logo
Terjadi di Pekanbaru: Sopir Antre Bio Solar hingga 10 Jam, Masalahnya di Kuota a Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Amplop Suhardiman untuk Raja Juli Belum Berujung Pemanggilan, KPK Fokus Bongkar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dentuman Anak Krakatau Menggelegar hingga Jabar, BNPB: Jangan Panik, Belum Ada P Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Tol Palindra Tertutup Kabut Asap, Bus Damri Tabrak ALS, Belasan Penumpang Luka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menteri HAM Dorong Kasasi atas Pembatalan Pemecatan Prajurit TNI di Kasus Penyir Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Solar Langka, Kecemasan yang Mengular Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi MTQ Nasional ke-31 di Semarang Diikuti 2.242 Peserta dari Seluruh Indonesia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pertamina Patra Niaga Tindak Tegas Pelanggaran Penyaluran BBM Subsidi di Sumatra Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Gubernur Baru BI Disahkan DPR, Rupiah Tahan Tekanan dan Ditutup Stagnan Rp17.710
Penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031 menjadi salah satu sentimen penting yang membantu rupiah bertahan dari tekanan dolar AS pada penutupan perdagangan, Selasa (1/9/2026). (Foto: Istimewa)
Gubernur Baru BI Disahkan DPR, Rupiah Tahan Tekanan dan Ditutup Stagnan Rp17.710
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 1 September 2026 | 16:09:54

JAKARTA - Penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031 menjadi salah satu sentimen penting yang membantu rupiah bertahan dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (1/9/2026).

Di tengah penguatan indeks dolar AS, meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed), hingga memanasnya kembali konflik geopolitik di kawasan Teluk, rupiah justru mampu mempertahankan posisinya.

Mengacu data Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup stagnan di level Rp17.710 per dolar AS pada perdagangan Selasa petang. Posisi tersebut tidak berubah dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya, Senin (31/8/2026).

iklan-view

Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda bergerak relatif stabil dalam rentang Rp17.699 hingga Rp17.730 per dolar AS.

Kemampuan rupiah bertahan menjadi perhatian pasar karena pada saat yang sama dolar AS justru bergerak menguat. Indeks dolar AS atau DXY, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB tercatat naik 0,16% ke level 99,594.

Penguatan dolar tersebut bahkan semakin besar dibandingkan pembukaan perdagangan, ketika DXY pada pukul 09.00 WIB hanya menguat sekitar 0,04%.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, pasar domestik mendapatkan kepastian baru terkait arah kepemimpinan Bank Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih Destry Damayanti menjawab pertanyaan awak media usai Rapat Paripurna di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (1/9/2026). (Foto: Antara)

Destry Resmi Disahkan DPR sebagai Gubernur BI

DPR RI dalam Rapat Paripurna ke-4 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 secara resmi mengesahkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031.

Pengesahan dilakukan setelah DPR menerima laporan hasil uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test yang sebelumnya dilakukan Komisi XI DPR.

"Apakah laporan hasil fit and proper test dari Komisi XI dapat disetujui?" tanya Ketua DPR Puan Maharani yang memimpin rapat paripurna.

Pertanyaan tersebut kemudian dijawab setuju oleh anggota DPR yang hadir.

Selain Destry, DPR juga mengesahkan Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior BI serta Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur BI untuk periode 2026-2031.

Destry dijadwalkan mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Mahkamah Agung pada Rabu (2/9/2026) besok.

Kepastian mengenai susunan baru pimpinan bank sentral dinilai memberikan sentimen positif bagi pasar, terutama karena muncul kejelasan mengenai kesinambungan arah kebijakan moneter Indonesia pada lima tahun mendatang.

Sentimen ini menjadi semakin penting karena stabilitas rupiah sangat bergantung pada kepercayaan pasar terhadap kredibilitas dan independensi bank sentral.

Tekankan Independensi, Destry Beri Sinyal Kontinuitas Kebijakan

Usai disahkan DPR, Destry kembali menegaskan komitmennya menjaga independensi Bank Indonesia.

Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya memperkuat koordinasi antara bank sentral dan pemerintah untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

"Jadi memang kita akan mengoptimalkan sinergi yang bisa kita lakukan, tetapi tentunya tanpa juga mengabaikan mandat dan kewenangan dari masing-masing lembaga yang melakukan sinergi itu," kata Destry.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal penting bagi pasar bahwa pergantian kepemimpinan di BI tidak serta-merta mengubah fondasi kebijakan moneter.

Destry menilai sinergi fiskal dan moneter diperlukan untuk menjaga sejumlah indikator utama perekonomian, mulai dari likuiditas, inflasi, stabilitas nilai tukar hingga pertumbuhan ekonomi.

