
Beberapa waktu lalu, nama Tesso Nilo begitu ramai. Penertiban kawasan menjadi perhatian. Perkebunan sawit di dalam taman nasional dibicarakan. Aparat turun ke lapangan. Pemerintah berbicara tentang pengembalian fungsi kawasan. Reforestasi dicanangkan. Konflik manusia dan gajah kembali menjadi perhatian.Tesso Nilo seperti berada di tengah panggung.
Namun hari ini, ketika perhatian publik Riau tersedot pada kebakaran hutan dan lahan, titik api, kabut asap, operasi modifikasi cuaca dan berbagai persoalan lain, nama Tesso Nilo perlahan kembali tenggelam.
Lalu pertanyaannya: Apakah persoalan Tesso Nilo memang sudah selesai? Atau sebenarnya persoalannya masih ada, hanya saja perhatian kita yang sudah beralih?

Pertanyaan ini penting karena Tesso Nilo bukan persoalan yang bisa selesai hanya karena pemberitaannya berhenti.
Hutan yang Belum Kembali
Pemerintah memang telah mengambil langkah besar. Pada 3 Maret 2026, Kementerian Kehutanan resmi memulai program reforestasi Taman Nasional Tesso Nilo. Pemerintah menargetkan pemulihan kawasan mencapai 66.704 hektare secara bertahap hingga 2028.
Angka itu bukan angka kecil. Ia menggambarkan betapa besarnya pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengembalikan fungsi kawasan yang selama bertahun-tahun mengalami tekanan dan perubahan fungsi.
Karena itu, semestinya reforestasi Tesso Nilo tidak berhenti menjadi seremoni penanaman pohon. Ia harus menjadi pekerjaan panjang yang terus diawasi.
Berapa hektare yang sudah benar-benar dipulihkan? Berapa hektare yang masih dikuasai? Berapa luas kebun sawit yang sudah ditertibkan?
Dan yang paling penting: Apakah kawasan yang sudah dipulihkan benar-benar aman dari perambahan kembali?
Pertanyaan terakhir bukan tanpa alasan. Laporan patroli Balai Taman Nasional Tesso Nilo sepanjang 2026 masih mencatat adanya aktivitas penggunaan kawasan, termasuk kebun sawit dan pembukaan lahan. Bahkan pada patroli Agustus, petugas menemukan bibit sawit baru yang ditanam di kawasan taman nasional serta akses ilegal yang kembali dibangun.
Artinya sederhana: Tesso Nilo belum selesai!
Jangan Hanya Menebang Sawitnya
Di sinilah persoalan menjadi lebih menarik. Selama ini pembicaraan tentang Tesso Nilo sering berhenti pada satu pertanyaan: bagaimana mengeluarkan sawit dari kawasan taman nasional?
Padahal ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: Siapa yang menikmati hasil sawit tersebut selama bertahun-tahun? Kita tentu harus berhati-hati.
Tidak semua orang yang berada di dalam kawasan memiliki latar belakang dan persoalan yang sama. Ada masyarakat yang sudah lama tinggal dan menggantungkan kehidupan dari lahan yang mereka kuasai. Ada pula persoalan administrasi, klaim lahan dan proses relokasi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan represif.
Pemerintah sendiri pada awal 2026 mencatat sekitar 10.600 hektare penguasaan lahan yang melibatkan 3.916 kepala keluarga, sementara proses relokasi dan penyediaan lahan alternatif masih berjalan.
Tetapi di luar persoalan masyarakat tersebut, negara juga harus berani melihat kemungkinan adanya pihak-pihak yang menjadikan kawasan konservasi sebagai sumber keuntungan.
Jika seseorang atau kelompok telah dinyatakan secara hukum menguasai kawasan konservasi secara ilegal dan memperoleh keuntungan dari perkebunan sawit di atasnya, maka persoalannya tidak boleh berhenti pada pengosongan lahan.
Ada pertanyaan tentang keuntungan. Ada pertanyaan tentang rantai pasok. Ada pertanyaan tentang siapa yang membeli hasilnya.
Dan ada pertanyaan yang lebih besar: Sudah berapa lama aktivitas itu berlangsung, dan siapa saja yang selama itu memperoleh manfaat ekonominya?
