logo
● PT AIP Komitmen Rp57 Miliar untuk Kebun Masyarakat, Empat Kampung Siak Menanti R Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Gedung BWSS III Mulai Dirobohkan, Pemprov Riau Buka Jalan Alternatif Cut Nyak Di Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polres Dumai Gerebek Tiga Titik Rawan Narkoba: 12 Orang Diamankan, 11 Positif Sa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Azis Subekti Desak Bongkar Aktor di Balik Perambahan Tesso Nilo, Penegakan Hukum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Dari Polemik Ijazah Gibran: Putusan Mengakhiri Perkara, Siapa Memulihkan Keperca Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Dramatis! PSPS Pekanbaru Tekuk PSMS Medan 2-1, Dua Pemain Pengganti Jadi Pahlawa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kualitas Udara Membaik, Siswa di Pekanbaru Kembali Belajar Tatap Muka Mulai Seni Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● UPDATE: Panama Tetapkan Darurat Nasional, Gempa Dahsyat Rusak 426 Rumah dan 419 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Penguatan Lima Hari Terhenti, Rupiah Melemah ke Rp17.547, Investor Tunggu Data Inflasi AS
Ilustrasi. Penguatan rupiah selama lima hari terhenti.
Penguatan Lima Hari Terhenti, Rupiah Melemah ke Rp17.547, Investor Tunggu Data Inflasi AS
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 10 September 2026 | 17:48:02

JAKARTA - Penguatan rupiah selama lima hari berturut-turut akhirnya terhenti. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (10/9/2026) melemah 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.547 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.511 per dolar AS.

Koreksi rupiah terjadi di tengah sikap investor yang cenderung wait and see menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, terutama Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI).

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelaku pasar memilih berhati-hati sebelum mengambil posisi baru karena kedua data tersebut dinilai akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

iklan-view

“Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sikap investor yang cenderung menunggu sebelum mengambil posisi baru. Pasar saat ini menantikan rilis PPI AS pada Kamis malam dan CPI AS pada Jumat (11/9) malam,” ujar Amru di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Menurut dia, koreksi rupiah juga merupakan bagian dari konsolidasi setelah mata uang Garuda mengalami penguatan cukup kuat dalam beberapa hari perdagangan terakhir. Meski demikian, sentimen domestik masih relatif positif dan dolar AS secara umum masih berada dalam tekanan.

Namun, kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun ke sekitar 4,84 persen kembali meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Kondisi tersebut ikut membatasi ruang penguatan rupiah.

“Meski sentimen domestik masih positif dan dolar AS secara umum masih berada dalam tekanan, kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke sekitar 4,84 persen kembali meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan menahan penguatan rupiah,” katanya.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari pasar komoditas. Harga minyak Brent kembali menembus level US$100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

Bagi Indonesia yang masih berstatus net importer minyak, kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan sekaligus menambah beban fiskal. Di sisi lain, harga minyak yang tinggi juga dapat memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi global dan prospek suku bunga.

Sebelumnya, rupiah mampu menguat selama lima hari beruntun, ditopang sentimen positif dari aliran dana masuk, terutama ke pasar obligasi domestik.

Masih Berpeluang Menguat

Meski terkoreksi pada perdagangan Kamis, Amru menilai peluang rupiah untuk kembali menguat masih terbuka dalam jangka pendek.

Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.450 hingga Rp17.600 per dolar AS.

Penguatan menuju level Rp17.450 akan semakin terbuka apabila pelemahan dolar AS berlanjut. Sebaliknya, jika data inflasi AS, khususnya CPI, tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar, tekanan terhadap rupiah berpotensi kembali meningkat karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Di tengah penantian pasar terhadap data PPI dan CPI AS, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati pergerakan yield obligasi AS, arah dolar AS, serta perkembangan harga minyak global sebagai faktor utama yang menentukan pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.

JISDOR Masih Menguat

Berbeda dengan kurs rupiah di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) justru masih melanjutkan penguatan.

