logo
Terbitkan Surat Rekomendasi, ‎Bupati Rohil Resmi Dukung Pembentukan Provinsi Ria Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dari Rekam Medis Menuju Rekam Pendidikan Nasional Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kualitas Udara Pekanbaru Mulai Membaik, Saatnya Kembali Sekolah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi PERBASASI Riau Tancap Gas, Matangkan Regenerasi Atlet hingga Kejuaraan Internasi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Hotspot Riau Melonjak Jadi 317 Titik, Indragiri Hulu Tertinggi Capai 154 Titik Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dua Hari Dicari Belum Berjejak, Keberadaan 5 Jurnalis dan 3 Kru di Sekitar Anak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kopdes Merah Putih Diklaim Tak Matikan UMKM, Disperindagkop UKM: Justru Jadi Pen Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Optimalisasi Hak Kesehatan WBP, Lapas Bagansiapiapi Gandeng RS Cahaya Ujung Tanj Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Masuk Zona Merah, Rupiah Ditutup Rp17.710 per Dolar AS Meski Tekanan Mereda
Ilustrasi rupiah.
Masuk Zona Merah, Rupiah Ditutup Rp17.710 per Dolar AS Meski Tekanan Mereda
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 31 Agustus 2026 | 16:50:25

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali masuk ke zona merah pada penutupan perdagangan Senin (31/8/2026). Mata uang Garuda harus mengawali pekan ini dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski tekanan berhasil berkurang menjelang berakhirnya perdagangan.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,14 persen ke level Rp17.710 per dolar AS. Posisi tersebut turun 25 poin dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (28/8/2026) yang berada di level Rp17.685 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan, tekanan terhadap rupiah sempat cukup kuat. Mata uang Garuda bahkan menyentuh level Rp17.755 per dolar AS, sebelum akhirnya memangkas pelemahan dan kembali menguat sekitar 45 poin menjelang penutupan.

iklan-view

Meski demikian, upaya pemulihan tersebut belum cukup membawa rupiah kembali ke zona hijau. Rupiah tetap menutup perdagangan di zona merah, sekaligus mencerminkan masih kuatnya sentimen eksternal yang membayangi pasar keuangan domestik.

Namun, dibandingkan posisi pembukaan perdagangan Senin pagi di level Rp17.725 per dolar AS, rupiah sebenarnya mampu menunjukkan perbaikan hingga penutupan. Artinya, tekanan yang terjadi pada awal perdagangan secara perlahan mulai mereda pada sesi sore.

Sentimen The Fed Masih Membayangi

Pelemahan rupiah pada perdagangan awal pekan ini masih berkaitan dengan lonjakan dolar AS pada akhir pekan lalu.

Penguatan dolar terjadi setelah perdagangan rupiah pada Jumat telah ditutup, sehingga dampak sentimen tersebut baru terasa penuh pada perdagangan Senin.

Dolar AS sebelumnya melonjak setelah Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi AS belum bergerak kembali menuju target 2 persen.

Dalam pidato perdananya pada simposium Jackson Hole, Warsh menegaskan bank sentral AS masih memiliki pekerjaan besar apabila tekanan inflasi belum mereda. Pernyataan tersebut kemudian dibaca pasar sebagai sinyal semakin terbukanya peluang pengetatan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed sedikitnya 25 basis poin pada pertemuan September pun meningkat tajam. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga melonjak menjadi 57,5 persen, dari sebelumnya sekitar 35 persen sebelum pidato Warsh.

Prospek suku bunga AS yang lebih tinggi menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Suku bunga tinggi di AS berpotensi meningkatkan daya tarik aset-aset berbasis dolar sekaligus menahan aliran modal menuju pasar negara berkembang.

Kondisi inilah yang kemudian menjadi salah satu beban utama bagi rupiah.

Dolar Mulai Melemah, Rupiah Pangkas Tekanan

Di tengah tekanan tersebut, pelemahan indeks dolar AS pada perdagangan Senin sebenarnya memberikan ruang bagi rupiah untuk memangkas kerugiannya.

Indeks dolar AS atau DXY, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB tercatat melemah 0,16 persen ke level 99,550.

DXY berbalik melemah setelah sebelumnya melonjak 0,55 persen pada perdagangan Jumat. Dalam sepekan terakhir, dolar AS bahkan menguat hampir 0,9 persen dan mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam 10 pekan.

Indeks dolar sempat menyentuh level 99,727, yang merupakan posisi tertingginya sejak 17 Agustus 2026.

Koreksi dolar AS pada perdagangan Senin membantu rupiah bangkit dari posisi terlemahnya di Rp17.755 per dolar AS. Namun, pelemahan greenback tersebut belum cukup kuat untuk mengangkat rupiah kembali ke zona positif.

Dengan demikian, rupiah mengakhiri perdagangan pertama pekan ini tetap berada di zona merah.

Pasar Menanti Kepastian Pimpinan Baru BI

Selain perkembangan kebijakan moneter AS, pelaku pasar domestik juga mulai mencermati agenda politik dan kebijakan ekonomi di dalam negeri.

Pada Selasa (1/9/2026), DPR dijadwalkan menggelar Rapat Paripurna untuk membahas penetapan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031.

Selain Destry, DPR juga akan membahas penetapan Aida S. Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI serta Solikin M. Juhro sebagai calon Deputi Gubernur BI.