Pada Januari 2026, Polda Riau bahkan mengungkap perkara dugaan perambahan di TNTN dengan tiga tersangka yang disebut menguasai total sekitar 270 hektare kebun sawit di kawasan konservasi. Polisi menyebut lahan tersebut dikuasai dengan berbagai dokumen yang tidak dapat membenarkan penguasaan kawasan taman nasional.
Ini menunjukkan bahwa persoalan Tesso Nilo bukan sekadar persoalan warga yang membuka lahan. Ada persoalan penegakan hukum yang jauh lebih besar.
Siapa yang Menikmati?
Pertanyaan ini mungkin tidak nyaman.
Tetapi justru karena itulah pertanyaan tersebut perlu diajukan.
Kalau negara mengatakan sebuah kawasan merupakan taman nasional, maka seluruh aktivitas perkebunan di dalamnya harus tunduk pada hukum.
Kalau negara mengatakan sebuah kebun merupakan hasil perambahan, maka harus ada konsekuensi hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab. Dan kalau hasil perkebunan tersebut masuk ke dalam rantai perdagangan, maka rantai tersebut juga layak diperiksa.
Sebab jangan sampai kita hanya sibuk mencabut bibit sawit di dalam hutan, sementara mata rantai yang membuat sawit itu bernilai secara ekonomi tetap berjalan.
Jangan hanya melihat siapa yang menanam. Lihat juga siapa yang membeli. Jangan hanya melihat siapa yang menguasai lahan. Lihat juga siapa yang menikmati hasilnya.
Dan jangan hanya menghitung berapa hektare yang dibersihkan. Hitung pula berapa lama keuntungan telah diambil dari kawasan tersebut.
Inilah bagian yang harus menjadi perhatian dalam penegakan hukum. Sebab jika seluruh beban penyelesaian akhirnya hanya dibebankan kepada masyarakat yang berada di lapangan, maka kita berisiko menyelesaikan persoalan dari hilir tanpa menyentuh sumber persoalannya.
Tesso Nilo dan Dua Kabar Tentang Gajah
Di tengah persoalan itu, Tesso Nilo masih menyimpan dua kabar yang bertolak belakang. Pada 10 Juni 2026, seekor anak gajah betina lahir di Camp Elephant Flying Squad. Bayi gajah tersebut dilaporkan sehat, aktif dan menyusu dengan normal.
Sebuah kabar yang seharusnya membuat kita tersenyum. Sebab kelahiran itu seperti mengatakan bahwa kehidupan masih memiliki ruang untuk bertahan di Tesso Nilo.
Namun Tesso Nilo juga kehilangan Indro. Gajah jantan berusia sekitar 45 tahun yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari upaya mitigasi konflik manusia dan gajah tersebut pergi pada tahun yang sama ketika pemerintah sedang menggaungkan pemulihan kawasan.
Dua peristiwa itu seperti menggambarkan Tesso Nilo hari ini. Ada kehidupan yang lahir. Ada kehidupan yang pergi. Ada harapan. Tetapi ada pula pekerjaan besar yang belum selesai.
Kelahiran seekor anak gajah bukan berarti habitatnya sudah aman. Kematian seekor gajah juga tidak boleh hanya menjadi berita sehari. Keduanya seharusnya menjadi pengingat bahwa yang sedang kita bicarakan bukan sekadar luas kawasan di atas peta.
Yang kita bicarakan adalah sebuah ekosistem. Tentang ruang hidup. Tentang hutan. Tentang satwa. Dan tentang manusia yang hidup di sekitarnya.
Jangan Biarkan Tesso Nilo Kembali Sunyi
Mungkin inilah persoalan terbesar Tesso Nilo hari ini. Bukan karena tidak ada pekerjaan. Justru pekerjaan itu masih berlangsung. Patroli masih dilakukan.
Penertiban masih berjalan. Bibit sawit baru masih ditemukan. Pemulihan masih direncanakan. Reforestasi masih berlangsung..Tetapi semua itu berlangsung ketika perhatian publik sudah mulai berpindah.
Padahal pengalaman menunjukkan bahwa banyak persoalan lingkungan menjadi semakin sulit diselesaikan ketika perhatian publik menghilang.
Karena itu, Tesso Nilo membutuhkan lebih dari sekadar program. Ia membutuhkan konsistensi. Konsistensi pemerintah. Konsistensi aparat penegak hukum.
