
ROKAN HILIR - Wakil Bupati Rokan Hilir Jhony Charles, BBA., MBA., mengapresiasi gerak cepat personel gabungan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kepenghuluan Bantaian, Kecamatan Batu Hampar.
Apresiasi itu disampaikan menyusul masih munculnya asap dari areal bekas kebakaran yang berada di eks Pola KKPA Kepenghuluan Bantaian. Kondisi tersebut mendapat perhatian karena lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut yang memiliki potensi menyimpan bara di bawah permukaan tanah.
"Waspada Karhutla. Apresiasi buat pihak Kepolisian, TNI, BPBD Kabupaten Rohil dan masyarakat peduli api yang sigap menangani api yang muncul di Kecamatan Batu Hampar," kata Jhony Charles, Kamis (10/9/2026).

Menurut Jhony, kecepatan petugas dalam melakukan pemadaman dan pendinginan menjadi langkah penting untuk mencegah api kembali membesar. Penanganan juga membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, termasuk masyarakat di sekitar lokasi.
"Kami menghimbau masyarakat untuk tetap menjaga titik api, jangan sampai muncul di Kabupaten Rokan Hilir," ujarnya.
Ia menegaskan, pencegahan Karhutla harus menjadi perhatian bersama. Masyarakat diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar, karena dampaknya dapat meluas dan merugikan banyak pihak.
"Dampak tidak baiknya dirasakan kita semua. Mari kita bersama-sama menjaga agar titik api tidak muncul dan Karhutla tidak kembali terjadi di Rokan Hilir," tegas Jhony.
Sebelumnya, sebanyak 58 personel gabungan diterjunkan melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi tersebut pada Selasa (8/9/2026), mulai pukul 09.00 WIB hingga sekitar pukul 16.30 WIB.
Personel terdiri dari Polsek Batu Hampar, TNI, pemerintah kecamatan, Pemerintah Kepenghuluan Bantaian dan MPA, Damkar PT Sindora Seraya, BPBD, tenaga kesehatan Puskesmas Batu Hampar serta masyarakat.
Dari hasil penanganan, diketahui terdapat satu titik hotspot dengan luas lahan terbakar sekitar 1,5 hektare. Lahan tersebut merupakan perkebunan sawit tanaman muda milik Supendi, warga Kepenghuluan Bantaian.
Kondisi tanah gambut dengan kedalaman sekitar satu meter membuat proses pendinginan harus dilakukan secara menyeluruh. Bara api yang berada di bawah permukaan tanah dapat sewaktu-waktu kembali muncul dan memicu kebakaran.
Kapolsek Batu Hampar IPTU Irfan Siswanto, S.H., M.H., mengatakan pihaknya tidak ingin menganggap kebakaran telah benar-benar padam hanya karena kobaran api tidak lagi terlihat.
"Di lahan gambut, bara bisa bertahan di bawah permukaan dan sewaktu-waktu kembali membakar. Karena itu pendinginan dan pemantauan terus kami lakukan," ujarnya.
Selain melakukan pemadaman dan pendinginan, petugas juga melakukan pendataan pemilik lahan serta mencari saksi untuk mengetahui penyebab kebakaran.
Pemantauan terhadap potensi munculnya titik api baru terus dilakukan melalui Dashboard Lancang Kuning (DLK), patroli lapangan dan koordinasi dengan pihak terkait.
Hingga kegiatan berakhir, areal bekas kebakaran masih menyisakan asap. Namun kondisi secara umum aman dan terkendali. Petugas tetap melakukan pemantauan dan pendinginan secara berkala guna memastikan bara tidak kembali memicu Karhutla. (rom)







ROKAN HILIR - Wakil Bupati Rokan Hilir Jhony Charles, BBA., MBA., mengapresiasi gerak cepat personel gabungan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kepenghuluan Bantaian, Kecamatan Batu Hampar.
Apresiasi itu disampaikan menyusul masih munculnya asap dari areal bekas kebakaran yang berada di eks Pola KKPA Kepenghuluan Bantaian. Kondisi tersebut mendapat perhatian karena lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut yang memiliki potensi menyimpan bara di bawah permukaan tanah.
"Waspada Karhutla. Apresiasi buat pihak Kepolisian, TNI, BPBD Kabupaten Rohil dan masyarakat peduli api yang sigap menangani api yang muncul di Kecamatan Batu Hampar," kata Jhony Charles, Kamis (10/9/2026).
Menurut Jhony, kecepatan petugas dalam melakukan pemadaman dan pendinginan menjadi langkah penting untuk mencegah api kembali membesar. Penanganan juga membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, termasuk masyarakat di sekitar lokasi.
"Kami menghimbau masyarakat untuk tetap menjaga titik api, jangan sampai muncul di Kabupaten Rokan Hilir," ujarnya.
Ia menegaskan, pencegahan Karhutla harus menjadi perhatian bersama. Masyarakat diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar, karena dampaknya dapat meluas dan merugikan banyak pihak.
"Dampak tidak baiknya dirasakan kita semua. Mari kita bersama-sama menjaga agar titik api tidak muncul dan Karhutla tidak kembali terjadi di Rokan Hilir," tegas Jhony.
Sebelumnya, sebanyak 58 personel gabungan diterjunkan melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi tersebut pada Selasa (8/9/2026), mulai pukul 09.00 WIB hingga sekitar pukul 16.30 WIB.
Personel terdiri dari Polsek Batu Hampar, TNI, pemerintah kecamatan, Pemerintah Kepenghuluan Bantaian dan MPA, Damkar PT Sindora Seraya, BPBD, tenaga kesehatan Puskesmas Batu Hampar serta masyarakat.
Dari hasil penanganan, diketahui terdapat satu titik hotspot dengan luas lahan terbakar sekitar 1,5 hektare. Lahan tersebut merupakan perkebunan sawit tanaman muda milik Supendi, warga Kepenghuluan Bantaian.
Kondisi tanah gambut dengan kedalaman sekitar satu meter membuat proses pendinginan harus dilakukan secara menyeluruh. Bara api yang berada di bawah permukaan tanah dapat sewaktu-waktu kembali muncul dan memicu kebakaran.
Kapolsek Batu Hampar IPTU Irfan Siswanto, S.H., M.H., mengatakan pihaknya tidak ingin menganggap kebakaran telah benar-benar padam hanya karena kobaran api tidak lagi terlihat.
"Di lahan gambut, bara bisa bertahan di bawah permukaan dan sewaktu-waktu kembali membakar. Karena itu pendinginan dan pemantauan terus kami lakukan," ujarnya.
Selain melakukan pemadaman dan pendinginan, petugas juga melakukan pendataan pemilik lahan serta mencari saksi untuk mengetahui penyebab kebakaran.
Pemantauan terhadap potensi munculnya titik api baru terus dilakukan melalui Dashboard Lancang Kuning (DLK), patroli lapangan dan koordinasi dengan pihak terkait.
Hingga kegiatan berakhir, areal bekas kebakaran masih menyisakan asap. Namun kondisi secara umum aman dan terkendali. Petugas tetap melakukan pemantauan dan pendinginan secara berkala guna memastikan bara tidak kembali memicu Karhutla. (rom)