logo
Terbitkan Surat Rekomendasi, ‎Bupati Rohil Resmi Dukung Pembentukan Provinsi Ria Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dari Rekam Medis Menuju Rekam Pendidikan Nasional Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kualitas Udara Pekanbaru Mulai Membaik, Saatnya Kembali Sekolah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi PERBASASI Riau Tancap Gas, Matangkan Regenerasi Atlet hingga Kejuaraan Internasi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Hotspot Riau Melonjak Jadi 317 Titik, Indragiri Hulu Tertinggi Capai 154 Titik Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dua Hari Dicari Belum Berjejak, Keberadaan 5 Jurnalis dan 3 Kru di Sekitar Anak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kopdes Merah Putih Diklaim Tak Matikan UMKM, Disperindagkop UKM: Justru Jadi Pen Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Optimalisasi Hak Kesehatan WBP, Lapas Bagansiapiapi Gandeng RS Cahaya Ujung Tanj Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Rupiah Perkasa ke Rp17.679 per Dolar AS, Kepemimpinan Baru BI Jadi Sorotan Pasar
Ilustrasi. Rupiah menguat tajam dalam penutupan perdagangan, Kamis (3/9/2026) petang. (Foto: Istimewa)
Rupiah Perkasa ke Rp17.679 per Dolar AS, Kepemimpinan Baru BI Jadi Sorotan Pasar
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 3 September 2026 | 16:22:11

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Kamis (3/9/2026), mata uang Garuda ditutup di level Rp17.679 per dolar AS, menguat 105 poin dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di Rp17.763 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi di tengah perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), terutama setelah Destry Damayanti resmi dilantik sebagai Gubernur BI pada Rabu (2/9/2026).

Destry menjadi perempuan pertama yang memimpin bank sentral Indonesia. Pergantian kepemimpinan tersebut sekaligus membuka babak baru bagi BI dalam menghadapi tekanan nilai tukar, inflasi, arus modal, hingga ketidakpastian ekonomi global.

iklan-view

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Pasar, menurut dia, kini turut mencermati bagaimana Destry akan menerjemahkan arah kebijakan BI ke depan.

Dalam proses penetapannya sebagai Gubernur BI, Destry menegaskan komitmen untuk memastikan kebijakan bank sentral tetap responsif terhadap perubahan kondisi ekonomi, sembari menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Arah kebijakan tersebut akan bertumpu pada tiga prinsip, yakni impactful atau memberikan dampak nyata, inklusif, dan integratif. Ketiganya akan menjadi bagian dari semangat Sinergi Merah Putih dalam memperkuat kontribusi BI terhadap perekonomian nasional.

Namun, tantangan Destry tidak ringan. Salah satu pekerjaan rumah terbesar BI adalah menjaga stabilitas harga ketika tekanan inflasi masih berpotensi meningkat.

Kenaikan biaya input dan logistik, harga energi, serta potensi gangguan pasokan pangan akibat fenomena El Niño menjadi sejumlah risiko yang harus diantisipasi. Karena itu, koordinasi BI dengan pemerintah dan kementerian/lembaga terkait menjadi semakin penting untuk menjaga inflasi tetap terkendali.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga tidak hanya datang dari dalam negeri. Perkembangan kebijakan moneter bank sentral negara maju akan menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan nilai tukar ke depan.

Jika suku bunga global bertahan tinggi lebih lama atau berada dalam skenario higher for longer, arus modal menuju negara berkembang seperti Indonesia berpotensi ikut terpengaruh. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Di tengah situasi tersebut, BI menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah, pengendalian inflasi, dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Penguatan rupiah ke Rp17.679 per dolar AS pada perdagangan Kamis menjadi sinyal positif bagi pasar. Namun, pergerakan mata uang Garuda ke depan tetap akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global sekaligus seberapa efektif BI di bawah kepemimpinan baru Destry Damayanti merespons berbagai tekanan ekonomi.

Dengan demikian, pasar kini tidak hanya menunggu arah rupiah, tetapi juga menanti jurus baru BI dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. (*)

Home / Ekonomi
Rupiah Perkasa ke Rp17.679 per Dolar AS, Kepemimpinan Baru BI Jadi Sorotan Pasar
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 3 September 2026 | 16:22:11
Rupiah Perkasa ke Rp17.679 per Dolar AS, Kepemimpinan Baru BI Jadi Sorotan Pasar
Ilustrasi. Rupiah menguat tajam dalam penutupan perdagangan, Kamis (3/9/2026) petang. (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Kamis (3/9/2026), mata uang Garuda ditutup di level Rp17.679 per dolar AS, menguat 105 poin dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di Rp17.763 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi di tengah perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), terutama setelah Destry Damayanti resmi dilantik sebagai Gubernur BI pada Rabu (2/9/2026).

Destry menjadi perempuan pertama yang memimpin bank sentral Indonesia. Pergantian kepemimpinan tersebut sekaligus membuka babak baru bagi BI dalam menghadapi tekanan nilai tukar, inflasi, arus modal, hingga ketidakpastian ekonomi global.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Pasar, menurut dia, kini turut mencermati bagaimana Destry akan menerjemahkan arah kebijakan BI ke depan.

Dalam proses penetapannya sebagai Gubernur BI, Destry menegaskan komitmen untuk memastikan kebijakan bank sentral tetap responsif terhadap perubahan kondisi ekonomi, sembari menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Arah kebijakan tersebut akan bertumpu pada tiga prinsip, yakni impactful atau memberikan dampak nyata, inklusif, dan integratif. Ketiganya akan menjadi bagian dari semangat Sinergi Merah Putih dalam memperkuat kontribusi BI terhadap perekonomian nasional.

Namun, tantangan Destry tidak ringan. Salah satu pekerjaan rumah terbesar BI adalah menjaga stabilitas harga ketika tekanan inflasi masih berpotensi meningkat.

Kenaikan biaya input dan logistik, harga energi, serta potensi gangguan pasokan pangan akibat fenomena El Niño menjadi sejumlah risiko yang harus diantisipasi. Karena itu, koordinasi BI dengan pemerintah dan kementerian/lembaga terkait menjadi semakin penting untuk menjaga inflasi tetap terkendali.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga tidak hanya datang dari dalam negeri. Perkembangan kebijakan moneter bank sentral negara maju akan menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan nilai tukar ke depan.

Jika suku bunga global bertahan tinggi lebih lama atau berada dalam skenario higher for longer, arus modal menuju negara berkembang seperti Indonesia berpotensi ikut terpengaruh. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Di tengah situasi tersebut, BI menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah, pengendalian inflasi, dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Penguatan rupiah ke Rp17.679 per dolar AS pada perdagangan Kamis menjadi sinyal positif bagi pasar. Namun, pergerakan mata uang Garuda ke depan tetap akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global sekaligus seberapa efektif BI di bawah kepemimpinan baru Destry Damayanti merespons berbagai tekanan ekonomi.

Dengan demikian, pasar kini tidak hanya menunggu arah rupiah, tetapi juga menanti jurus baru BI dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. (*)