Konsistensi pengawasan. Dan yang tidak kalah penting, konsistensi media serta masyarakat sipil untuk terus bertanya:
Apakah target pemulihan tercapai? Apakah kawasan yang sudah ditertibkan tetap terjaga? Apakah masyarakat yang direlokasi memperoleh solusi yang adil Apakah tidak ada lagi penanaman sawit baru?
Apakah pihak-pihak yang menikmati keuntungan dari penguasaan kawasan secara ilegal juga dimintai pertanggungjawaban? Dan apakah setelah kamera media pergi, negara tetap berada di sana?
Tesso Nilo Bukan Berita Musiman
Kita tidak boleh mengingat Tesso Nilo hanya ketika ada operasi penertiban. Kita tidak boleh kembali membicarakannya hanya ketika seekor gajah mati. Dan jangan sampai kita baru kembali mencari kabarnya ketika asap kembali menyelimuti Riau.
Sebab kerusakan lingkungan tidak bekerja seperti siklus berita. Ia tidak mengenal deadline. Ia tidak menunggu konferensi pers.
Dan hutan tidak pernah tahu kapan sebuah isu sedang viral atau tidak. Pohon yang ditebang hari ini mungkin membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh kembali. Habitat yang hilang hari ini mungkin membutuhkan generasi untuk dipulihkan
Karena itu, ketika pemerintah mengatakan ingin mengembalikan Tesso Nilo, publik harus memberikan dukungan..Tetapi dukungan tidak berarti berhenti bertanya.
Justru sebaliknya. Semakin besar janji pemulihan, semakin besar pula kewajiban publik untuk mengawasinya. Maka hari ini, ketika isu Tesso Nilo mulai terdengar lebih sunyi, mungkin tidak ada salahnya kita kembali bertanya:
Apa Kabar Tesso Nilo? Apakah hutan sedang kembali? Apakah sawit ilegal benar-benar pergi? Apakah masyarakat mendapatkan solusi? Apakah mereka yang selama bertahun-tahun menikmati keuntungan dari kawasan yang dinyatakan ilegal ikut mempertanggungjawabkan perbuatannya?
Dan yang paling penting: Apakah kita masih peduli? Sebab Tesso Nilo belum selesai. Kita saja yang mulai berhenti membicarakannya. (*)
* Yudi Saputa adalah Wartawan dan Pemerhati Lingkungan



Beberapa waktu lalu, nama Tesso Nilo begitu ramai. Penertiban kawasan menjadi perhatian. Perkebunan sawit di dalam taman nasional dibicarakan. Aparat turun ke lapangan. Pemerintah berbicara tentang pengembalian fungsi kawasan. Reforestasi dicanangkan. Konflik manusia dan gajah kembali menjadi perhatian.Tesso Nilo seperti berada di tengah panggung.
Namun hari ini, ketika perhatian publik Riau tersedot pada kebakaran hutan dan lahan, titik api, kabut asap, operasi modifikasi cuaca dan berbagai persoalan lain, nama Tesso Nilo perlahan kembali tenggelam.
Lalu pertanyaannya: Apakah persoalan Tesso Nilo memang sudah selesai? Atau sebenarnya persoalannya masih ada, hanya saja perhatian kita yang sudah beralih?
Pertanyaan ini penting karena Tesso Nilo bukan persoalan yang bisa selesai hanya karena pemberitaannya berhenti.
Hutan yang Belum Kembali
Pemerintah memang telah mengambil langkah besar. Pada 3 Maret 2026, Kementerian Kehutanan resmi memulai program reforestasi Taman Nasional Tesso Nilo. Pemerintah menargetkan pemulihan kawasan mencapai 66.704 hektare secara bertahap hingga 2028.
Angka itu bukan angka kecil. Ia menggambarkan betapa besarnya pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengembalikan fungsi kawasan yang selama bertahun-tahun mengalami tekanan dan perubahan fungsi.
Karena itu, semestinya reforestasi Tesso Nilo tidak berhenti menjadi seremoni penanaman pohon. Ia harus menjadi pekerjaan panjang yang terus diawasi.
Berapa hektare yang sudah benar-benar dipulihkan? Berapa hektare yang masih dikuasai? Berapa luas kebun sawit yang sudah ditertibkan?
Dan yang paling penting: Apakah kawasan yang sudah dipulihkan benar-benar aman dari perambahan kembali?
