
PEKANBARU - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dikeluhkan warga Kota Pekanbaru, Riau. Salah satunya Sona, warga Jalan Cipta Karya, yang membawa anaknya berobat setelah mengalami sesak napas dan batuk selama dua hari.
Sona mengatakan, keluhan sesak napas pada anaknya semakin dirasakan pada malam hari. Kondisi tersebut juga membuat sang anak kesulitan tidur.
"Sesak, batuk, sesak," kata Sona saat ditemui di Gerbang Puskesmas, Selasa (25/8/2026) pagi.

Menurut Sona, anaknya mengalami keluhan tersebut selama dua hari terakhir. Ia menduga kondisi itu berkaitan dengan paparan kabut asap akibat karhutla yang menyelimuti Kota Pekanbaru.
Selain sesak napas, batuk juga lebih sering muncul pada malam hari. Akibatnya, sang anak mengalami gangguan tidur. "Kalau malam susah tidur," ujarnya.
Sebelum membawa anaknya ke fasilitas kesehatan, Sona sempat memberikan obat yang biasa dikonsumsi di rumah. Namun, obat tersebut dinilai tidak cukup membantu kondisi anaknya.
"Minum obat biasanya ada, cuma kayak tak cocok," katanya.
Sona kemudian membawa anaknya ke puskesmas Sidomulyo Barat di Jalan HR Soebrantas, Kota Pekanbaru, untuk mendapatkan pemeriksaan. Namun, setibanya di lokasi, ia mendapati puskesmas tersebut tutup.
Sona mengaku tidak mengetahui bahwa pelayanan puskesmas tidak beroperasi pada hari tersebut. Ia sebelumnya mengira pelayanan kesehatan tetap tersedia meski bertepatan dengan tanggal merah.
"Tadi tidak tahu, pikir masih buka," ujarnya.
Di tengah kondisi udara yang terdampak kabut asap karhutla, Sona berharap fasilitas pelayanan kesehatan tetap dapat memberikan layanan kepada masyarakat, terutama bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
"Iya, seharusnya bukalah," kata Sona saat ditanya mengenai pelayanan kesehatan di tengah dampak karhutla.
Keluhan tersebut menjadi gambaran dampak kabut asap yang mulai dirasakan masyarakat. Selain mengganggu aktivitas, paparan asap kebakaran hutan dan lahan juga dikhawatirkan memperburuk keluhan pada saluran pernapasan, khususnya bagi kelompok rentan.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan dari pihak puskesmas terkait alasan penutupan layanan pada hari tersebut maupun mekanisme pelayanan kesehatan bagi warga yang membutuhkan pemeriksaan saat hari libur. (ric)



PEKANBARU - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dikeluhkan warga Kota Pekanbaru, Riau. Salah satunya Sona, warga Jalan Cipta Karya, yang membawa anaknya berobat setelah mengalami sesak napas dan batuk selama dua hari.
Sona mengatakan, keluhan sesak napas pada anaknya semakin dirasakan pada malam hari. Kondisi tersebut juga membuat sang anak kesulitan tidur.
"Sesak, batuk, sesak," kata Sona saat ditemui di Gerbang Puskesmas, Selasa (25/8/2026) pagi.
Menurut Sona, anaknya mengalami keluhan tersebut selama dua hari terakhir. Ia menduga kondisi itu berkaitan dengan paparan kabut asap akibat karhutla yang menyelimuti Kota Pekanbaru.
Selain sesak napas, batuk juga lebih sering muncul pada malam hari. Akibatnya, sang anak mengalami gangguan tidur. "Kalau malam susah tidur," ujarnya.
Sebelum membawa anaknya ke fasilitas kesehatan, Sona sempat memberikan obat yang biasa dikonsumsi di rumah. Namun, obat tersebut dinilai tidak cukup membantu kondisi anaknya.
"Minum obat biasanya ada, cuma kayak tak cocok," katanya.
Sona kemudian membawa anaknya ke puskesmas Sidomulyo Barat di Jalan HR Soebrantas, Kota Pekanbaru, untuk mendapatkan pemeriksaan. Namun, setibanya di lokasi, ia mendapati puskesmas tersebut tutup.
Sona mengaku tidak mengetahui bahwa pelayanan puskesmas tidak beroperasi pada hari tersebut. Ia sebelumnya mengira pelayanan kesehatan tetap tersedia meski bertepatan dengan tanggal merah.
"Tadi tidak tahu, pikir masih buka," ujarnya.
Di tengah kondisi udara yang terdampak kabut asap karhutla, Sona berharap fasilitas pelayanan kesehatan tetap dapat memberikan layanan kepada masyarakat, terutama bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
"Iya, seharusnya bukalah," kata Sona saat ditanya mengenai pelayanan kesehatan di tengah dampak karhutla.
Keluhan tersebut menjadi gambaran dampak kabut asap yang mulai dirasakan masyarakat. Selain mengganggu aktivitas, paparan asap kebakaran hutan dan lahan juga dikhawatirkan memperburuk keluhan pada saluran pernapasan, khususnya bagi kelompok rentan.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan dari pihak puskesmas terkait alasan penutupan layanan pada hari tersebut maupun mekanisme pelayanan kesehatan bagi warga yang membutuhkan pemeriksaan saat hari libur. (ric)