
JAKARTA - PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), merampungkan proyek pengembangan Sisi Nubi Area of Interest (SNB AOI) 1-3-5 setelah Platform WPN-5 mulai beroperasi (onstream) pada 24 Agustus 2026.
“Di PHI, kami terus berinvestasi dalam pengembangan lapangan migas, seperti pada proyek PHM SNB AOI 1-3-5, sejalan dengan visi dan misi Perusahaan, serta komitmen PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan PT Pertamina (Persero) selaku subholding upstream dan holding untuk menyediakan energi yang berkelanjutan bagi Indonesia,” ujar Direktur Utama PHI Muharram Jaya Panguriseng dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Jumat (04/9/2026.
WPN-5 bertindak sebagai platform keenam sekaligus struktur terakhir yang melengkapi rangkaian Proyek SNB AOI 1-3-5. Sebelum fasilitas ini aktif, PHM secara berurutan telah mengoperasikan lima platform terdahulu, yakni WPS-4 pada 4 Desember 2025, WPS-5 pada 21 Februari 2026, WPN-7 pada 23 Maret 2026, WPN-6 pada 5 Juni 2026, dan WPN-8 pada 5 Juli 2026.

Momen aktifnya platform pamungkas dalam proyek tersebut ditandai dengan dimulainya produksi dari Sumur NB-501. Sumur ini sukses menorehkan angka produksi hingga 6,12 juta standar kaki kubik gas per hari (mmscfd) seusai melewati tahapan peningkatan produksi atau ramp up secara bertahap.
Keberhasilan merampungkan Proyek SNB AOI 1-3-5 beserta masuknya Platform WPN-5 ke fase onstream dinilai sebagai pencapaian krusial bagi perjalanan PHM maupun sektor hulu minyak dan gas bumi di tingkat nasional.
Lepas beroperasinya WPN-5, manajemen PHM tetap melanjutkan rangkaian pekerjaan teknis melalui tahap pengembangan Sumur NB-502. Tim Well Intervention saat ini tengah menjalankan instalasi sand screen guna membendung material pasir asal formasi sekaligus mempertahankan stabilitas produksi.
Begitu tahapan teknis tersebut rampung, sumur direncanakan berlanjut ke fase Put on Production (POP). Besaran tingkat produksi nantinya bakal disesuaikan secara cermat dengan acuan prognosis serta batasan operasional mechanical screen demi menjamin keamanan dan keoptimalan hasil produksi (*)







JAKARTA - PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), merampungkan proyek pengembangan Sisi Nubi Area of Interest (SNB AOI) 1-3-5 setelah Platform WPN-5 mulai beroperasi (onstream) pada 24 Agustus 2026.
“Di PHI, kami terus berinvestasi dalam pengembangan lapangan migas, seperti pada proyek PHM SNB AOI 1-3-5, sejalan dengan visi dan misi Perusahaan, serta komitmen PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan PT Pertamina (Persero) selaku subholding upstream dan holding untuk menyediakan energi yang berkelanjutan bagi Indonesia,” ujar Direktur Utama PHI Muharram Jaya Panguriseng dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Jumat (04/9/2026.
WPN-5 bertindak sebagai platform keenam sekaligus struktur terakhir yang melengkapi rangkaian Proyek SNB AOI 1-3-5. Sebelum fasilitas ini aktif, PHM secara berurutan telah mengoperasikan lima platform terdahulu, yakni WPS-4 pada 4 Desember 2025, WPS-5 pada 21 Februari 2026, WPN-7 pada 23 Maret 2026, WPN-6 pada 5 Juni 2026, dan WPN-8 pada 5 Juli 2026.
Momen aktifnya platform pamungkas dalam proyek tersebut ditandai dengan dimulainya produksi dari Sumur NB-501. Sumur ini sukses menorehkan angka produksi hingga 6,12 juta standar kaki kubik gas per hari (mmscfd) seusai melewati tahapan peningkatan produksi atau ramp up secara bertahap.
Keberhasilan merampungkan Proyek SNB AOI 1-3-5 beserta masuknya Platform WPN-5 ke fase onstream dinilai sebagai pencapaian krusial bagi perjalanan PHM maupun sektor hulu minyak dan gas bumi di tingkat nasional.
Lepas beroperasinya WPN-5, manajemen PHM tetap melanjutkan rangkaian pekerjaan teknis melalui tahap pengembangan Sumur NB-502. Tim Well Intervention saat ini tengah menjalankan instalasi sand screen guna membendung material pasir asal formasi sekaligus mempertahankan stabilitas produksi.
Begitu tahapan teknis tersebut rampung, sumur direncanakan berlanjut ke fase Put on Production (POP). Besaran tingkat produksi nantinya bakal disesuaikan secara cermat dengan acuan prognosis serta batasan operasional mechanical screen demi menjamin keamanan dan keoptimalan hasil produksi (*)