Pertanyaan terakhir bukan tanpa alasan. Laporan patroli Balai Taman Nasional Tesso Nilo sepanjang 2026 masih mencatat adanya aktivitas penggunaan kawasan, termasuk kebun sawit dan pembukaan lahan. Bahkan pada patroli Agustus, petugas menemukan bibit sawit baru yang ditanam di kawasan taman nasional serta akses ilegal yang kembali dibangun.
Artinya sederhana: Tesso Nilo belum selesai!
Jangan Hanya Menebang Sawitnya
Di sinilah persoalan menjadi lebih menarik. Selama ini pembicaraan tentang Tesso Nilo sering berhenti pada satu pertanyaan: bagaimana mengeluarkan sawit dari kawasan taman nasional?
Padahal ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: Siapa yang menikmati hasil sawit tersebut selama bertahun-tahun? Kita tentu harus berhati-hati.
Tidak semua orang yang berada di dalam kawasan memiliki latar belakang dan persoalan yang sama. Ada masyarakat yang sudah lama tinggal dan menggantungkan kehidupan dari lahan yang mereka kuasai. Ada pula persoalan administrasi, klaim lahan dan proses relokasi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan represif.
Pemerintah sendiri pada awal 2026 mencatat sekitar 10.600 hektare penguasaan lahan yang melibatkan 3.916 kepala keluarga, sementara proses relokasi dan penyediaan lahan alternatif masih berjalan.
Tetapi di luar persoalan masyarakat tersebut, negara juga harus berani melihat kemungkinan adanya pihak-pihak yang menjadikan kawasan konservasi sebagai sumber keuntungan.
Jika seseorang atau kelompok telah dinyatakan secara hukum menguasai kawasan konservasi secara ilegal dan memperoleh keuntungan dari perkebunan sawit di atasnya, maka persoalannya tidak boleh berhenti pada pengosongan lahan.
Ada pertanyaan tentang keuntungan. Ada pertanyaan tentang rantai pasok. Ada pertanyaan tentang siapa yang membeli hasilnya.
Dan ada pertanyaan yang lebih besar: Sudah berapa lama aktivitas itu berlangsung, dan siapa saja yang selama itu memperoleh manfaat ekonominya?
Pada Januari 2026, Polda Riau bahkan mengungkap perkara dugaan perambahan di TNTN dengan tiga tersangka yang disebut menguasai total sekitar 270 hektare kebun sawit di kawasan konservasi. Polisi menyebut lahan tersebut dikuasai dengan berbagai dokumen yang tidak dapat membenarkan penguasaan kawasan taman nasional.
Ini menunjukkan bahwa persoalan Tesso Nilo bukan sekadar persoalan warga yang membuka lahan. Ada persoalan penegakan hukum yang jauh lebih besar.
Siapa yang Menikmati?
Pertanyaan ini mungkin tidak nyaman.
Tetapi justru karena itulah pertanyaan tersebut perlu diajukan.
Kalau negara mengatakan sebuah kawasan merupakan taman nasional, maka seluruh aktivitas perkebunan di dalamnya harus tunduk pada hukum.
Kalau negara mengatakan sebuah kebun merupakan hasil perambahan, maka harus ada konsekuensi hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab. Dan kalau hasil perkebunan tersebut masuk ke dalam rantai perdagangan, maka rantai tersebut juga layak diperiksa.
Sebab jangan sampai kita hanya sibuk mencabut bibit sawit di dalam hutan, sementara mata rantai yang membuat sawit itu bernilai secara ekonomi tetap berjalan.
Jangan hanya melihat siapa yang menanam. Lihat juga siapa yang membeli. Jangan hanya melihat siapa yang menguasai lahan. Lihat juga siapa yang menikmati hasilnya.
Dan jangan hanya menghitung berapa hektare yang dibersihkan. Hitung pula berapa lama keuntungan telah diambil dari kawasan tersebut.
Inilah bagian yang harus menjadi perhatian dalam penegakan hukum. Sebab jika seluruh beban penyelesaian akhirnya hanya dibebankan kepada masyarakat yang berada di lapangan, maka kita berisiko menyelesaikan persoalan dari hilir tanpa menyentuh sumber persoalannya.
Tesso Nilo dan Dua Kabar Tentang Gajah
Di tengah persoalan itu, Tesso Nilo masih menyimpan dua kabar yang bertolak belakang. Pada 10 Juni 2026, seekor anak gajah betina lahir di Camp Elephant Flying Squad. Bayi gajah tersebut dilaporkan sehat, aktif dan menyusu dengan normal.
