
PEKANBARU - Satuan Tugas (Satgas) Udara Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Riau mengerahkan empat helikopter water bombing untuk membantu memadamkan kebakaran di sejumlah wilayah yang sulit dijangkau pasukan darat.
Kepala Dinas Operasi Lanud Roesmin Nurjadin, Kolonel Andri Setiawan, mengatakan empat helikopter bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut terdiri atas dua unit MI-8, satu Black Hawk, dan satu Sikorsky.
"Water bombing ini objektifnya adalah memadamkan api, di mana pasukan darat itu cukup sulit untuk mendapatkan sumber air," kata Kolonel Andri, Jumat (28/8/2026) pagi.

Menurut Kolonel Andri, operasi pemadaman dari udara diprioritaskan pada titik api yang sulit dijangkau pasukan darat, termasuk kawasan gambut dengan akses dan sumber air yang terbatas.
Salah satu wilayah yang menjadi fokus operasi saat ini adalah Kerumutan, Kabupaten Pelalawan. Sebelumnya, helikopter water bombing juga dikerahkan untuk menangani kebakaran di Pematang Pudu, Samsam Kandis, serta Dayun, Kabupaten Siak.
Sejak status darurat karhutla ditetapkan di Riau pada Februari 2026, Satgas Udara telah melaksanakan hampir 163 sorti penerbangan.
"Kalau kita ukur, itu hampir 54.400.000 liter air yang kita deploy ke titik-titik api untuk memadamkan api melalui water bombing ini," ujarnya.
Dalam satu kali penerbangan, helikopter water bombing dapat beroperasi sekitar empat hingga empat setengah jam. Bergantung pada kondisi sumber air, satu helikopter dapat melakukan 30 hingga 100 kali pengambilan air.
Dengan rata-rata 50 kali pengambilan air, satu sorti penerbangan dapat mengerahkan sekitar 200 ribu liter air untuk membantu pemadaman.
Kolonel Andri mengatakan efektivitas operasi water bombing sangat bergantung pada kondisi lapangan, terutama ketersediaan sumber air dan akses menuju lokasi kebakaran.
Satgas Udara juga terus berkoordinasi dengan BNPB untuk meningkatkan kesiapan armada. Penambahan helikopter akan dipertimbangkan dengan tetap memperhatikan kebutuhan penanganan karhutla di wilayah lain, termasuk Kalimantan.
"Kita akan koordinasi terus dengan BNPB agar kita bisa mendapatkan tambahan aset, dengan tetap memperhatikan keadaan-keadaan di Kalimantan," katanya.
Operasi penanganan karhutla di Riau akan terus dilakukan hingga setidaknya akhir November 2026, dengan mempertimbangkan perkembangan cuaca dan rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Selain mengandalkan pemadaman dari udara dan darat, Satgas Udara mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah yang berpotensi memicu kebakaran lebih luas.
"Jangan ada yang membakar lahan. Membakar sampah pun tolong juga ditahan-tahan, jangan sampai niatnya membakar sampah malah merambat sehingga terjadi kebakaran lahan maupun kebakaran hutan," ujar Kolonel Andri. (ric)




PEKANBARU - Satuan Tugas (Satgas) Udara Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Riau mengerahkan empat helikopter water bombing untuk membantu memadamkan kebakaran di sejumlah wilayah yang sulit dijangkau pasukan darat.
Kepala Dinas Operasi Lanud Roesmin Nurjadin, Kolonel Andri Setiawan, mengatakan empat helikopter bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut terdiri atas dua unit MI-8, satu Black Hawk, dan satu Sikorsky.
"Water bombing ini objektifnya adalah memadamkan api, di mana pasukan darat itu cukup sulit untuk mendapatkan sumber air," kata Kolonel Andri, Jumat (28/8/2026) pagi.
Menurut Kolonel Andri, operasi pemadaman dari udara diprioritaskan pada titik api yang sulit dijangkau pasukan darat, termasuk kawasan gambut dengan akses dan sumber air yang terbatas.
Salah satu wilayah yang menjadi fokus operasi saat ini adalah Kerumutan, Kabupaten Pelalawan. Sebelumnya, helikopter water bombing juga dikerahkan untuk menangani kebakaran di Pematang Pudu, Samsam Kandis, serta Dayun, Kabupaten Siak.
Sejak status darurat karhutla ditetapkan di Riau pada Februari 2026, Satgas Udara telah melaksanakan hampir 163 sorti penerbangan.
"Kalau kita ukur, itu hampir 54.400.000 liter air yang kita deploy ke titik-titik api untuk memadamkan api melalui water bombing ini," ujarnya.
Dalam satu kali penerbangan, helikopter water bombing dapat beroperasi sekitar empat hingga empat setengah jam. Bergantung pada kondisi sumber air, satu helikopter dapat melakukan 30 hingga 100 kali pengambilan air.
Dengan rata-rata 50 kali pengambilan air, satu sorti penerbangan dapat mengerahkan sekitar 200 ribu liter air untuk membantu pemadaman.
Kolonel Andri mengatakan efektivitas operasi water bombing sangat bergantung pada kondisi lapangan, terutama ketersediaan sumber air dan akses menuju lokasi kebakaran.
Satgas Udara juga terus berkoordinasi dengan BNPB untuk meningkatkan kesiapan armada. Penambahan helikopter akan dipertimbangkan dengan tetap memperhatikan kebutuhan penanganan karhutla di wilayah lain, termasuk Kalimantan.
"Kita akan koordinasi terus dengan BNPB agar kita bisa mendapatkan tambahan aset, dengan tetap memperhatikan keadaan-keadaan di Kalimantan," katanya.
Operasi penanganan karhutla di Riau akan terus dilakukan hingga setidaknya akhir November 2026, dengan mempertimbangkan perkembangan cuaca dan rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Selain mengandalkan pemadaman dari udara dan darat, Satgas Udara mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah yang berpotensi memicu kebakaran lebih luas.
"Jangan ada yang membakar lahan. Membakar sampah pun tolong juga ditahan-tahan, jangan sampai niatnya membakar sampah malah merambat sehingga terjadi kebakaran lahan maupun kebakaran hutan," ujar Kolonel Andri. (ric)