logo
Hotspot Sumatera Merosot, BMKG Ingatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang di Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kemenkes: 174 Ribu Warga Terserang ISPA, 40.363 di Antaranya Balita Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD dan Pemko Pekanbaru Sepakati APBD-P 2026 Rp3,26 Triliun, Banjir Jadi Sorota Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi UPDATE: Satu Korban Galodo Arosuka Ditemukan Tewas, Jalur Padang-Solok Masih Ter Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Melemah ke Rp17.884, Investor Cermati Arah Suku Bunga The Fed dan BI Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sekolah di Pekanbaru Kembali Belajar Tatap Muka Terbatas Mulai Besok Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi HUT Lalu Lintas ke-71, Kapolda Riau Soroti Karhutla yang Terus Berulang: Apa Tak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harga TBS Sawit Riau Periode 23-29 September Turun Rp27 per Kg Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Arab Saudi
Pipa Minyak Saudi Diserang Drone, Pasokan Energi Dunia Terancam Terganggu
Pipa minyak Arab Saudi
Pipa Minyak Saudi Diserang Drone, Pasokan Energi Dunia Terancam Terganggu
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: ekonomi | 14 September 2026 | 15:53:12

JAKARTA-Risiko gangguan pasokan minyak dunia kembali meningkat setelah Arab Saudi menghentikan sementara operasi salah satu jalur pipa minyak utamanya menyusul serangan drone.

Jalur pipa Timur-Barat sepanjang sekitar 1.200 kilometer itu merupakan infrastruktur strategis Arab Saudi untuk menyalurkan minyak mentah dari wilayah penghasil minyak menuju fasilitas ekspor di kawasan Laut Merah.

Penghentian sementara tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan setelah serangan drone menyebabkan sejumlah orang terluka dan kerusakan pada fasilitas. Pemerintah Irak dan Arab Saudi menyebut serangan tersebut diduga berasal dari wilayah Irak.

Gangguan terhadap jalur pipa tersebut menjadi perhatian pasar energi global karena Selat Hormuz masih menghadapi tekanan akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

Pipa Timur-Barat selama ini menjadi salah satu jalur alternatif untuk mengangkut minyak ketika aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu. Kapasitas pengalirannya diperkirakan mencapai sekitar 4 juta hingga 5 juta barel minyak per hari.

Angka tersebut setara dengan sekitar 4 hingga 5 persen pasokan minyak global. Karena itu, penghentian operasi pipa berpotensi menambah kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan minyak dunia.

Tekanan juga datang dari kawasan Laut Merah. Kelompok Houthi di Yaman dilaporkan meningkatkan aktivitas militernya di jalur pelayaran strategis tersebut.

Dikutip dari CNBCindonesia, Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi menyebut serangan proyektil Houthi di Jazan menyebabkan dua orang terluka dan merusak sejumlah bangunan.

Situasi semakin kompleks setelah muncul laporan bahwa Houthi telah menguasai Pulau Perim yang berada di kawasan Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur penting bagi perdagangan dan pengiriman energi internasional.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan Iran kemungkinan berada di balik serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi. Sementara itu, Putra Mahkota Mohammed bin Salman dilaporkan meminta dukungan militer Amerika Serikat untuk menghadapi ancaman Houthi.

Washington sejauh ini disebut belum mengambil langkah untuk terlibat langsung dalam konflik dan lebih memilih menawarkan dukungan intelijen.

Ketegangan tersebut terjadi ketika harga energi dunia sudah mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir. Harga diesel ritel di Amerika Serikat bahkan dilaporkan menembus rekor 6 dolar AS per galon.

Badan Energi Internasional (IEA) juga menyebut produksi minyak mentah Arab Saudi telah berada pada level terendah dalam lebih dari tiga dekade.

Jika gangguan pada jalur produksi, distribusi, dan pelayaran terus meluas, pasar energi global menghadapi risiko kekurangan pasokan yang dapat mendorong harga minyak semakin tinggi.(*)

Home / Ekonomi
Pipa Minyak Saudi Diserang Drone, Pasokan Energi Dunia Terancam Terganggu
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: ekonomi | 14 September 2026 | 15:53:12
Pipa Minyak Saudi Diserang Drone, Pasokan Energi Dunia Terancam Terganggu
Pipa minyak Arab Saudi

JAKARTA-Risiko gangguan pasokan minyak dunia kembali meningkat setelah Arab Saudi menghentikan sementara operasi salah satu jalur pipa minyak utamanya menyusul serangan drone.

Jalur pipa Timur-Barat sepanjang sekitar 1.200 kilometer itu merupakan infrastruktur strategis Arab Saudi untuk menyalurkan minyak mentah dari wilayah penghasil minyak menuju fasilitas ekspor di kawasan Laut Merah.

Penghentian sementara tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan setelah serangan drone menyebabkan sejumlah orang terluka dan kerusakan pada fasilitas. Pemerintah Irak dan Arab Saudi menyebut serangan tersebut diduga berasal dari wilayah Irak.

Gangguan terhadap jalur pipa tersebut menjadi perhatian pasar energi global karena Selat Hormuz masih menghadapi tekanan akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

Pipa Timur-Barat selama ini menjadi salah satu jalur alternatif untuk mengangkut minyak ketika aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu. Kapasitas pengalirannya diperkirakan mencapai sekitar 4 juta hingga 5 juta barel minyak per hari.

Angka tersebut setara dengan sekitar 4 hingga 5 persen pasokan minyak global. Karena itu, penghentian operasi pipa berpotensi menambah kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan minyak dunia.

Tekanan juga datang dari kawasan Laut Merah. Kelompok Houthi di Yaman dilaporkan meningkatkan aktivitas militernya di jalur pelayaran strategis tersebut.

Dikutip dari CNBCindonesia, Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi menyebut serangan proyektil Houthi di Jazan menyebabkan dua orang terluka dan merusak sejumlah bangunan.

Situasi semakin kompleks setelah muncul laporan bahwa Houthi telah menguasai Pulau Perim yang berada di kawasan Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur penting bagi perdagangan dan pengiriman energi internasional.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan Iran kemungkinan berada di balik serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi. Sementara itu, Putra Mahkota Mohammed bin Salman dilaporkan meminta dukungan militer Amerika Serikat untuk menghadapi ancaman Houthi.

Washington sejauh ini disebut belum mengambil langkah untuk terlibat langsung dalam konflik dan lebih memilih menawarkan dukungan intelijen.

Ketegangan tersebut terjadi ketika harga energi dunia sudah mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir. Harga diesel ritel di Amerika Serikat bahkan dilaporkan menembus rekor 6 dolar AS per galon.

Badan Energi Internasional (IEA) juga menyebut produksi minyak mentah Arab Saudi telah berada pada level terendah dalam lebih dari tiga dekade.

Jika gangguan pada jalur produksi, distribusi, dan pelayaran terus meluas, pasar energi global menghadapi risiko kekurangan pasokan yang dapat mendorong harga minyak semakin tinggi.(*)