logo
Pasar Kodim Diduga Dialihfungsikan Jadi Kampus, KOMPOR Foundation dan PPSP Perta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPR Dengarkan Tuntutan 36 Ribu Kades AMJ Terkait Perpanjangan Masa Jabatan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menpora dan Ketua KOI Resmi Kukuhkan Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Perkasa, Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kembali ke Pasar In Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Komjak RI Turun ke Kejari Pekanbaru, Pastikan Pengaduan Masyarakat Ditindaklanju Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Eskalasi Konflik Memanas, Harga Minyak Dunia Mendekati Level US$100 per Barel Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Manchester City Pimpin Klasemen Liga Champions Usai Taklukkan Porto Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 3.056 Kasus Gangguan Kesehatan di Pekanbaru, Pemko Perpanjang PJJ di Tengah Kabu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / ENERGI
Pasar Energi Terguncang Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia Tembus US$95 per Barel
Harga minyak dunia melonjak lagi menyusul meningkatnya eskalasi perang AS-Iran dua hari terakhir. (Foto: Istimewa)
Pasar Energi Terguncang Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia Tembus US$95 per Barel
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 2 September 2026 | 17:52:50

JAKARTA - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah global melonjak hampir 1 persen pada perdagangan Rabu (2/9/2026), dipicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan minyak akibat meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak terutama dipengaruhi ancaman terhadap lalu lintas energi melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.

Harga minyak Brent untuk pengiriman mendatang tercatat naik 87 sen atau 0,92 persen menjadi US$95,52 per barel pada pukul 00.08 GMT atau sekitar 07.08 WIB. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 80 sen atau 0,89 persen menjadi US$91,02 per barel.

iklan-view

Lonjakan tersebut melanjutkan kenaikan tajam sehari sebelumnya. Pada perdagangan Selasa (1/9), harga Brent dan WTI masing-masing sempat melonjak lebih dari US$4 per barel.

Kenaikan itu menjadi penguatan harian terbesar Brent sejak 24 Juli dan WTI sejak 23 Juli.

Serangan AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasokan

Pasar minyak kembali berada dalam tekanan setelah AS melancarkan serangkaian serangan udara terhadap sejumlah target di Iran pada malam sebelumnya. Iran kemudian merespons dengan serangan terhadap sejumlah sasaran yang terkait dengan kepentingan militer AS di kawasan.

Komando Pusat AS atau U.S. Central Command menyatakan serangan militernya dilakukan setelah adanya upaya serangan terbaru oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz serta personel militer AS yang berada di kawasan tersebut.

Eskalasi tersebut langsung meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap keamanan jalur distribusi minyak global.

Pasalnya, Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat strategis bagi perdagangan energi. Sebelum konflik memanas, sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati jalur perairan tersebut.

Kini, ancaman penutupan atau pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak.

IRGC bahkan menyatakan serangan AS berpotensi semakin membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz dan Iran telah menutup jalur tersebut bagi pelayaran komersial.

Jika gangguan berlangsung lama, pasar menghadapi risiko berkurangnya pasokan minyak yang tersedia sekaligus meningkatnya biaya dan risiko pengiriman.

Serangan Meluas ke Sejumlah Negara

Respons Iran terhadap serangan AS juga meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengganggu infrastruktur energi serta jalur pelayaran di kawasan Teluk.

IRGC mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Yordania menggunakan rudal balistik. Media pemerintah Iran juga melaporkan serangan pesawat nirawak dalam skala besar terhadap pangkalan AS di Bahrain.

Yordania kemudian menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 10 dari 13 rudal balistik yang memasuki wilayahnya.

Sementara itu, dua pejabat AS mengatakan belum ada laporan mengenai korban dari pihak Amerika akibat serangan tersebut.

Kuwait secara terpisah menyatakan angkatan bersenjatanya merespons aktivitas pesawat nirawak yang dianggap bermusuhan.

Rangkaian serangan tersebut menambah kekhawatiran pasar bahwa konflik AS-Iran tidak lagi terbatas pada dua negara, tetapi berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat produksi dan distribusi minyak dunia.