Kepastian susunan pimpinan baru Bank Indonesia menjadi perhatian pasar karena berkaitan langsung dengan kesinambungan kebijakan moneter serta langkah bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sangat sensitif terhadap perkembangan ekspektasi suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, serta respons pasar terhadap arah kebijakan Bank Indonesia.

Untuk sementara, perdagangan Senin menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya berakhir. Meski mampu bangkit dari titik terlemahnya, mata uang Garuda tetap harus menutup perdagangan awal pekan di zona merah, melemah ke level Rp17.710 per dolar AS. (cnbc)

Home / Ekonomi
Masuk Zona Merah, Rupiah Ditutup Rp17.710 per Dolar AS Meski Tekanan Mereda
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 31 Agustus 2026 | 16:50:25
Masuk Zona Merah, Rupiah Ditutup Rp17.710 per Dolar AS Meski Tekanan Mereda
Ilustrasi rupiah.

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali masuk ke zona merah pada penutupan perdagangan Senin (31/8/2026). Mata uang Garuda harus mengawali pekan ini dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski tekanan berhasil berkurang menjelang berakhirnya perdagangan.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,14 persen ke level Rp17.710 per dolar AS. Posisi tersebut turun 25 poin dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (28/8/2026) yang berada di level Rp17.685 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan, tekanan terhadap rupiah sempat cukup kuat. Mata uang Garuda bahkan menyentuh level Rp17.755 per dolar AS, sebelum akhirnya memangkas pelemahan dan kembali menguat sekitar 45 poin menjelang penutupan.

Meski demikian, upaya pemulihan tersebut belum cukup membawa rupiah kembali ke zona hijau. Rupiah tetap menutup perdagangan di zona merah, sekaligus mencerminkan masih kuatnya sentimen eksternal yang membayangi pasar keuangan domestik.

Namun, dibandingkan posisi pembukaan perdagangan Senin pagi di level Rp17.725 per dolar AS, rupiah sebenarnya mampu menunjukkan perbaikan hingga penutupan. Artinya, tekanan yang terjadi pada awal perdagangan secara perlahan mulai mereda pada sesi sore.

Sentimen The Fed Masih Membayangi

Pelemahan rupiah pada perdagangan awal pekan ini masih berkaitan dengan lonjakan dolar AS pada akhir pekan lalu.

Penguatan dolar terjadi setelah perdagangan rupiah pada Jumat telah ditutup, sehingga dampak sentimen tersebut baru terasa penuh pada perdagangan Senin.

Dolar AS sebelumnya melonjak setelah Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi AS belum bergerak kembali menuju target 2 persen.

Dalam pidato perdananya pada simposium Jackson Hole, Warsh menegaskan bank sentral AS masih memiliki pekerjaan besar apabila tekanan inflasi belum mereda. Pernyataan tersebut kemudian dibaca pasar sebagai sinyal semakin terbukanya peluang pengetatan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed sedikitnya 25 basis poin pada pertemuan September pun meningkat tajam. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga melonjak menjadi 57,5 persen, dari sebelumnya sekitar 35 persen sebelum pidato Warsh.

Prospek suku bunga AS yang lebih tinggi menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Suku bunga tinggi di AS berpotensi meningkatkan daya tarik aset-aset berbasis dolar sekaligus menahan aliran modal menuju pasar negara berkembang.

Kondisi inilah yang kemudian menjadi salah satu beban utama bagi rupiah.

Dolar Mulai Melemah, Rupiah Pangkas Tekanan

Di tengah tekanan tersebut, pelemahan indeks dolar AS pada perdagangan Senin sebenarnya memberikan ruang bagi rupiah untuk memangkas kerugiannya.

Indeks dolar AS atau DXY, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB tercatat melemah 0,16 persen ke level 99,550.

DXY berbalik melemah setelah sebelumnya melonjak 0,55 persen pada perdagangan Jumat. Dalam sepekan terakhir, dolar AS bahkan menguat hampir 0,9 persen dan mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam 10 pekan.

Indeks dolar sempat menyentuh level 99,727, yang merupakan posisi tertingginya sejak 17 Agustus 2026.

Koreksi dolar AS pada perdagangan Senin membantu rupiah bangkit dari posisi terlemahnya di Rp17.755 per dolar AS. Namun, pelemahan greenback tersebut belum cukup kuat untuk mengangkat rupiah kembali ke zona positif.

Dengan demikian, rupiah mengakhiri perdagangan pertama pekan ini tetap berada di zona merah.

Pasar Menanti Kepastian Pimpinan Baru BI

Selain perkembangan kebijakan moneter AS, pelaku pasar domestik juga mulai mencermati agenda politik dan kebijakan ekonomi di dalam negeri.

Pada Selasa (1/9/2026), DPR dijadwalkan menggelar Rapat Paripurna untuk membahas penetapan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031.

Selain Destry, DPR juga akan membahas penetapan Aida S. Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI serta Solikin M. Juhro sebagai calon Deputi Gubernur BI.

Kepastian susunan pimpinan baru Bank Indonesia menjadi perhatian pasar karena berkaitan langsung dengan kesinambungan kebijakan moneter serta langkah bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sangat sensitif terhadap perkembangan ekspektasi suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, serta respons pasar terhadap arah kebijakan Bank Indonesia.

Untuk sementara, perdagangan Senin menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya berakhir. Meski mampu bangkit dari titik terlemahnya, mata uang Garuda tetap harus menutup perdagangan awal pekan di zona merah, melemah ke level Rp17.710 per dolar AS. (cnbc)