
JAKARTA - Rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan catatan positif. Mata uang Garuda kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ditopang meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pelemahan dolar serta menguatnya mata uang Asia.
Pada perdagangan Jumat (4/9/2026), rupiah ditutup di level Rp17.642 per dolar AS, menguat 37 poin atau 0,21 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.679 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi ketika tekanan terhadap dolar AS semakin meningkat di pasar global. Salah satu pemicunya adalah berlanjutnya apresiasi yen Jepang yang memperkuat ekspektasi bahwa arus dana investor mulai bergeser dari aset berbasis dolar menuju mata uang Asia dan negara-negara emerging markets.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan meningkatnya ekspektasi terhadap pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menopang penguatan rupiah.
"Meningkatnya ekspektasi terhadap pelemahan dolar AS lebih lanjut, di tengah berlanjutnya apresiasi yen, turut mendukung tren penguatan rupiah," ujar Josua di Jakarta, seperti dikutip antaranews.
Menurut dia, pasar juga mencermati kemungkinan adanya intervensi terkoordinasi untuk menopang yen serta peluang kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BoJ).
Jika ekspektasi tersebut semakin kuat, permintaan terhadap dolar AS berpotensi ikut tertekan. Kondisi ini membuka ruang bagi investor untuk mengalihkan sebagian portofolionya ke mata uang Asia dan aset negara berkembang, termasuk rupiah.
Sentimen The Fed
Dari Amerika Serikat, arah kebijakan Federal Reserve atau The Fed turut menjadi perhatian investor. Pernyataan pejabat The Fed Christopher Waller yang dinilai dovish ikut memperkuat tekanan terhadap dolar AS.
Waller menyampaikan kecenderungannya untuk mempertahankan stance kebijakan saat ini apabila tren moderasi inflasi terus berlanjut.
Pernyataan tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan prospek kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026.
Josua menyebut pandangan dovish tersebut menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC bulan ini. Alhasil, daya tarik dolar AS berpotensi ikut berkurang.
"Hingga pagi ini, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC September 2026 yang tercermin di pasar hanya berada di sekitar 50 persen," kata Josua.
Bagi rupiah, kombinasi antara pelemahan ekspektasi terhadap dolar AS, penguatan yen, serta meningkatnya peluang kebijakan moneter The Fed yang lebih longgar menjadi sentimen positif.
Penguatan rupiah pada perdagangan terakhir pekan ini juga sejalan dengan pergerakan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.
Pada Jumat, JISDOR tercatat menguat ke Rp17.636 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.689 per dolar AS.
Dengan demikian, baik kurs pasar maupun JISDOR sama-sama menunjukkan penguatan rupiah pada akhir perdagangan pekan ini. (*)







JAKARTA - Rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan catatan positif. Mata uang Garuda kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ditopang meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pelemahan dolar serta menguatnya mata uang Asia.
Pada perdagangan Jumat (4/9/2026), rupiah ditutup di level Rp17.642 per dolar AS, menguat 37 poin atau 0,21 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.679 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi ketika tekanan terhadap dolar AS semakin meningkat di pasar global. Salah satu pemicunya adalah berlanjutnya apresiasi yen Jepang yang memperkuat ekspektasi bahwa arus dana investor mulai bergeser dari aset berbasis dolar menuju mata uang Asia dan negara-negara emerging markets.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan meningkatnya ekspektasi terhadap pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menopang penguatan rupiah.
"Meningkatnya ekspektasi terhadap pelemahan dolar AS lebih lanjut, di tengah berlanjutnya apresiasi yen, turut mendukung tren penguatan rupiah," ujar Josua di Jakarta, seperti dikutip antaranews.
Menurut dia, pasar juga mencermati kemungkinan adanya intervensi terkoordinasi untuk menopang yen serta peluang kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BoJ).
Jika ekspektasi tersebut semakin kuat, permintaan terhadap dolar AS berpotensi ikut tertekan. Kondisi ini membuka ruang bagi investor untuk mengalihkan sebagian portofolionya ke mata uang Asia dan aset negara berkembang, termasuk rupiah.
Sentimen The Fed
Dari Amerika Serikat, arah kebijakan Federal Reserve atau The Fed turut menjadi perhatian investor. Pernyataan pejabat The Fed Christopher Waller yang dinilai dovish ikut memperkuat tekanan terhadap dolar AS.
Waller menyampaikan kecenderungannya untuk mempertahankan stance kebijakan saat ini apabila tren moderasi inflasi terus berlanjut.
Pernyataan tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan prospek kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026.
Josua menyebut pandangan dovish tersebut menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC bulan ini. Alhasil, daya tarik dolar AS berpotensi ikut berkurang.
"Hingga pagi ini, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC September 2026 yang tercermin di pasar hanya berada di sekitar 50 persen," kata Josua.
Bagi rupiah, kombinasi antara pelemahan ekspektasi terhadap dolar AS, penguatan yen, serta meningkatnya peluang kebijakan moneter The Fed yang lebih longgar menjadi sentimen positif.
Penguatan rupiah pada perdagangan terakhir pekan ini juga sejalan dengan pergerakan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.
Pada Jumat, JISDOR tercatat menguat ke Rp17.636 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.689 per dolar AS.
Dengan demikian, baik kurs pasar maupun JISDOR sama-sama menunjukkan penguatan rupiah pada akhir perdagangan pekan ini. (*)