Kapal Tanker Jadi Perhatian Pasar

Kekhawatiran pasar semakin besar setelah dua kapal tanker yang berangkat dari kawasan Selat Hormuz dilaporkan menjadi sasaran serangan pada Senin lalu.

Gangguan terhadap kapal tanker menjadi alarm serius bagi pasar minyak karena sebagian besar perdagangan energi dari kawasan Teluk sangat bergantung pada kelancaran jalur pelayaran tersebut.

Pelaku usaha minyak pun mulai mencari alternatif rute pengiriman untuk mengurangi risiko akibat meningkatnya ketegangan keamanan.

Namun, pengalihan rute berpotensi meningkatkan jarak tempuh, biaya angkutan, premi asuransi, dan pada akhirnya harga minyak yang diterima konsumen.

Dengan kata lain, pasar kini tidak hanya memperhitungkan apakah produksi minyak terganggu, tetapi juga seberapa mahal dan sulit minyak tersebut dikirim ke konsumen.

Stok Minyak AS Ikut Menyusut

Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari sisi domestik AS. Persediaan minyak mentah Amerika Serikat, yang merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia, tercatat turun 2,6 juta barel pada pekan yang berakhir 28 Agustus.

Data tersebut berdasarkan laporan American Petroleum Institute (API).

Pada periode yang sama, persediaan produk sulingan, termasuk diesel dan minyak pemanas, juga turun sekitar 265 ribu barel.

Penurunan stok tersebut menjadi faktor tambahan yang memperkuat sentimen bullish di pasar minyak.

Kombinasi antara risiko gangguan pasokan Timur Tengah, ancaman terhadap Selat Hormuz, serangan terhadap kapal tanker, dan penurunan persediaan minyak AS membuat pasar semakin sensitif terhadap setiap perkembangan konflik.

Bagi pasar energi, persoalannya kini bukan semata-mata seberapa besar serangan AS dan Iran, tetapi apakah eskalasi tersebut akan mengganggu aliran minyak dari kawasan Teluk secara berkepanjangan.

Jika gangguan pasokan benar-benar terjadi, harga minyak berpotensi kembali mendapatkan tekanan naik. Sebaliknya, jika jalur pelayaran dapat kembali normal dan konflik mereda, sebagian besar premi risiko yang saat ini melekat pada harga minyak berpeluang terkikis.

Untuk sementara, Selat Hormuz menjadi titik kunci yang akan menentukan arah harga minyak dunia. Semakin besar ancaman terhadap jalur tersebut, semakin besar pula risiko lonjakan harga energi global. (cnn)

Home / Ekonomi
Pasar Energi Terguncang Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia Tembus US$95 per Barel
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 2 September 2026 | 17:52:50
Pasar Energi Terguncang Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia Tembus US$95 per Barel
Harga minyak dunia melonjak lagi menyusul meningkatnya eskalasi perang AS-Iran dua hari terakhir. (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah global melonjak hampir 1 persen pada perdagangan Rabu (2/9/2026), dipicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan minyak akibat meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak terutama dipengaruhi ancaman terhadap lalu lintas energi melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.

Harga minyak Brent untuk pengiriman mendatang tercatat naik 87 sen atau 0,92 persen menjadi US$95,52 per barel pada pukul 00.08 GMT atau sekitar 07.08 WIB. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 80 sen atau 0,89 persen menjadi US$91,02 per barel.

Lonjakan tersebut melanjutkan kenaikan tajam sehari sebelumnya. Pada perdagangan Selasa (1/9), harga Brent dan WTI masing-masing sempat melonjak lebih dari US$4 per barel.

Kenaikan itu menjadi penguatan harian terbesar Brent sejak 24 Juli dan WTI sejak 23 Juli.

Serangan AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasokan

Pasar minyak kembali berada dalam tekanan setelah AS melancarkan serangkaian serangan udara terhadap sejumlah target di Iran pada malam sebelumnya. Iran kemudian merespons dengan serangan terhadap sejumlah sasaran yang terkait dengan kepentingan militer AS di kawasan.

Komando Pusat AS atau U.S. Central Command menyatakan serangan militernya dilakukan setelah adanya upaya serangan terbaru oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz serta personel militer AS yang berada di kawasan tersebut.

