logo
Kejar Kemiskinan 2 Persen, Pemko Pekanbaru Petakan Wilayah Prioritas Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kejagung Sita Rp5 Miliar, Nama Ferry Boboho Muncul dalam Penyidikan Kasus Febrie Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Istri Sedang Melahirkan, Pengurus Ponpes Ash-Sholihah Sleman Diduga Perkosa Eks Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kuasa Hukum PT SPRH Divonis 12 Tahun, Korupsi Dana PI PHR Rugikan Negara Rp64,2 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Melemah ke Rp17.585, Reli 5 Hari Terhenti di Akhir Pekan, Ancaman The Fed Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ombudsman Dorong DPM-PTSP Pekanbaru Jadi Benchmark Tata Kelola Investasi Nasiona Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Berawal dari Jajanan Viral, Mochillpku Raup Omzet Jutaan Rupiah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Diduga Hendak Transaksi Sabu di Kebun Karet Kampar Kiri, Pria Dan Wanita Ini Dib Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / LINGKUNGAN
WALHI Ingatkan Presiden Prabowo: Jika Penanganan Karhutla Tidak Ilmiah, Ganti Pembantu
Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Boy Jerry Even Sembiring memaparkan temuan WALHI dalam konferensi bertajuk Indonesia Dicekik Asap di Rumah Gege, Kota Pekanbaru, Selasa (25/8/2026). (Foto: Abdul Haris/Pekanbarutv)
WALHI Ingatkan Presiden Prabowo: Jika Penanganan Karhutla Tidak Ilmiah, Ganti Pembantu
Editor: Arya Mahendra | Penulis: abdul haris
Rubrik: lingkungan | 25 Agustus 2026 | 18:10:36

PEKANBARU - Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Boy Jerry Even Sembiring mengkritik kunjungan Presiden Prabowo ke lokasi penanganan karhutla dan menerima sejumlah usulan dari bawahannya.

Salah satu usulan yang disampaikan kepada Prabowo yakni inovasi teknologi tepung berbahan baku ubi untuk membantu memadamkan karhutla yang dipaparkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam rapat penanganan karhutla di Palembang, Senin (24/8/2026).

Dalam rapat itu, Listyo menjelaskan bahwa zat berbahan dasar tepung tersebut bekerja dengan cara memisahkan api dari oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2).

iklan-view

Setelah menerima usulan itu, Prabowo menginstruksikan uji coba produksi massal inovasi teknologi tepung berbahan baku ubi dan singkong untuk memadamkan karhutla.

Menanggapi hal itu, Boy mengatakan usulan tersebut harus didasarkan pada kajian ilmiah. "Pokoknya selama itu ilmiah ya, tapi kalo gak ilmiah kayaknya Prabowo ganti semua deh pembantunya," kata Boy saat diwawancarai usai menggelar konferensi pers WALHI bertajuk Indonesia Dicekik Asap di Rumah Gege, Kota Pekanbaru, Selasa (25/8/2026).

Menurutnya, Presiden tidak seharusnya hanya menerima penjelasan dari jajaran pemerintah mengenai kondisi karhutla.

Ia meminta Prabowo melihat langsung kondisi lapangan dan memastikan setiap kebijakan didasarkan pada kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Dalam situasi buruk seperti ini, seharusnya Presiden harus milih orang baik daripada berprasangka baik dari penjelasan anak-anak buahnya, karena ini akan membahayakan rakyat Indonesia," ujarnya.

WALHI juga menyoroti narasi yang menyebut kebakaran bersumber dari praktik buruk masyarakat. Temuan WALHI di lapangan justru menunjukkan sejumlah titik api berada di areal konsesi.

"Pemberitaan yang menyebutkan kebakaran bersumber dari praktik buruk masyarakat itu keliru, kita menemukan bahwa titik-titik api atau temuan lapangan kami berasal di areal konsesi," lanjutnya.

Atas temuan tersebut, Boy meminta penegakan hukum dalam kasus karhutla tidak hanya menyasar individu atau masyarakat. Menurutnya, korporasi pemegang konsesi yang arealnya terbakar juga perlu diperiksa apabila terdapat dugaan pelanggaran.

"Penegakan hukum seharusnya ke korporasi dibanding individu. Pokoknya fair aja deh, kan kita lihat konsesi yang terbakar berapa, masak nggak ada tersangkanya?" tegasnya.

Boy juga mengkritik kebijakan perizinan yang menurutnya turut berkontribusi terhadap persoalan lingkungan.

Ia mempertanyakan tanggung jawab pemerintah karena izin konsesi diterbitkan oleh pemerintah.

