logo
● Sasar Dua Kawasan Rawan Narkoba di Pekanbaru, Polisi Amankan Tiga Pria Positif M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● KPK Geledah Ruang Kepala BNPB, Bongkar Dugaan Aliran Dana Bencana Rp148 Miliar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Rupiah Terpuruk! Dolar AS Tembus Rp18.027, Terlemah di Penutupan Akhir Pekan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Viral Pajero Berpelat Dinas Kejaksaan di Pasar Minggu, Kejari Bengkalis Tegaskan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Bantah Pajero Sport Miliknya, Suhardiman Amby Tantang Jaksa Tunjukkan STNK dan B Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polisi Bongkar Dugaan Peredaran 103 Gram Sabu di Rohil, Empat Orang Ditangkap Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Bupati Bistamam Lantik Sarman Syahroni Jadi Sekda Rohil, Tekankan Profesionalism Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Bahan Baku Pisang Cokelat Naik, Pedagang di Pekanbaru Pilih Tahan Harga Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Rupiah Kembali Tertekan, Ditutup Rp17.696 per Dolar AS Jelang Keputusan The Fed
Ilustrasi. Rupiah kembali tertekan. (Foto: Istimewa)
Rupiah Kembali Tertekan, Ditutup Rp17.696 per Dolar AS Jelang Keputusan The Fed
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 16 September 2026 | 16:19:56

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Rupiah ditutup di level Rp17.696 per dolar AS, melemah tipis 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp17.694 per dolar AS.

Pergerakan rupiah berlangsung di tengah perhatian pasar terhadap sejumlah sentimen global, terutama menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar menunggu hasil rapat kebijakan bank sentral AS yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu waktu setempat, termasuk proyeksi ekonomi terbaru dan arah kebijakan suku bunga ke depan.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4,00 persen. Ekspektasi tersebut turut menopang permintaan terhadap dolar AS dan membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan. Reuters juga mencatat mayoritas ekonom yang disurvei memperkirakan kenaikan suku bunga pada pertemuan September, setelah data inflasi AS terbaru memperkuat alasan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat.

iklan-view

Selain The Fed, pasar valuta asing juga mencermati gejolak harga minyak dunia dan gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Penutupan jaringan pipa East-West Arab Saudi serta gangguan di sekitar jalur perdagangan Laut Merah sebelumnya mendorong harga minyak ke level tinggi. Brent bahkan sempat menembus sekitar US$108 per barel pada perdagangan Selasa.

Pada perdagangan Rabu, harga minyak memang terkoreksi setelah Amerika Serikat melaporkan kenaikan persediaan minyak mentah, sementara Arab Saudi berupaya mengalihkan sebagian pengiriman melalui Oman. Namun, risiko gangguan pasokan masih menjadi perhatian pasar karena ketegangan geopolitik di kawasan belum sepenuhnya mereda.

Tekanan terhadap rupiah juga berlangsung ketika pasar mencermati kondisi eksternal Indonesia. Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Juli 2026 mencapai US$454,8 miliar, naik tipis dari US$454,5 miliar pada Juni. Secara tahunan, ULN tumbuh 4,9 persen. Meski demikian, BI menilai struktur ULN Indonesia tetap sehat dengan rasio terhadap PDB sebesar 30,7 persen dan didominasi utang jangka panjang.

Dari sisi ketahanan eksternal, Indonesia sebenarnya masih memiliki penyangga yang cukup kuat. Data BI menunjukkan cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar, meningkat dari US$145,3 miliar pada akhir Juli. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Sementara itu, berdasarkan data JISDOR, rupiah pada 15 September berada di level Rp17.687 per dolar AS, dibandingkan Rp17.635 sehari sebelumnya. Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah masih terlihat dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi hasil keputusan The Fed dan terutama pesan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai arah kebijakan moneter setelah September. Pasar tidak hanya mencermati keputusan suku bunga saat ini, tetapi juga proyeksi ekonomi dan sinyal mengenai kemungkinan kebijakan pada pertemuan berikutnya.