Eskalasi tersebut langsung meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap keamanan jalur distribusi minyak global.

Pasalnya, Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat strategis bagi perdagangan energi. Sebelum konflik memanas, sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati jalur perairan tersebut.

Kini, ancaman penutupan atau pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak.

IRGC bahkan menyatakan serangan AS berpotensi semakin membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz dan Iran telah menutup jalur tersebut bagi pelayaran komersial.

Jika gangguan berlangsung lama, pasar menghadapi risiko berkurangnya pasokan minyak yang tersedia sekaligus meningkatnya biaya dan risiko pengiriman.

Serangan Meluas ke Sejumlah Negara

Respons Iran terhadap serangan AS juga meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengganggu infrastruktur energi serta jalur pelayaran di kawasan Teluk.

IRGC mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Yordania menggunakan rudal balistik. Media pemerintah Iran juga melaporkan serangan pesawat nirawak dalam skala besar terhadap pangkalan AS di Bahrain.

Yordania kemudian menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 10 dari 13 rudal balistik yang memasuki wilayahnya.

Sementara itu, dua pejabat AS mengatakan belum ada laporan mengenai korban dari pihak Amerika akibat serangan tersebut.

Kuwait secara terpisah menyatakan angkatan bersenjatanya merespons aktivitas pesawat nirawak yang dianggap bermusuhan.

Rangkaian serangan tersebut menambah kekhawatiran pasar bahwa konflik AS-Iran tidak lagi terbatas pada dua negara, tetapi berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat produksi dan distribusi minyak dunia.

Kapal Tanker Jadi Perhatian Pasar

Kekhawatiran pasar semakin besar setelah dua kapal tanker yang berangkat dari kawasan Selat Hormuz dilaporkan menjadi sasaran serangan pada Senin lalu.

Gangguan terhadap kapal tanker menjadi alarm serius bagi pasar minyak karena sebagian besar perdagangan energi dari kawasan Teluk sangat bergantung pada kelancaran jalur pelayaran tersebut.

Pelaku usaha minyak pun mulai mencari alternatif rute pengiriman untuk mengurangi risiko akibat meningkatnya ketegangan keamanan.

Namun, pengalihan rute berpotensi meningkatkan jarak tempuh, biaya angkutan, premi asuransi, dan pada akhirnya harga minyak yang diterima konsumen.

Dengan kata lain, pasar kini tidak hanya memperhitungkan apakah produksi minyak terganggu, tetapi juga seberapa mahal dan sulit minyak tersebut dikirim ke konsumen.

Stok Minyak AS Ikut Menyusut

Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari sisi domestik AS. Persediaan minyak mentah Amerika Serikat, yang merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia, tercatat turun 2,6 juta barel pada pekan yang berakhir 28 Agustus.

Data tersebut berdasarkan laporan American Petroleum Institute (API).

Pada periode yang sama, persediaan produk sulingan, termasuk diesel dan minyak pemanas, juga turun sekitar 265 ribu barel.

Penurunan stok tersebut menjadi faktor tambahan yang memperkuat sentimen bullish di pasar minyak.

Kombinasi antara risiko gangguan pasokan Timur Tengah, ancaman terhadap Selat Hormuz, serangan terhadap kapal tanker, dan penurunan persediaan minyak AS membuat pasar semakin sensitif terhadap setiap perkembangan konflik.

Bagi pasar energi, persoalannya kini bukan semata-mata seberapa besar serangan AS dan Iran, tetapi apakah eskalasi tersebut akan mengganggu aliran minyak dari kawasan Teluk secara berkepanjangan.

Jika gangguan pasokan benar-benar terjadi, harga minyak berpotensi kembali mendapatkan tekanan naik. Sebaliknya, jika jalur pelayaran dapat kembali normal dan konflik mereda, sebagian besar premi risiko yang saat ini melekat pada harga minyak berpeluang terkikis.

Untuk sementara, Selat Hormuz menjadi titik kunci yang akan menentukan arah harga minyak dunia. Semakin besar ancaman terhadap jalur tersebut, semakin besar pula risiko lonjakan harga energi global. (cnn)