logo
● PT AIP Komitmen Rp57 Miliar untuk Kebun Masyarakat, Empat Kampung Siak Menanti R Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Gedung BWSS III Mulai Dirobohkan, Pemprov Riau Buka Jalan Alternatif Cut Nyak Di Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polres Dumai Gerebek Tiga Titik Rawan Narkoba: 12 Orang Diamankan, 11 Positif Sa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Azis Subekti Desak Bongkar Aktor di Balik Perambahan Tesso Nilo, Penegakan Hukum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Dari Polemik Ijazah Gibran: Putusan Mengakhiri Perkara, Siapa Memulihkan Keperca Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Dramatis! PSPS Pekanbaru Tekuk PSMS Medan 2-1, Dua Pemain Pengganti Jadi Pahlawa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kualitas Udara Membaik, Siswa di Pekanbaru Kembali Belajar Tatap Muka Mulai Seni Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● UPDATE: Panama Tetapkan Darurat Nasional, Gempa Dahsyat Rusak 426 Rumah dan 419 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / TEKNOLOGI
AI Masuk Ruang Akademik, Rektor UIR Soroti Etika dan Integritas Mahasiswa
Workshop Pemanfaatan AI dalam Penelitian dan Pembelajaran yang Berkualitas untuk Mahasiswa di Auditorium Gedung H. Rawi Kunin kampus UIR pada Sabtu, (12/9/2026). (Foto: Abdul Haris/ Pekanbarutv)
AI Masuk Ruang Akademik, Rektor UIR Soroti Etika dan Integritas Mahasiswa
Editor: Arya Mahendra | Penulis: abdul haris
Rubrik: news | 13 September 2026 | 13:49:56

PEKANBARU - Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan terus berkembang dan mulai banyak digunakan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Teknologi ini dinilai dapat membantu mahasiswa dan dosen dalam proses pembelajaran maupun penelitian.

Namun, penggunaan AI di lingkungan akademik juga memunculkan persoalan terkait etika dan integritas. Rektor Universitas Islam Riau (UIR), Admiral, mengatakan kehadiran AI memang dapat memudahkan kehidupan karena mampu membuat berbagai pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Meski demikian, nilai etika dalam penggunaannya tetap harus dijaga.

"Teknologi hadir untuk memudahkan kehidupan sehingga menjadi lebih efektif dan efisien, namun value etika penggunaannya meski tetap dijaga," kata Admiral dalam Workshop Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Penelitian dan Pembelajaran yang Berkualitas Untuk Mahasiswa di Auditorium Gedung H. Rawi Kunin, Rektorat UIR, Sabtu (12/9/2026).

iklan-view

Dalam paparannya, Admiral mengingatkan mahasiswa dan dosen agar tetap menjaga etika serta integritas saat memanfaatkan AI. Ia mengibaratkan integritas sebagai sesuatu yang semakin langka. “Integritas justru menjadi sesuatu yang langka sama seperti binatang purba dinosaurus, bahwa kita adalah subjek hukum bukan AI,” ujarnya.

Menurut Admiral, kejujuran saat menggunakan AI adala hal fundamental dalam menjaga integritas akademik. Mahasiswa tidak boleh mengklaim hasil yang dibuat oleh AI sebagai karya mereka sendiri.

Karena itu, penggunaan AI dalam karya ilmiah perlu dilakukan secara transparan, termasuk menjelaskan bagaimana dan pada bagian mana teknologi tersebut digunakan.

“Ketidakjujuran adalah wujud ketiadaan integritas akademik sekaligus academic failed. Kita mulai jujur dari tugas-tugas kita, supaya terjamin pendidikan yang berintegritas. Yang dibutuhkan adalah komitmen integritas yang akdemik yang konsisten," jelasnya.

Adapun penggunaan AI yang dibenarkan, menurut Admiral, antara lain untuk meningkatkan tata bahasa dan keterbacaan tulisan, copy editing, menerjemahkan bahasa, mencari ide referensi, hingga mendukung analisis data.

Sebaliknya, karya yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI serta tindakan memanipulasi data merupakan pelanggaran dalam penggunaan teknologi tersebut.

