logo
Jembatan Siak I dan Siak III Pekanbaru September Ditutup, Jalur Alternatif Disia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Terbitkan Surat Rekomendasi, ‎Bupati Rohil Resmi Dukung Pembentukan Provinsi Ria Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dari Rekam Medis Menuju Rekam Pendidikan Nasional Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kualitas Udara Pekanbaru Mulai Membaik, Saatnya Kembali Sekolah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi PERBASASI Riau Tancap Gas, Matangkan Regenerasi Atlet hingga Kejuaraan Internasi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Hotspot Riau Melonjak Jadi 317 Titik, Indragiri Hulu Tertinggi Capai 154 Titik Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dua Hari Dicari Belum Berjejak, Keberadaan 5 Jurnalis dan 3 Kru di Sekitar Anak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kopdes Merah Putih Diklaim Tak Matikan UMKM, Disperindagkop UKM: Justru Jadi Pen Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / MERANTI
Serangan Buaya Muara di Sungai Sendewo Meranti, Atai Selamat dengan Luka Gigitan di Kaki
Foto ilustrasi hasil reka AI.
Serangan Buaya Muara di Sungai Sendewo Meranti, Atai Selamat dengan Luka Gigitan di Kaki
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: news | 30 Agustus 2026 | 17:35:52

SELATPANJANG - Ancaman buaya muara kembali menghantui warga Kabupaten Kepulauan Meranti. Seorang warga bernama Atai (35) menjadi korban serangan buaya saat menyeberangi Sungai Sendewo, Desa Renak Dungun, Kecamatan Pulau Merbau.

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 09.30 WIB. Saat itu, Atai tengah menggunakan rakit untuk menyeberangi sungai. Tanpa diduga, seekor buaya muara tiba-tiba menerkam dan menggigit kaki kirinya.

Beruntung, Atai berhasil menyelamatkan diri dari serangan satwa liar tersebut. Meski selamat, ia mengalami luka gigitan pada bagian kaki sebelah kiri dan kini menjalani masa pemulihan di rumahnya di Dusun III Rintis, Desa Renak Dungun.

iklan-view

Pemerintah Kecamatan Pulau Merbau telah turun langsung untuk memastikan kondisi korban sekaligus memberikan pendampingan pascainsiden tersebut.

Camat Pulau Merbau, Hermansyah, S.H., membenarkan kejadian itu saat dikonfirmasi, Minggu (30/8/2026). Ia mengungkapkan, serangan buaya terhadap warga di wilayahnya bukan kali pertama terjadi.

"Kejadian ini yang kedua kalinya. Alhamdulillah warga selamat," ujar Hermansyah, seperti dikutip dari mediacenter riau.

Menurutnya, sebelumnya serangan serupa juga pernah dialami seorang warga Desa Tanjung Bunga di kawasan perairan yang sama. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena sungai merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat di Pulau Merbau.

Bagi warga, sungai bukan sekadar bentangan air. Jalur tersebut setiap hari digunakan untuk transportasi, menyeberang antarwilayah hingga mencari ikan. Namun, kemunculan buaya muara kini membuat aktivitas warga di perairan harus dilakukan dengan kewaspadaan ekstra.

Pemerintah Kecamatan Pulau Merbau pun telah melaporkan kejadian tersebut kepada Basarnas Kabupaten Kepulauan Meranti untuk selanjutnya dikoordinasikan dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau.

"Udah saya laporkan ke Basarnas Kabupaten Kepulauan Meranti untuk diteruskan ke BKSDA Provinsi Riau," katanya.

Sebagai langkah awal untuk mencegah adanya korban berikutnya, pemerintah kecamatan telah menyampaikan imbauan kewaspadaan kepada pemerintah desa hingga para kepala dusun.

Warga diminta lebih berhati-hati saat beraktivitas di sungai serta tidak bertindak sendiri apabila melihat kemunculan buaya di sekitar permukiman maupun jalur aktivitas masyarakat.

"Langkah awal sudah disampaikan lewat Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa termasuk Kadus agar masyarakat berhati-hati dalam melakukan aktivitas di sungai," jelas Hermansyah.

Pemerintah setempat juga meminta masyarakat segera melaporkan setiap kemunculan buaya kepada perangkat desa atau pihak berwenang agar dapat ditindaklanjuti oleh instansi terkait.

Hermansyah menegaskan, keselamatan warga menjadi prioritas utama, terutama di tengah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap jalur sungai dalam kehidupan sehari-hari.

