKAN HILIR - Kemeriahan Tanding Senam Kemilau Rokan Hilir 2026 yang menampilkan aksi penuh energi dari sejumlah peserta justru memunculkan sorotan di media sosial. Perhatian warganet tertuju pada pakaian yang dikenakan sebagian peserta saat tampil di hadapan khalayak.
Dalam video yang diunggah melalui akun Facebook Raka Rey, terlihat peserta senam mengenakan pakaian olahraga berupa atasan ketat berwarna merah, celana leging berwarna putih serta hijab merah. Penampilan tersebut kemudian menuai beragam tanggapan dari masyarakat.
Salah seorang warga, Rudi Hartono atau yang akrab disapa Ucok, Aktifis menyampaikan kritik melalui unggahan Facebook pada Senin (24/8/2026). Ia menilai penyelenggaraan kegiatan olahraga seharusnya tetap mempertimbangkan nilai adat dan budaya yang selama ini melekat kuat di tengah masyarakat Rokan Hilir.

“Mohon maaf, saya pikir ini tidak cocoklah. Mohon kepada LAM Rohil untuk memperingatkan Bupati H. Bistamam, untuk memperbaiki ini,” tulis Rudi dalam unggahannya.
Menurut Rudi, persoalan yang disorot bukan kegiatan senamnya. Ia mengaku mendukung kegiatan yang mendorong masyarakat untuk hidup sehat dan aktif berolahraga. Namun, menurutnya, pakaian peserta juga perlu menjadi perhatian karena kegiatan tersebut berlangsung di ruang publik dan disaksikan masyarakat luas.
Rudi berharap pemerintah daerah dapat mengevaluasi ketentuan berpakaian dalam kegiatan serupa ke depan, sehingga semangat olahraga tetap berjalan tanpa mengesampingkan nilai kesopanan serta adat istiadat yang hidup di Rokan Hilir.
Sorotan serupa juga muncul di kolom komentar media sosial. Salah seorang pengguna Facebook, Ervina Yantisari, menulis,
"Setuju Bg, pakai hijab di bawah pakai leging kami sebagai botino (perempuan) malu melihatnya," komentarnya.
Sementara pengguna lainnya, Ridwan Abas, juga memberikan komentar yang mempertanyakan penampilan peserta saat melakukan senam di hadapan masyarakat.
Tanding Senam Kemilau Rokan Hilir 2026 sendiri digelar dalam suasana meriah. Penampilan Srikandi Kesbangpol menjadi salah satu yang mendapat perhatian karena tampil energik dan kompak. Kegiatan tersebut disebut menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat agar lebih aktif berolahraga dan menjalani pola hidup sehat.
Namun, di tengah semangat olahraga tersebut, kritik mengenai pakaian peserta kini menjadi perbincangan di media sosial. Perdebatan ini memperlihatkan bahwa penyelenggaraan kegiatan publik di Rokan Hilir juga perlu mempertimbangkan karakter daerah yang masih menjunjung tinggi adat, budaya dan norma kesopanan.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat tanggapan resmi dari Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir maupun Lembaga Adat Melayu (LAM) Rokan Hilir terkait sorotan mengenai pakaian peserta tersebut. (rom)



ROKAN HILIR - Kemeriahan Tanding Senam Kemilau Rokan Hilir 2026 yang menampilkan aksi penuh energi dari sejumlah peserta justru memunculkan sorotan di media sosial. Perhatian warganet tertuju pada pakaian yang dikenakan sebagian peserta saat tampil di hadapan khalayak.
Dalam video yang diunggah melalui akun Facebook Raka Rey, terlihat peserta senam mengenakan pakaian olahraga berupa atasan ketat berwarna merah, celana leging berwarna putih serta hijab merah. Penampilan tersebut kemudian menuai beragam tanggapan dari masyarakat.
Salah seorang warga, Rudi Hartono atau yang akrab disapa Ucok, Aktifis menyampaikan kritik melalui unggahan Facebook pada Senin (24/8/2026). Ia menilai penyelenggaraan kegiatan olahraga seharusnya tetap mempertimbangkan nilai adat dan budaya yang selama ini melekat kuat di tengah masyarakat Rokan Hilir.
“Mohon maaf, saya pikir ini tidak cocoklah. Mohon kepada LAM Rohil untuk memperingatkan Bupati H. Bistamam, untuk memperbaiki ini,” tulis Rudi dalam unggahannya.
Menurut Rudi, persoalan yang disorot bukan kegiatan senamnya. Ia mengaku mendukung kegiatan yang mendorong masyarakat untuk hidup sehat dan aktif berolahraga. Namun, menurutnya, pakaian peserta juga perlu menjadi perhatian karena kegiatan tersebut berlangsung di ruang publik dan disaksikan masyarakat luas.
Rudi berharap pemerintah daerah dapat mengevaluasi ketentuan berpakaian dalam kegiatan serupa ke depan, sehingga semangat olahraga tetap berjalan tanpa mengesampingkan nilai kesopanan serta adat istiadat yang hidup di Rokan Hilir.
Sorotan serupa juga muncul di kolom komentar media sosial. Salah seorang pengguna Facebook, Ervina Yantisari, menulis,
"Setuju Bg, pakai hijab di bawah pakai leging kami sebagai botino (perempuan) malu melihatnya," komentarnya.
Sementara pengguna lainnya, Ridwan Abas, juga memberikan komentar yang mempertanyakan penampilan peserta saat melakukan senam di hadapan masyarakat.
Tanding Senam Kemilau Rokan Hilir 2026 sendiri digelar dalam suasana meriah. Penampilan Srikandi Kesbangpol menjadi salah satu yang mendapat perhatian karena tampil energik dan kompak. Kegiatan tersebut disebut menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat agar lebih aktif berolahraga dan menjalani pola hidup sehat.
Namun, di tengah semangat olahraga tersebut, kritik mengenai pakaian peserta kini menjadi perbincangan di media sosial. Perdebatan ini memperlihatkan bahwa penyelenggaraan kegiatan publik di Rokan Hilir juga perlu mempertimbangkan karakter daerah yang masih menjunjung tinggi adat, budaya dan norma kesopanan.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat tanggapan resmi dari Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir maupun Lembaga Adat Melayu (LAM) Rokan Hilir terkait sorotan mengenai pakaian peserta tersebut. (rom)