Di tengah perkembangan AI yang semakin pesat, UIR kini tengah merumuskan regulasi internal untuk mengatur penggunaannya di lingkungan perguruan tinggi, khususnya dalam pengerjaan tugas dan karya ilmiah.

Rektor Universitas Islam Riau, Admiral. (Foto: Abdul Haris/Pekanbarutv)

“Kita sedang dalam perumusan regulasi baik di tingkat peraturan rektor untuk memitigasi penggunaan AI untuk keperluan penulisan tugas-tugas maupun juga karya ilmiah,” pungkasnya.

AI Jangan Menggerus Kemampuan Berpikir Kritis

Anggota Komisi X DPR RI, Karmila Sari mengatakan kemudahan yang ditawarkan AI juga perlu diwaspadai karena dapat membuat mahasiswa terlalu bergantung pada teknologi. 

Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap kemampuan berpikir kritis. Ia mengingatkan mahasiswa agar tetap mampu menilai sumber informasi, memahami materi, serta menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat.

“Kita berharap kualitas daripada mahasiswa itu tidak boleh terkalahkan oleh kepintaran AI, kebijakan dalam pemilihan sumber-sumber termasuk critical thinking itu harus terus diasah,” kata Karmila.

Terkait regulasi penggunaan AI dalam pendidikan, Karmila mengatakan pembahasannya di tingkat legislatif dan pemerintah masih dilakukan secara umum. Menurutnya, pembahasan belum secara khusus mengatur pemanfaatan AI dalam pendidikan.

“kita masih melihatnya secara umum kalau spesifik dalam pemanfaatan AI kita hanya dalam tahap deep learning saja termasuk juga pemanfaatan AI itu secara manfaat,” ujarnya saat diwawancarai jurnalis Pekanbarutv usai worksop.

Karmila menambahkan, pemerintah saat ini aktif memperkenalkan pemanfaatan teknologi AI dalam proses pendidikan, mulai dari jenjang sekolah hingga ke tenaga pendidik mengenai pemanfaatan teknologi tersebut.

AI sebagai Tutor, Bukan Mesin Jawaban

Professor of AI, Arbi Haza Nasution, dalam materi workshop menjelaskan bahwa manusia memiliki peran penting dalam perkembangan AI, terutama melalui data yang diberikan kepada sistem. “Kontributor AI adalah manusia yang memberikan data,” ucapnya.

Arbi juga menjelaskan perkembangan teknologi AI, mulai dari sistem rule-based yang bekerja berdasarkan aturan yang telah ditetapkan hingga berkembang menjadi Large Language Models (LLM).

Menurutnya, perkembangan LLM memugkinkan AI dimanfaatkan sebagai mitra dalam proses pembelajaran dan penelitian. Mahasiswa tetap harus menempatkan AI sebagai alat untuk membantu proses belajar, bukan sebagai sumber jawaban yang menggantikan proses berpikir. “Jadikan AI sebagai tutor, bukan mesin jawaban,” sebutnya.

Senada dengan Arbi, praktisi AI Susandri menilai teknologi AI bukan ancaman bagi manusia. Menurutnya, AI merupakan alat yang dapat membantu pekerjaan, bukan teknologi yang secara otomatis menggantikan manusia.

“AI bukan ancaman, teknologi ini adalah alat bukan pengganti manusia, tidak akan menggantikan anda, orang yang bisa bekerja dengan AI akan menggantikan orang tidak bisa,” jelasnya.

Susandri mengatakan dunia kerja saat ini semakin berkaitan dengan penggunaan AI. Karena itu, kemampuan memahami dan menggunakan teknologi menjadi peluang yang harus dipelajari.

Meski begitu, ia mengingatkan agar AI tidak dijadikan alat utama dalam menyelesaikan pekerjaan, khususnya yang membutuhkan kemampuan berpikir. “AI itu alat bantu bukan alat utama. Pastikan AI berperan sebagai alat bantu teknologi bukan pengganti pemikiran kritis,” kata dia.

Perkembangan AI di lingkungan pendidikan pada akhirnya tidak hanya menyangkut kemampuan mahasiswa menggunakan teknologi. Persoalan yang tidak kalah penting ialah bagaimana teknologi tersebut digunakan tanpa menghilangkan proses berpikir, kejujuran, dan integritas akademik.

