logo
Keroyok Tukang Gigi hingga Tewas ,Tiga Pemuda Jadi Tersangka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pasar Kodim Diduga Dialihfungsikan Jadi Kampus, KOMPOR Foundation dan PPSP Perta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPR Dengarkan Tuntutan 36 Ribu Kades AMJ Terkait Perpanjangan Masa Jabatan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menpora dan Ketua KOI Resmi Kukuhkan Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Perkasa, Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kembali ke Pasar In Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Komjak RI Turun ke Kejari Pekanbaru, Pastikan Pengaduan Masyarakat Ditindaklanju Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Eskalasi Konflik Memanas, Harga Minyak Dunia Mendekati Level US$100 per Barel Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Manchester City Pimpin Klasemen Liga Champions Usai Taklukkan Porto Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Referendum Islandia Tegaskan Penolakan Publik Terhadap Pembukaan Dialog Uni Eropa
Unjukrasa masyarakat Islandia saat menolak wacana untuk membuka kembali perundingan keanggotaan Uni Eropa (EU). (Foto: Int)
Referendum Islandia Tegaskan Penolakan Publik Terhadap Pembukaan Dialog Uni Eropa
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 30 Agustus 2026 | 18:45:21

Berlin - Masyarakat Islandia telah menolak wacana untuk membuka kembali perundingan keanggotaan Uni Eropa (EU), demikian laporan penyiar publik Islandia RUV pada Minggu mengutip hasil referendum yang penghitungannya hampir selesai.

Penghitungan suara referendum telah selesai di semua daerah pemilihan (dapil) kecuali daerah pemilihan Barat Daya, kata RUV yang turut menyimpulkan bahwa dari dapil tersebut "tampaknya tak akan terkumpul suara dukungan yang cukup untuk melampaui suara yang menolak".

"Atas dasar itu, telah jelas bahwa Islandia memutuskan menolak dimulainya kembali proses dialog untuk aksesi ke Uni Eropa," menurut RUV.

iklan-view

Persentase sementara yang disiarkan televisi nasional Islandia itu menunjukkan 52,5 persen pemilih menolak perundingan keanggotaan EU, dengan hanya 47,5 persen suara mendukung, tak termasuk dapil terakhir yang belum selesai melakukan penghitungan suara.

Secara nasional, 99.037 suara memilih "tidak", sementara 89.459 memilih "ya", sehingga terdapat selisih 9.578 suara.

Diketahui terdapat 32.000 surat suara yang masih harus dihitung di dapil Barat Daya.

Agar opsi "ya" menang dalam referendum, setidaknya 65 persen dari suara yang belum dihitung, atau 57 persen lebih dari total jumlah suara di dapil Barat Daya harus memilih "ya".

RUV menilai kemungkinan itu sangat kecil tercapai.

Adapun masyarakat Islandia pada Sabtu berpartisipasi dalam referendum yang amat ketat untuk menentukan apakah negaranya perlu memulai kembali proses aksesi ke EU setelah dialognya dibekukan selama lebih dari 10 tahun.

Referendum tersebut bukan untuk menentukan keanggotaan Islandia di EU.

Jika opsi "ya" menang, pemerintah Islandia akan mendapat mandat untuk memulai kembali perundingan keanggotaan EU yang sudah ditangguhkan selama satu dasawarsa lebih.

Meski demikian, jika perundingan berhasil mencapai kesepakatan aksesi Islandia ke EU, keanggotaannya tetap memerlukan referendum kedua. (*)

Home / News
Referendum Islandia Tegaskan Penolakan Publik Terhadap Pembukaan Dialog Uni Eropa
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 30 Agustus 2026 | 18:45:21
Referendum Islandia Tegaskan Penolakan Publik Terhadap Pembukaan Dialog Uni Eropa
Unjukrasa masyarakat Islandia saat menolak wacana untuk membuka kembali perundingan keanggotaan Uni Eropa (EU). (Foto: Int)

Berlin - Masyarakat Islandia telah menolak wacana untuk membuka kembali perundingan keanggotaan Uni Eropa (EU), demikian laporan penyiar publik Islandia RUV pada Minggu mengutip hasil referendum yang penghitungannya hampir selesai.

Penghitungan suara referendum telah selesai di semua daerah pemilihan (dapil) kecuali daerah pemilihan Barat Daya, kata RUV yang turut menyimpulkan bahwa dari dapil tersebut "tampaknya tak akan terkumpul suara dukungan yang cukup untuk melampaui suara yang menolak".

"Atas dasar itu, telah jelas bahwa Islandia memutuskan menolak dimulainya kembali proses dialog untuk aksesi ke Uni Eropa," menurut RUV.

Persentase sementara yang disiarkan televisi nasional Islandia itu menunjukkan 52,5 persen pemilih menolak perundingan keanggotaan EU, dengan hanya 47,5 persen suara mendukung, tak termasuk dapil terakhir yang belum selesai melakukan penghitungan suara.

Secara nasional, 99.037 suara memilih "tidak", sementara 89.459 memilih "ya", sehingga terdapat selisih 9.578 suara.

Diketahui terdapat 32.000 surat suara yang masih harus dihitung di dapil Barat Daya.

Agar opsi "ya" menang dalam referendum, setidaknya 65 persen dari suara yang belum dihitung, atau 57 persen lebih dari total jumlah suara di dapil Barat Daya harus memilih "ya".

RUV menilai kemungkinan itu sangat kecil tercapai.

Adapun masyarakat Islandia pada Sabtu berpartisipasi dalam referendum yang amat ketat untuk menentukan apakah negaranya perlu memulai kembali proses aksesi ke EU setelah dialognya dibekukan selama lebih dari 10 tahun.

Referendum tersebut bukan untuk menentukan keanggotaan Islandia di EU.

Jika opsi "ya" menang, pemerintah Islandia akan mendapat mandat untuk memulai kembali perundingan keanggotaan EU yang sudah ditangguhkan selama satu dasawarsa lebih.

Meski demikian, jika perundingan berhasil mencapai kesepakatan aksesi Islandia ke EU, keanggotaannya tetap memerlukan referendum kedua. (*)