Sebuah kabar yang seharusnya membuat kita tersenyum. Sebab kelahiran itu seperti mengatakan bahwa kehidupan masih memiliki ruang untuk bertahan di Tesso Nilo.
Namun Tesso Nilo juga kehilangan Indro. Gajah jantan berusia sekitar 45 tahun yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari upaya mitigasi konflik manusia dan gajah tersebut pergi pada tahun yang sama ketika pemerintah sedang menggaungkan pemulihan kawasan.
Dua peristiwa itu seperti menggambarkan Tesso Nilo hari ini. Ada kehidupan yang lahir. Ada kehidupan yang pergi. Ada harapan. Tetapi ada pula pekerjaan besar yang belum selesai.
Kelahiran seekor anak gajah bukan berarti habitatnya sudah aman. Kematian seekor gajah juga tidak boleh hanya menjadi berita sehari. Keduanya seharusnya menjadi pengingat bahwa yang sedang kita bicarakan bukan sekadar luas kawasan di atas peta.
Yang kita bicarakan adalah sebuah ekosistem. Tentang ruang hidup. Tentang hutan. Tentang satwa. Dan tentang manusia yang hidup di sekitarnya.
Jangan Biarkan Tesso Nilo Kembali Sunyi
Mungkin inilah persoalan terbesar Tesso Nilo hari ini. Bukan karena tidak ada pekerjaan. Justru pekerjaan itu masih berlangsung. Patroli masih dilakukan.
Penertiban masih berjalan. Bibit sawit baru masih ditemukan. Pemulihan masih direncanakan. Reforestasi masih berlangsung..Tetapi semua itu berlangsung ketika perhatian publik sudah mulai berpindah.
Padahal pengalaman menunjukkan bahwa banyak persoalan lingkungan menjadi semakin sulit diselesaikan ketika perhatian publik menghilang.
Karena itu, Tesso Nilo membutuhkan lebih dari sekadar program. Ia membutuhkan konsistensi. Konsistensi pemerintah. Konsistensi aparat penegak hukum.
Konsistensi pengawasan. Dan yang tidak kalah penting, konsistensi media serta masyarakat sipil untuk terus bertanya:
Apakah target pemulihan tercapai? Apakah kawasan yang sudah ditertibkan tetap terjaga? Apakah masyarakat yang direlokasi memperoleh solusi yang adil Apakah tidak ada lagi penanaman sawit baru?
Apakah pihak-pihak yang menikmati keuntungan dari penguasaan kawasan secara ilegal juga dimintai pertanggungjawaban? Dan apakah setelah kamera media pergi, negara tetap berada di sana?
Tesso Nilo Bukan Berita Musiman
Kita tidak boleh mengingat Tesso Nilo hanya ketika ada operasi penertiban. Kita tidak boleh kembali membicarakannya hanya ketika seekor gajah mati. Dan jangan sampai kita baru kembali mencari kabarnya ketika asap kembali menyelimuti Riau.
Sebab kerusakan lingkungan tidak bekerja seperti siklus berita. Ia tidak mengenal deadline. Ia tidak menunggu konferensi pers.
Dan hutan tidak pernah tahu kapan sebuah isu sedang viral atau tidak. Pohon yang ditebang hari ini mungkin membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh kembali. Habitat yang hilang hari ini mungkin membutuhkan generasi untuk dipulihkan
Karena itu, ketika pemerintah mengatakan ingin mengembalikan Tesso Nilo, publik harus memberikan dukungan..Tetapi dukungan tidak berarti berhenti bertanya.
Justru sebaliknya. Semakin besar janji pemulihan, semakin besar pula kewajiban publik untuk mengawasinya. Maka hari ini, ketika isu Tesso Nilo mulai terdengar lebih sunyi, mungkin tidak ada salahnya kita kembali bertanya:
Apa Kabar Tesso Nilo? Apakah hutan sedang kembali? Apakah sawit ilegal benar-benar pergi? Apakah masyarakat mendapatkan solusi? Apakah mereka yang selama bertahun-tahun menikmati keuntungan dari kawasan yang dinyatakan ilegal ikut mempertanggungjawabkan perbuatannya?
Dan yang paling penting: Apakah kita masih peduli? Sebab Tesso Nilo belum selesai. Kita saja yang mulai berhenti membicarakannya. (*)
* Yudi Saputa adalah Wartawan dan Pemerhati Lingkungan