Bagi UIR, upaya tersebut mulai diarahkan melalui perumusan regulasi internal. Sementara itu, dari sisi legislatif, pembahasan mengenai pemanfaatan AI dalam pendidikan masih berada pada tahap umum. Tantangannya adalah memastikan teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tanpa mengambil alih peran manusia dalam proses belajar dan berpikir. (har)

Tags: fenomena ai
Home / News
AI Masuk Ruang Akademik, Rektor UIR Soroti Etika dan Integritas Mahasiswa
Editor: Arya Mahendra | Penulis: abdul haris
Rubrik: news | 13 September 2026 | 13:49:56
AI Masuk Ruang Akademik, Rektor UIR Soroti Etika dan Integritas Mahasiswa
Workshop Pemanfaatan AI dalam Penelitian dan Pembelajaran yang Berkualitas untuk Mahasiswa di Auditorium Gedung H. Rawi Kunin kampus UIR pada Sabtu, (12/9/2026). (Foto: Abdul Haris/ Pekanbarutv)

PEKANBARU - Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan terus berkembang dan mulai banyak digunakan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Teknologi ini dinilai dapat membantu mahasiswa dan dosen dalam proses pembelajaran maupun penelitian.

Namun, penggunaan AI di lingkungan akademik juga memunculkan persoalan terkait etika dan integritas. Rektor Universitas Islam Riau (UIR), Admiral, mengatakan kehadiran AI memang dapat memudahkan kehidupan karena mampu membuat berbagai pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Meski demikian, nilai etika dalam penggunaannya tetap harus dijaga.

"Teknologi hadir untuk memudahkan kehidupan sehingga menjadi lebih efektif dan efisien, namun value etika penggunaannya meski tetap dijaga," kata Admiral dalam Workshop Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Penelitian dan Pembelajaran yang Berkualitas Untuk Mahasiswa di Auditorium Gedung H. Rawi Kunin, Rektorat UIR, Sabtu (12/9/2026).

Dalam paparannya, Admiral mengingatkan mahasiswa dan dosen agar tetap menjaga etika serta integritas saat memanfaatkan AI. Ia mengibaratkan integritas sebagai sesuatu yang semakin langka. “Integritas justru menjadi sesuatu yang langka sama seperti binatang purba dinosaurus, bahwa kita adalah subjek hukum bukan AI,” ujarnya.

Menurut Admiral, kejujuran saat menggunakan AI adala hal fundamental dalam menjaga integritas akademik. Mahasiswa tidak boleh mengklaim hasil yang dibuat oleh AI sebagai karya mereka sendiri.

Karena itu, penggunaan AI dalam karya ilmiah perlu dilakukan secara transparan, termasuk menjelaskan bagaimana dan pada bagian mana teknologi tersebut digunakan.

“Ketidakjujuran adalah wujud ketiadaan integritas akademik sekaligus academic failed. Kita mulai jujur dari tugas-tugas kita, supaya terjamin pendidikan yang berintegritas. Yang dibutuhkan adalah komitmen integritas yang akdemik yang konsisten," jelasnya.

Adapun penggunaan AI yang dibenarkan, menurut Admiral, antara lain untuk meningkatkan tata bahasa dan keterbacaan tulisan, copy editing, menerjemahkan bahasa, mencari ide referensi, hingga mendukung analisis data.

Sebaliknya, karya yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI serta tindakan memanipulasi data merupakan pelanggaran dalam penggunaan teknologi tersebut.

Di tengah perkembangan AI yang semakin pesat, UIR kini tengah merumuskan regulasi internal untuk mengatur penggunaannya di lingkungan perguruan tinggi, khususnya dalam pengerjaan tugas dan karya ilmiah.

Rektor Universitas Islam Riau, Admiral. (Foto: Abdul Haris/Pekanbarutv)

“Kita sedang dalam perumusan regulasi baik di tingkat peraturan rektor untuk memitigasi penggunaan AI untuk keperluan penulisan tugas-tugas maupun juga karya ilmiah,” pungkasnya.

