
PEKANBARU - Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi menyebut tengah menyiapkan mekanisme penetapan harga kelapa seperti Tandan Buah Segar (TBS) sawit.
Supriadi bilang, skema ini dapat memberikan kepastian harga bagi petani imbas anjloknya harga kelapa Rp1.500 per butir di Kabupaten Indragiri Hilir.
"Ke depan kita akan melakukan penetapan harga kelapa seperti Tandan Buah Segar (TBS), sehingga ada kepastian harga bagi petani," kata Supriadi saat diwawancarai awak media usai kegiatan Sosialisasi Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar (FPKMS) Provinsi Riau Tahun 2026 di Ballroom Hotel The Zuri, Kota Pekanbaru, Selasa (15/9/2026).

Supriadi mengatakan penurunan permintaan pasar di pasar global menjadi faktor harga kelapa anjlok.
"Kelapa itu harganya kemarin sampai Rp1.500 karena memang beberapa faktor, pertama yang paling dominan adalah turunnya permintaan pasar dunia, itu tidak bisa kita hindari," ujarnya.
Selain itu, anjloknya harga disebabkan karena sedang memasuki masa panen raya. Kondisi itu dinilai membuat pasokan kelapa meningkat ketika permintaan justru menurun.
"Kedua, kita kemarin itu memang sedang panen raya sehingga pasokan melimpah, kawan-kawan di PT Sambu sudah berupaya maksimal untuk menampung tetapi permintaan yang sangat minim turun melambat di global sehingga menyebabkan harga turun," lanjutnya.
Ia mendorong petani tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan kelapa dalam bentuk buah utuh kepada industri. Petani dapat mengolah kelapa menjadi cocopeat di skala kecil.
"Misal, masyarakat kita cenderung menjual buah butiran ke PT Sambu. Kalau bisa dibuat cocopeat, tapi skala kecil saja ditingkat petani," ucapnya.
Menurutnya, pengolahan produk kelapa di tingkat petani penting agar hilirisasi tidak hanya berpusat pada industri besar.
Selain itu, kata dia, perubahan pola usaha petani melalui pengolahan kelapa menjadi kopra. Supriadi menilai produk tersebut memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding kelapa dalam bentuk utuh.
"Yang ketiga ada perubahan midnset di petani kita, kenapa tidak daalam bentuk kopra, kopra itu harganya lebih mahal effrotnya hanya sedikit," kata dia.
Supriadi membandingkan kondisi tersebut dengan Sulawesi. Menurutnya, harga kelapa di wilayah tersebut lebih tinggi karena produk yang dijual petani telah melalui pengolahan menjadi kopra.
"Kenapa di Sulawesi harganya lebih tinggi, karena yang mereka jual kopra bukan harga utuh," pungkasnya. (*)







PEKANBARU - Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi menyebut tengah menyiapkan mekanisme penetapan harga kelapa seperti Tandan Buah Segar (TBS) sawit.
Supriadi bilang, skema ini dapat memberikan kepastian harga bagi petani imbas anjloknya harga kelapa Rp1.500 per butir di Kabupaten Indragiri Hilir.
"Ke depan kita akan melakukan penetapan harga kelapa seperti Tandan Buah Segar (TBS), sehingga ada kepastian harga bagi petani," kata Supriadi saat diwawancarai awak media usai kegiatan Sosialisasi Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar (FPKMS) Provinsi Riau Tahun 2026 di Ballroom Hotel The Zuri, Kota Pekanbaru, Selasa (15/9/2026).
Supriadi mengatakan penurunan permintaan pasar di pasar global menjadi faktor harga kelapa anjlok.
"Kelapa itu harganya kemarin sampai Rp1.500 karena memang beberapa faktor, pertama yang paling dominan adalah turunnya permintaan pasar dunia, itu tidak bisa kita hindari," ujarnya.
Selain itu, anjloknya harga disebabkan karena sedang memasuki masa panen raya. Kondisi itu dinilai membuat pasokan kelapa meningkat ketika permintaan justru menurun.
"Kedua, kita kemarin itu memang sedang panen raya sehingga pasokan melimpah, kawan-kawan di PT Sambu sudah berupaya maksimal untuk menampung tetapi permintaan yang sangat minim turun melambat di global sehingga menyebabkan harga turun," lanjutnya.
Ia mendorong petani tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan kelapa dalam bentuk buah utuh kepada industri. Petani dapat mengolah kelapa menjadi cocopeat di skala kecil.
"Misal, masyarakat kita cenderung menjual buah butiran ke PT Sambu. Kalau bisa dibuat cocopeat, tapi skala kecil saja ditingkat petani," ucapnya.
Menurutnya, pengolahan produk kelapa di tingkat petani penting agar hilirisasi tidak hanya berpusat pada industri besar.
Selain itu, kata dia, perubahan pola usaha petani melalui pengolahan kelapa menjadi kopra. Supriadi menilai produk tersebut memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding kelapa dalam bentuk utuh.
"Yang ketiga ada perubahan midnset di petani kita, kenapa tidak daalam bentuk kopra, kopra itu harganya lebih mahal effrotnya hanya sedikit," kata dia.
Supriadi membandingkan kondisi tersebut dengan Sulawesi. Menurutnya, harga kelapa di wilayah tersebut lebih tinggi karena produk yang dijual petani telah melalui pengolahan menjadi kopra.
"Kenapa di Sulawesi harganya lebih tinggi, karena yang mereka jual kopra bukan harga utuh," pungkasnya. (*)