Koordinasi tersebut juga akan diperkuat melalui pengendalian inflasi bersama pemerintah pusat dan daerah.

Selain itu, perluasan penggunaan transaksi mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) juga menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Kombinasi antara kepastian pimpinan baru dan penegasan komitmen terhadap independensi BI inilah yang memberikan bantalan psikologis bagi pasar.

Di tengah derasnya tekanan global, rupiah setidaknya mampu menghindari pelemahan lebih lanjut dan mengakhiri perdagangan tanpa perubahan dari posisi sehari sebelumnya.

Tekanan dari The Fed dan Geopolitik Masih Mengintai

Meski mampu bertahan pada perdagangan Selasa, ruang penguatan rupiah masih dibatasi sejumlah sentimen eksternal.

Pasar global masih mencermati meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September, menyusul pernyataan bernada hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh.

Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga The Fed disebut meningkat menjadi 65%, dibandingkan sekitar 41% pada pekan sebelumnya.

Ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar.

Kondisi tersebut dapat membatasi aliran dana menuju aset negara berkembang, termasuk Indonesia, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap mata uang seperti rupiah.

Tekanan global juga datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.

Serangan kembali terjadi antara AS dan Iran, sementara Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan.

Situasi tersebut mendorong harga minyak Brent menembus US$91 per barel dan memicu tekanan di pasar obligasi.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun pun naik ke level tertinggi sejak Januari 2025.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat aset dolar semakin menarik bagi investor global.

Sementara itu, lonjakan harga minyak juga berpotensi menambah kebutuhan valuta asing bagi negara pengimpor energi, yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Kepastian di BI Jadi Penahan Tekanan Rupiah

Perdagangan Selasa memperlihatkan bahwa rupiah masih berada dalam situasi yang rentan terhadap sentimen global.

Penguatan dolar AS, meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter ketat The Fed, kenaikan imbal hasil obligasi AS, hingga lonjakan harga minyak menjadi kombinasi tekanan yang tidak ringan.

Namun, dari dalam negeri, pasar mendapatkan sentimen penyeimbang melalui kepastian kepemimpinan baru di Bank Indonesia.

Pengesahan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI, ditambah komitmen menjaga independensi dan kesinambungan kebijakan moneter, memberikan sinyal bahwa stabilitas ekonomi dan nilai tukar tetap menjadi perhatian utama bank sentral.

Hasilnya, meski belum mampu menguat, rupiah berhasil bertahan di Rp17.710 per dolar AS hingga penutupan perdagangan Selasa petang.

Ke depan, pasar akan mencermati langkah awal Destry setelah resmi menjabat sebagai Gubernur BI, terutama terkait strategi bank sentral menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih berpotensi berlanjut. (*)

Home / Ekonomi
Gubernur Baru BI Disahkan DPR, Rupiah Tahan Tekanan dan Ditutup Stagnan Rp17.710
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 1 September 2026 | 16:09:54
Gubernur Baru BI Disahkan DPR, Rupiah Tahan Tekanan dan Ditutup Stagnan Rp17.710
Penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031 menjadi salah satu sentimen penting yang membantu rupiah bertahan dari tekanan dolar AS pada penutupan perdagangan, Selasa (1/9/2026). (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031 menjadi salah satu sentimen penting yang membantu rupiah bertahan dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (1/9/2026).

Di tengah penguatan indeks dolar AS, meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed), hingga memanasnya kembali konflik geopolitik di kawasan Teluk, rupiah justru mampu mempertahankan posisinya.

Mengacu data Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup stagnan di level Rp17.710 per dolar AS pada perdagangan Selasa petang. Posisi tersebut tidak berubah dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya, Senin (31/8/2026).

Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda bergerak relatif stabil dalam rentang Rp17.699 hingga Rp17.730 per dolar AS.

Kemampuan rupiah bertahan menjadi perhatian pasar karena pada saat yang sama dolar AS justru bergerak menguat. Indeks dolar AS atau DXY, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB tercatat naik 0,16% ke level 99,594.

Penguatan dolar tersebut bahkan semakin besar dibandingkan pembukaan perdagangan, ketika DXY pada pukul 09.00 WIB hanya menguat sekitar 0,04%.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, pasar domestik mendapatkan kepastian baru terkait arah kepemimpinan Bank Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih Destry Damayanti menjawab pertanyaan awak media usai Rapat Paripurna di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (1/9/2026). (Foto: Antara)

Destry Resmi Disahkan DPR sebagai Gubernur BI

DPR RI dalam Rapat Paripurna ke-4 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 secara resmi mengesahkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031.

