logo
Musnahkan Narkoba Rp80 Miliar, Polres Bengkalis Selamatkan Ratusan Ribu Jiwa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dukung Arahan Presiden Prabowo, BSI Sediakan Tabungan Bebas Biaya Admin untuk Ma Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Tim SAR Gabungan Perluas Pencarian Kapal Jurnalis Sampai Kawasan Anak Krakatau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Jembatan Siak I dan Siak III Pekanbaru September Ditutup, Jalur Alternatif Disia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Terbitkan Surat Rekomendasi, ‎Bupati Rohil Resmi Dukung Pembentukan Provinsi Ria Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dari Rekam Medis Menuju Rekam Pendidikan Nasional Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kualitas Udara Pekanbaru Mulai Membaik, Saatnya Kembali Sekolah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi PERBASASI Riau Tancap Gas, Matangkan Regenerasi Atlet hingga Kejuaraan Internasi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Teheran
Presiden Iran Nilai MoU Perdamaian dengan AS Bawa Manfaat Signifikan bagi Stabilitas Regional
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pada Sabtu (29/8) bahwa nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang ditandatangani antara Iran dan Amerika Serikat bermanfaat bagi kepentingan negara tersebut, Asia Barat, dan dunia.
Presiden Iran Nilai MoU Perdamaian dengan AS Bawa Manfaat Signifikan bagi Stabilitas Regional
Editor: Putrajaya
Rubrik: news | 30 Agustus 2026 | 19:04:39

Teheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pada Sabtu (29/8) bahwa nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang ditandatangani antara Iran dan Amerika Serikat bermanfaat bagi kepentingan negara tersebut, Asia Barat, dan dunia.

Dalam sebuah upacara di Teheran, dia menegaskan dengan adanya pelaksanaan MoU tersebut, AS dan Israel tidak akan mampu menimbulkan kekacauan, agresi, dan ketidakamanan di kawasan, serta negara-negara kawasan akan dapat menempuh jalan menuju stabilitas dan pembangunan, demikian menurut pernyataan yang dimuat di situs web kantornya.

Pezeshkian menyoroti perlunya menggagalkan "rencana jahat musuh" dengan mendorong persatuan dan solidaritas di kalangan negara-negara Muslim.

iklan-view

Dia mengatakan Iran tidak pernah menjadi pihak yang memulai perang, seraya menambahkan, "Kami tidak menginginkan perang, tetapi akan melawan setiap agresor dengan tegas, dan tidak ada kekuatan yang dapat memaksa sebuah bangsa yang teguh berdiri dengan segenap kekuatan dan tekadnya, untuk menyerah".

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi pada Sabtu (29/8) melalui unggahan di media sosial memperingatkan bahwa upaya-upaya "besar" sedang dilakukan untuk memanipulasi pasar energi global demi keuntungan pribadi dan memperpanjang perang AS melawan Iran.

Secara terpisah, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan pada hari yang sama bahwa pasukan keamanan negara tersebut telah memberikan pukulan "telak" kepada tim "teroris" yang berafiliasi dengan AS dan Israel di provinsi Sistan dan Baluchestan di Iran tenggara, menewaskan satu anggota tim tersebut dan menangkap enam orang lainnya.

Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota lain di Iran.

Iran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menyasar Israel serta pangkalan dan aset AS di kawasan tersebut, sembari memperketat kendali atas Selat Hormuz.

Pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani MoU untuk mengakhiri perang di semua front di kawasan tersebut. Berdasarkan MoU itu, kedua pihak dijadwalkan melakukan perundingan dalam kurun waktu 60 hari, yang berakhir pada 17 Agustus, guna mencapai kesepakatan akhir.

Namun, nasib perundingan itu masih belum jelas menyusul eskalasi antara kedua negara bulan lalu. (*)

Home / News
Presiden Iran Nilai MoU Perdamaian dengan AS Bawa Manfaat Signifikan bagi Stabilitas Regional
Editor: Putrajaya
Rubrik: news | 30 Agustus 2026 | 19:04:39
Presiden Iran Nilai MoU Perdamaian dengan AS Bawa Manfaat Signifikan bagi Stabilitas Regional
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pada Sabtu (29/8) bahwa nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang ditandatangani antara Iran dan Amerika Serikat bermanfaat bagi kepentingan negara tersebut, Asia Barat, dan dunia.

Teheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pada Sabtu (29/8) bahwa nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang ditandatangani antara Iran dan Amerika Serikat bermanfaat bagi kepentingan negara tersebut, Asia Barat, dan dunia.

Dalam sebuah upacara di Teheran, dia menegaskan dengan adanya pelaksanaan MoU tersebut, AS dan Israel tidak akan mampu menimbulkan kekacauan, agresi, dan ketidakamanan di kawasan, serta negara-negara kawasan akan dapat menempuh jalan menuju stabilitas dan pembangunan, demikian menurut pernyataan yang dimuat di situs web kantornya.

Pezeshkian menyoroti perlunya menggagalkan "rencana jahat musuh" dengan mendorong persatuan dan solidaritas di kalangan negara-negara Muslim.

Dia mengatakan Iran tidak pernah menjadi pihak yang memulai perang, seraya menambahkan, "Kami tidak menginginkan perang, tetapi akan melawan setiap agresor dengan tegas, dan tidak ada kekuatan yang dapat memaksa sebuah bangsa yang teguh berdiri dengan segenap kekuatan dan tekadnya, untuk menyerah".

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi pada Sabtu (29/8) melalui unggahan di media sosial memperingatkan bahwa upaya-upaya "besar" sedang dilakukan untuk memanipulasi pasar energi global demi keuntungan pribadi dan memperpanjang perang AS melawan Iran.

Secara terpisah, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan pada hari yang sama bahwa pasukan keamanan negara tersebut telah memberikan pukulan "telak" kepada tim "teroris" yang berafiliasi dengan AS dan Israel di provinsi Sistan dan Baluchestan di Iran tenggara, menewaskan satu anggota tim tersebut dan menangkap enam orang lainnya.

Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota lain di Iran.

Iran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menyasar Israel serta pangkalan dan aset AS di kawasan tersebut, sembari memperketat kendali atas Selat Hormuz.

Pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani MoU untuk mengakhiri perang di semua front di kawasan tersebut. Berdasarkan MoU itu, kedua pihak dijadwalkan melakukan perundingan dalam kurun waktu 60 hari, yang berakhir pada 17 Agustus, guna mencapai kesepakatan akhir.

Namun, nasib perundingan itu masih belum jelas menyusul eskalasi antara kedua negara bulan lalu. (*)