
PEKANBARU-Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Pekanbaru, Riau. Bagi sebagian pedagang kaki lima, kondisi ini bukan sekadar mengganggu pandangan, tetapi mulai berimbas pada pendapatan harian mereka.
Irwan, salah seorang pedagang kaki lima di Pekanbaru, mengaku pendapatannya turun sekitar 30 persen sejak kabut asap menyelimuti wilayah tersebut. Penurunan pendapatan itu membuatnya ia harus menyesuaikan waktu berjualan agar tetap bisa memperoleh pelanggan.
Irwan memilih mulai berjualan lebih pagi dan pulang lebih malam. Ia juga menutup area dagangannya menggunakan plastik untuk mengurangi paparan kabut asap sekaligus menjaga pelanggan agar tetap melirik dapat membeli dagangannya. Langkah tersebut dilakukan Irwan agar aktivitas ekonominya tetap berjalan. Sebab, berjualan menjadi salah satu sumber pendapatan yang tetap harus dipertahankan di tengah kondisi kabut asap.

Irwan yang juga merupakan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Pekanbaru menilai pemerintah perlu bergerak lebih cepat dalam menangani persoalan kabut asap. Menurutnya, persoalan tersebut bukan kali pertama terjadi sehingga diperlukan langkah yang lebih konkret.
“Seharusnya pemerintah bisa bergerak lebih cepat, peristiwa ini terus berulang, harus ada pilihan atau langkah alternatif yang bisa dilakukan,” ujar Irwan saat ditemui jurnalis Pekanbaru TV, Senin (24/8/2026).
Namun, dampak kabut asap tidak dirasakan sama oleh seluruh pedagang. Ari Santoso, pedagang siomay yang berjualan di sekitar Mal SKA Pekanbaru, mengaku kondisi tersebut belum memengaruhi omzetnya.
Ari mengatakan aktivitas jualannya masih berjalan seperti biasa. Ia terkadang berjualan hingga malam, meski pada hari tertentu hanya sampai sore. “Nggak ada sih, Bang, omzet turun. Jualan masih terus, kadang sampai malam juga,” kata Ari.
Meski omzet belum terdampak, Ari berharap kabut asap segera mereda. Ia berharap kondisi tersebut tidak mengganggu aktivitas anak-anak sekolah dan masyarakat yang bekerja. “Tidak ada sama sekali bang, semua lancar, mudah-mudahan besok buat anak-anak sekolah buat orang pekerja sini kabutnya hilang dan nggak ada kabut lagi,” ujarnya.
Ari pun berharap pemerintah mengambil langkah agar aktivitas masyarakat kembali pulih. “Harapannya mudah-mudahan pemerintah bisa mengatur agar kembali kondusif,” pungkasnya.
Irwan dan Ari merupakan sebagian pedagang kecil yang terdampak kabut asap akibat karhutla. Keduanya kini berharap kabut asap segera mereda sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.(*)




PEKANBARU-Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Pekanbaru, Riau. Bagi sebagian pedagang kaki lima, kondisi ini bukan sekadar mengganggu pandangan, tetapi mulai berimbas pada pendapatan harian mereka.
Irwan, salah seorang pedagang kaki lima di Pekanbaru, mengaku pendapatannya turun sekitar 30 persen sejak kabut asap menyelimuti wilayah tersebut. Penurunan pendapatan itu membuatnya ia harus menyesuaikan waktu berjualan agar tetap bisa memperoleh pelanggan.
Irwan memilih mulai berjualan lebih pagi dan pulang lebih malam. Ia juga menutup area dagangannya menggunakan plastik untuk mengurangi paparan kabut asap sekaligus menjaga pelanggan agar tetap melirik dapat membeli dagangannya. Langkah tersebut dilakukan Irwan agar aktivitas ekonominya tetap berjalan. Sebab, berjualan menjadi salah satu sumber pendapatan yang tetap harus dipertahankan di tengah kondisi kabut asap.
Irwan yang juga merupakan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Pekanbaru menilai pemerintah perlu bergerak lebih cepat dalam menangani persoalan kabut asap. Menurutnya, persoalan tersebut bukan kali pertama terjadi sehingga diperlukan langkah yang lebih konkret.
“Seharusnya pemerintah bisa bergerak lebih cepat, peristiwa ini terus berulang, harus ada pilihan atau langkah alternatif yang bisa dilakukan,” ujar Irwan saat ditemui jurnalis Pekanbaru TV, Senin (24/8/2026).
Namun, dampak kabut asap tidak dirasakan sama oleh seluruh pedagang. Ari Santoso, pedagang siomay yang berjualan di sekitar Mal SKA Pekanbaru, mengaku kondisi tersebut belum memengaruhi omzetnya.
Ari mengatakan aktivitas jualannya masih berjalan seperti biasa. Ia terkadang berjualan hingga malam, meski pada hari tertentu hanya sampai sore. “Nggak ada sih, Bang, omzet turun. Jualan masih terus, kadang sampai malam juga,” kata Ari.
Meski omzet belum terdampak, Ari berharap kabut asap segera mereda. Ia berharap kondisi tersebut tidak mengganggu aktivitas anak-anak sekolah dan masyarakat yang bekerja. “Tidak ada sama sekali bang, semua lancar, mudah-mudahan besok buat anak-anak sekolah buat orang pekerja sini kabutnya hilang dan nggak ada kabut lagi,” ujarnya.
Ari pun berharap pemerintah mengambil langkah agar aktivitas masyarakat kembali pulih. “Harapannya mudah-mudahan pemerintah bisa mengatur agar kembali kondusif,” pungkasnya.
Irwan dan Ari merupakan sebagian pedagang kecil yang terdampak kabut asap akibat karhutla. Keduanya kini berharap kabut asap segera mereda sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.(*)