logo
Terjadi di Pekanbaru: Sopir Antre Bio Solar hingga 10 Jam, Masalahnya di Kuota a Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Amplop Suhardiman untuk Raja Juli Belum Berujung Pemanggilan, KPK Fokus Bongkar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dentuman Anak Krakatau Menggelegar hingga Jabar, BNPB: Jangan Panik, Belum Ada P Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Tol Palindra Tertutup Kabut Asap, Bus Damri Tabrak ALS, Belasan Penumpang Luka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menteri HAM Dorong Kasasi atas Pembatalan Pemecatan Prajurit TNI di Kasus Penyir Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Solar Langka, Kecemasan yang Mengular Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi MTQ Nasional ke-31 di Semarang Diikuti 2.242 Peserta dari Seluruh Indonesia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pertamina Patra Niaga Tindak Tegas Pelanggaran Penyaluran BBM Subsidi di Sumatra Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Referendum Islandia Tegaskan Penolakan Publik Terhadap Pembukaan Dialog Uni Eropa
Unjukrasa masyarakat Islandia saat menolak wacana untuk membuka kembali perundingan keanggotaan Uni Eropa (EU). (Foto: Int)
Referendum Islandia Tegaskan Penolakan Publik Terhadap Pembukaan Dialog Uni Eropa
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 30 Agustus 2026 | 18:45:21

Berlin - Masyarakat Islandia telah menolak wacana untuk membuka kembali perundingan keanggotaan Uni Eropa (EU), demikian laporan penyiar publik Islandia RUV pada Minggu mengutip hasil referendum yang penghitungannya hampir selesai.

Penghitungan suara referendum telah selesai di semua daerah pemilihan (dapil) kecuali daerah pemilihan Barat Daya, kata RUV yang turut menyimpulkan bahwa dari dapil tersebut "tampaknya tak akan terkumpul suara dukungan yang cukup untuk melampaui suara yang menolak".

"Atas dasar itu, telah jelas bahwa Islandia memutuskan menolak dimulainya kembali proses dialog untuk aksesi ke Uni Eropa," menurut RUV.

iklan-view

Persentase sementara yang disiarkan televisi nasional Islandia itu menunjukkan 52,5 persen pemilih menolak perundingan keanggotaan EU, dengan hanya 47,5 persen suara mendukung, tak termasuk dapil terakhir yang belum selesai melakukan penghitungan suara.

Secara nasional, 99.037 suara memilih "tidak", sementara 89.459 memilih "ya", sehingga terdapat selisih 9.578 suara.

Diketahui terdapat 32.000 surat suara yang masih harus dihitung di dapil Barat Daya.

Agar opsi "ya" menang dalam referendum, setidaknya 65 persen dari suara yang belum dihitung, atau 57 persen lebih dari total jumlah suara di dapil Barat Daya harus memilih "ya".

RUV menilai kemungkinan itu sangat kecil tercapai.

Adapun masyarakat Islandia pada Sabtu berpartisipasi dalam referendum yang amat ketat untuk menentukan apakah negaranya perlu memulai kembali proses aksesi ke EU setelah dialognya dibekukan selama lebih dari 10 tahun.

Referendum tersebut bukan untuk menentukan keanggotaan Islandia di EU.

Jika opsi "ya" menang, pemerintah Islandia akan mendapat mandat untuk memulai kembali perundingan keanggotaan EU yang sudah ditangguhkan selama satu dasawarsa lebih.

Meski demikian, jika perundingan berhasil mencapai kesepakatan aksesi Islandia ke EU, keanggotaannya tetap memerlukan referendum kedua. (*)

Home / News
Referendum Islandia Tegaskan Penolakan Publik Terhadap Pembukaan Dialog Uni Eropa
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 30 Agustus 2026 | 18:45:21
Referendum Islandia Tegaskan Penolakan Publik Terhadap Pembukaan Dialog Uni Eropa
Unjukrasa masyarakat Islandia saat menolak wacana untuk membuka kembali perundingan keanggotaan Uni Eropa (EU). (Foto: Int)

Berlin - Masyarakat Islandia telah menolak wacana untuk membuka kembali perundingan keanggotaan Uni Eropa (EU), demikian laporan penyiar publik Islandia RUV pada Minggu mengutip hasil referendum yang penghitungannya hampir selesai.

Penghitungan suara referendum telah selesai di semua daerah pemilihan (dapil) kecuali daerah pemilihan Barat Daya, kata RUV yang turut menyimpulkan bahwa dari dapil tersebut "tampaknya tak akan terkumpul suara dukungan yang cukup untuk melampaui suara yang menolak".

"Atas dasar itu, telah jelas bahwa Islandia memutuskan menolak dimulainya kembali proses dialog untuk aksesi ke Uni Eropa," menurut RUV.

Persentase sementara yang disiarkan televisi nasional Islandia itu menunjukkan 52,5 persen pemilih menolak perundingan keanggotaan EU, dengan hanya 47,5 persen suara mendukung, tak termasuk dapil terakhir yang belum selesai melakukan penghitungan suara.

Secara nasional, 99.037 suara memilih "tidak", sementara 89.459 memilih "ya", sehingga terdapat selisih 9.578 suara.

Diketahui terdapat 32.000 surat suara yang masih harus dihitung di dapil Barat Daya.

Agar opsi "ya" menang dalam referendum, setidaknya 65 persen dari suara yang belum dihitung, atau 57 persen lebih dari total jumlah suara di dapil Barat Daya harus memilih "ya".

RUV menilai kemungkinan itu sangat kecil tercapai.

Adapun masyarakat Islandia pada Sabtu berpartisipasi dalam referendum yang amat ketat untuk menentukan apakah negaranya perlu memulai kembali proses aksesi ke EU setelah dialognya dibekukan selama lebih dari 10 tahun.

Referendum tersebut bukan untuk menentukan keanggotaan Islandia di EU.

Jika opsi "ya" menang, pemerintah Islandia akan mendapat mandat untuk memulai kembali perundingan keanggotaan EU yang sudah ditangguhkan selama satu dasawarsa lebih.

Meski demikian, jika perundingan berhasil mencapai kesepakatan aksesi Islandia ke EU, keanggotaannya tetap memerlukan referendum kedua. (*)