logo
Optimalisasi Hak Kesehatan WBP, Lapas Bagansiapiapi Gandeng RS Cahaya Ujung Tanj Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Keroyok Tukang Gigi hingga Tewas ,Tiga Pemuda Jadi Tersangka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pasar Kodim Diduga Dialihfungsikan Jadi Kampus, KOMPOR Foundation dan PPSP Perta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPR Dengarkan Tuntutan 36 Ribu Kades AMJ Terkait Perpanjangan Masa Jabatan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menpora dan Ketua KOI Resmi Kukuhkan Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Perkasa, Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kembali ke Pasar In Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Komjak RI Turun ke Kejari Pekanbaru, Pastikan Pengaduan Masyarakat Ditindaklanju Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Eskalasi Konflik Memanas, Harga Minyak Dunia Mendekati Level US$100 per Barel Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Konflik Global Picu Lonjakan Beban Subsidi Energi Hingga Rp300 Triliun
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menghitung pembengkakan kompensasi dan subsidi energi bisa mencapai Rp300 triliun dari anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya akibat konflik geopolitik.
Konflik Global Picu Lonjakan Beban Subsidi Energi Hingga Rp300 Triliun
Editor: putrajaya
Rubrik: ekonomi | 2 September 2026 | 16:07:27

Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menghitung pembengkakan kompensasi dan subsidi energi bisa mencapai Rp300 triliun dari anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya akibat konflik geopolitik.

“Kami dari Kementerian ESDM sudah menghitung ini dampak kenaikan ini, kalau kita tidak antisipasi dengan ketersediaan energi baru dan terbarukan, ini konsekuensinya peningkatan kompensasi dan subsidi, dari Rp400 triliun itu bisa meningkat sekitar Rp300 triliun,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot dalam The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu.

Ketegangan global tersebut dipicu oleh peperangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berdampak langsung pada terganggunya rantai pasok energi dunia. Situasi krisis ini turut diperparah oleh konflik berkepanjangan antara Ukraina dan Rusia.

iklan-view

“Ini memicu keterbatasan ketersediaan energi secara global,” ucap dia.

Berdasarkan paparan Yuliot, kenaikan biaya energi ini berimbas pada lonjakan inflasi serta pembengkakan biaya produksi sektor industri. Situasi tersebut dinilai berpotensi membawa dampak luas berupa krisis makroekonomi secara keseluruhan.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah kini menggenjot pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Kebijakan transisi energi ini selaras dengan program prioritas Astacita, khususnya dalam mewujudkan kemandirian bangsa lewat swasembada energi sekaligus memperkuat ketahanan negara.

“Kami melihat dari sisi kita swasembada energi dan hilirisasi, ini akan meningkatkan penyediaan energi dan juga perluasan akses dan jangkauan terhadap energi bagi industri dan masyarakat secara keseluruhan,” ujar Yuliot. (*)

Home / Ekonomi
Konflik Global Picu Lonjakan Beban Subsidi Energi Hingga Rp300 Triliun
Editor: putrajaya
Rubrik: ekonomi | 2 September 2026 | 16:07:27
Konflik Global Picu Lonjakan Beban Subsidi Energi Hingga Rp300 Triliun
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menghitung pembengkakan kompensasi dan subsidi energi bisa mencapai Rp300 triliun dari anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya akibat konflik geopolitik.

Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menghitung pembengkakan kompensasi dan subsidi energi bisa mencapai Rp300 triliun dari anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya akibat konflik geopolitik.

“Kami dari Kementerian ESDM sudah menghitung ini dampak kenaikan ini, kalau kita tidak antisipasi dengan ketersediaan energi baru dan terbarukan, ini konsekuensinya peningkatan kompensasi dan subsidi, dari Rp400 triliun itu bisa meningkat sekitar Rp300 triliun,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot dalam The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu.

Ketegangan global tersebut dipicu oleh peperangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berdampak langsung pada terganggunya rantai pasok energi dunia. Situasi krisis ini turut diperparah oleh konflik berkepanjangan antara Ukraina dan Rusia.

“Ini memicu keterbatasan ketersediaan energi secara global,” ucap dia.

Berdasarkan paparan Yuliot, kenaikan biaya energi ini berimbas pada lonjakan inflasi serta pembengkakan biaya produksi sektor industri. Situasi tersebut dinilai berpotensi membawa dampak luas berupa krisis makroekonomi secara keseluruhan.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah kini menggenjot pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Kebijakan transisi energi ini selaras dengan program prioritas Astacita, khususnya dalam mewujudkan kemandirian bangsa lewat swasembada energi sekaligus memperkuat ketahanan negara.

“Kami melihat dari sisi kita swasembada energi dan hilirisasi, ini akan meningkatkan penyediaan energi dan juga perluasan akses dan jangkauan terhadap energi bagi industri dan masyarakat secara keseluruhan,” ujar Yuliot. (*)