Bagi rupiah, kombinasi penguatan permintaan dolar, ekspektasi kenaikan suku bunga AS, harga energi yang masih tinggi serta ketidakpastian geopolitik menjadi faktor yang perlu dicermati. Di sisi lain, cadangan devisa yang relatif kuat dan struktur ULN yang dinilai sehat oleh BI menjadi faktor penyangga bagi stabilitas eksternal Indonesia. (inv)

Home / Ekonomi
Rupiah Kembali Tertekan, Ditutup Rp17.696 per Dolar AS Jelang Keputusan The Fed
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 16 September 2026 | 16:19:56
Rupiah Kembali Tertekan, Ditutup Rp17.696 per Dolar AS Jelang Keputusan The Fed
Ilustrasi. Rupiah kembali tertekan. (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Rupiah ditutup di level Rp17.696 per dolar AS, melemah tipis 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp17.694 per dolar AS.

Pergerakan rupiah berlangsung di tengah perhatian pasar terhadap sejumlah sentimen global, terutama menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar menunggu hasil rapat kebijakan bank sentral AS yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu waktu setempat, termasuk proyeksi ekonomi terbaru dan arah kebijakan suku bunga ke depan.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4,00 persen. Ekspektasi tersebut turut menopang permintaan terhadap dolar AS dan membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan. Reuters juga mencatat mayoritas ekonom yang disurvei memperkirakan kenaikan suku bunga pada pertemuan September, setelah data inflasi AS terbaru memperkuat alasan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Selain The Fed, pasar valuta asing juga mencermati gejolak harga minyak dunia dan gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Penutupan jaringan pipa East-West Arab Saudi serta gangguan di sekitar jalur perdagangan Laut Merah sebelumnya mendorong harga minyak ke level tinggi. Brent bahkan sempat menembus sekitar US$108 per barel pada perdagangan Selasa.

Pada perdagangan Rabu, harga minyak memang terkoreksi setelah Amerika Serikat melaporkan kenaikan persediaan minyak mentah, sementara Arab Saudi berupaya mengalihkan sebagian pengiriman melalui Oman. Namun, risiko gangguan pasokan masih menjadi perhatian pasar karena ketegangan geopolitik di kawasan belum sepenuhnya mereda.

Tekanan terhadap rupiah juga berlangsung ketika pasar mencermati kondisi eksternal Indonesia. Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Juli 2026 mencapai US$454,8 miliar, naik tipis dari US$454,5 miliar pada Juni. Secara tahunan, ULN tumbuh 4,9 persen. Meski demikian, BI menilai struktur ULN Indonesia tetap sehat dengan rasio terhadap PDB sebesar 30,7 persen dan didominasi utang jangka panjang.

Dari sisi ketahanan eksternal, Indonesia sebenarnya masih memiliki penyangga yang cukup kuat. Data BI menunjukkan cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar, meningkat dari US$145,3 miliar pada akhir Juli. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Sementara itu, berdasarkan data JISDOR, rupiah pada 15 September berada di level Rp17.687 per dolar AS, dibandingkan Rp17.635 sehari sebelumnya. Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah masih terlihat dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi hasil keputusan The Fed dan terutama pesan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai arah kebijakan moneter setelah September. Pasar tidak hanya mencermati keputusan suku bunga saat ini, tetapi juga proyeksi ekonomi dan sinyal mengenai kemungkinan kebijakan pada pertemuan berikutnya.

Bagi rupiah, kombinasi penguatan permintaan dolar, ekspektasi kenaikan suku bunga AS, harga energi yang masih tinggi serta ketidakpastian geopolitik menjadi faktor yang perlu dicermati. Di sisi lain, cadangan devisa yang relatif kuat dan struktur ULN yang dinilai sehat oleh BI menjadi faktor penyangga bagi stabilitas eksternal Indonesia. (inv)