AI Jangan Menggerus Kemampuan Berpikir Kritis

Anggota Komisi X DPR RI, Karmila Sari mengatakan kemudahan yang ditawarkan AI juga perlu diwaspadai karena dapat membuat mahasiswa terlalu bergantung pada teknologi. 

Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap kemampuan berpikir kritis. Ia mengingatkan mahasiswa agar tetap mampu menilai sumber informasi, memahami materi, serta menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat.

“Kita berharap kualitas daripada mahasiswa itu tidak boleh terkalahkan oleh kepintaran AI, kebijakan dalam pemilihan sumber-sumber termasuk critical thinking itu harus terus diasah,” kata Karmila.

Terkait regulasi penggunaan AI dalam pendidikan, Karmila mengatakan pembahasannya di tingkat legislatif dan pemerintah masih dilakukan secara umum. Menurutnya, pembahasan belum secara khusus mengatur pemanfaatan AI dalam pendidikan.

“kita masih melihatnya secara umum kalau spesifik dalam pemanfaatan AI kita hanya dalam tahap deep learning saja termasuk juga pemanfaatan AI itu secara manfaat,” ujarnya saat diwawancarai jurnalis Pekanbarutv usai worksop.

Karmila menambahkan, pemerintah saat ini aktif memperkenalkan pemanfaatan teknologi AI dalam proses pendidikan, mulai dari jenjang sekolah hingga ke tenaga pendidik mengenai pemanfaatan teknologi tersebut.

AI sebagai Tutor, Bukan Mesin Jawaban

Professor of AI, Arbi Haza Nasution, dalam materi workshop menjelaskan bahwa manusia memiliki peran penting dalam perkembangan AI, terutama melalui data yang diberikan kepada sistem. “Kontributor AI adalah manusia yang memberikan data,” ucapnya.

Arbi juga menjelaskan perkembangan teknologi AI, mulai dari sistem rule-based yang bekerja berdasarkan aturan yang telah ditetapkan hingga berkembang menjadi Large Language Models (LLM).

Menurutnya, perkembangan LLM memugkinkan AI dimanfaatkan sebagai mitra dalam proses pembelajaran dan penelitian. Mahasiswa tetap harus menempatkan AI sebagai alat untuk membantu proses belajar, bukan sebagai sumber jawaban yang menggantikan proses berpikir. “Jadikan AI sebagai tutor, bukan mesin jawaban,” sebutnya.

Senada dengan Arbi, praktisi AI Susandri menilai teknologi AI bukan ancaman bagi manusia. Menurutnya, AI merupakan alat yang dapat membantu pekerjaan, bukan teknologi yang secara otomatis menggantikan manusia.

“AI bukan ancaman, teknologi ini adalah alat bukan pengganti manusia, tidak akan menggantikan anda, orang yang bisa bekerja dengan AI akan menggantikan orang tidak bisa,” jelasnya.

Susandri mengatakan dunia kerja saat ini semakin berkaitan dengan penggunaan AI. Karena itu, kemampuan memahami dan menggunakan teknologi menjadi peluang yang harus dipelajari.

Meski begitu, ia mengingatkan agar AI tidak dijadikan alat utama dalam menyelesaikan pekerjaan, khususnya yang membutuhkan kemampuan berpikir. “AI itu alat bantu bukan alat utama. Pastikan AI berperan sebagai alat bantu teknologi bukan pengganti pemikiran kritis,” kata dia.

Perkembangan AI di lingkungan pendidikan pada akhirnya tidak hanya menyangkut kemampuan mahasiswa menggunakan teknologi. Persoalan yang tidak kalah penting ialah bagaimana teknologi tersebut digunakan tanpa menghilangkan proses berpikir, kejujuran, dan integritas akademik.

Bagi UIR, upaya tersebut mulai diarahkan melalui perumusan regulasi internal. Sementara itu, dari sisi legislatif, pembahasan mengenai pemanfaatan AI dalam pendidikan masih berada pada tahap umum. Tantangannya adalah memastikan teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tanpa mengambil alih peran manusia dalam proses belajar dan berpikir. (har)

Tags: fenomena ai