
PEKANBARU - Bencana kabut asap yang melanda Kota Pekanbaru, Riau, mulai berdampak serius pada roda perekonomian daerah. Sektor perhotelan menjadi salah satu industri yang paling terpukul akibat menurunnya jumlah kunjungan wisatawan maupun pendatang dalam beberapa pekan terakhir.
Penurunan tingkat hunian (okupansi) tercatat mencapai 20 hingga 30 persen setiap pekannya di sejumlah hotel di Ibu Kota Provinsi Riau tersebut. Salah satu yang merasakan dampaknya secara langsung adalah Hotel Khas Pekanbaru yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman.
Sekretaris Hotel Khas Pekanbaru, Susan Awriza, menjelaskan bahwa sebagai kota transit, Pekanbaru sangat bergantung pada arus mobilitas masyarakat yang datang untuk berbagai kepentingan bisnis maupun liburan.

Dalam kondisi normal, tingkat keterisian kamar hotel bisa mencapai 100 persen (full occupancy), terutama saat memasuki akhir pekan atau hari libur nasional. Namun, hadirnya paparan kabut asap memangkas angka keterisian tersebut secara signifikan.
"Kondisi ini mempengaruhi omzet usaha secara langsung karena terjadi penurunan okupansi yang signifikan hingga 30 persen sejak kabut asap melanda," ujar Susan, Jumat (18/9/2026).
Para pelaku usaha perhotelan berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) agar kualitas udara kembali pulih dan aktivitas ekonomi dapat kembali normal.
Dampak bencana kabut asap di Pekanbaru ini tidak hanya memukul sektor ekonomi dan pariwisata. Sektor pendidikan pun ikut terdampak, dengan diliburkannya sekolah-sekolah demi menjaga kesehatan para siswa dari ancaman ISPA, serta terganggunya berbagai kegiatan publik outdoor di kawasan tersebut. (why)




PEKANBARU - Bencana kabut asap yang melanda Kota Pekanbaru, Riau, mulai berdampak serius pada roda perekonomian daerah. Sektor perhotelan menjadi salah satu industri yang paling terpukul akibat menurunnya jumlah kunjungan wisatawan maupun pendatang dalam beberapa pekan terakhir.
Penurunan tingkat hunian (okupansi) tercatat mencapai 20 hingga 30 persen setiap pekannya di sejumlah hotel di Ibu Kota Provinsi Riau tersebut. Salah satu yang merasakan dampaknya secara langsung adalah Hotel Khas Pekanbaru yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman.
Sekretaris Hotel Khas Pekanbaru, Susan Awriza, menjelaskan bahwa sebagai kota transit, Pekanbaru sangat bergantung pada arus mobilitas masyarakat yang datang untuk berbagai kepentingan bisnis maupun liburan.
Dalam kondisi normal, tingkat keterisian kamar hotel bisa mencapai 100 persen (full occupancy), terutama saat memasuki akhir pekan atau hari libur nasional. Namun, hadirnya paparan kabut asap memangkas angka keterisian tersebut secara signifikan.
"Kondisi ini mempengaruhi omzet usaha secara langsung karena terjadi penurunan okupansi yang signifikan hingga 30 persen sejak kabut asap melanda," ujar Susan, Jumat (18/9/2026).
Para pelaku usaha perhotelan berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) agar kualitas udara kembali pulih dan aktivitas ekonomi dapat kembali normal.
Dampak bencana kabut asap di Pekanbaru ini tidak hanya memukul sektor ekonomi dan pariwisata. Sektor pendidikan pun ikut terdampak, dengan diliburkannya sekolah-sekolah demi menjaga kesehatan para siswa dari ancaman ISPA, serta terganggunya berbagai kegiatan publik outdoor di kawasan tersebut. (why)