"Untuk masyarakat, kami mengimbau agar selalu berhati-hati dan waspada saat beraktivitas di sungai. Jangan mengambil risiko, karena keselamatan warga yang paling utama," tegasnya.

Kini, setelah serangan kedua buaya dilaporkan terjadi di wilayah Pulau Merbau, warga di sekitar Sungai Sendewo diharapkan meningkatkan kewaspadaan. Sebab, sungai yang selama ini menjadi jalur kehidupan masyarakat juga menyimpan ancaman yang bisa muncul sewaktu-waktu. (*)

Home / News
Serangan Buaya Muara di Sungai Sendewo Meranti, Atai Selamat dengan Luka Gigitan di Kaki
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: news | 30 Agustus 2026 | 17:35:52
Serangan Buaya Muara di Sungai Sendewo Meranti, Atai Selamat dengan Luka Gigitan di Kaki
Foto ilustrasi hasil reka AI.

SELATPANJANG - Ancaman buaya muara kembali menghantui warga Kabupaten Kepulauan Meranti. Seorang warga bernama Atai (35) menjadi korban serangan buaya saat menyeberangi Sungai Sendewo, Desa Renak Dungun, Kecamatan Pulau Merbau.

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 09.30 WIB. Saat itu, Atai tengah menggunakan rakit untuk menyeberangi sungai. Tanpa diduga, seekor buaya muara tiba-tiba menerkam dan menggigit kaki kirinya.

Beruntung, Atai berhasil menyelamatkan diri dari serangan satwa liar tersebut. Meski selamat, ia mengalami luka gigitan pada bagian kaki sebelah kiri dan kini menjalani masa pemulihan di rumahnya di Dusun III Rintis, Desa Renak Dungun.

Pemerintah Kecamatan Pulau Merbau telah turun langsung untuk memastikan kondisi korban sekaligus memberikan pendampingan pascainsiden tersebut.

Camat Pulau Merbau, Hermansyah, S.H., membenarkan kejadian itu saat dikonfirmasi, Minggu (30/8/2026). Ia mengungkapkan, serangan buaya terhadap warga di wilayahnya bukan kali pertama terjadi.

"Kejadian ini yang kedua kalinya. Alhamdulillah warga selamat," ujar Hermansyah, seperti dikutip dari mediacenter riau.

Menurutnya, sebelumnya serangan serupa juga pernah dialami seorang warga Desa Tanjung Bunga di kawasan perairan yang sama. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena sungai merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat di Pulau Merbau.

Bagi warga, sungai bukan sekadar bentangan air. Jalur tersebut setiap hari digunakan untuk transportasi, menyeberang antarwilayah hingga mencari ikan. Namun, kemunculan buaya muara kini membuat aktivitas warga di perairan harus dilakukan dengan kewaspadaan ekstra.

Pemerintah Kecamatan Pulau Merbau pun telah melaporkan kejadian tersebut kepada Basarnas Kabupaten Kepulauan Meranti untuk selanjutnya dikoordinasikan dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau.

"Udah saya laporkan ke Basarnas Kabupaten Kepulauan Meranti untuk diteruskan ke BKSDA Provinsi Riau," katanya.

Sebagai langkah awal untuk mencegah adanya korban berikutnya, pemerintah kecamatan telah menyampaikan imbauan kewaspadaan kepada pemerintah desa hingga para kepala dusun.

Warga diminta lebih berhati-hati saat beraktivitas di sungai serta tidak bertindak sendiri apabila melihat kemunculan buaya di sekitar permukiman maupun jalur aktivitas masyarakat.

"Langkah awal sudah disampaikan lewat Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa termasuk Kadus agar masyarakat berhati-hati dalam melakukan aktivitas di sungai," jelas Hermansyah.

Pemerintah setempat juga meminta masyarakat segera melaporkan setiap kemunculan buaya kepada perangkat desa atau pihak berwenang agar dapat ditindaklanjuti oleh instansi terkait.

Hermansyah menegaskan, keselamatan warga menjadi prioritas utama, terutama di tengah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap jalur sungai dalam kehidupan sehari-hari.

"Untuk masyarakat, kami mengimbau agar selalu berhati-hati dan waspada saat beraktivitas di sungai. Jangan mengambil risiko, karena keselamatan warga yang paling utama," tegasnya.

Kini, setelah serangan kedua buaya dilaporkan terjadi di wilayah Pulau Merbau, warga di sekitar Sungai Sendewo diharapkan meningkatkan kewaspadaan. Sebab, sungai yang selama ini menjadi jalur kehidupan masyarakat juga menyimpan ancaman yang bisa muncul sewaktu-waktu. (*)