Pada Kamis (10/9/2026), JISDOR berada di level Rp17.536 per dolar AS, menguat Rp16 atau 0,09 persen dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.552 per dolar AS.

Penguatan tersebut menjadi kenaikan JISDOR selama tiga hari perdagangan berturut-turut.

Perbedaan arah antara kurs spot dan JISDOR menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah pada perdagangan Kamis relatif terbatas. Pasar kini menunggu data ekonomi AS yang akan menjadi salah satu penentu penting arah mata uang Garuda selanjutnya. (*)

Home / Ekonomi
Penguatan Lima Hari Terhenti, Rupiah Melemah ke Rp17.547, Investor Tunggu Data Inflasi AS
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 10 September 2026 | 17:48:02
Penguatan Lima Hari Terhenti, Rupiah Melemah ke Rp17.547, Investor Tunggu Data Inflasi AS
Ilustrasi. Penguatan rupiah selama lima hari terhenti.

JAKARTA - Penguatan rupiah selama lima hari berturut-turut akhirnya terhenti. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (10/9/2026) melemah 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.547 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.511 per dolar AS.

Koreksi rupiah terjadi di tengah sikap investor yang cenderung wait and see menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, terutama Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI).

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelaku pasar memilih berhati-hati sebelum mengambil posisi baru karena kedua data tersebut dinilai akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

“Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sikap investor yang cenderung menunggu sebelum mengambil posisi baru. Pasar saat ini menantikan rilis PPI AS pada Kamis malam dan CPI AS pada Jumat (11/9) malam,” ujar Amru di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Menurut dia, koreksi rupiah juga merupakan bagian dari konsolidasi setelah mata uang Garuda mengalami penguatan cukup kuat dalam beberapa hari perdagangan terakhir. Meski demikian, sentimen domestik masih relatif positif dan dolar AS secara umum masih berada dalam tekanan.

Namun, kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun ke sekitar 4,84 persen kembali meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Kondisi tersebut ikut membatasi ruang penguatan rupiah.

“Meski sentimen domestik masih positif dan dolar AS secara umum masih berada dalam tekanan, kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke sekitar 4,84 persen kembali meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan menahan penguatan rupiah,” katanya.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari pasar komoditas. Harga minyak Brent kembali menembus level US$100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

Bagi Indonesia yang masih berstatus net importer minyak, kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan sekaligus menambah beban fiskal. Di sisi lain, harga minyak yang tinggi juga dapat memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi global dan prospek suku bunga.

Sebelumnya, rupiah mampu menguat selama lima hari beruntun, ditopang sentimen positif dari aliran dana masuk, terutama ke pasar obligasi domestik.

Masih Berpeluang Menguat

Meski terkoreksi pada perdagangan Kamis, Amru menilai peluang rupiah untuk kembali menguat masih terbuka dalam jangka pendek.

Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.450 hingga Rp17.600 per dolar AS.

Penguatan menuju level Rp17.450 akan semakin terbuka apabila pelemahan dolar AS berlanjut. Sebaliknya, jika data inflasi AS, khususnya CPI, tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar, tekanan terhadap rupiah berpotensi kembali meningkat karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Di tengah penantian pasar terhadap data PPI dan CPI AS, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati pergerakan yield obligasi AS, arah dolar AS, serta perkembangan harga minyak global sebagai faktor utama yang menentukan pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.

JISDOR Masih Menguat

Berbeda dengan kurs rupiah di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) justru masih melanjutkan penguatan.

Pada Kamis (10/9/2026), JISDOR berada di level Rp17.536 per dolar AS, menguat Rp16 atau 0,09 persen dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.552 per dolar AS.

Penguatan tersebut menjadi kenaikan JISDOR selama tiga hari perdagangan berturut-turut.

Perbedaan arah antara kurs spot dan JISDOR menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah pada perdagangan Kamis relatif terbatas. Pasar kini menunggu data ekonomi AS yang akan menjadi salah satu penentu penting arah mata uang Garuda selanjutnya. (*)