Pengesahan dilakukan setelah DPR menerima laporan hasil uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test yang sebelumnya dilakukan Komisi XI DPR.

"Apakah laporan hasil fit and proper test dari Komisi XI dapat disetujui?" tanya Ketua DPR Puan Maharani yang memimpin rapat paripurna.

Pertanyaan tersebut kemudian dijawab setuju oleh anggota DPR yang hadir.

Selain Destry, DPR juga mengesahkan Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior BI serta Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur BI untuk periode 2026-2031.

Destry dijadwalkan mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Mahkamah Agung pada Rabu (2/9/2026) besok.

Kepastian mengenai susunan baru pimpinan bank sentral dinilai memberikan sentimen positif bagi pasar, terutama karena muncul kejelasan mengenai kesinambungan arah kebijakan moneter Indonesia pada lima tahun mendatang.

Sentimen ini menjadi semakin penting karena stabilitas rupiah sangat bergantung pada kepercayaan pasar terhadap kredibilitas dan independensi bank sentral.

Tekankan Independensi, Destry Beri Sinyal Kontinuitas Kebijakan

Usai disahkan DPR, Destry kembali menegaskan komitmennya menjaga independensi Bank Indonesia.

Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya memperkuat koordinasi antara bank sentral dan pemerintah untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

"Jadi memang kita akan mengoptimalkan sinergi yang bisa kita lakukan, tetapi tentunya tanpa juga mengabaikan mandat dan kewenangan dari masing-masing lembaga yang melakukan sinergi itu," kata Destry.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal penting bagi pasar bahwa pergantian kepemimpinan di BI tidak serta-merta mengubah fondasi kebijakan moneter.

Destry menilai sinergi fiskal dan moneter diperlukan untuk menjaga sejumlah indikator utama perekonomian, mulai dari likuiditas, inflasi, stabilitas nilai tukar hingga pertumbuhan ekonomi.

Koordinasi tersebut juga akan diperkuat melalui pengendalian inflasi bersama pemerintah pusat dan daerah.

Selain itu, perluasan penggunaan transaksi mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) juga menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Kombinasi antara kepastian pimpinan baru dan penegasan komitmen terhadap independensi BI inilah yang memberikan bantalan psikologis bagi pasar.

Di tengah derasnya tekanan global, rupiah setidaknya mampu menghindari pelemahan lebih lanjut dan mengakhiri perdagangan tanpa perubahan dari posisi sehari sebelumnya.

Tekanan dari The Fed dan Geopolitik Masih Mengintai

Meski mampu bertahan pada perdagangan Selasa, ruang penguatan rupiah masih dibatasi sejumlah sentimen eksternal.

Pasar global masih mencermati meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September, menyusul pernyataan bernada hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh.

Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga The Fed disebut meningkat menjadi 65%, dibandingkan sekitar 41% pada pekan sebelumnya.

Ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar.

Kondisi tersebut dapat membatasi aliran dana menuju aset negara berkembang, termasuk Indonesia, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap mata uang seperti rupiah.

Tekanan global juga datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.

Serangan kembali terjadi antara AS dan Iran, sementara Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan.

Situasi tersebut mendorong harga minyak Brent menembus US$91 per barel dan memicu tekanan di pasar obligasi.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun pun naik ke level tertinggi sejak Januari 2025.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat aset dolar semakin menarik bagi investor global.

Sementara itu, lonjakan harga minyak juga berpotensi menambah kebutuhan valuta asing bagi negara pengimpor energi, yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Kepastian di BI Jadi Penahan Tekanan Rupiah

Perdagangan Selasa memperlihatkan bahwa rupiah masih berada dalam situasi yang rentan terhadap sentimen global.

Penguatan dolar AS, meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter ketat The Fed, kenaikan imbal hasil obligasi AS, hingga lonjakan harga minyak menjadi kombinasi tekanan yang tidak ringan.

Namun, dari dalam negeri, pasar mendapatkan sentimen penyeimbang melalui kepastian kepemimpinan baru di Bank Indonesia.

Pengesahan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI, ditambah komitmen menjaga independensi dan kesinambungan kebijakan moneter, memberikan sinyal bahwa stabilitas ekonomi dan nilai tukar tetap menjadi perhatian utama bank sentral.

Hasilnya, meski belum mampu menguat, rupiah berhasil bertahan di Rp17.710 per dolar AS hingga penutupan perdagangan Selasa petang.

Ke depan, pasar akan mencermati langkah awal Destry setelah resmi menjabat sebagai Gubernur BI, terutama terkait strategi bank sentral menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih berpotensi berlanjut. (*)