"Ini terkait akumulasi praktik buruk oleh negara, emang izin yang menerbitkan siapa?," katanya.

Menurut Boy, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan karhutla.

Boy juga menilai pemerintah tidak cukup hanya memberikan pujian kepada jajaran yang menangani karhutla ketika kondisi di lapangan masih menunjukkan persoalan.

"Hal yang harus dilakukan pertama adalah minta maaf karena situasi karhutla saat ini, bukan hanya memuja muji," pungkasnya. (har)

WALHI Ingatkan Presiden Prabowo: Jika Penanganan Karhutla Tidak Ilmiah, Ganti Pembantu
Editor: Arya Mahendra | Penulis: abdul haris
Rubrik: lingkungan | 25 Agustus 2026 | 18:10:36
WALHI Ingatkan Presiden Prabowo: Jika Penanganan Karhutla Tidak Ilmiah, Ganti Pembantu
Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Boy Jerry Even Sembiring memaparkan temuan WALHI dalam konferensi bertajuk Indonesia Dicekik Asap di Rumah Gege, Kota Pekanbaru, Selasa (25/8/2026). (Foto: Abdul Haris/Pekanbarutv)

PEKANBARU - Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Boy Jerry Even Sembiring mengkritik kunjungan Presiden Prabowo ke lokasi penanganan karhutla dan menerima sejumlah usulan dari bawahannya.

Salah satu usulan yang disampaikan kepada Prabowo yakni inovasi teknologi tepung berbahan baku ubi untuk membantu memadamkan karhutla yang dipaparkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam rapat penanganan karhutla di Palembang, Senin (24/8/2026).

Dalam rapat itu, Listyo menjelaskan bahwa zat berbahan dasar tepung tersebut bekerja dengan cara memisahkan api dari oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2).

Setelah menerima usulan itu, Prabowo menginstruksikan uji coba produksi massal inovasi teknologi tepung berbahan baku ubi dan singkong untuk memadamkan karhutla.

Menanggapi hal itu, Boy mengatakan usulan tersebut harus didasarkan pada kajian ilmiah. "Pokoknya selama itu ilmiah ya, tapi kalo gak ilmiah kayaknya Prabowo ganti semua deh pembantunya," kata Boy saat diwawancarai usai menggelar konferensi pers WALHI bertajuk Indonesia Dicekik Asap di Rumah Gege, Kota Pekanbaru, Selasa (25/8/2026).

Menurutnya, Presiden tidak seharusnya hanya menerima penjelasan dari jajaran pemerintah mengenai kondisi karhutla.

Ia meminta Prabowo melihat langsung kondisi lapangan dan memastikan setiap kebijakan didasarkan pada kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Dalam situasi buruk seperti ini, seharusnya Presiden harus milih orang baik daripada berprasangka baik dari penjelasan anak-anak buahnya, karena ini akan membahayakan rakyat Indonesia," ujarnya.

WALHI juga menyoroti narasi yang menyebut kebakaran bersumber dari praktik buruk masyarakat. Temuan WALHI di lapangan justru menunjukkan sejumlah titik api berada di areal konsesi.

"Pemberitaan yang menyebutkan kebakaran bersumber dari praktik buruk masyarakat itu keliru, kita menemukan bahwa titik-titik api atau temuan lapangan kami berasal di areal konsesi," lanjutnya.

Atas temuan tersebut, Boy meminta penegakan hukum dalam kasus karhutla tidak hanya menyasar individu atau masyarakat. Menurutnya, korporasi pemegang konsesi yang arealnya terbakar juga perlu diperiksa apabila terdapat dugaan pelanggaran.

"Penegakan hukum seharusnya ke korporasi dibanding individu. Pokoknya fair aja deh, kan kita lihat konsesi yang terbakar berapa, masak nggak ada tersangkanya?" tegasnya.

Boy juga mengkritik kebijakan perizinan yang menurutnya turut berkontribusi terhadap persoalan lingkungan.

Ia mempertanyakan tanggung jawab pemerintah karena izin konsesi diterbitkan oleh pemerintah.

"Ini terkait akumulasi praktik buruk oleh negara, emang izin yang menerbitkan siapa?," katanya.

Menurut Boy, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan karhutla.

Boy juga menilai pemerintah tidak cukup hanya memberikan pujian kepada jajaran yang menangani karhutla ketika kondisi di lapangan masih menunjukkan persoalan.

"Hal yang harus dilakukan pertama adalah minta maaf karena situasi karhutla saat ini, bukan hanya memuja muji," pungkasnya. (har)